Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MENYOAL KONSISTENSI METODE PENAFSIRAN BINT SYATHI TENTANG MANUSIA DALAM AL-QUR’AN (STUDI KITAB MAQāL Fī AL-INSāN: DIRASAH QUR’ANIYYAH) Alwi HS, Muhammad; Parninsih, Iin
Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Tafsir Vol 4, No 2 (2019): Al-Bayan: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Qur?anic and Tafsir studies Programme at Ushuluddin Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-bayan.v4i2.7012

Abstract

Bint al-Syathi adalah seorang penafsir perempuan pertama yang memiliki kitab tafsir, namanya sangat berpengauh dalam perkembangan sejarah pemikiran Islam. Pemikiran Bint al-Syathi banyak dipengaruhi oleh suami sekaligus gurunya, Amin Al-Khuliy. Artikel ini bertujuan untuk mendiskusikan pemikiran salah satu tokoh perempuan, Bint Syathitentang konsistensi metode penafsirannya ketika menafsirkan manusia dalam karyanya ?Kitab Maq?l Fi Al-Ins?n: Dir?sah Qur??niyyah?Penelitian ini menggunakan metode deskripsi-analitis dengan menggunakan teori Pra-pemahaman, yakni segala sesuatu yang mempengaruhi pembaca teks yang menentukan dalam memberikan penafsiran, seperti latar belakang sosial, pendidikan dan sebagainya, sehingga setiap penafsiran senantaisa terikat dengan ruang lingkup penafsir.Hasil penelitian ini menunjukan,Bint al-Syathi hendak mengekspor eksistensi manusia dilihat dari sudut pandang Alquran. Manusia mengalami perjalanan panjang dari polemik penciptaannya, kemudian manusia sebagai al-Bashar, tumbuh menjadi manusia dengan penalarannya, sehingga sampai pada kesanggupan atau tidaknya manusia menjadi khalifah di bumi sebagai penerimaamanat dari Allah.Dalam menjelaskan kosa kata yang merujuk pada manusia, Bint al-Syathi nampak tidak konsisten dalam mengaplikaskan metodenya. Khususnya yang berkaitan dengan kosakata manusia. Ia hanya menjelaskan sesuai metode yang ditawarkan pada kata al-Ins?n, tetapitidak pada kata n?s, ins ataupun al-Bashar. 
PENDEKATAN MA‘NA-CUM-MAGZA ATAS KATA AHL (AN-NISA'/4: 58) DAN RELEVANSINYA DALAM KONTEKS PENAFSIR DI INDONESIA KONTEMPORER Parninsih, Iin; HS, Muhammad Alwi
SUHUF Vol 13 No 1 (2020)
Publisher : Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22548/shf.v13i1.509

Abstract

This article analyzes the meaning of contextual word of ahl in surah an-Nisa'/4: 58 through the approach of ma‘na-cum-magza of Sahiron Syamsuddin’s which was then linked with the context of the Qur’anic scholarship in Indonesia. In the understanding of the revelation era, ahl refer to Usman ibn Talhah as a man who was expert in keeping the key of the Ka’bah. The meaning of the word ahl was apparently not a single one, but experiencing variations between one interpretation and others, from classic to modern-contemporary. So the meaning of ahl can be developed in the current context of Indonesia, including the context of the Qur’anic scholarship. This article discussed the initial understanding (ma‘na) ahl through context analysis (micro and macro) and linguistic analysis (intra-textuality and inter-textuality) critically. Furthermore, this study draws significant understanding of ahl which is linked with the discourse of Qur’anic scholarship in Indonesia as the person who studies the Qur’an seriously. The term ahl thus could legitimize the Qur’anic scholar as ahl Al-Qur’ān. Who has a comprehensive, responsible, to be fair in interpreting the Qur’an. They are those are the Qur’anic scholars who have a competence and responsibility and just attitude in interpreting the Qur’an. Keywords: Ma‘na-cum-magza, contextual interpretation, Sahiron Syamsuddin, ahl.
The Application of Narrative Theory by Greimas in Understanding the Story of the Garden Owners in Al Qalam verses 17-32 HS, Muhammad Alwi; Parninsih, Iin
ISLAH : Journal of Islamic Literature And History Vol 1, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/islah.v1i1.61-74

Abstract

Tulisan ini hendak mendiskusikan pembacaan semiotika dalam mengungkap pemahaman atas kisah dalam al-Qur’an, yang dalam hal ini akan berfokus pada penerapan teori naratif dari A.J. Greimas atas kisah pemilik kebun dalam surah al-Qalam ayat 17-32. Pengambilan kisah pemilik kebun disebabkan masih sangat minimnya penelitian yang membahas kisah tersebut, termasuk pembacaan semiotika yang belum dilakukan. Padahal dalam kisah tersebut mengandung nilai moral yang perlu diungkapkan. Karena itu, berangkat dari asumsi bahwa al-Qur’an melalui kisah pemilik kebun memiliki misi ideal moral untuk umat manusia –khususnya umat Islam, baik pemahaman dalam dirinya sendiri maupun berangkat dari keilmuan dari luar, maka tulisan ini akan membuktikan nilai penting kehadiran kisah dalam al-Qur’an melalui integrasi keilmuan di luar islam, yakni semiotika. Adapun rumusan masalah yang hendak dijawab dalam tulisan ini adalah bagaimana pemahaman narasi dan ideal moral dalam kisah pemilik kebun pada QS. Al-Qalam: 17-32 berdasarkan teori naratif A.J. Greimas?