harsia
Universitas Cokroaminoto Palopo

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

MENELUSURI SENI TARI SEBAGAI SALAH SATU BUDAYA DI KERAJAAN LUWU PADA ZAMAN HINDUISME (KAJIAN AWK MODEL FAIRCLOUGH) harsia
Onoma Vol 5 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hadirnya keinginan untuk memahami sebuah naskah itu melalui kepekaan lintas budaya di dalam kelas masyarakat dapat dijadikan suatu program pelatihan dan pendidikan yang menyeluruh kepada etnis yang beragam di dalam komunikasi antarbudaya. Representasi dan komunikasi makna-makna kebudayaan mengambil tempat melalui bahasa baik baik verbal maupun bahasa nonverbal karena adanya dua standardisasi: makna-makna yang biasanya disematkan kata-kata dan cara berbicara yang biasanya disematkan pada situasi sosial dan setting kebudayaan. Fairclough dan Wodak yang melihat praktik wacana bisa jadi menampilkan efek ideologis artinya wacana dapat memproduksi hubungan kekuasaan yang tidak imbang antara kelas sosial, laki-laki dan perempuan, kelompok mayoritas dan minoritas di mana perbedaan itu direpresentasikan dalam praktik sosial. Hegemoni adalah titik sentral dalam teori Gramsci dalam menjelaskan masyarakat dan kekuasaan yang bekerja di dalamnya. Hegemoni sendiri diambil dari bahasa Yunani yaitu egemonia yang berarti dominasi dari suatu polis terhadap polis yang lain. Pertama kali digunakan oleh Lenin dalam bahasa Rusia yaitu rukovodstvo yang diartikan kepemimpinan. Hasil analisis data menunjukkan, bahwa ada lima jenis tarian di kerajaan Luwu pada zaman Hinduisme, yaitu; (a) tari bissu; (b) tari jaga; (c) tari lulo; (4) tari pagellu; dan (e) tari joge. Dan salah satu tarian yang menunjukkan kebudayaan Luwu adalah tari bissu yang dijadikan medium untuk menyembah “Roh Nenek Moyang”.