Simanjuntak, Horbanus Josua
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

AJARAN GNOSTIK DALAM JEMAAT EFESUS DI SURAT TIMOTIUS DAN TITUS (GNOSTIC TEACHING IN EFESUS CONGREGATIONS IN TIMOTHY AND TITUS LETTERS) Widjaja, Imron; Simanjuntak, Horbanus Josua; Embong Bulan, Susanti
QUAERENS: Journal of Theology and Christianity Studies Vol 1 No 1 (2019): QUAERENS: Journal of Theology and Christianity Studies
Publisher : Widya Agape School of Theology and Indonesia Christian Theologians Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1541.262 KB) | DOI: 10.46362/quaerens.v1i1.16

Abstract

This paper discusses the Gnostic teachings which pose a great danger to the true faith of the Ephesians in the Epistles of Timothy and Titus. This gnostic teaching is categorized as heresy and the instructor is called heresy teacher. It was described as pervasive words, like cancer (2 Tim.2: 17). Paul writes of how dangerous the Gnostic teachings and teachers are. They pretend to know, even though they don't know anything. The disease looks for questions and worries, which causes envy, injury, slander, suspicion and strife among people who are no longer healthy and right minded (1 Tim 6: 4-5). That is why, Paul said: "stay away from them!" (2 Tim 3: 5) and in Titus 1: 11a it says, "the people must be shut up." This teaches God's people today to be careful of every teaching, because unhealthy teaching brings God's people into envy, injury, slander, suspicion and strife among people who are no longer healthy and right minded. Tulisan ini membahas ajaran gnostik yang menjadi ancaman bahaya besar terhadap iman sejati jemaat Efesus di Surat Timotius dan Titus. Ajaran gnostik ini dikategorikan sebagai ajaran sesat dan pengajarnya disebut pengajar sesat. Hal itu digambarkan sebagai perkataan yang menjalar, seperti penyakit kanker (2 Tim.2: 17). Paulus menuliskan betapa berbahayanya ajaran dan pengajar gnostik. Mereka berlagak tahu, padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya suka mencari soal-soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga dan percekcokan di antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan benar (1 Tim 6: 4-5). Itu sebabnya, Paulus berkata: “jauhilah mereka itu!” (2 Tim 3: 5) dan dalam Titus 1: 11a dikatakan, “orang-orang itu harus ditutup mulutnya.” Hal ini mengajarkan kepada umat Tuhan pada saat ini untuk berhati-hati kepada setiap pengajaran, karena pengajaran yang tidak sehat mebawa umat Tuhan kedalam dengki, cidera, fitnah, curiga dan percekcokan di antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan benar.
KONSEP SESAMAKU MANUSIA DALAM LUKAS 10: 25-37 SIMANJUNTAK, HORBANUS JOSUA
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 3, No 1 (2019): J.VoW Vol. 3 No. 1 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v3i1.38

Abstract

?Siapakah sesamaku manusia?? Pertanyaan seorang ahli Taurat ini dilatarbelakangi oleh adanya pemahamannya tentang ?sesamanya manusia? yang hanya terbatas pada orang Yahudi saja. Pemahaman seperti ini akan cenderung membatasi perilaku untuk mengasihi orang lain di luar satu ikatan hubungan tertentu. Bahkan praktek hidup primordial seperti ini dapat merusak kesKata kunci kurang atuan dan persatuan bangsa. Karena itu, diperlukan suatu kajian eksegetis tentang konsep ?sesamaku manusia? dalam Lukas 10: 25-37, supaya mendapatkan konsep yang benar tentang sesama manusia. Penulis injil Lukas menunjukkan, konsep ?sesama manusia? yang harus dikasihi tidak dibatasi oleh ikatan apapun, bahkan musuh atau yang memusuhipun harus dikasihi, seperti mengasihi diri sendiri. Dengan demikian, diharapkan setiap orang untuk mengasihi sesamanya manusia, seperti dirinya sendiri. Hal ini akan berdampak terhadap harmonisasi hubungan dengan siapa saja, sehingga dapat menjaga keutuhan, kesatuan dan persatuan, seperti satu bangsa.