Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

KARAKTERISTIK FISIS AIR LAUT DAN DINAMIKA PERAIRAN KEPULAUAN SERIBU Mustikasari, Eva; Rustam, Agustin
Jurnal Riset Jakarta Vol. 12 No. 2 (2019): Jurnal Riset Jakarta
Publisher : Dewan Riset Daerah (DRD) Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1400.082 KB) | DOI: 10.37439/jurnaldrd.v12i2.5

Abstract

Secara georgrafis perairan Kepulauan Seribu memiliki peran penting dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonimi daerah melalui pengembangan industri kelautan seperti jasa perhubungan laut, transhipment, penambangan minyak dan pariwisata. Salah satu unsur penunjang pengembangan Kepulauan Seribu yaitu dengan mengkaji dan menganalisis karakteristik fisis air laut dan dinamika perairannya. Karakteristik fisis dan dinamis air laut seperti temperatur, intensitas cahaya, pasang surut dan arus dikaji dalam penelitian ini bertujuan agar setiap pengembangan memiliki rencana yang baik dan benar karena kondisi perairannya terukur. Metoda utama yang digunakan dalam kajian ini adalah metoda pengukuran in situ serta pemodelan hidrodinamika yang diselesaikan secara numerik. Hasil kajian menunjukkan bahwa Temperatur rata-rata perairan di Kepulauan seribu mencapai 28.582oC sampai 30.252oC, sementara nilai intensitas cahaya rata-rata mencapai 0.801 Cd sampai 120.869 Cd. Tipe pasang surut di Kepulauan Seribu merupakan tipe pasang surut Campuran condong harian tunggal. Rms error hasil pengukuran elevasi pasut in situ dan simulasi numerik menunjukkan nilai 0.01564. Kecepatan arus maksimum 0.164 m/det. sedangkan kecepatan arus minimum berkisar 0.002 m/det. Kepulauan seribu merupakan wilayah perairan yang subur dan potensial untuk tumbuh kembang aneka ragam hayati laut.
Pola Hidrodinamika di Perairan Nunukan sebagai Usulan pada Permasalahan Abrasi Pulau-pulau Kecil. (Hal. 58-69) Hardhiyanti, Wulan Fitry; Kurniadi, Yessi Nirwana; Mustikasari, Eva; Noviadi, Yogi
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 2: Juni 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1091.156 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i2.58

Abstract

ABSTRAKPerairan Nunukan yang berada di Provinsi Kalimantan Utara, merupakan salah satu wilayah terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Negara Malaysia. Berada dalam wilayah terluar, Kabupaten Nunukan menyimpan banyak potensi dalam sektor kelautan dan perikanan. Sangat penting untuk menjaga zona ekonomi eksklusif pulau-pulau kecil terluar Indonesia dari abrasi. Besar abrasi yang mungkin terjadi dapat diketahui dengan melakukan analisis pemodelan mengenai hidrodinamika wilayah tersebut. Pemodelan numerik dilakukan menggunakan perangkat lunak MIKE 21 dengan modul Hydrodynamic (HD). Pemodelan yang dilakukan terdiri dari grid persegi dan mesh terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan terdapat beberapa daerah di Kabupaten Nunukan terjadi peningkatan kecepatan arus antara 0,1625 m/s sampai 0,3 m/s yang berpotensi terjadi abrasi. Abrasi terjadi di barat daya Pulau Sebatik, Perairan Nunukan sepanjang 1.014,26 meter. Penelitian sebelumnya menunjukkan, ukuran butir di wilayah tersebut sebesar pasir kelanauan sebesar 0,01 mm. Terdapat hubungan antara kecepatan dan ukuran butir yang menyatakan wilayah tersebut memiliki potensi abrasi.Kata kunci: hidrodinamika, pemodelan, arus, pasang surut, abrasiABSTRACTSebatik Island is located in Nunukan sea at North Kalimantan Province. This island is one of the outermost area in Indonesia which is in border line with Malaysia. These outlying islands keep a lot of potential in marine, and fishery. It is important to keep Indonesia exclusive economic zone by protecting this outlying island from abrasion. Abrasion can be found by analyzing hydrodynamic modelling in the area. Hydrodynamic modelling is using software MIKE 21 with Hydrodynamic modules (HD). The numerical hydrodynamic modelling was consists of rectangular grid and unstructured mesh modelling. The modelling showed there are some area in Kabupaten Nunukan are has increase of current velocity between 0.1625 m/s and 0.3 m/s that potentially to abrasion. Abrasion occurred in the southwest of Sebatik Island, Nunukan sea along 1,014.26 meters. Based on the observation before, the grain size in the area was 0.01 mm sand silt. There is correlation between the current velocity and grain size in the area has potentially to abrasion.Keywords: hydrodynamic, modelling, current, tides, abrasion
Spatial Distribution of Dissolved Heavy Metals (Hg, Cd, Cu, Pb, Zn) on the Surface Waters of Pare Bay, South Sulawesi Wisha, Ulung Jantama; Heriati, Aida; Ramdhan, Muhammad; Mustikasari, Eva; Mutmainah, Herdiana; Ilham, Ilham
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1096.606 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.23.4.199-206

Abstract

Pare bay is one of the areas of significance which is utilized for port services, stevedoring, oil distribution, regional industrial development, aquaculture, cultivation and settlement systems. Pare Bay potentially has a good prospect for a gigantic development. Whilst, a very dangerous threat is pollution, especially heavy metal pollution and water quality degradation. This study aims to determine the current condition of heavy metal concentrations and its distribution on surface waters of Pare Bay. Heavy metals were analyzed using AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry) in which it has a minimum detection limit reached 0.001 ppm so that the heavy metal concentration can be well-determined. Hg concentration is higher in the surface ranged 0.01-0.1 mg.l-1. Cd concentration ranged from 0.018-0.083 mg.l-1. Cu concentration ranged from 0.043-0.078 mg.l-1. Pb concentration ranged from 0.111-2.692 mg.l-1. Zn concentration ranged from 0.004 - 0.112 mg.l-1. Heavy metals content in Pare Bay exceeds the standard quality established by Ministry of Environment. It potentially harms the marine life which indirectly reduces the function value of Pare Bay as a center of maritime in the South Sulawesi. Water quality condition play a role in inducing the toxicity level of heavy metals in the Pare Bay. So that this area need to be monitored the water quality sustainably.
PEMODELAN POLA ARUS BAROTROPIK MUSIMAN 3 DIMENSI (3D) UNTUK MENSIMULASIKAN FENOMENA UPWELLING DI PERAIRAN INDONESIA Mustikasari, Eva; Dewi, Lestari Cendikia; Heriati, Aida; Pranowo, Widodo Setiyo
Jurnal Segara Vol 11, No 1 (2015): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2874.8 KB) | DOI: 10.15578/segara.v11i1.9081

Abstract

Pemodelan arus barotropik musiman tiga dimensi dilakukan untuk mensimulasikan fenomena upwelling di Perairan Indonesia. Pemetaan upwelling berguna sebagai tahap awal dalam mengetahui  daerah potensial penangkapan ikan. Model hidrodinamika yang digunakan dalam studi ini adalah finite volume. Skenario model berupa domain dalam sepuluh lapisan kolom air (equidistant) dengan pembangkit arus berupa angin dan pasang surut. Gaya coriolis dimasukkan dalam perhitungan karena model memiliki domain yang luas. Simulasi dilakukan untuk Januari, April, Agustus dan Oktober 2007. Pola arus tiga dimensi (u, v, w) dan elevasi setiap jam didapat sebagai keluaran. Komponen positif arus vertikal, w, dirata-ratakan sepanjang bulan per elemen kolom air, kemudian di-plot menjadi peta upwelling. Pola arus hasil simulasi dapat menggambarkan eksistensi Halmahera Eddy, Mindanao Eddy, South Java Current, Coastal Kelvin Wave (diduga) dan Arus Lintas Indonesia. Validasi yang baik ditunjukkan dengan RMS error elevasi relatif rendah, pada dua stasiun buoy DART di wilayah studi, yaitu 5,8542x10-2m ? 1,1735x10-1m. Upwelling pada Musim Barat terjadi di Indonesia Timur (perairan Busur Banda, Laut Maluku, Laut Seram, Selat Ujung Pandang, Teluk Tomini, Teluk Tolo, Teluk Bone). Upwelling mulai muncul di selatan Jawa, sedangkan di Indonesia Timur menjadi berkurang pada Musim Peralihan I. Pada Musim Timur, upwelling mulai muncul dari selatan Jawa sampai barat Sumatera Barat dan menguat di Indonesia Timur. Pada Musim Peralihan II, upwelling meluas ke arah barat sampai perairan Pulau Simeuleu, sedangkan di Indonesia Timur berkurang dibandingkan Musim Timur.
VARIABILITAS POLA ARUS DAN GELOMBANG DI SELAT KARIMATA Heriati, Aida; Mustikasari, Eva; Azhar, M. Al
Jurnal Segara Vol 11, No 2 (2015): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2736.798 KB) | DOI: 10.15578/segara.v11i2.9087

Abstract

Tulisan ini membahas mengenai kondisi parameter fisik di daerah perairan Selat Karimata, yaitu kondisi angin, kondisi pasang surut, kondisi gelombang dan kondisi arus hasil dari pemodelan oseanografi. Data yang digunakan untuk pengolahan adalah data angin dari hasil pengamatan, data pasang surut dari Tide Model Driver (TMD) dan data batimetri dari GEBCO. Kejadian angin paling dominan terjadi adalah dari arah selatan dengan prosentase kejadian sebanyak 7,4%, tenggara 6,8% dan timur 6,5% dan hasil pemodelan gelombang menggunakan metode Sverdrup-Munk-Bretschneider memperlihatkan kondisi gelombang dengan arah gelombang dominan adalah arah tenggara dengan jumlah prosentase kejadian sebesar 6,76 %, dengan prosentase yang paling tinggi adalah pada kejadian gelombang dengan ketinggian 0,1 ? 1 m. Tipe pasang surut yang terjadi di Selat Karimata adalah tipe pasang surut tipe tunggal (diurnal tides). Kondisi arus hasil pemodelan di perairan Selat Karimata menunjukkan bahwa arus yang kuat terjadi pada saat kondisi pasang dengan kecepatan maksimum arus yang terjadi adalah sebesar 0,6 m/dtk yang terjadi pada kondisi pasang menuju surut purnama.
Reef Geomorphology and Associated Habitats of Karimunjawa Islands, Indonesia: A Spatial Approach to Improve Coastal and Small Islands Management Solihuddin, Tubagus; Utami, Dwi Amanda; Salim, Hadiwijaya Lesmana; Mustikasari, Eva
Jurnal Segara Vol 16, No 2 (2020): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/segara.v16i2.8385

Abstract

The Karimunjawa Islands are situated in the offshore of Jepara region of Central Java with abundant coastal and marine resources including coral reefs. The reef geomorphology appears typical of fringing reefs worldwide comprising reef flat, reef crest and reef slope. The reef geomorphic profiles are generally gently sloping seaward with slightly raised reef crest along the reef edge. The reefs slope moderately (15-30°) at the upper forereef slope (~5-10 m depth) and tend to drop steeply, sometimes almost vertical, at depths of 10-30 m. The coral communities are found from the intertidal to a depth of about 15 m, with the most vigorous development occurring between 1.5 to 5 m. The reef flats have low coral cover and are extensively covered by a mixture of seagrass beds and carbonate sand. The reef crests, which mark boundaries between reef flat and upper forereef slope, are mainly colonized by mixed Acropora corals, mainly A. Hyacinthus. The forereef slopes have substantial coral growth prevailing mixed branching Acropora, Porites cylindrica and Porites sp. Sediments on the reef flats are mainly bioclastic materials derived from reef-erosion, including coral fragments, mollusks, foraminifera, red algae, Halimeda, Echinodermata, aggregate, quartz, and lithic fragments. Seagrass beds, mainly Enhalus, occur on the inner reef flat and are gradually shifted to macroalgae, predominantly Sargassum. The study provides a basic requirement for fisheries management and environmental monitoring for a mid-Sunda Shelf within a biodiversity “hotspot”.
RESIKO IMPLEMENTASI CLOUD COMPUTING DAN PENANGANANNYA DALAM MENDUKUNG RISET KELAUTAN DAN PERIKANAN Mustikasari, Eva; Saepuloh, Dani
Jurnal Pari Vol 6, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : BRSDM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jp.v6i2.9739

Abstract

Riset adalah proses mengumpulkan, menganalisis, dan menerjemahkan informasi atau data secara sistematis untuk menambah pemahaman kita terhadap suatu fenomena tertentu yangmenarik perhatian kita. FORMAL RESEARCH yaitu riset yang ditujukan untuk menambah pemahaman kita terhadap suatu fenomena dan untuk dikomunikasikan kepada komunitas (dipublikasikan) melalui media internet (online) dengan menggunakan teknologi cloud Computing.Menggunakan Cloud Computing harus diperhatikan keamanan data agar pengguna memiliki kepercayaan dalam menggunakannya. Pengembangan cloud computing akan mengarah padaberkembangnya suatu teknologi pengiring cloud computing yaitu suatu bentuk teknologi yang dapat menjamin keamanan data. Selain itu, perkembangan cloud computing ini selanjutnya akanmemasuki tahap integrasi antar berbagai provider dengan mengedepankan prinsip interoperabilitas.Research is the process of collecting, analyzing, and systematically translating information or data to increase our understanding of a particular phenomenon that interests us. FORMAL RESEARCH, which is research aimed at increasing our understanding of a phenomenon and to be communicated to the community (published) via the internet (online) using cloud computing technology. Using Cloud Computing data security must be considered so that users have confidencein using it. The development of cloud computing will lead to the development of a technology that accompanies cloud computing, which is a form of technology that can ensure data security. In addition, the development of cloud computing will then enter the integration stage between various providers by prioritizing the principle of interoperability.
RANCANGAN ARSITEKTUR PROSES BISNIS SISTEM INFORMASI BASIS DATA KELAUTAN MENGGUNAKAN KERANGKA KERJA TOGAF PADA PUSAT RISET KELAUTAN Mustikasari, Eva
Jurnal Pari Vol 5, No 1 (2019): Juli 2019
Publisher : BRSDM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jp.v5i1.8740

Abstract

ABSTRAKPerancangan arsitektur Sistem Informasi basis data kelautan ini merupakan salah satu upaya pemenuhan kebutuhan bisnis strategi organisasi dan memudahkan akses informasi bidangkelautan dan perikanan bagi masyarakat dan para pemangku kepentingan. Rancangan arsitektur ini menggunakan kerangka kerja The Open Group Architecture Framework (TOGAF). TOGAF merupakan metoda terinci dan serangkaian alat pendukung untuk mengembangkan suatuArsitektur Informasi. Kerangka ini mempertimbangkan aset perusahaan atau lembaga dan berfokus pada berbagai aplikasi bisnis mission-critical dan memungkinkan perancangan Arsitektur Informasi yang costumized. Selain arsitektur bisnis, TOGAF juga merupakan serangkaian metodadan alat untuk membangun variasi arsitektur, termasuk arsitektur data, aplikasi dan teknologi. Data diperoleh dengan melakukan pengukuran model tingkat kematangan sebagai acuan dalammelakukan identifikasi dan analisis terhadap kondisi saat ini dari sisi TI dan Organisasi. Hasil rancangan arsitektur menunjukkan bahwa proses bisnis SI basis data Pusriskel terdiri dari 3 unsur utama, antara lain yaitu: Kompenen organisasi, fungsi bisnis dan entitas data masingmasingfungsi bisnis. Proses bisnis SI basis data Pusriskel dirancang dengan pendekatan prinsip tujuh kriteria informasi diantaranya adalah efektivitas, efisiensi, kerahasiaan, integritas, ketersediaan,kepatuhan dan keandalan. Ke tujuh kriteria ini digunakan sebagai kontrol untuk memenuhi kebutuhan penyediaan dan pengelolaan data dan informasi kelautan dan perikanan yang memiliki kapabilitas integritas data yang baik.ABSRACTThis architectural design of Marine Database Information System is one of the essential efforts to address the needs of the Organization’s strategy to easily access the maritime and fisheries information for communities and stakeholders. Here, the architectural design uses the framework of The Open Group Architecture Framework (TOGAF). TOGAF is a detailed method and a series of supporting tools for developing an Information Architecture. This framework considers the assets of a company or institution and focuses on a variety of mission-critical business applications that also enables customized Information Architecture design. In addition, TOGAF is also a series of methods and tools for building architectural variations including data, applications, and technology.The data is obtained by measuring the maturity level model for a reference in identifying and analyzing current conditions in terms of IT and Organization. The architectural designs show that the database of information system in Pusriskel consists of three main elements, includingOrganization Components, Business Functions, and Data Entities of Each Business Function. The database of SI’s business in Pusriskel is designed with a 7-information criteria principle approach including effectiveness, efficiency, confidentiality, integrity, availability, obedience, and reliability.These 7-information criteria are used as a control to address the needs for the data provision and management of marine and Fisheries information which has good data integrity capabilities. 
Pola Hidrodinamika di Perairan Nunukan sebagai Usulan pada Permasalahan Abrasi Pulau-pulau Kecil Hardhiyanti, Wulan Fitry; Kurniadi, Yessi Nirwana; Mustikasari, Eva; Noviadi, Yogi
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 2: Juni 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i2.58

Abstract

ABSTRAKPerairan Nunukan yang berada di Provinsi Kalimantan Utara, merupakan salah satu wilayah terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Negara Malaysia. Berada dalam wilayah terluar, Kabupaten Nunukan menyimpan banyak potensi dalam sektor kelautan dan perikanan. Sangat penting untuk menjaga zona ekonomi eksklusif pulau-pulau kecil terluar Indonesia dari abrasi. Besar abrasi yang mungkin terjadi dapat diketahui dengan melakukan analisis pemodelan mengenai hidrodinamika wilayah tersebut. Pemodelan numerik dilakukan menggunakan perangkat lunak MIKE 21 dengan modul Hydrodynamic (HD). Pemodelan yang dilakukan terdiri dari grid persegi dan mesh terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan terdapat beberapa daerah di Kabupaten Nunukan terjadi peningkatan kecepatan arus antara 0,1625 m/s sampai 0,3 m/s yang berpotensi terjadi abrasi. Abrasi terjadi di barat daya Pulau Sebatik, Perairan Nunukan sepanjang 1.014,26 meter. Penelitian sebelumnya menunjukkan, ukuran butir di wilayah tersebut sebesar pasir kelanauan sebesar 0,01 mm. Terdapat hubungan antara kecepatan dan ukuran butir yang menyatakan wilayah tersebut memiliki potensi abrasi.Kata kunci: hidrodinamika, pemodelan, arus, pasang surut, abrasiABSTRACTSebatik Island is located in Nunukan sea at North Kalimantan Province. This island is one of the outermost area in Indonesia which is in border line with Malaysia. These outlying islands keep a lot of potential in marine, and fishery. It is important to keep Indonesia exclusive economic zone by protecting this outlying island from abrasion. Abrasion can be found by analyzing hydrodynamic modelling in the area. Hydrodynamic modelling is using software MIKE 21 with Hydrodynamic modules (HD). The numerical hydrodynamic modelling was consists of rectangular grid and unstructured mesh modelling. The modelling showed there are some area in Kabupaten Nunukan are has increase of current velocity between 0.1625 m/s and 0.3 m/s that potentially to abrasion. Abrasion occurred in the southwest of Sebatik Island, Nunukan sea along 1,014.26 meters. Based on the observation before, the grain size in the area was 0.01 mm sand silt. There is correlation between the current velocity and grain size in the area has potentially to abrasion.Keywords: hydrodynamic, modelling, current, tides, abrasion