Claim Missing Document
Check
Articles

Faktor Risiko Kejadian Stroke Iskemik pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 (Studi Kasus di RSUP Dr Kariadi Semarang) Muliawati, Ratna; Pemayun, Tjokorda Gde Dalem; Hadisaputro, Suharyo; Samekto, Widiastuti; Juliati, Hari Peni
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Komunitas Vol 1, No 1: Februari 2016
Publisher : Master of Epidemiology, School of Postgraduate Studies, Diponegoro University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.618 KB) | DOI: 10.14710/j.e.k.k.v1i1.3938

Abstract

Background : Stroke is the second leading cause of death and a major cause of long term disability. The prevalence of stroke in type 2 diabetes mellitus patients were increased. Diabetic patients have 3-4 times greater risk for ischemic stroke than non-diabetic. Information regarding risk factors for ischemic stroke in patients with type 2 diabetes mellitus is still limited. This study propose to determine risk factors of ischemic stroke in type 2 diabetes patients.Methods : Observational-analytic with case-control design study and qualitative data. Two groups of patients were include in this study, 48 ischemic stroke patient s with type 2 diabetes mellitus and 48 ischemic stroke without diabetes mellitus in Kariadi hospital, used by consecutive sampling. Data were collected by medical records and indepth interview. Data were analyzed by multiple logistic regression and content analysis.Results : Risk factors of ischemic stroke in patients with type 2 diabetes mellitus are hypertension (OR 5.42; 95% CI 1.40 to 20.93), fasting blood glucose levels ≥ 100 mg/dL(OR=2.72; 95%CI=1.13 to 6.56), and microalbuminuria (OR=10.92; 95%CI= 1.46 to 81.66). Age,sex, working status, cholesterol levels, triglycerid levels, HDL levels, LDL levels, total cholesterol/HDL ratio, triglyceride/HDL ratio, LDL/HDL ratio, and hyperuricemia are not statistically significant as a risk factors of ischemic stroke in type 2 diabetes mellitus patients. Conclusion: Hipertension, fasting blood glucose levels ≥ 100 mg/dL and microalbuminuria are significantly risk factors of ischemic stroke in type 2 diabetes mellitus patients. Microalbuminuria is the most dominant risk factor in stroke patients with type 2 diabetes mellitus.
Faktor Risiko Kejadian Infeksi Cacing Tambang pada Petani Pembibitan Albasia di Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo Wijaya, Norra Hendarni; Anies, Anies; Suhartono, Suhartono; Hadisaputro, Suharyo; Setyawan, Henry
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Komunitas Vol 1, No 1: Februari 2016
Publisher : Master of Epidemiology, School of Postgraduate Studies, Diponegoro University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (814.85 KB) | DOI: 10.14710/j.e.k.k.v1i1.3937

Abstract

Background : The prevalence of hookworm infection in Indonesia in 2002 - 2006 amounted to 2,4% ; 0,6% ; 5,1% ; 1,6% and 1,0%. No data reports on de-worming of DHO Purworejo. The results of a preliminary study of the month January 2014 shows the proportion of de - worming of 94,1% of the population of farmers plant nursery albasia 51 people, with the proportion of 41,2% hookworm.Methods : This study is observational analytic study with cross-sectional design. The study sample as many as 101 people, with purposive sampling. Samples taken from population studies that met the inclusion criteria (job as Albasia nursery growers, willing as respondent, place of residence in the territory of the district health center Kemiri, aged 18-64 years) and criteria exclusion (habit of consumption of raw vegetables, travel/resettled in a long time, not willing to be made respondents).Results : The proportion of patients with hookworm infection (64,3 %) or 65 people. The risk factors are shown to affect the incidence of hookworm infection among others ; wash feet after work (OR = 4,41), available toilet at work (OR = 3,77), wash hands after work (OR =3,74) and wear footwear when working (OR = 3,56).Conclusion : Several risk factors that influence the incidence of hookworm infection in nursery growers in the district albasia hazelnut is to wash the feet after work, lack of latrines in the workplace, wash hands after work and do not use footwear when working with a probability of 99,03%.
Hubungan Produksi IFN- dan IL-4 dengan Pengobatan Strategi DOTS fase intensif pada Penderita Tuberkulosis Paru Indreswari, Sri Andarini; Hadisaputro, Suharyo; Soesatyo, Marsetyawan HNE; Dharmawan, Yudhy
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2008: CONTINUING MEDICAL AND HEALTH EDUCATION (CMHE) | Peran Biomolekuler dalam Penegakan Diagnosis
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.051 KB)

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis paru masih menjadi masalah utama di seluruh dunia, terutama di Negara sedang berkembang. Di Indonesia hasil pengobatan dan konversi belum optimal. Banyak penyebab kekurang berhasilan pengobatan ini belum diketahui, khususnya yang berkaitan dengan faktor imunologi. Penelitian ini bertujuan menjelaskan hubungan produksi IFN- dan IL-4 dengan kesembuhan klinis, dalam hal ini terjadinya konversi BTA pasca 2 bulan pengobatan dengan strategi DOTS.Metoda: Rancangan penelitian adalah nested case control, pada penderita baru tuberkulosis paru dengan pemeriksaan sputum BTA positip yang mendapat pengobatan strategi DOTS selama 2 bulan. Kasus adalah penderita yang tidak mengalami konversi pasca 2 bulan pengobatan (BTA tetap positip), sedangkan kontrol adalah penderita yang mengalami konversi pasca 2 bulan pengobatan (BTA menjadi negatip). BTA sebagai hasil pemeriksaan Ziehl Neelsen yang diteruskan dengan tes Niasin. Produksi IFN-dan IL-4 di dalam serum diperiksa dengan metode ELISA. Untuk uji beda rata-rata produksi sitokin antara kasus dan kontrol dilakukan analisis dengan T- test.Hasil: Jumlah sampel 73, diperoleh dari 158 penderita baru berobat jalan yang diikuti selama 2 bulan, terdiri dari 34 kasus (14 diperiksa sitokin) dan 39 kontrol (21 diperiksa sitokin). Penelitian dilakukan di BP4, 12 Puskesmas dan RSUD Kota Semarang. Produksi rata-rata IFN- di dalam serum pasca 2 bulan pengobatan berbeda secara signifikan antara kasus dan kontrol dengan stimulasi PPD 0,5 ug/mL dan PPD 5 ug/mL. Tidak terdapat perbedaan antara kasus dan kontrol pada produksi rata-rata IL-4 dengan semua stimulasi dan tanpa stimulasi.Simpulan: Perbedaan secara signifikan antara kasus dan kontrol pasca 2 bulan pengobatan dalam produksi sitokin (IFN-) bersifat spesifik (hanya dengan stimulasi antigen). Produksi IL-4 tidak terdeteksi kecuali dengan stimulasi PHA, tidak terdapat perbedaan secara signifikan antara kasus dan kontrol.Kata kunci: Tuberkulosis, Interferon-, Interleukin-4, DOTS
PENGARUH KEDALAMAN MENYELAM, LAMA MENYELAM, ANEMIA TERHADAP KEJADIAN PENYAKIT DEKOMPRESI PADA PENYELAM TRADISIONAL Duke, Halena Isrumanti; Widyastuti, Sri Rahayu; Hadisaputro, Suharyo; Chasani, Shofa
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 12. No. 2. Tahun 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.847 KB)

Abstract

Latar Belakang:Penyakit dekompresi adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh pelepasan dan pengembangan gelembung-gelembung gas dari fase larut dalam darah atau jaringan akibat penurunan tekanan dengan cepat di sekitarnya. Faktor-faktor yang diduga meningkatkan dekompresi adalah kedalaman menyelam, lama menyelam, dan anemia.Tujuan :Untuk menjelaskan besarnya pengaruh kedalaman menyelam, lama menyelam, anemia terhadap kejadian penyakit dekompresi pada penyelam tradisional. Metode :Penelitian mix methode desain studi kasus kontrol yang diperkuat dengan  indepth interview ini dilakukan terhadap 46 responden, meliputi 23 kasus (penyelam tradisional penderita penyakit dekompresi) dan 23 kontrol (penyelam tradisional bukan penderita penyakit dekompresi) yang diambil secara purposive sampling. Instrument penelitian adalah  kuesioner wawancara. Analisis data secara univariat, bivariat (chi-square), dan multivariat (logistic regression).Hasil :Kedalaman  menyelam  ≥ 30 meter (OR = 6,62; 95% CI = 1,059 – 41,390, p<0.043), lama menyelam ≥ 2 jam (OR = 61,680; 95% CI = 3,687 – 1031,93, p<0.004) dan anemia (OR = 14,453, 95% CI = 2,146-97,346, p<0.006) berpengaruh terhadap kejadian penyakit dekompresi.Kesimpulan :Kedalaman  menyelam ≥ 30 meter, lama menyelam  ≥ 2 jam, dan anemia berpengaruh terhadap kejadian penyakit dekompresi dengan probabilitas 94,45%.
FAKTOR RISIKO KEJADIAN HIV DAN AIDS PADA REMAJA 14-24 TAHUN Arfan, Iskandar; Hadisaputro, Suharyo; Anies
JURNAL BORNEO AKCAYA Vol 2 No 1 (2015): Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Publik
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51266/borneoakcaya.v2i1.82

Abstract

Abstract. Adolescents are associated with risky activities so as to be a group at risk for HIV infection. Associated with the course of HIV infection, can be understood if the infection usually begins when adolescence. The purpose of this study was to prove the influence of the host and environmental factors that influence the incidence of HIV and AIDS in adolescents 14-24 years of age. The design was used a case-control design and reinforced with qualitative studies with the number of respondents was 110 respondents, including 55 cases and 55 controls, were selected by purposive sampling attention to inclusion and exclusion criteria. Quantitative data were collected by questionare interview, qualitative data were collected by indepth interview. Analysis of bivariate data using a chi-square test and multivariate data using logistic regression. Factor that proved to affect the incidence of infection HIV and AIDS in adolescents 14-24 years is risky behavior (unprotected sex) (OR = 12.41 and 95% CI = 3.37-45.71), the communication of parents (OR = 11 , 66 and 95% CI = 4.24- 32.07). The analysis also shows that if adolescents experience both of the above, then the chances of being infected with HIV and AIDS is equal to (86%). Factors that are not proven effect is education, residency status, risky behaviors (drug injection), the use of media television/handphone (see porn picture or video), the use of the Internet media (see porn picture or video), the condition of the parents (parents of adolescents in the context complete and not divorce or dead), parental supervision, relationship with parents, peer pressure (sex) and pressure peer (injectable drugs). Risk factors for the incidence of HIV and AIDS among adolescents 14-24 years is risky behavior (unprotected sex) high and communications poor parents, Adolescent expected to always understand about (HIV and AIDS, reproductive health, n drug) to avoid unsafe sex and fill leisure time with sports and positive behaviour. Parents / families are also expected to have knowledge about (HIV and AIDS, reproductive health, n drug) establish communication, attention, rules and open to discuss problems of children.
BEBERAPA FAKTOR RISIKO YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN STROKE NON HEMORAGIK (STUDI KASUS DI STROKE CENTER RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH PROPINSI SULAWESI SELATAN) ., Nildawati; Hadisaputro, Suharyo; Samekto, Widiastuti
Jurnal Kesehatan Vol 7, No 2 (2014): Jurnal Kesehatan
Publisher : Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stroke non hemoragik masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, berkaitan dengan tingginya angka morbiditas, mortalitas dan disability. Data tahun 2009 menunjukkan bahwa jumlah kunjungan Stroke non hemoragik di RS khusus daerah Propinsi Sulawesi Se-latan mencapai 890. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui beberapa faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian stroke non hemoragik.Metode Case Control Study dimana kasus adalah pasien stroke non hemoragik yang berkunjung di Stroke Center Rumah Sakit Khusus Daerah Propinsi Sulawesi Selatan antara kurun waktu Januari 2011 hingga April 2012, sedangkan kontrol adalah pasien yang pernah dan sedang dirawat inap dari bangsal penyakit dalam, dalam kurun waktu yang sama dengan kelompok kasus. Data diperoleh dari buku register, catatan medis, serta dilakukan indepth interview.Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor risiko yang terbukti berpengaruh terhadap kejadian stroke non hemoragik adalah riwayat penyakit dalam keluarga (p = 0,004, OR = 3,6, 95%CI = 1,5-8,9), kebiasaan mengkonsumsi alkohol/ballo (p = 0,004, OR = 4,9, 95%CI = 1,8-13,3), stressor psikososial (p = 0,050, OR = 2,9, 95%CI = 1,0-7,9), pola perilaku (p = 0,004, OR = 5,1, 95%CI = 1,7-15,7), diabetes mellitus (p = 0,000, OR = 5,6, 95%CI = 2,5-12,9%), penyakit jantung (p = 0,011, OR = 3,7, 95%CI = 1,3-9,9), dan kebia-saan mengkonsumsi daging (p = 0,008, OR = 6,0, 95%CI = 1,5-22,7).Faktor risiko yang terbukti secara signifikan adalah riwayat penyakit dalam keluarga, kebiasaan mengkonsumsi alkohol, stressor psikososial, pola perilaku tipe A, diabates melli-tus, kelainan jantung, serta kebiasaan mengkonsumsi daging. Perilaku hidup sehat dengan tidak mengkonsumsi alkohol, olah raga secara teratur, makan makanan yang sehat dan kon-sumsi kolesterol yang berimbang serta tidak stress merupakan faktor penting untuk mencegah terjadinya stroke non hemoragik.Kata kunci : Stroke Non Hemoragik, Faktor-Faktor Risiko, Kasus Kontrol.
Prevention and control of Typhoid fever Hadisaputro, Suharyo
Medical Journal of Indonesia Vol 7 (1998): Supplement 1
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1093.276 KB) | DOI: 10.13181/mji.v7iSupp1.1056

Abstract

[no abstract available]
Faktor HLA-DRB pada Penderita Tuberkulosis Paru dengan Pengobatan Strategi DOTS Indreswari, Sri Andarini; Hadisaputro, Suharyo; Soesatyo, Marsetyawan HNE; Handono, Kusworini
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2011:MMI Volume 45 Issue 1 Year 2011
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.14 KB)

Abstract

ABSTRACTHLA-DRB factor in pulmonal tuberculosis with DOTS strategic treatmentBackground: Tuberculosis remains one of the world’s greatest public health problems, especially in developing countries. In Indonesia the results of DOTS strategic treatment and conversion have not been fruitful results. Many factors play important roles in the success of DOTS strategic treatment, but a little attention was given to the immuno genetics aspects. This study was aimed at theassociation between HLA-DRB factors and clinical output on DOTS strategic treatment (after first 2 months of treatment):conversion of sputum smear positive.Method: A nested case control study was carried out. The exposure variables were alleles of HLA-DRB (result of PCR examination), while the independent variables were sputum smear positive and negative (result of laboratories examination with Ziehl Neelsen staining, Niacin test). Body mass index (BMI) and sex were confounding variables. Odds ratio (OR) was calculated using bivariate and logistic regression for multivariate analysis.Result: A total sample of 73 new patients with active tuberculosis (sputum smear positive) in developing treatment with DOTS strategic treatment, consist of 34 cases and 39 controls. The odds ratio (OR) of HLA-DRB1*1502 and HLA-DRB5*01 were 3.2 (95%CI: 1.103-9.287). The OR of HLA-DRB1*1201 was 0.305 (95% CI: 0.117-0.798), OR of HLA-DRB3*01 was 0.214 (95% CI: 0.077- 0.592). The PAR (population attributable rate) of HLA-DRB1*1502 and HLA-DRB%*01 were 42.64%. While confounding variables were analyzed, only allele HLA-DRB1*1502 was significant, OR 4.9 (95% CI: 1.234-15.617), the probability was 70.57%.Conclusion: HLA-DRB1*1502 is an allele is a risk factor for the conversion of sputum smear positive after 2 months of treatment.Keywords: Tuberculosis, human leukocyte antigen (HLA)ABSTRAKLatar belakang: Di Indonesia hasil pengobatan  tuberkulosis paru belum optimal. Penyebab kekurangberhasilan pengobatan ini belum diketahui, khususnya yang berkaitan dengan faktor imunogenetika. Penelitian bertujuan menjelaskan hubungan faktor HLADRBdengan kesembuhan klinis, dalam hal ini terjadinya konversi BTA pasca 2 bulan pengobatan dengan strategi DOTS.Metoda: Rancangan penelitian adalah nested case control, pada penderita baru tuberkulosis paru dengan pemeriksaan sputum BTA positif yang mendapat pengobatan strategi DOTS selama 2 bulan. Jenis alel (HLA-DRB) yang ditemukan dengan pemeriksaan PCR dinyatakan sebagai variabel paparan, variabel efek adalah hasil pemeriksaan sputum (BTA) dengan pengecatan Ziehl Neelsen yangditeruskan dengan tes Niacin pasca 2 bulan pengobatan. Sebagai variabel perancu ditetapkan BMI dan jenis kelamin. Analisis dilakukan dengan menghitung rasio odds dengan chi-square dan regresi logistik.Hasil: Jumlah sampel 73, diperoleh dari 158 penderita baru berobat jalan yang diikuti selama 2 bulan, terdiri dari 34 kasus (BTA tetap positif pasca 2 bulan pengobatan) dan 39 kontrol (BTA menjadi negatif). Penelitian dilakukan di BP4, 12 puskesmas dan RSUD di Kota Semarang. Hasil penelitian adalah besar risiko (OR) HLA-DRB1*1502 dan HLA-DRB5*01 untuk tidak terjadinya konversi BTA 3,2 (95% CI: 1,103-9,287). Alel HLA-DRB1*1201 dan alel HLA-DRB3*01 merupakan alel yang bersifat protektifdengan OR 0,305 (95% CI: 0,117-0,798), sedangkan HLADRB3*01 dengan OR 0,214 (95% CI: 0,077-0,592). PAR untuk alel HLADRB1* 1502 dan HLA-DRB5*01 sebesar 42,64%. Apabila variabel perancu dimasukkan dalam analisis, maka hanya alel HLA-DRB1*1502 yang secara signifikan merupakan faktor risiko untuk tidak terjadinya konversi BTA pasca 2 bulan awal pengobatan dengan strategi DOTS. OR 4,9 (95% CI:1,234-15,617). Probabilitas untuk HLA-DRB1*1502 adalah sebesar 70,57%.Simpulan: Alel HLA-DRB1*1502 merupakan faktor risikountuk tidak terjadinya konversi BTA pasca 2 bulanpengobatan, dengan probabilitas cukup besar.
Hipotiroidisme pada Wanita Usia Subur (WUS) di Daerah Pertanian: Penelitian di Kecamatan Kersana Kabupaten Brebes Suhartono, Suhartono; Djokomoeljanto, Sri; Hadisaputro, Suharyo; Subagio, Hertanto Wahyu; Kartini, Apoina
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2010:MMI VOLUME 44 ISSUE 1 YEAR 2010
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.499 KB)

Abstract

Background: Hypothyroidism can cause infertility, spontaneous abortion, fetal growth-development disorders, placental abruption and prematurity. Exposure to pesticides, both of organochlorines and organophosphate, can cause hypothyroidism. The aim of the study was to examine the prevalence of hypothyroidism in WCA in agricultural areas.Methods: A cross-sectional study was conducted in two hundred and eight women of WCA who were randomly selected from four villages and TSH levels were examined. The TSH cut-off point for the diagnosis of hypothyroidism was 4.5 μIU/mL. In a sub-sample, fT4 levels, UEI and thiocyanate in urine, were also examined. Result: The mean level of TSH was 3.66 (±5.330) μIU/mL, the lowest value was 0.05, and the highest was 60 µIU/mL; the median was 2.38 μIU/mL; the mean FT 4 (n=89) was 16.207±3.0438 pmol/L; UEI median value (n=41) was 288.0 mcg/L; while the mean of urinary thiocyanate levels (n=41) was 1.468±1.25 mcg/mL. There were 47 WCA (22,6%) with hypothyroidism, 46 of which (97.9%) are sub-clinical hypothyroidism.Conclusion: The prevalence of hypothyroidism in WCA was 22.6% and almost all women had sub-clinical hypothyroidism. Pesticide exposure is suspected as a risk factor for hypothyroidism in this population.ABSTRAKLatar belakang: Hipotiroidisme merupakan keadaan, di mana kelenjar tiroid tidak dapat memproduksi hormon cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Pada WUS, hipotiroidisme dapat menyebabkan infertilitas, abortus spontan, gangguan tumbuh-kembang janin, placental abruption dan bayi lahir sebelum waktunya. Pajanan pestisida, baik dari golongan organoklorin maupun organofosfat, dapat menyebabkan hipotiroidisme. Penelitian ini bertujuan mengkaji berapa besar prevalensi hipotiroidisme pada WUS yang bertempat tinggal di daerah pertanian.Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. 208 WUS dipilih secara acak dari empat desa dan dilakukan pemeriksaan kadar TSH. Diagnosis hipotiroidisme ditegakkan berdasarkan kadar TSH 4,5 µIU/mL. Pada sebagian WUS (sub-sampel) dilakukan pemeriksaan kadar fT4, UEI dan kandungan tiosianat dalam urin. Hasil: Rerata kadar TSH adalah 3,66 (±5,330) µIU/mL, nilai terendah 0,05, nilai tertinggi 60 µIU/mL sedangkan median TSH 2,38 µIU/mL; rerata fT 4 (n=89) adalah 16,207±3,0438 pmol/L; nilai median UEI (n=41) adalah 288,0 µg/L; rerata kadar tiosianat urin (n=41) adalah 1,25±1,468 µg/mL. Didapatkan 47 WUS (22,6%) dengan hipotiroidisme, 46 di antaranya (97,9%) adalah hipotiroidisme sub-klinik.Simpulan: Prevalensi hipotiroidisme pada WUS sebesar 22,6%, hampir semuanya hipotiroidisme sub-klinik. Pajanan pestisida patut dicurigai sebagai faktor risiko pada WUS di daerah pertanian yang diteliti ini.
Hubungan antara Stres Oksidatif dengan Kadar Hemoglobin pada Penderita Thalassemia/Hbe Tamam, Moedrik; Hadisaputro, Suharyo; Sutaryo, Sutaryo; Setianingsih, Iswari; Djokomoeljanto, Djokomoeljanto; Soemantri, Ag
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.57 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.01.7

Abstract

Pemberian  transfusi  darah  kronik  pada  penderita  thalassemia  dapat   menyebabkan  kelebihan  kadar  besi.  Kelebihan  kadar besi  bebas  dalam  tubuh  akan  memacu  timbulnya  oksidan  berupa  reactive  oxygen  species   (ROS)  yang  diukur  dalam  bentuk malondialdehide  (MDA).  Peningkatan  produksi  ROS  dapat  menyebabkan  kerusakan  membran  sel  yang  mengandung senyawa lipid    termasuk eritrosit. T ujuan penelitian ini  adalah untuk menilai hubungan antara kadar MDA serum dengan kadar Hb penderita thalassemia. Metode penelitian ini  adalah penelitian observasional kohort prospective dilaksanakan di  UTD  PMI  Kota  Semarang.  Selama  bulan  Januari  2006  sampai  dengan  Desember  2009  dijumpai  32  penderita  thalassemia/HbE.  Variabel  penelitian kadar Hb dan MDA   serum.  Pengukuran dilakukan sebelum  transfusi  ke-1, setelah transfusi  ke-1 dan sebelum transfusi  ke-2. Analisis statistik menggunakan uji Mann-Whitney,  uji Wilcoxon  dan uji korelasi Spearman. Rerata  umur  subjek  penelitian  adalah  9,5±  3,13  tahun,  laki-laki  adalah  25  orang  (46,9%)  dan  perempuan  17  orang  (53,1%). Status  gizi  43,8  %  termasuk  gizi  kurang.  Kadar  MDA   kelompok   Hb  sebelum  transfusi  ke-2  8  g/dL  2,89±0,451  dan  kelompok Hb  &gt;8  g/dL  2,19±0,792  (p=0,01).  Ada  korelasi  negatif  antara  Hb  sebelum  transfusi  ke-2  dengan  MDA  (r=min  0,52;  p=0,002). Dapat  disimpulkan  ada  korelasi  negatif  antara  kadar  MDA  serum  dengan  kadar  Hb  pada  penderita  thalassemia  /HbE. Kata  Kunci:  Hemoglobin,  MDA,  stres  oksidatif ,  thalassemia  /HbE
Co-Authors -, Defi - Ag Soemantri Agus Suwandono Agustie, Panglukies Ratna Agustinus Soemantri Akhmad Rifai Alamsyah, Dedi Amelia, Maria Ani Margawati Anies Anies Anies Anwar, M.Choirul Apoina Kartini Ardiani, Hanifah Arfan, Iskandar Ari Budi Himawan Ari Suwondo Arianto, Mostang Ariyanto Ariyanto Asmawariza, Lalu Hersika Asril Aminullah Astuti, Ismi Puji Awan Hariyanto, Awan Bagoes Widjanarko Banundari Rachmawati Bedjo Santoso, Bedjo Budi Laksono Budi Palarto Chasani, Sofa Diana Diana Diki Retno Yuliani, Diki Retno Diyah Fatmasari Djamaluddin Ramlan, Djamaluddin Djamil, Masrifan Djokomoeljanto Djokomoeljanto Djokomoeljanto, Sri Duke, Halena Isrumanti Duke, Halena Isrumanti Dwi Pudjonarko Edi Dharmana Estiyani, Arum Fajri, Umi Nur Fara, Yetty Dwi Fatmasari, Dyah Gautama, Mada Hadi Hadi Hamdan, Yusuf Lensa Hamdan, Yusuf Lensa Harfaina, Harfaina Hasriyani Hasriyani, Hasriyani Henry Setyawan, Henry Heri Nugroho Herliani, Emy Herry Poernomo Hertanto Wahyu Subagio Hesti Prawita W, Hesti Prawita Ignatius Riwanto, Ignatius Ikawati, Kartika Imam Djamaluddin Mashoedi Iskandar, Arif Iswari Setianingsih Jarohman Raharjo Juliati, Hari Peni Kabulrachman Kabulrachman Kamilah Budhi Kamilah Budhi Rahardjani, Kamilah Budhi Khabib Mualim, Khabib Kosnayani, Ai Sri Kristiyanto, Stanislaus Kumala, Ferry Kun Aristiati Susiloretni, Kun Aristiati Kurniati Puji Lestari Kurniawati, Erna Yovi Kusworini Handono Laily, Rohisotul Lestaringsih, Lestariningsih Lestariningsih Lestariningsih Lintang Dian Saraswati Lukmono, Djoko Trihadi Lukmono, Djoko Trihadi M. Sholeh Kosim Maharani, Yennita Mardiyono Mardiyono Maria Mexitalia Marludia, Melanie Agis Marsetyawan HNE Soesatyo Martini Martini Martinus, Ishak Mashoedi, Imam D Mashudi, Imam Djamaludin Mateus Sakundarno Adi, Mateus Sakundarno Meilantika, Ayu Diana Meilantika, Ayu Diana Meiwarnis, Resna Melyana Nurul Widyawati Mexitalia Setiawati Moedrik Tamam Muchlis Achsan Udji Sofro Muhammad Saleh Muliawati, Ratna Munasik Munasik N. P. Noerpramana, N. P. Nildawati . Nugroho, Rakhamanto Wahyu Nur Djanah, Nur Nurjanah, Fatihah Wari Oktaviarini, Eka Oktaviarini, Eka Olys, Olys Onny Setiani Pariaribo, Konstantina Parwati, Desak Made Wenten Pramukarso, Dodik Tugasworo Prasetya, Dias Irawan Prihananto, Dhian Ika Projosudjadi, Wiguno Pujiastuti, Rr. Sri Endang Pujiastuti, Rr. Sri Endang Purwanti, Sumy Hastry Putri, Rifa Fauziah Syaifia Rasipin Rasipin Resmi, Dewi Candra Resty Ryadinency Rina Rina Rini Astuti Rini, Sulistio Riyaningsih Riyaningsih Roesipin, Sri Wahyuningsih RRJ. Sri Djokomoeljanto Runjati Runjati, Runjati Samekto, Marek Sandra, Tuti Sanni Hassana, Dauda Sari, Gracilaria Puspa Selamat Budijitno Seno, Heri Nugroho Hario Shofa Chasani Siti Musyarofah, Siti Siti Patimah Soejoenoes, Ariawan Sofro, Muchlis AU Sofro, Muchlis AU Sri Achadi Nugraheni Sri Andarini Indreswari Sri Rahayu Sri Wahyuningsih Sugianto Sugianto Sugiri, Sugiri Suhartono Suhartono Sumini Sumini, Sumini Supriharti, Supriharti Suprihati Suprihati Supriyadi - Supriyadi Supriyadi Supriyana Supriyana, Supriyana Suratman Suratman Suryani Suryani Suryosaputro, Antono Sutaryo Sutaryo Sya’bani, Mochamad Thaariq, Nurul Aziza Ath Titi Suherni Tjokorda Gde Dalem Pemayun Tri Wiyatini, Tri Triana Sri Hardjanti, Triana Sri U.Sofro, Muchlis Achsan Ulkhasanah, Muzaroah Ermawati Untung Sujianto Widiastuti Samekto Widyastuti, Sri Rahayu Widyastuti, Sri Rahayu Wijaya, Norra Hendarni Winarto Winarto Wiwoho, Fadjar Harry Yudhy Dharmawan Yulaeka, Yulaeka Yunie Armiyati Yusuf, Nuuva Zain, Sidartani Zuhdan, Elhamangto