Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SNOWBALL THROWING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI POKOK BAHASAN KEBUDAYAAN PADA SISWA KELAS XI IPS 1 SMA NEGERI 11 MAKASSAR KOTA MAKASSAR Patahuddin, Patahuddin
Jurnal Sosialisasi: Jurnal Hasil Pemikiran, Penelitian dan Pengembangan Keilmuan Sosiologi Pendidikan Volume 4 Edisi 1, Maret 2017
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.896 KB) | DOI: 10.26858/sosialisasi.v0i0.3161

Abstract

Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas ( PTK ). Pelaksanaan tindakan dilalakukan sebanyak 2 siklus, masing-masing siklus melalui 4 tahap yaitu, perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi dengan subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 11 Makassar kota Makassar sebanyak 40 siswa yang terdiri dari 21 laki-laki dan 19 perempuan, tahun ajaran 2015/2016 semester genap pada mata pelajaran sosiologi pokok bahasan kebudayaan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing dapat meningkatkan hasil belajar sosiologi pokok bahasan kebudayaan pada siswa kelas XI IPS 1 SMA negeri 11 Makassar Kota Makassar. Untuk mencapai tujuan tersebut maka peneliti menggunakan teknik pengumpulan data melalui, observasi, tes, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dari hasil penelitian diolah dengan menggunakan analisis kuantitatif untuk mengetahui peningkatan hasil belajar sosiologi pokok bahasan kebudayaan pada siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 11 Makassar Kota Makassar melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  : Nilai rata-rata hasil belajar siswa pada pra tindakan adalah 57,12 sedangkan nilai presentase ketuntasan hanya 17,5 %. Pada siklus I nilai rata-rata hasil belajar siswa menjadi 75,98 sedangkan Nilai presentase ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I adalah 60 %, namun setelah dilakukan perbaikan pada siklus II diperoleh nilai rata-rata hasil belajar 85,12 sedangkan nilai presentase ketuntasan hasil belajar sudah mencapai 92,5 %, sesuai dengan kriteria ketuntasan hasil belajar sosiologi yang ditetapkan di SMA Negeri 11 Makassar yaitu 76 secara individu dan 85 % secara klasikal dari jumlah keseluruhan siswa. Jadi penerapan model pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing pada mata pelajaran sosiologi pokok bahasan kebudayaan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 11 Makassar. Berdasarkan hasil tersebut maka, hipotesis tindakan pada penelitian ini diterima.Kata kunci: Snowball Throwing, Hasil Belajar,Sosiologi
Tradisi Maccera’ Tappareng di Danau Tempe 2000-2018 Aprisa, Yul; Patahuddin, Patahuddin
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 1, April 2019
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.898 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i1.10688

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui Latar Belakang Tradisi Maccera’ Tappareng Di Danau Tempe Kec. Marioriawa Kab. Soppeng, Perkembangan Tradisi Maccera’ Tappareng  Di Danau Tempe Kec. Marioriawa Kab.Soppeng, Dampak Tradisi Maccera’ Tappareng Di                  Danau Tempe Kec. Marioriawa Kab.Soppeng. Hasil penelitian menujukkan bahwa tradisi maccera tappareng muncul sebagai bentuk penghormatan kepada roh-roh yang menghuni Danau Tempe, kemudian tradisi ini berkembang ketika  Islam telah diterima ditengah-tengah masyarakat dengan tujuan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil tangkapan ikan, tradisi ini kian mengalami perkembangan terutama dari sisi pelaksanaannya, mereka tidak hanya menganggap tradisi ini sebagai kebutuhan religius akan tetapi berkembang dengan menampilkan sisi rekreatif. Peran sangat signifikan yang dilakukan pemerintah setempat terhadap pengembangan tradisi ini berdampak pada aspek sosial, ekonomi dan terlebih pada dampak wisata budaya yang digalakkan oleh masyarakat dan pemerintah setempat. Penelitian ini menggunakan pendekatan ilmu sejarah, sehingga tahap penelitian yang digunakan adalah (1) Heuristik atau pengumpulan data: pengumpulan data dilakukan dengan dua cara: pengumpulan data pustaka yang ditemukan di Perpustakaan Prodi Pendidikan Sejarah, Balai Pelestarian Nilai Budaya, Perpustakaan Umum Universitas Negeri Makassar, Perpustakaan Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, dan dengan proses wawancara kepada pihak yang kompeten, antara lain nelayan Danau Tempe dan beberapa pihak pemerintah terkait. selanjutnya (2)Kritik, (3)Interpretasi dan (4)HistoriografiKata Kunci : Tradisi, Danau Tempe, Marioriawa
Marrai di Sungai Walanae Desa Barae Kabupaten Soppeng,1970-2018 Elviana, Selvi; Patahuddin, Patahuddin; Asmunandar, Asmunandar
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 3, Desember 2019
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i3.12167

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang munculnya aktivitas marrai di Sungai Walanae Kabupaten Soppeng, perkembangan aktivitas marrai di Sungai Walanae Kabupaten Soppeng, serta dampak aktivitas marrai di Sungai Walanae bagi masyarakat Desa Barae Kabupaten Soppeng.  Hasil penelitian ini menunjukkan latar belakang bahwa munculnya aktivitas marrai di Sungai Walanae karena beberapa faktor, diantaranya; (1) tuntutan kebutuhan ekonomi masyarakat, (2) rendahnya pendidikan, (3) sulitnya mencari lapangan kerja. Marrai awalnya hanya dijadikan sebagai alat transportasi air yakni pada tahun 1970-1980-an. Namun pada tahun 1990-an aktivitas marrai menjadi sumber mata pencaharian masyarakat Desa Barae. Selain itu, hasil penelitian menemukan bahwa aktivitas marrai juga memberikan dampak positif bagi masyarakat Desa Barae Kabupaten Soppeng, antara lain terjadinya hubungan baik antara pihak-pihak yang terlibat dalam berlangsungnya aktivitas marrai, Sedangkan dalam bidang ekonomi, tersedianya lowongan pekerjaan bagi masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan, mulai dari pengangkutan batang bambu dari kebun hingga ke pinggir Sungai atau tempat pembuatan rai (rakit), kemudian sebagai pengikat atau penyusun bambu hingga sebagai Parrai (orang yang menggunakan rakit) yang masing-masing mendapatkan upah Rp.100.000 per hari, kecuali Parrai upahnya tergantung jarak yang ditempuh. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa aktivitas Marrai merupakan budaya lokal masyarakat Desa Barae Kabupaten Soppeng yang memiliki nilai-nilai kehidupan yang sudah sepatutnya untuk dipertahankan dan dilestarikan sebagai kearifan lokal masyarakat.  Kunci: Marrai, Walanae, dan Budaya Lokal AbstractThis study aims to determine the background of the emergence of marrai activities in the Walanae River in Soppeng Regency, the development of marrai activities in the Walanae River in Soppeng Regency, and the impact of marrai activities in the Walanae River for the people of Barae Village, Soppeng Regency. The results of this study indicate the background that the emergence of marrai activity in the Walanae River due to several factors, including; (1) demands of the economic needs of the community, (2) low education, (3) difficulty in finding employment. Marrai was originally only used as a means of water transportation in the 1970-1980s. But in the 1990s marrai activity became a source of livelihood for the people of Barae Village. In addition, the results of the study found that marrai activity also had a positive impact on the people of Barae Village, Soppeng Regency, including the good relations between the parties involved in the ongoing marrai activity, while in the economic field, the availability of job vacancies for people who did not have a job starting from transporting bamboo stems from the garden to the edge of the river or place of making rai (rafts), then as a binder or compiler of bamboo to parrai (people who use rafts), each of which gets a wage of Rp. 100,000 per day, except for parrai's wages depending on the distance traveled. From the results of this study, it can be concluded that the activity of Marrai is a local culture of the people of Barae Village, Soppeng Regency, which has life values that should be maintained and preserved as local wisdom of the community.Keywords: Marrai, Walanae, and Local Culture.
Bungi : Desa Berkembang di Pinrang 1980-2012 Yusuf, Muhammad; Madjid, Saleh; Patahuddin, Patahuddin
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 1, April 2019
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i1.10689

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan Desa Bungi Kecamatan Duampanua Kabupaten Pinrang sejak tahun 1980 sampai 2012. Terbentuknya Desa Bungi sejak  diberlakukannya Undang-Undang Desa Tahun 1979. Setelah terbentuk menjadi desa terlihat telah ada beberapa perubahan dan perkembangan baik dalam bidang pemerintahan, bidang pendidikan, bidang ekonomi, bidang kesehatan dan bidang sosial yang berdampak bagi masyarakat Desa Bungi. Penelitian ini adalah penelitian sejarah dengan menggunakan metode sejarah yang melalui beberapa tahapan yaitu, heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara (Bapak Drs. Alhusari Latif mantan kepala desa dan tokoh masyarakat Desa Bungi), Masyarakat Desa Bungi yaitu Muslimin Thamrin, Nasir Mansur S.Kep.Ns) dan mengumpulkan sumber arsip (BPS Kabupaten Pinrang dan Sumber arsip daerah). Kata Kunci: Bungi, Duampanua, Perkembangan
Modernisasi Masyarakat Nelayan Kecamatan Pulau Sembilan Kabupaten Sinjai, 1960 – 2018 Akmal, Haerul; Patahuddin, Patahuddin; Bahri, Bahri
PATTINGALLOANG Vol. 7, No. 1, April 2020
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.835 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v7i1.12511

Abstract

Penelitian dan penulisan skripsi ini bertujuan untuk mendeskripsikan latar belakang kehidupan sosial ekonomi masyarakat nelayan, menguraikan kondisi kehidupan sosial ekonomi masyarakat nelayan di Kecamatan Pulau Sembilan sebelum dan sesudah modernisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan ilmu sejarah, sehingga tahap penelitian yang dilakukan adalah (1) Heuristik atau pengumpulan data, (2) Kritik (3) Interprtasi dan (4) Historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik, pola hubungan kerja dan interaksi masyarakat antar pulau adalah bagian yang sangat penting dalam kehidupan sosial ekonomi  masyarakat nelayan di kecamatan pulau sembilan. Sebelum masuknya pengaruh modernisasi, kehidupan nelayan tradisional di Kecamatan Pulau Sembilan memiliki banyak keterbatasan baik dari segi alat tangkap yang masih sangat sederhana begitupun dengan daerah jangkauan penangkapan yang masih terbatas. Alat tangkap yang digunakan berupa pancing, panah, bubuh,bagang tancap dan bagang rakit dengan orientasi penangkapan yang masih bersifat subsisten. Kondisi seperti ini mulai berubah ketika nelayan mulai mengenal modernisasi pada tahun 1970 yang di tandai dengan pengunaan mesin sebagai alat penggerak perahu yang pada akhirnya menyebabkan daerah jangkauan penangkapan menjadi lebih luas. Pengaruh modernisasi telah mengubah pola pikir masyarakat nelayan di Kecamatan Pulau Sembilan untuk beralih mejadi nelayan pembudidaya rumput laut. Peralihan ini memberikan dampak yang sangat besar terhadap kehidupan sosial ekonomi nelayan, yang ditandai dengan perubahan orientasi ekonomi dari subsiten menjadi komersil.Kata Kunci : Nelayan, Pulau Sembilan, Modernisasi  Abstract The research and writing of this thesis aims to describe the background of the socio-economic life of the fishing community, describing the socio-economic living conditions of the fishing communities in Pulau Sembilan District before and after modernization. . This study uses a historical science approach, so the stages of research carried out are (1) Heuristics or data collection, (2) Criticism (3) Interpretation and (4) Historiography. The results showed that the characteristics, patterns of work relationships and community interaction between islands are a very important part in the socio-economic life of fishing communities in Pulau Nine sub-district. Before the influx of modernization, the life of traditional fishermen in Pulau Sembilan Subdistrict had many limitations both in terms of fishing gear which was still very simple as well as the limited fishing range. Fishing gear that is used in the form of fishing rods, arrows, bubuh, stepang and stepang raft with a fishing orientation that is still subsistence. Conditions like this began to change when fishermen began to recognize modernization in 1970 which was marked by the use of engines as a means of driving a boat which ultimately led to a wider catchment area. The influence of modernization has changed the mindset of the fishing community in Pulau Sembilan Sub-district to turn into seaweed cultivating fishermen. This transition has a very big impact on the socio-economic life of fishermen, which is marked by a change in economic orientation from subsistence to commercial Keywords: Fisherman, Pulau Sembilan, Modernization 
Industri Ico Timpo Di Cabenge Kabupaten Soppeng, 2003 2017 Nurmayanti, Nurmayanti; Patahuddin, Patahuddin; Ridha, Muh Rasyid
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 2, Agustus 2019
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i2.10782

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang keberadaan tembakau dan industri Ico Timpo di Cabenge, Perkembangan industri Ico Timpo, Kemunduran Industri Ico Timpo, dan Peran serta Dampak Tembakau dan Industri Ico Timpo di Cabenge. Penelitian ini bersifat deskriptif analisis dengan menggunakan metode historis, dengan tahapan kerja yang meliputi, heuristik, kritik, interpretasi dan juga historiografi. Konsep ilmu sosial seperti Ekonomi, Sosiologi dan Antropologi juga digunakan untuk menganalisis masalah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang berdirinya industri Ico Timpo di Cabenge diawali kebiasaan masyarakat mengunyah sirih dan tembakau namun berangsur-angsur ditinggalkan dan diganti dengan merokok dan berdirilah industri Ico Timpo dan berkembang hingga dapat dipasarkan ke beberapa daerah di Sulawesi Selatan hingga Kolaka.  Namun karena banyaknya persaingan dan datangnya industri tembakau Jawa menyebabkan industri Ico Timpo yang bersifat tradisional mengalami kemunduran. Berdasarkan hasil penelitian di atas disimpulkan bahwa industri tembakau di Cabenge mengalami pasang surut yang berlangsung dari tahun 2003-2017. Hal ini memberikan peran dan dampak yang cukup besar pagi perekonomian masyarakat dan pemerintah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yakni: heuristic, kritik sumber, interpretasi dan historiografi.Keyword: Ico Timpo, Tembakau, Cabenge
Situs Jera’ Lomp’e Sebagai Sumber Belajar Sejarah Siswa Kelas X SMAN 8 Soppeng Paramita, Alma; Patahuddin, Patahuddin; Ridha, Rasyid
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 3, Desember 2019
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.703 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i3.11684

Abstract

 Penelitian ini adalah penelitian pre-experiment. Populasi penelitian ini adalah seluruh kelas X SMAN 8 Soppeng pada semester genap tahun ajaran 2018/2019 yang terdiri dari 6 kelas dan dipilih satu kelas secara acak sebagai sampel penelitian. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran dan tes hasil belajar (pre-test dan post-test). Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dan inferensial. Hasil analisis statistika deskriptif 1) rata-rata keterlaksanaan pembelajaran dengan menggunakan situs sebagai sumber belajar sejarah sebesar 3,9 (terlaksana dengan baik) 2) rata-rata hasil kemampuan awal siswa (pretest) yaitu 4,77 berada pada kategori sangat rendah. Rata-rata hasil belajar siswa (posttest) yaitu 8,36 berada pada kategori sangat tinggi, 3) hasil posttest menunjukkan bahwa ketuntasan klasikal tercapai yakni 23 siswa mencapai ketuntasan individu. Hasil analisis inferensial menunjukkan 1) nilai rata-rata siswa yang diajar dengan pemanfaatan situs sebagai sumber belajar sejarah lebih besar dari 70 (KKM) 2) nilai rata-rata gain ternormalisasi lebih besar dari 0,3 (kategori sedang) 3) terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah diberi perlakuan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa : (1) strategi guru dalam pemanfaatan situs sebagai sumber belajar sejarah adalah melalui media gambar, sebagai contoh peninggalan zaman islam, dan tugas individu (2) keterlaksanaan pembelajaran dengan pemanfaatan situs sebagai sumber belajar sejarah terlaksana dengan sangat baik (3) hasil belajar siswa sebelum pemanfaatan situs sebesar 4,772 yang berada pada kategori rendah (4) dari hasil belajar siswa terdapat peningkatan yang dapat diketahui dari nilai rata-rata post-test sebesar 8,363 yang berada pada kategori tinggi Kunci: Jera’ Lompo’e, Hasil Belajar, SMAN 8 Soppeng  AbstractThis research is a pre-experiment research. The population of this study was all of the 10th grade of SMAN 8 Soppeng in the even semester of the 2018/2019 school year consisting of 6 classes and one class was chosen randomly as a research sample. Data is collected by using an observation sheet of the implementation of learning and learning outcomes tests (pre-test and post-test). The data analysis technique used is descriptive and inferential analysis techniques. Descriptive statistics analysis results 1) average learning performance using the site as a source of learning history is 3.9 (well implemented) 2) average results of students' initial ability (pretest) of 4.77 are in the very low category. The average student learning outcomes (posttest) ie 8.36 are in the very high category, 3) posttest results indicate that classical completeness is achieved ie 23 students achieve individual completeness. The results of inferential analysis show 1) the average value of students taught by the use of the site as a source of learning history is greater than 70 (KKM) 2) the average value of normalized gain is greater than 0.3 (medium category) 3) there is a difference significant before and after treatment. From the results of this study it can be concluded that: (1) the teacher's strategy in utilizing the site as a source of historical learning is through the media of images, for example the relics of the Islamic era, and individual tasks (2) the implementation of learning by utilizing the site as a source of historical learning very well implemented (3) student learning outcomes before the use of the site amounted to 4,772 which are in the low category (4) of student learning outcomes there is an increase that can be seen from the average post-test score of 8.336 which is in the high category.Keyword: Jera’ Lompo’e, Learning Outcomes, SMAN 8 Soppeng
Bendungan Langkemme di Kabupaten Soppeng (1970-2008) Maghfirah, Anriani Nurul; Patahuddin, Patahuddin; Najamuddin, Najamuddin
PATTINGALLOANG Vol. 5 No. 2, Agustus 2018
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.763 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i3.8535

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengemukakan latar belakang pembangunan Bendung Langkemme (1970-1995), perkembangan Bendung Langkemme(1995-2008) dan dampak keberadaan Bendung Langkemme di Kabupaten Soppeng (1995-2008). Penelitian ini bersifat deskriptif analisis dengan menggunakan metode historis. Melalui tahapan-tahapan heuristic (pengumpulan data), kritik (verifikasi), Interpretasi (penafsiran) dan historiografi (penulisan Sejarah). Hasil penelitian ini menunjukkan  bahwa pembangunan Bendung Langkemme di Kabupaten Soppeng dilatarbelakangi oleh perekonomian nasional, adanya perencanaan pengembangan di daerah Sulawesi Selatan, perekonomian daerah, pengembangan daerah, dan adanya kebutuhan irigasi di Kabupaten Soppeng. Perkembangan Bendung Langkemme dan dampak keberadaan Bendung Langkemme terhadap masyarakat di Kabupaten Soppeng dapat dilihat dari bertambahnya luas persawahan beririgasi, peningkatan hasil produksi pertanian yang berarti meningkatnya penghasilan masyarakat. Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa dengan adanya Bendung Langkemme di Kabupaten Soppeng terjadi peningkatan hasil pertanian di 5 (lima) kecamatan yang menggunakan air dari Irigasi Langkemme yaitu Marioriwawo, Lalabata, Liliriaja, Ganra dan Lilirilau, sesuai dengan program pemerintah pada masa Orde Baru yaitu Pembangunan Lima Tahun (PELITA).Kata kunci : Bendung, Pertanian, Kabupaten Soppeng.
REVITALIZATION OF SOUTH SULAWESI SOCIO-CULTURAL VALUES RELATING TO DEMOCRACY IN THE ERA OF REGIONAL AUTONOMY Jumadi, Jumadi; Nur, Rifai; Patahuddin, Patahuddin
Journal of Social Studies (JSS) Vol 12, No 2 (2016): Journal of Social Studies (JSS)
Publisher : Journal of Social Studies (JSS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jss.v12i2.11638

Abstract

This research aims to understand the principles of democracy enforcement in the implementation of regional autonomy, to promote and to revitalize the South Sulawesi socio-cultural values relating to the issue of democracy in the era of regional autonomy, the development of the region potency and the diversity of community to achieve regional and national progress. South Sulawesi since the empire era has posessed socio-cultural values that are closely related to the principles of democracy enforcement. The Socio-cultural values are potential for the regional development, especially in the era of regional autonomy. Social values, one of them are embedded in the democracy principles and foundations in South Sulawesi as the legal basis for organizing the kingdom in South Sulawesi: “rusa’ taro datu, ten rusa’ taro ade’, rusa’ taro ade’ ten rusa’ taro anang, rusa’ anang  ten rusa’ taro tomaegae”.means that the decision of datu / king can be canceled by ade ' (council) but the decision of  ade' can not be canceled by the king / datu, the decision of ade' can be canceled by public figures, but the willingness of public figures can not be canceled by public figures, the willingness of public figures can be canceled by the society, but the willingness of the society can not be canceled by public figures. This means the highest decision belongs to the society. Keywords: Socio-Cultural Values and Democracy in the era of regional Autonomy.
Pelatihan Literasi Menulis Esai Bagi Angkatan Muda Muhammadiyah Kota Parepare Arodhiskara, Yadi; Patahuddin, Patahuddin; Suherman, Suherman; Buhaerah, Buhaerah; Jadda, Asram A.T.
JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat) Article In Press (Vol 4 Nomor 1 Maret 2020)
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.638 KB) | DOI: 10.30595/jppm.v0i0.3985

Abstract

Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah meningkatkan budaya literasi akibat pengaruh digitaliasi bagi Angakatan Muda Muhammadiyah Kota Parepare di era milenial saat ini. Sebagai organisasi kepemudaan, Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) bertanggungjawab dalam mewujudkan terciptanya Kader Bangsa, Kader Ummat dan Kader Persyarikatan yang memiliki wawasan intelektual dan berkompeten. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini terpusat di ruangan pertemuan Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah Kota Parepare, Provinsi Sulawesi Selatan. Pelaksanaan kegiatan terdiri dari tahapan persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan pendampingan. Seluruh rangkaian pembelajaran dalam program pengabdian ini menggunakan pendekatan partisipasi aktif peserta, yaitu peserta tidak hanya cukup mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi, melainkan peserta harus aktif berfikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah sumber-sumber yang ada. Materi pelatihan menulis lebih mengarah pada karya tulis yang bersifat umum, yaitu cara membuat/menulis naskah esai. Steering commitee dan panitia menentukan tema esai yaitu ?Kembali Kepada Muhammadiyah?. Kegiatan pelatihan penulisan esai dilakukan selama 3 (tiga) hari dan berjalan dengan lancar dan efektif. Materi kegiatan dirancang berdasarkan hasil observasi dan Focus Group Discussion (FGD), yaitu terfokus kepada pelatihan penulisan esai. Tugas pertama naskah esai peserta menunjukkan lemahnya pengetahuan dalam menulis karya tulis esai. Pemateri dan steering commitee selanjutnya memberi pemahaman dalam menulis naskah esai yang baik dan benar. Hasil evaluasi dihasilkan 16 naskah esai yang layak dipublikasikan, dan publikasi dikerjasamakan dengan penerbit perguruan tinggi yaitu UMPAR Press. Untuk keberlanjutan program dibentuk taman pustaka sebagai wadah tempat berkumpulnya pegiat literasi buku di Kota Parepare.