Atmaka, Dominikus Raditya
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Dietary intake changes in adolescent girl after iron deficiency anemia diagnosis Atmaka, Dominikus Raditya; Ningsih, Windi Indah Fajar; Maghribi, Risnukathulistiwi
Health Science Journal of Indonesia Vol 11 No 1 (2020)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v11i1.3143

Abstract

Latar Belakang: Defisiensi zat besi dapat terjadi karena rendahnya konsumsi makanan yang mengandung tinggi zat besi dan tingginya konsumsi makanan yang dapat menghambat absorpsi zat besi. Meningkatkan asupan zat gizi adalah salah satu cara paling efektif untuk memutus rantai permasalahan anemia defisiensi zat besi. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari perubahan asupan gizi dan kesadaran akan kesehatan pada remaja perempuan sebelum dan setelah diagnosis anemia defisiensi besi. Metode: Penelitian menggunakan desain kohort dengan subyek sebanyak 62 orang dari 2 Sekolah Menengah Pertama di Wates setelah dilakukan tes hemoglobin (metode cyanmethemoglobin) dan baru didiagnosis anemia defisiensi besi. Asupan energi, zat gizi makro (protein, lemak, karbohidrat), zat gizi mikro (zat besi, vitamin C, tembaga, zink, vitamin B12), faktor penghambat serapan (tanin, oksalat, fitat, serat), juga asupan, buah, sayur, kopi, dan teh diperoleh dengan semi quantitative food frequency questionnaire (SQFFQ), 3 bulan sebelum dan 3 bulan setelah diagnosis anemia defisiensi besi. Data dihitung dengan Nutrisurvey® and STATA 12® menggunakan paired T-test. Hasil: Tidak ada perubahan signifikan (p>0,05) pada asupan energi, protein, lemak, zink, vitamin B12, tembaga, serat, tanin, dan oksalat. Terdapat peningkatan signifikan asupan karbohidrat (p=0,0161), zat besi(p=0,0057), fitat (p=0,000), dan vitamin C (p=0,0017). Tidak ada perubahan signifikan rata-rata asupan buah, sayur, dan teh (p>0,05), tetapi konsumsi kopi lebih tinggi (p=0,0018). Kesimpulan: Diagnosis anemia defisiensi besi mengarahkan pada perubahan asupan zat gizi. Subyek menjadi lebih sadar pada asupan zat gizi setelah diagnosis anemia defisiensi besi. Dibutuhkan usaha lebih untuk merubah asupan buah dan sayur yang rendah dan konsumsi teh dan kopi yang tinggi. Kata Kunci: perubahan asupan gizi, kebiasaan makan, remaja perempuan, anemia defisiensi zat besi Abstract Background: Iron deficiency may happen because of low consumption of foods rich in bioavailable iron and high consumption of foods rich in inhibitors of iron absorption. Improving dietary intake is the most effective way to break the chain of iron deficiency anemia problems. This study aimed to study the changes in dietary intake and health awareness among adolescent girl before and after iron deficiency anemia diagnosis. Method: Cohort study with 62 subjects from 2 junior high school in Wates after hemoglobin test (cyanmethemoglobin method) and were newly iron deficiency anemia diagnosed. Intake of energy, macronutrient (protein, fat, carbohydrate), micronutrient (iron, vitamin C, Copper, Zinc, vitamin B12), inhibitor factors (tannin, oxalate, phytate, fiber), also intake of fruit, vegetable, coffee, and tea, collected using semi quantitative food frequency questionnaire (SQFFQ), 3 months before and 3 months after iron deficiency anemia diagnosis. Data calculated with Nutrisurvey® and STATA 12® for paired T-test. Result: No significant changes (p>0,05) in energy, protein, fat, zinc, vitamin B12, copper, fiber, tannin, and oxalate intake. There were significant improvement in intake of carbohydrate (p=0,0161), iron (p=0,0057), phytate (p=0,000), and vitamin C (p=0,0017). No significant changes in mean intake of fruit, vegetable, and tea servings (p>0,05), but higher consumption of coffee (p=0,0018). Conclusion: Iron deficiency anemia diagnosis resulted in dietary intake changes. Subjects were more aware of their dietary intake after iron deficiency anemia diagnosis. Small fruit and vegetable intake and high tea and coffee consumption suggested that efforts were needed to encourage dietary changes in these foods. Keywords: dietary changes, eating habit, adolescent girl, iron deficiency anemia
DIETARY FACTORS AFFECTING FIRMICUTES AND BACTEROIDETES RATIO IN SOLVING OBESITY PROBLEM: A LITERATURE REVIEW Sutoyo, Deandra Ardya; Atmaka, Dominikus Raditya; G. B. Sidabutar, Lisandra Maria
Media Gizi Indonesia Vol 15, No 2 (2020): JURNAL MEDIA GIZI INDONESIA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgi.v15i2.94-109

Abstract

Obesity is caused by several factors. Gut microbiota composition is known to be one of the factors to play a role in modulating the obesity process. Nutrient factors and bioactive compounds from food can infl uence and help in modifying the gut microbiota composition, especially Firmicutes and Bacteroidetes. The purpose of this article is to discuss how signifi cant the role of nutrients and other bioactive compounds on Firmicutes and Bacteroidetes ratio in solving the obesity problem. This article was compiled based on the literature search in the last ten years, related to nutrients and bioactive compounds infl uence Firmicutes/Bacteroidetes ratio in obesity. The results from several literature searches provided evidence that alteration in gut microbiota composition was linked to the increase of body weight through metabolic pathways, which was characterized by the increasing number of Firmicutes, the decreased number of Bacteroidetes, and an increase in Firmicutes/Bacteroidetes ratio. The increasing number of Firmicutes could induce short-chain fatty acid (SCFA) production and lead to more energy harvesting. Several dietary factors from fi ber and amino acid, as well as bioactive compounds from an organic acid and polyphenol compounds, could infl uence the gut microbiota composition by reducing the Firmicutes level and increasing Bacteroidetes. The gut microbiota composition, especially Firmicutes and Bacteroidetes, could be induced by modifying diet enriched with fi ber, polyphenol compounds, and other specifi ed nutrients
Evaluasi Suhu dan Kelembapan Ruang Pengolahan Dan Ruang Distribusi Instalasi Gizi Di Rsud Kabupaten Sidoarjo Sari, Yulianti Wulan; Rahadiyanti, Melania; atmaka, dominikus raditya
Amerta Nutrition Vol 5, No 1 (2021): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v5i1.2021.68-74

Abstract

Latar Belakang: Suhu dan kelembapan dalam ruang pengolahan dan distribusi merupakan hal penting yang harus diperhatikan. Suhu dan kelembapan ruangan yang baik akan menjaga makanan agar terhindar dari aktivitas mikroorganisme. Suhu dan kelembapan juga menjadi hal penting bagi penjamah makanan agar tetap merasa aman dan nyaman pada saat bekerja.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran suhu dan kelembapan udara pada ruangan pengolahan dan distribusi di Instalasi Gizi RSUD Kabupaten Sidoarjo.Metode: Penelitian ini menggunakan desain cohort retrospektif. Pengambilan data dilakukan sebanyak 4 kali sehari yaitu pagi ( sekitar pukul 10.00), siang (sekitar pukul 14.00) sore (sekitar pukul 17.00), dan malam (sekitar pukul 19.00). Penelitian suhu dan kelembapan dilakukan di ruang pengolahan dan distribusi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara melihat laporan penilaian ketepatan suhu dan kelembapan pada bulan april, mei, juli dan agustus yang telah diobservasi sebanyak 4 kali sehari.Hasil: Suhu di ruang pengolahan dan ruang distribusi lebih tinggi dibandingkan dengan standar rumah sakit yakni antara 25-27°C. Akan tetapi, apabila dibandingkan dengan standar Permenkes, suhu masih tergolong aman. Kelembapan udara di ruang pengolahan masih berada dalam standar, namun di ruang distribusi kelembapan udara lebih tinggi dari standar rumah sakit dan permenkes, yakni 40-70%.Kesimpulan: Suhu dan kelembapan udara di ruang pengolahan dan distribusi sudah memenuhi standar yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.Kata kunci: Suhu, Kelembapan, Ruang Pengolahan, Ruang Distribusi
Modifikasi Kacang Kedelai (Glycine Max) dan Hati Ayam Pada Sosis Ayam Sebagai Alternatif Sosis Tinggi Protein dan Zat Besi Lutfiah, Annisa; adi, annis catur; atmaka, dominikus raditya
Amerta Nutrition Vol 5, No 1 (2021): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v5i1.2021.75-83

Abstract

Latar Belakang: Hati ayam merupakan sumber zat besi yang baik dan kacang kedelai adalah jenis kacang-kacangan kaya protein dan besi yang dapat diolah menjadi sosis sebagai snack ataupun lauk tinggi protein dan zat besi.Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hasil mutu hedonik, daya terima, kadar protein dan zat besi pada sosis dengan substitusi hati ayam dan kacang kedelai.Metode: Jenis penelitian ini yaitu experimental murni dengan rangangan acak lengkap (RAL). Terdapat 4 jenis formula, yaitu formula kontrol F0 (ayam) dan 3 formula modifikasi F2 (35 g hati ayam dan 65 g kacang kedelai), F3 (45 g hati ayam dan 55 g kacang kedelai), F4 (55 g hati ayam dan 45 g kacang kedelai) dengan pengulangan 4 kali. Panelis penelitian terdiri dari 5 panelis terbatas dan 27 panelis tidak terlatih.Hasil: Berdasarkan hasil penilaian panelis terbatas pada uji mutu hedonik adalah formula F2, F3, dan F4. Hasil uji daya terima, formula yang paling disukai panelis tidak terlatih adalah formula F4. Kandungan protein dan besi pada 100 g sosis F4 yaitu 17,21 g dan 7,415 mg. Terdapat perbedaan signifikan antara F0 dan F4 pada karakteristik aroma (p = 0,045), kekenyalan (p < 0,000) dan rasa (p < 0,000).Kesimpulan: Formula dengan tingkat mutu hedonik terbaik terdapat pada formula F2, F3 dan F4. Formula dengan daya terima tertinggi terdapat pada F4. Satu porsi (33 g) dapat mencukupi 10 – 15 % dari kebutuhan protein dan besi pada remaja putri berusia 16 – 21 tahun.
FORMULASI SOFT CHEWY COOKIES BEBAS GLUTEN DAN KASEIN BERBASIS KOMBINASI MOCAF DAN TEPUNG MILLET PUTIH UNTUK ANAK AUTISM SPECTRUM DISORDER Free Gluten and Free Casein Soft Chewy Cookies Formulation with Combination of MOCAF and White Millet Flour Based for Children with Autism Spectrum Disorder Prasetyo, Kirana Dwiyanti; Atmaka, Dominikus Raditya
Media Gizi Indonesia Vol 16, No 2 (2021): JURNAL MEDIA GIZI INDONESIA (National Nutrition Journal)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgi.v16i2.167-174

Abstract

Children with Autism Spectrum Disorder (ASD) have to eat a gluten-free casein-free diet due to their special condition. Casein is protein that contained in milk and milk-based product which are source of calcium. Their special condition make children with ASD have a low bone-mass than other children. Modifi ed Cassava Flour (MOCAF) and white millet fl our are free gluten food sources which have rich calcium that is needed to increase nutrient quality in soft chewy cookies. This study was aimed to determine the eff ect of MOCAF fl our and white millet fl our combination on acceptability and nutritional value of free gluten and free casein soft chewy cookies. This study was true experimental study with complete randomized design. This study used un-trained panelist including ASD children(7–11 years old (25 panelists) and their parents (25 panelists). There were 4 formulas in this study consisted of 1 control formula (F0) based on 100% wheat fl our, and 4 treatment formulas which were combination of MOCAF fl our and white millet fl our with a percentage ratio of combination F1 (0%:100%) ; F2 (50%:50%) ; and F3 (75%:25%). Kruskal Wallis statistical test results showed there were signifi cant diff erences of aroma, color, texture, and taste between each formula. Result of acceptability and nutritional value showed F3 as the best formula. Each 60 g soft chewy cookies F3 contains 176,4 mg of calcium which fulfi ll 18% of calcium adequacy for 7–11 year old children. Gluten-free casein-free soft chewy cookies with combination of MOCAF and white millet fl our are suitable as an alternative snack for ASD children.
The Effect of Sucrose and Fructose Diet on Obesity in Test Animals: A Review Anggreini, Alvia; R. Sutoyo, Deandrya Ardya; Atmaka, Dominikus Raditya
Amerta Nutrition Vol 5, No 2 (2021): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v5i2.2021.173-179

Abstract

Latar belakang: Obesitas merupakan masalah kesehatan yang disebabkan oleh berbagai faktor salah satunya dari faktor diet. Diet tinggi sukrosa dan fruktosa dapat memicu terjadinya masalah gizi lebih yaitu overweight dan obesitas. Diet tinggi sukrosa dan fruktosa jika dilakukan seseorang yang mengalami obesitas akan menyebabkan masalah kesehatan seperti penyakit metabolik.Tujuan: Tujuan penulisan artikel ini adalah adalah membahas pengaruh diet tinggi sukrosa dan fruktosa terhadap obesitas.Metode: Penelusuran artikel berdasarkan literatur dalam 10 tahun terakhir (2010-2020) menggunakan database elektronik seperti Google Scholar, Scopus, Science Direct, dan PubMed/Medline yang menganalisis pengaruh diet tinggi sukrosa dan fruktosa terhadap obesitasUlasan: Hasil penelusuran penelitian menunjukkan bahwa diet tinggi sukrosa dan fruktosa dapat menyebabkan kenaikan berat badan, overweight, obesitas, meningkatkan lingkar pinggang, meningkatkan lemak dalam tubuh dan inflamasi pada jaringan adiposa. Dampak penyakit penyerta dari diet tinggi sukrosa dan fruktosa yaitu Nonalcoholic Fatty Liver Disease, kerusakan hati, penurunan energy expenditure dan stress oksidatif pada ginjal.Kesimpulan: Diet tinggi sukrosa dan fruktosa menyebabkan  kenaikan berat badan hingga masalah gizi lebih yaitu overweight dan obesitas. Dampak diet tinggi sukrosa dan fruktosa dengan penyakit akibat obesitas yakni menyebabkan NAFLD (Nonalcoholic Fatty Liver Disease). Penelitian terkait diet tinggi sukrosa dan fruktosa banyak dilakukan pada hewan coba. Penelitian selanjutnya diharapkan banyak dilakukan pada manusia juga, agar nantinya bisa dibandingkan dengan hasil penelitian dengan hewan coba, hasil tersebut sesuai dengan teori atau tidak.
Hubungan Screen Based Activity dan Perilaku Makan dengan Status Gizi Anak Usia 10-12 Tahun (Studi di SDI Darush Sholihin Kabupaten Nganjuk) Alfinnia, Silvia; Muniroh, Lailatul; Atmaka, Dominikus Raditya
Amerta Nutrition Vol 5, No 3 (2021): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v5i3.2021.223-229

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Anak usia sekolah mengalami peningkatan kebutuhan gizi untuk tumbuh kembang. Di usia ini, anak-anak bisa memilih makanan maupun media bermain sesuai keinginan mereka. Aktivitas menggunakan layar yang berlebih serta perilaku makan yang buruk dapat memicu terjadinya obesitas.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan Screen Based Activity (SBA) dan perilaku makan dengan status gizi anak usia sekolah.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional. Penelitian dilakukan di SDI Darush Sholihin Kabupaten Nganjuk. Besar sampel sebanyak 48 siswa yang dipilih secara proportional random sampling. Pengumpulan data meliputi berat badan, tinggi badan, kuesioner SBA, Food Frequency Questionnaire (FFQ), serta food recall 2x24 jam. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman dan Kendall’s tau dengan nilai signifikansi 0,05.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan SBA (p=0,151), perilaku makan makanan pokok (p=0,101), perilaku makan lauk hewani (p=0,212), perilaku makan lauk nabati (p=0,829), perilaku makan sayuran (p=0,751) dan perilaku makan jajanan (p=0,109) dengan status gizi. Namun, terdapat hubungan perilaku makan buah (p=0,040) dengan status gizi.Kesimpulan: Konsumsi buah-buahan yang sering tanpa memperhatikan kandungan gula dan cara penyajian dapat memberikan risiko obesitas pada anak. Diperlukan pendidikan gizi kepada pihak sekolah maupun orang tua mengenai pembatasan SBA dan perilaku makan sehat terutama buah untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal dan terhindar dari obesitas.