Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Faktor yang Mempengaruhi Penderita TB Paru Terhadap Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis di Puskesmas Jatisawit Indramayu Rusman, Rusman; Basri K, Sarinah
Afiasi : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 4 No 1 (2019): afiasi
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (776.799 KB) | DOI: 10.31943/afiasi.v4i1.10

Abstract

Penyakit Tuberkulosis Paru dari tahun ke tahun meningkat dan sebagian masih perlu pengobatan lanjutan artinya tingkat kesembuhan belum mencapai 100%. Penyakit ini dapat disembuhkan kalau penderita teratur dan patuh minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui fakto pendidikan, faktor pengetahuan dan faktor sikap pada penderita TB paru terhadap kepatuhan minum Obat Anti Tuberculosis (OAT) pada pasien TB paru di Puskesmas Jatisawit indramayu. Sampel terdiri dari 43 orang dengan metode total sampling. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Analisis data yang digunakan adalah analisis unvariat dan analisis bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian ini menunjukan maka dapat dilihat hubungan sabagai berikut (1) Tidak ada hubungan antara pendidikan dengan kepatuhan minum OAT (p-Value 0,082, p > 0,05); (2) Ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan minum OAT (p-Value 0,012, p < 0,05) dan (3) ada hubungan antara sikap dengan kepatuhan minum OAT (p-Value 0,040, p < 0,05). Perlu dilakukan penyuluhan, monitoring dan evaluasi secara rutin dan berkala; meningkatkan kerjasama dan kemitraan dengan instsnsi pemerintah dan swasta yang memiliki konsen tehadap penyakit TB paru serta memberi motivasi terhadap penderita TB paru.
Hubungan Status Gizi dengan Kelelahan Kerja Pada Pekerja Di SPBE Indramayu Nur Aisyah, eka; Basri K, Sarinah
Afiasi : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 3 No 1 (2018): afiasi
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.022 KB) | DOI: 10.31943/afiasi.v3i1.12

Abstract

Kelelahan kerja merupakan kondisi melemahnya tenaga untuk melakukan suatu pekerjaan. Kelelahan kerja dapat menimbulkan efek yang buruk bagi kesehatan para pekerja. Kelelahan dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya beban kerja dan status gizi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Hubungan Status Gizi dengan Kelelahan Kerja Pada Pekerja di SPBE Indramayu Tahun 2017”. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional, teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah pekerja bagian operator loading di SPBE Indramayu yang memenuhi kriteria inklusi, sebanyak 39 orang pekerja. Data mengenai kelelahan kerja diukur dengan menggunakan kuesioner 30-item gejala kelelahan umum IFRC. Uji statistik menggunakan uji Fisher Exact Test. Hasil penelitian diperoleh nilai status gizi pekerja dengan p-value 0,005 dengan nilai Spearman Correlation (SC) = 0,485. Maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak, artinya menunjukan ada hubungan antara status gizi dengan kelelahan kerja pada pekerja di SPBE Indramayu Tahun 2017. Para pekerja sebaiknya mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang dan memaksimalkan waktu istirahat.
Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Carpal Tunnel Syndrome (CTS) pada Karyawan SPBE Di Indramayu Muthoharoh; Basri K, Sarinah ; Nuraeni, Tating
Afiasi : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 3 No 2 (2018): afiasi
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.869 KB) | DOI: 10.31943/afiasi.v3i2.17

Abstract

CTS merupakan gangguan umum yang berhubungan dengan pekerjaan, disebabkan oleh gerakan berulang dan posisi yang menetap pada jangka waktu lama. Beberapa faktor diketahui menjadi risiko terjadinya CTS, seperti gerakan berulang dengan kekuatan, tekanan pada otot, postur kerja yang tidak ergonomik dan lain-lain. Penelitian ini menggunakan Cross Sectional dengan jumlah sampel 40 karyawan di dua SPBE bagian Filling Hall area. Fisher Exact Test digunakan untuk analisis data uji statistik. Variabel yang diteliti adalah masa kerja, gerakan repetitive dan postur kerja. Dalam pengumpulan data peneliti menggunakan kuesioner, lembar observasi RULA dan test pemeriksaan fisik. Hasil uji statistik menggunakan Fisher Exact Test untuk masa kerja dan postur kerja didapatkan nilai P-Value = 0,029 dan 0,041. Karena nilai P -Value < 0,05 sehingga Ho ditolak, artinya ada hubungan antara masa kerja dan postur kerja dengan kejadian CTS . sedangkan untuk gerakan repetitive hasil uji statistik menggunakan Fisher Exact Test didapatkan nilai P-Value = 0,464. Karena nilai P-Value >0,05 sehingga Ho diterima, artinya ada hubungan antara gerakan repetitive dengan kejadian CTS.
Kejadian Dermatitis Kontak Pada Pemulung di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Pecuk Indramayu Widianingsih, Kartika ; Basri K, Sarinah
Afiasi : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 2 No 2 (2017): Afiasi
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1107.055 KB)

Abstract

Dermatitis adalah peradangan kulit yang ditandai rasa gatal, dapat berupa penebalan, bintil kemerahan, multipel mengelompok, bersisik, berair dan lainnya. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian dermatitis kontak pada pemulung di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Pecuk Indramayu Tahun 2016. Penelitian ini menggunakan pendekatan Cross Sectional. Jumlah sampel 40 orang. Analisis data uji statistik menggunakan Uji Chi Square dan Fisher’s Exact Test. Variabel yang diteliti faktor usia, jenis kelamin, masa kerja, personal hygiene, penggunaan alat pelindung diri (APD), dermatitis kontak. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dari NIOSH, AIHA occupational health and comfort, Danish Building research institute building diagnostic human resource. Hasil penelitian, faktor usia (P-value 0,033), jenis kelamin (P value 0,060), masa kerja (P-value 0,000), personal hygiene (P-value 0,003) dan penggunaan alat pelindung diri (APD)  (P-value 0,015). Ada hubungan antara faktor usia, masa kerja, personal hygiene, penggunaan APD dengan kejadian dermatitis kontak. Tidak ada hubungan antara faktor jenis kelamin dengan kejadian dermatitis kontak pada pemulung di TPA Pecuk Indramayu Tahun 2016. Disarankan pemulung hendaknya lebih memperhatikan perilaku hidup bersih dan sehat. Perlunya penggunaan APD sehingga mengurangi risiko terkena penyakit dermatitis kontak.
Kelelahan Mata (Asthenopia) Pada Pekerja Pengguna Komputer di PT PLN APP Cirebon Rahayu, Sri; Basri K, Sarinah
Afiasi : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 2 No 3 (2107): Afiasi
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelelahan mata (Asthenopia) merupakan kumpulan gejala ketegangan pada mata akibat otot-otot mata yang dipaksa bekerja keras pada saat melihat objek dekat dalam waktu yang lama seperti pada saat bekerja di depan layar komputer atau Video Display Terminal (VDT). Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk melihat faktor yang berhubungan dengan usia, masa kerja, durasi, jarak, tingkat pencahayaan dengan kelelahan mata (Asthenopia) pada pekerja pengguna komputer di PT PLN APP Cirebon Tahun 2017. Rancangan penelitian menggunakan Cross Sectional dengan jumlah sampel 40 pekerja pengguna komputer. Uji Fisher’s Test digunakan  untuk analisis data uji statistik dengan nilai keyakinan 95 % dan tingkat kemaknaan α (0,05). Variabel yang diteliti adalah faktor usia, masa kerja, durasi, jarak, dan tingkat pencahayaan. Pengumpulan data peneliti menggunakan kuisioner, lux meter, dan meteran. Hasil penelitian menggunakan uji Fisher’s Test untuk usia, jarak, dan tingkat pencahayaan didapatkan P-Value = 0,021, P-Value = 0,027, dan P-Value = 0,043 karena P-Value < 0,05 sehingga H0 ditolak, artinya ada hubungan antara usia, jarak dan tingkat pencahayaan dengan kelelahan mata (Asthenopia). Sedangkan untuk masa kerja, durasi penggunaan komputer hasil uji statistik menggunakan Fisher’s Test didapatkan P-Value = 0,705, P-Value = 0,256 karena P-Value > 0,05  sehingga H0 diterima, artinya tidak ada hubungan antara masa kerja dan durasi penggunaan komputer dengan kelelahan mata (Asthenopia).
PENYULUHAN KEBERSIHAN LINGKUNGAN SEKOLAH UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN PADA SISWA SDN TERUSAN 1 INDRAMAYU Basri K, Sarinah
Abdi Wiralodra : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1 No 1 (2019): Abdi Wiralodra
Publisher : universitas wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.35 KB) | DOI: 10.31943/abdi.v1i1.1

Abstract

Health education has the purpose of changing or influencing human behavior individually, in groups and communities to be more independent in achieving the goals of healthy living. In this health education method is needed so that the delivery of messages can be as expected. Submission of methods in counseling is to use lectures, videos, and actions on environmental cleanliness. With this activity students are expected to be able to increase knowledge of the cleanliness of the school environment such as disposing of garbage in its place, being able to distinguish organic and inorganic waste, not scribbling walls and tables and consciously wanting to work together to clean the yard and classrooms. The implementation of service requires the collaboration of various parties so that health education can be done not only once, but it is conducted routinely to monitor the development of students' knowledge regarding environmental hygienein schools. In addition to lectures, videos and actions, the application or delivery of health education can also use educational media games because with game media students can more easily understand, students also do not experience boredom in delivering material.
Hubungan Faktor Predisposisi dengan Perilaku Penggunaan Alat Pelindung Diri pada Pekerja PT. Elnusa TBK Warehouse Karangampel Alfirdha, Boby; Basri K, Sarinah; Nuraeni, Tating
Afiasi : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 3 No 3 (2018): afiasi
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (714.929 KB) | DOI: 10.31943/afiasi.v3i3.29

Abstract

Alat Pelindung Diri (APD) merupakan seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh atau sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya kecelakaan kerja pada tempat kerja. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) sebenarnya menempati prioritas pengendalian risiko paling akhir setelah pengendalian dengan eliminasi, substitusi, engeneering dan pengendalian secara administratif tidak berhasil dilakukan. Manfaat menggunakan APD saat bekerja sangat besar dalam mencegah keselamatan kerja, namun kenyataannya masih banyak pekerja yang tidak menggunakan APD dengan baik dan sesuai potensi bahaya pada saat bekerja.Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan menggunakan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pekerja PT. Elnusa Tbk Warehouse Karangampel sebanyak 33 orang. Analisis yang digunakan yaitu uji Chi-Square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 22 orang (66,7%) tidak menggunakan APD, 27 orang (81,8%) memiliki pengetahuan baik, 19 orang (57,6%) memiliki masa kerja lama, 29 orang (87,9%) memiliki sikap baik. Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan, masa kerja, dan sikap dengan penggunaan APD, dengan nilai Pvalue = 0,637, 0,319, dan 1,000. Kesimpulannya adalah tidak terdapat hubungan antara pengetahuan, masa kerja, dan sikap dengan perilaku penggunaan APD.