Saragih, Erman Sepniagus
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PROFIL HIDUP RUKUN ANTAR UMAT BERAGAMA PADA MASYARAKAT KELURAHAN BATANG BERUH KECAMATAN SIDIKALANG KABUPATEN DAIRI Saragih, Erman Sepniagus
Jurnal Christian Humaniora Vol 3, No 1 (2019): Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jch.v3i1.123

Abstract

A harmonious life between religious people is one of the shared ideas in the context of Bhinneka. Indonesian society from the past has different cultures, religions and social norms but is a distinctive and worthy of wealth to be preserved and preserved. This study aims to raise the profile of local tradition-based inter-religious harmony in Batang Beruh Village, Sidikalang District, Dairi Regency. The methodology used is a descriptive qualitative research that discusses the sociology of religion. Based on the data agreement with the triangulation technique, data reduction was carried out and concluded about the glue of harmony in family relations, local wisdom (Mardang, Pudun, Markebas, Mamiring, Sikatasatu, and Gugu), looking for houses of worship with assistance, related houses that mingled and gathered together. This condition is proof that interfaith believers accept, accept and accept fully acknowledge the same creation of God; need each other with each other.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Hidup rukun antar umat beragama merupakan salah satu cita-cita bersama dalam konteks kebhinekaan. Masyarakat Indonesia dari dahulunya sudah berbeda budaya, agama dan norma sosial tetapi ini merupakan nilai kekayaan yang khas dan layak untuk dijaga dan dilestarikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengangkat profil kerukunan antar umat beragama berbasis tradisi lokal di Kelurahan Batang Beruh, Kecamatan Sidikalang Kabupaten Dairi. Metodologi yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif pendekatan sosiologi agama. Berdasarkan perolehan data dengan tehnik trianggulasi, dilakukan reduksi data dan disimpulkan bahwa perekat kerukunan tercermin dalam hubungan kekerabatan keluarga, kearifan lokal (mardang, pudun, markebas, mamiring, sikatasatu dan gugu), letak rumah ibadah berdampingan, rumah penduduk yang berbaur dan budaya gotong-royong. Kondisi tersebut merupakan bukti bahwa antarumat beragama saling menerima, menghargai dan penuh kesadaran mengakui sama-sama ciptaan Tuhan; saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Keywords: Profile of Harmony, Religious
POLA MENDIDIK DI SINAGOGA DALAM TRADISI ISRAEL DAN IMPLIKASINYA PADA PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN Saragih, Erman Sepniagus
Jurnal Christian Humaniora Vol 3, No 2 (2019): November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jch.v3i2.124

Abstract

Abstract: The current of globalization is unstoppable and has an impact on culture, society, economics, and social relations. Christian Education has an important role in planting spiritual values as a practical control of the current flow of globalization. The purpose of this article is to raise the history of the educational process, the theological foundation as a pattern of education in the Synagogue in the tradition of teaching Israel which has implications for present-day Christian Education. The method used is the analysis of the content of the relevant literature. The results obtained are that the pattern of education in the Israeli tradition prioritizes God as true wisdom knowledge, experience-based learning with God (spirituality), curriculum grouping based on age, misyna is interpretation learning methods by adjusting words that are understood without reducing real meaning, and besides learning rabbis are done in an integrated manner with parents every day as God's command.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Arus globalisasi tidak terbendung dan berdampak pada budaya, masyarakat, ekonomi dan relasi sosial. Pendidikan Agama Kristen memiliki fungsi strategis dalam penanaman nilai-nilai spiritual sebagai kontrol praksis arus globalisasi masa kini. Tujuan penulisan artikel ini untuk mengangkat kepermukaan sejarah terjadinya proses pendidikan, landasan teologis sebagai pola pendidikan di Sinagoga dalam tradisi mengajar Israel yang berimplikasi pada pendidikan kristen. Metode yang digunakan adalah analisys content terhadap literatur yang relevan. Hasil yang diperoleh adalah pola pendidikan dalam tradisi Israel mengutamakan Allah sebagai pengetahuan hikmat sejati, pembelajaran berbasis pengalaman dengan Allah (spiritualitas), pengelompokan kurikulum berdasarkan usia, misyna metode pembelajaran penafsiran dengan penyesuaian kata-kata yang dipahami tanpa mengurangi makna sebenarnya, dan selain Rabi pembelajaran dilakukan secara terintegrasi dengan orang tua tiap harinya sebagai implementasi perintah Allah.Keywords: Israel, Christian, Education, Sinagoge
PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN BERBASIS WAWASAN KEBANGSAAN Saragih, Erman Sepniagus
Jurnal Teologi Cultivation Vol 2, No 2 (2018): Teologi Cultivation
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v2i2.276

Abstract

AbstrakJurnal ini membahas tentang Pendidikan Agama Kristen (PAK) berbasis karakter wawasan kebangsaan. PAK merupakan salah satu pilar pendidikan karakter. Pendidikan karakter akan terwujud jika dimulai tertanamnya jiwa wawasan kebangsaan pada anak didik, oleh sebab itu PAK merupakan salah satu unsur penunjang karakter anak didik. Melalui desain materi PAK berwawasan kebangsaan siswa diajarkan bahwa perbuatan nasionalis adalah bukti dari imanseperti dalam Alkitab.Kata Kunci : PAK, Karakter, KebangsaanAbstractThis article discusses about Christian Education based on national characterinsight. PAK is one of the pillars of character education. Character education will be realized if embedded in the spirit of insight of nationality in the students, therefore PAK is one of the supporting elements of the character of the protege. Through the design of the PAK material nationality students are taught that nationalistic deeds are evidence of faith as in the Bible.Keywords: Design, Christian Religion Education, Character, Nationality
ANALISIS DAN MAKNA TEOLOGI KETUHANAN YANG MAHA ESA DALAM KONTEKS PLURALISME AGAMA DI INDONESIA Saragih, Erman Sepniagus
Jurnal Teologi Cultivation Vol 2, No 1 (2018): Teologi Cultivation
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v2i1.175

Abstract

AbstrakIndonesia adalah bangsa yang majemuk. Keadaan ini berpeluang dan sensitif terhadap konflik sosial jika sikap toleran yang rendah, kepentingan politik dan fanatisme. Tujuan penulisan yaitu menemukan makna teologi “Ketuhanan” dalam konteks pluralisme agama. Metologi penelitian dilakukan dengan studi analisis isi. Kesimpulannya yaitu, pertama; kata ketuhanan tidak boleh difahami dari aspek agama tertentu saja dalam kemajemukan di Indonesia. Kedua; ketuhanan berarti sifat-sifat yang mengindahkan Tuhan sebagai tampilan antropomorfis oleh agama manapun. Ketiga; Ketuhanan merupakan hasil sejarah perumusan sila pertama Pancasila dengan kesadaran akan bhineka sebagai realita yang harus dirawat, dijunjung tinggi dan dihormati dalam berbagai aspek hidup melebihi agama. Kata Kunci : Ketuhanan Yang Maha Esa, Pluralisme Agama, Teologi AbstractA plural nation these circumstances are likely and sensitive to social conflict if low tolerance, political interests and fanaticism. The purpose of writing is to find the meaning of theology of as mentioned earlier in the context of religious pluralism. The methodology by content analysis, further interpret theologically. The concludes the theological meaning of God in the first principle of the Pancasila; is first, the meaning of divinity should not be understood from certain aspects of religion only in the context of pluralism in Indonesian. Second; divinity means the properties of God or attributes that need the God as an anthropomorphic appereance of and for any religions. Third; the sentences of “belief in the one and only God is the achierement of reconciliation of the historical resultsof the first principle of pancasila with the awareness of the difference as a reality that must be nurtured, upheld and respected in various aspects of life beyond certain religious values. Keywords: Ketuhanan Yang Maha Esa, Pluralism, Theology