Situmorang, jonar
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KAJIAN BIBLIKA TENTANG YESUS SEBAGAI PINTU DAN GEMBALA MENURUT YOHANES 10:1-18 Situmorang, jonar
VISIO DEI: JURNAL TEOLOGI KRISTEN Vol 1 No 2 (2019)
Publisher : STT STAR'S LUB LUWUK BANGGAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35909/visiodei.v1i2.30

Abstract

Tulisan ini membahas dua hal, yaitu pernyataan Yesus tentang diri-Nya dalam Injil Yohanes dan pernyataan yang dimulai dengan: "Saya ..." (Yunani: ??? ???? = ego eimi). Dari dua pernyataan itu terdapat ungkapan "Aku adalah pintunya" dan "Akulah gembala yang baik." Secara teologis, terutama Kristologi, ini menekankan kepribadian-Nya sebagai Allah yang dapat menjadi contoh kepemimpinan dalam gereja. Tujuannya adalah untuk menggambarkan pernyataan Yesus bahwa Dia adalah pintu dan gembala yang baik dalam Yohanes 10: 1-18 dan implikasinya bagi para pendeta sebagai pemimpin gereja. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasilnya, kedua pernyataan Yesus dalam Yohanes 10: 1-18  mencerminkan keteladanan Yesus sebagai gembala yang baik.
MODEL MISI PERKOTAAN RASUL PAULUS DI KORINTUS Situmorang, Jonar
Missio Ecclesiae Vol. 7 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Model Misi Perkotaan yang dilakukan oleh rasul Paulus di Korintus menjadi suatu bentuk pelayanan misi, yang kontekstual. Adapun bentuk model misi perkotaan yang dilakukan Paulus adalah “menjadi seperti”. Dengan menjadi seperti, memudahkan dalam pendekatan untuk menyampaikan kabar baik. Tetapi patut diperhatikan dan digaris-bawahi, bahwa dalam model pendekatan ini jangan sampai kebablasan, yaitu kehilangan kontrol diri. Ada rambu-rambu yang harus diperhatian, di mana firman Allah adalah sebagai tolok ukur. Dan tujuan dari pelaksanaan model misi ini adalah memenangkan sebanyak mungkin jiwa-jiwa bagi kemuliaan nama Tuhan. Untuk terwujudnya akan hal ini, maka makna dari “menjadi seperti” dapat pula berarti bahwa umat Krisrtus dapat menjadi teladan, sebagai kesaksian yang hidup bagi orang lain. Pelayanan misi perkotaan harus menjadi perhatian gereja. Karena di perkotaan itu terdapat multikompleks permasalahan. Yang paling menyolok adalah adanya kesenjangan sosial, yang membuat orang lain enggan dekat dengan gereja. Belum lagi keegosian, yang mementingkan kepentingan pribadi, membuat ketidak-pedulian dengan sesama. Tetapi dengan konsep yang dilakukan Paulus, yaitu “menjadi seperti”, dapat menciptakan keterbukaan dengan orang lain. Di sinilah kesempatan untuk dapat menjadi saksi. Yang tidak kalah penting dalam pendekatan secara kontekstualisasi ini adalah bahwa firman Allah menjadi barometernya. Jangan sampai firman Allah yang menyesuaikan diri dengan budaya. Dengan menjadi seperti, bisa saling memahami, dan berempati, yang tentunya dilandasi dalam kasih Kristus, sehingga bisa menjadi berkat bagi orang lain.