Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Profil CT-Scan Non-kontras pada Penderita Nefrolitiasis di Bagian Radiologi FK Unsrat/SMF Radiologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari – 30 Agustus 2016 Pongsapan, Aprillia G.C.; Tubagus, Vonny; Loho, Elvie
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.2.2017.17418

Abstract

Abstract: Nephrolitiasis is a disease indicated by the existence of a single or more solid masses of hard material in the kidney tubule, calyx, infundibulum, kidney pelvis, and the whole parts of the kidney. Imaging such as non-contrast CT-Scan is usually used to ascertain the diagnosis of nephrolitiasis. This study was aimed to obtain the profile of non-contrast CT-Scan of the kidney performed on nephrolithiasis cases at Radiology Division of Medical Faculty University of Sam Ratulangi/Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in the period of January 1 to Agust 30, 2016. This was a descriptive retrospective study using medical records at the Radiology Division. The results showed that there were 63 cases of nephrolitiasis in this study. The highest percentages were in males (71.43%) and age group of 56-65 tahun (25.39%). According to the location, most cases with bilateral nephrolitiasis (25.39%). Complication of hydronephrosis was found in 14.29% of cases. Conclusion: Based on the non-contrast CT-Scan of the kidney, most nephrolithiasis cases were found in males, age group of 46-55 years, bilateral nephrolithiasis, and without complication.Keywords: non-contrast CT-Scan of the kidney, nephrolitiasisAbstrak: Nefrolitiasis merupakan suatu penyakit dengan gejala ditemukannya satu atau beberapa massa keras yang terdapat di dalam tubuli ginjal, kaliks, infundibulum, pelvis ginjal, serta seluruh bagian ginjal. Pemeriksaan yang sering digunakan dalam penegakan diagnosis nefrolitiasis ialah pemeriksaan imaging, salah satunya CT-Scan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil CT-Scan non-kontras pada penderita nefrolitiasis di Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi/RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari-30 Agustus 2016. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan memanfaatkan data rekam medik di Bagian Radiologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari -30 Agustus 2016. Hasil penelitian mendapatkan 63 kasus nefrolitiasis dengan hasil CT-Scan ginjal non-kontras, lebih banyak terjadi pada laki-laki (71,43%) dan kelompok usia 46-55 tahun (33,33%). Berdasarkan letak batu, lebih sering ditemukan letak batu bilateral (36,68%). Komplikasi hidronefrosis ditemukan pada 14,29% kasus. Simpulan: Berdasarkan hasil CT-Scan non-kontras pada penderita nefrolitiasis didapatkan nefrolitiasis lebih sering ditemukan pada laki-laki, kelompok usia 46-55 tahun, dengan letak batu bilateral dan tanpa komplikasi.Kata kunci: CT-Scan tanpa kontras pada ginjal, nefrolitiasis
GAMBARAN HASIL CT SCAN KEPALA PADA PENDERITA NYERI KEPALA DI BAGIAN RADIOLOGI FK UNSRAT/SMF RADIOLOGI BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE 1 JANUARI-31 DESEMBER 2011 Madja, Muhammad Nugraha; Ali, Ramli Hadji; Loho, Elvie
eBiomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.1.2013.4592

Abstract

Abstract: Headache is one of the most complaints in clinical practices. CT Scan is needed as second diagnostic tool to patients who came with headache complaint. CT Scan is able to give the clear picture if there is a intracranial lesions, so it helps the doctor to determine the diagnosis of the patient, because there are so many disease that caused headache. The purpose of this research  is to figure out the result of the CT Scan picture of the headache patient at the Department of Radiology BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado period of January 1st to December 31st 2011. This research is retrospective descriptive research with the use of secondary data which is the medical record that accessible at the Department of Radiology BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado period of January 1st to December 31st  2011. From the whole result of the CT scan examination from 189 people who suffer headache, 76,19% patients show the normal picture of their heads and 23,81% patients show abnormality picture of their heads, 57.78% headache patients are women, 40% headache patients are adults in the range of ages 41 to 65, and the most CT Scan abnormal picture shows by the patients of cerebral infarct 26.67%. Patient who came with suspicious complaints such as severe, chronic, and repeatable headache will be better if the causes can be determined with the use of head CT Scan, to help to diagnose and prevent the cause of the headache to be more severe. Keywords: Head CT Scan, Headache.     Abstrak: Nyeri kepala merupakan salah satu keluhan yang paling sering ditemukan dalam praktek klinis sehari-hari. CT Scan diperlukan sebagai penunjang diagnostik pada pasien yang datang dengan keluhan nyeri kepala. CT Scan dapat memberikan gambaran yang jelas apabila terdapat kelainan intrakranial, sehingga mempermudah dokter untuk menentukan diagnosis pasien, mengingat sangat beragamnya penyakit yang dapat menyebabkan nyeri kepala. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran hasil CT Scan kepala pada penderita nyeri kepala di bagian Radiologi BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 1 Januari-31 Desember 2011. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan memanfaatkan data sekunder berupa catatan medik yang terdapat di bagian Radiologi BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 1 Januari-31 Desember 2011. Keseluruhan hasil pemeriksaan CT Scan kepala berjumlah 189 orang penderita nyeri kepala dan lebih banyak menunjukkan gambaran normal (76,19%) dibandingkan  gambaran abnormal (23,81%), penderita nyeri kepala lebih banyak terjadi pada perempuan (57,78%), penderita nyeri kepala terbanyak pada kelompok umur dewasa madya 41-65 tahun (40%) dan gambaran CT Scan abnormal didapatkan terbanyak adalah infark cerebri (26,67%). Penderita yang datang dengan keluhan nyeri kepala berat, kronik, dan berulang sebaiknya dipastikan penyebabnya melalui pemeriksaan CT Scan kepala. Untuk membantu mendiagnosis, menyingkirkan kemungkinan kelainan intrakranial lainnya dan mencegah memberatnya penyebab nyeri kepala. Kata Kunci: CT Scan Kepala, Nyeri kepala.
GAMBARAN FOTO WATERS PADA PENDERITA DENGAN DUGAAN KLINIS SINUSITIS MAKSILARIS DI BAGIAN RADIOLOGI FK UNSRAT/SMF RADIOLOGI BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE 1 JANUARI 2011–31 DESEMBER 2011 Posumah, Allan Hespie; Ali, Ramli Hadji; Loho, Elvie
eBiomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.1.2013.1176

Abstract

Abstract: Sinusitis is an inflammation of the mucous membranes that can be on one or several paranasal sinuses, and the most commonly affected are the maxillary sinus and etmoidalis sinus. An anamnesis and physical examination can already diagnonse suspect of maxillary sinusitis. Radiological examination perfomed to get an early diagnose. Photo Waters is one of the best examination because can already diagnose an abnormality in maxillary sinus with 85 % and 80  % sensivity and specifity. This study aims is to know the description of Photo Waters in patient with suspect of maxillary sinusitis based on age, sex, and description of Photo Waters in Radiology Department of BLU Prof. Dr. R. D. Manado Kandou within period 1st January 2011 to 31st December 2011. This research is retrospective descriptive study. The data was a request and answer form of Photo Waters in Radiology Department and analyze in descriptive form. The number of patients with maxillary sinusitis radiology diagnose in the Radiology Department of BLU Prof. Dr. R.D. Kandou are 60 patients. Most cases are women in the amount of 56.67%, with 30-40 years age is the most common. With the results of description of Photo Waters in poor veil image is 71.67%. Keywords: Maxillary sinus, Photo Waters, sinusitis. Abstrak: Sinusitis merupakan suatu peradangan membran mukosa yang dapat mengenai satu ataupun beberapa sinus paranasal, dan yang paling sering terkena yaitu sinus maksilaris dan sinus etmoidalis. Anamnesis dan pemeriksaan fisik sudah dapat mencurigai adanya sinusitis maksilaris. Untuk mendapatkan diagnosis yang lebih dini diperlukan pemeriksaan radiologis. Foto Waters merupakan pemeriksaan yang paling baik karena sudah mampu mendiagnosis suatu kelainan di sinus maksilaris dengan sensitifitas dan spesifisitas yaitu 85% dan 80%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran Foto Waters pada penderita dengan dugaan klinis sinusitis maksilaris berdasarkan jenis kelamin, umur, dan hasil gambaran Foto Waters di Bagian Radiologi BLU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 1 Januari-31 Desember 2011. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif. Data berupa lembaran permintaan dan jawaban Foto Waters di Bagian Radiologi dan diolah dalam bentuk deskriptif. Jumlah penderita dengan diagnosis radiologis sinusitis maksilaris di Bagian Radiologi BLU RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou sebanyak 60 penderita. Kebanyakan kasus adalah perempuan yaitu sebesar 56,67%, dengan umur tebanyak 30-40 tahun. Dengan hasil gambaran Foto Waters terbanyak pada gambaran perselubungan yaitu 71,67%. Kata kunci: Foto Waters, sinus maksilaris, sinusitis.
GAMBARAN HASIL CT SCAN KEPALA PADA PENDERITA DENGAN KLINIS STROKE NON-HEMORAGIK DI BAGIAN RADIOLOGI FK. UNSRAT / SMF RADIOLOGI BLU RSUP PROF. DR. R. D KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2011- DESEMBER 2011 Tjikoe, Mohammad Arswendo; Loho, Elvie; Ali, Ramli H.
e-CliniC Vol 2, No 3 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.3.2014.6011

Abstract

Abstract: Stroke is the most common of neurologic manifestations and easily recognizable from the other neurologic diseases due to the early onset of sudden in a short time. Stroke as clinical diagnosis was divided to hemorrhagic stroke and ischemic stroke. In hemorrhagic stroke there is a rupture in blood vessel so the blood flow became abnormal and bleeds into surrounding brain and damage it. In ischemic stroke the blood flow heading to the brain is interrupted due to atherosclerosis process. The purpose of this study is to know about description of head CT scan in patient with clinical diagnonis of stroke non hemorrhagic in Department/SMF Radiology Faculty Of Medicine UNSRAT BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado period on 1st January 2011 – 31st December 2011. Methods: The study design was a retrospective descriptive study. The data are from request form sheet and radiographic response in the Department of Radiology and processed in descriptive. Results: Base on 163 data of stroke patients obtained, 74 patients diagnosed with infarction stroke (45,4%). Male had more (59,5%) than female (40,5%). For age group, 60-79 is the largest with 33 patients (44,6%). Area with most lesion was in parietal dextra lobe with 8 cases (10,8%). Most cases was happened in August with 10 cases (13,5%). Conclusion: Patients with radiology diagnosis infarction stroke, the most common infarction location is in parietal dextra area. Keywords: CT Scan, Infarction Stroke, Parietal Dextra.   Abstrak: Stroke merupakan salah satu manifestasi neurologik yang umum, dan mudah dikenal dari penyakit-penyakit neurologik lain karena mula timbulnya mendadak dalam waktu yang singkat. Stroke sebagai diagnosis klinis terbagi menjadi stroke hemoragik (pendarahan) dan stroke non-hemoragik (iskemik). Pada stroke hemoragik pembuluh darah pecah sehingga aliran darah menjadi tidak normal dan darah yang keluar merembes masuk ke dalam suatu daerah di otak dan merusaknya. Sedangkan pada stroke non-hemoragik aliran darah ke otak terhenti karena aterosklerosis atau bekuan darah yang telah menyumbat suatu pembuluh darah, melalui proses aterosklerosis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran hasil CT scan kepala pada penderita dengan klinis stroke non-hemoragik di Bagian Radiologi FK. Unsrat / SMF Radiologi BLU RSUP Prof. dr. R. D Kandou Manado periode Januari 2011- Desember 2011. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan memanfaatkan data sekunder berupa lembaran permintaan & jawaban CT scan kepala yang terdapat di bagian Radiologi BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari 2011 – 31 Desember 2011. Hasil penelitian: Berdasarkan 163 data pasien yang didapatkan, 74 pasien didiagnosis dengan stroke infark (45,4%). Laki-laki lebih banyak (59,5%) dari perempuan (40,5%). Kelompok umur 60-79 merupakan kelompok umur terbanyak yaitu 33 pasien (44,6%). Daerah lesi terbanyak adalah pada daerah parietalis dextra dengan 8 kasus (10,8%). Kasus terbanyak terjadi pada bulan agustus dengan 10 kasus (13,5%). Simpulan: Pada pasien dengan diagnosis radiologi stroke infark, lokasi infark yang paling banyak muncul adalah terdapat pada daerah parietal dextra. Kata kunci: CT Scan, Stroke Infark, Parietal Dextra.
GAMBARAN FOTO TORAKS PADA EFUSI PLEURA DI BAGIAN/SMF RADIOLOGI FK UNSRAT RSUP PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO PERIODE NOVEMBER 2014 – OKTOBER 2015 Lantu, Melinda G.; Loho, Elvie; Ali, Ramli Hadji
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.10966

Abstract

Abstract: Pleural effusion is defined as excessive accumulation of fluid in the pleural cavity. This condition occurs worldwide and becomes a major problem in developing country including Indonesia. This was a retrospective descriptive study. Samples were the whole data of chest X-ray patients available in the medical record with a radiological diagnosis of pleural effusion. The results showed that there were 77 samples aged 45-59 years old. Males (65%) were more frequent than females (35%). Based on the location of effusion, 31 patients with right pleural effusion, 25 patients with left pleural effusion, and 21 patients with bilateral pleural effusion. Conclusion: Pleural effusion was mostly found among people aged above 20 years old. Chest X-ray was an important investigation t confirm the diagnosis of pleural effusion. Keywords: pleural effusion, chest x-ray Abstrak: Efusi pleura didefinisikan sebagai penimbunan cairan berlebihan dalam rongga pleura. Penyakit ini terdapat diseluruh dunia, bahkan menjadi problema utama di negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Jenis penelitian ini retrospekif deskriptif. Sampel penelitian ialah seluruh data rekam medik foto thoraks pada pasien dengan diagnosis radiologik efusi pleura. Hasil penelitian mendapatkan 77 sampel, terbanyak pada kelompok umur 45-59 tahun. Efusi pleura lebih banyak ditemukan pada laki-laki (65%) dibandingkan perempuan (35%). Berdasarkan lokasi efusi, 31 sampel dengan lokasi efusi pleura dekstra, 25 pasien dengan lokasi efusi pleura sinistra, dan 21 pasien dengan lokasi efusi pleura bilateral. Simpulan: Efusi pleura sering didapatkan pada pasien di atas 20 tahun. Pemeriksaan foto toraks merupakan salah satu pemeriksaan penunjang yang sering dilakukan untuk mendiagnosis efusi pleura.Kata kunci: efusi pleura, foto toraks
GAMBARAN CT SCAN PADA PENDERITA PERDARAHAN SUBDURAL DI RSUP PROF. Dr. R. D KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2011- OKTOBER 2014 Lonto, Aaron K. U.; Loho, Elvie; Mamesah, Yovana P. M.; Timban, Joan F. J.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.6836

Abstract

Abstract: Subdural hemorrhage (SDH) is the most common form of intracranial lesions, approximately one-third of the incidence of severe head injury. However, it has been reported that about one-fifth of patients suffering subdural hemorrhage and other intracranial hemorrhage died undiagnosed.3 Examination computed tomography (CT) scan is the primary modality of choice when there is a suspected post-traumatic lesions. The purpose of research to know and study the SDH CT scan image. This study was a retrospective study conducted in the month of September to December 2014. The data were obtained through medical records and found 30 cases included in the study criteria. Overall the results, SDH more in male patients 27 people (90%). The largest age group in children (<12 years) 11 people (37%). Location SDH highest in the temporal 9 cases (30%).Keywords: subdural hemorhage, computed tomography scanAbstrak: Perdarahan subdural (PSD) adalah bentuk yang paling sering terjadi pada lesi intrakranial, kira-kira sepertiga dari kejadian cedera kepala berat. Namun, telah dilaporkan bahwa sekitar satu perlima dari penderita-penderita perdarahan subdural dan perdarahan intrakranial lainnya meninggal tidak terdiagnosis.3 Pemeriksaan computed tomography (CT) scan adalah modalitas pilihan utama bila diduga terdapat suatu lesi pasca trauma. Tujuan penelitian untuk mengetahui dan mempelajari gambaran CT scan PSD. Penelitian ini merupakan studi retrospektif yang dilakukan pada bulan September-Desember 2014. Data diperoleh melalui rekam medik dan didapatkan 30 kasus masuk dalam kriteria penelitian. Keseluruhan hasil penelitian didapatkan PSD lebih banyak pada penderita laki-laki 27 orang (90%). Golongan umur terbanyak pada anak-anak (<12 tahun) 11 orang (37%). Lokasi PSD terbanyak pada temporal 9 kasus (30%).Kata kunci: perdarahan subdural, computed tomography scan
GAMBARAN FOTO LUMBAL PASIEN DENGAN GEJALA KLINIS NYERI PUNGGUNG BAWAH DI BAGIAN/SMF RADIOLOGI BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2012 – DESEMBER 2012 Mutmainna, Sri C.; Ali, Ramli Hadji; Loho, Elvie
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 6, No 1 (2014): JURNAL BIOMEDIK : JBM Maret 2014
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.6.1.2014.4163

Abstract

Abstract: Low back pain (LBP) is pain sensation that involves the lower part of the back and spreads to the lower extremity especially on the back and outer parts. LBP is one of the musculoskeletal disorders caused by inappropriate activities. The pain sensation is classified as local, radicular, referred, or spasmodic pain. LBP is not a diagnosis but a symptom which is commonly found among the population. This study aimed to obtain the lumbar X-ray profile of patients with clinical diagnosis of LBP at the Department of Radiology Prof. Dr. R.D. Kandou Hospital, Manado, in 2012. This was an observational analytical study with a cross-sectional design. The results showed that among the LBP cases, based on gender, females (64.35%) were more frequent than males; and based on ages, >50 years was the most frequent age group (71.3%). Lumbar X-rays showed that spondylosis lumbalis was found in 42.96% of cases, other abnormalities 46.88%, meanwhile no abnormalities 10.16%. Conclusion: At the Department of Radiology Prof. Dr. R.D. Kandou Hospital, Manado, in 2012, the most frequent lumbar X-ray among the LBP patients was spondylosis lumbalis.Keywords: low back pain, clinical symptom, lumbar X-ray  Abstrak : Nyeri punggang bawah (NPB) adalah rasa nyeri yang terjadi di daerah punggung bagian bawah dan dapat menjalar ke kaki, terutama sebelah belakang dan samping luar. NPB termasuk salah satu gangguan muskuloskeletal yang disebabkan oleh aktivitas tubuh yang kurang baik. Keluhan nyeri dapat beragam dan diklasifikasikan sebagai nyeri yang bersifat lokal, radikular, menjalar (referred pain), atau spasmodik. NPB bukan suatu diagnosis namun merupakan suatu gejala yang banyak ditemukan di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran foto lumbal penderita dengan gejala klinis nyeri punggung bawah di Bagian Radiologi BLU RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado tahun 2012. Penelitian ini bersifat analitik observasional yang menggunakan desain cross-sectional. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pada kasus NBP: berdasarkan jenis kelamin tersering didapatkan pada perempuan (64,35%), dan berdasarkan usia, tersering pada kelompok usia >50 tahun (71,3%). Hasil foto lumbal menunjukkan bahwa spondilosis lumbalis ditemukan pada 42,96% kasus, abnormalitas lainnya 4,88%, sedangkan tanpa kelainan 10,16%. Simpulan: Di Bagian/SMF Radiologi BLU RSUP Prof Dr. R.D. Kandou Manado, gambaran foto lumbal penderita dengan gejala klinis nyeri punggung bawah yang tersering ialah spondilosis lumbalis.Kata kunci: nyeri pinggang bawah, gejala klinis, foto lumbal
GAMBARAN FOTO TORAKS EMFISEMATOUS LUNG DI BAGIAN RADIOLOGI FK UNSRAT/SMF RADIOLOGI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE NOVEMBER 2014 – OKTOBER 2015 Tendean, Elshadday V.; Tubagus, Vonny N.; Loho, Elvie
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.10965

Abstract

Abstract: Emphysema is an uplift condition of air space in lung. This disease is needed to be concerned particularly among patients with smoking history. Emphysematous lung diagnosis can be found in chest x-ray imaging. This study aimed to obtain emphysematous lung in chest x-ray imaging. This was a descriptive retrospective study with a cross sectional design. Population was all medical record data of chest x-ray at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. Samples were medical records of emphysematous lungs according to radiological diagnosis. The results showed that there were 28 patients with radiological diagnosis as emphysematous lung. The most common characteristic feature was hyperaeration. There were also normal and abnormal heart imaging, and flattened diaphragm. Males were more often suffering from emphysematous lung than females, and age over 60 were more susceptible to suffer this emphysematous lung. Keywords: emphysematous, radiology, chest x-ray. Abstrak: Emfisema merupakan kondisi peningkatan ruang udara di dalam paru. Penyakit ini perlu diperhatikan khususnya pada pasien emfisema dengan riwayat merokok. Diagnosis paru emfisematous lung dapat diketahui melalui salah satu pemeriksaan penunjang radiologi yaitu foto toraks. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran paru emfisematous pada pemeriksaan foto toraks. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif retrospektif dengan rancangan potong lintang. Populasi yaitu semua data rekam medis pemeriksaan foto toraks di bagian Radiologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Sampel yaitu rekam medik yang sudah didiagnosis radiologik paru emfisematous. Hasil penelitian memperlihatkan dari semua pasien yang melakukan pemeriksaan foto toraks dan telah didiagnosis radiologik paru emfisematous berjumlah 28 penderita. Temuan yang paling khas pada gambaran foto toraks paru emfisematous yaitu hiperaerasi; juga terdapat gambaran jantung normal maupun abnormal serta diafragma mendatar. Laki-laki lebih sering terkena paru emfisematous dari pada perempuan dan usia ?60 tahun lebih rentan terkena paru emfisematous.Kata kunci: emfisematous, radiologi, foto toraks.
Profil hasil pemeriksaan CT-Scan pada pasien karsinoma nasofaring di Bagian/SMF Radiologi FK Unsrat RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode April 2015 – Agustus 2016 Ruslim, Matthew N.; Ali, Ramli H.; Loho, Elvie
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14490

Abstract

Abstract: Nasopharyngeal carcinoma is the most common malignancy of the head and neck. In Indonesia, the prevalence is 6/100.000 and Manado has become one of the regions with the highest incidence of nasopharyngeal carcinoma. CT Scan imaging is a standard radiologic modality in diagnosing and evaluating nasopharyngeal carcinoma. This study was aimed to obtain the profile of CT Scan imaging in nasopharyngeal carcinoma patients. This was a retrospective descriptive study conducted in October 2016. Data were obtained from head and neck CT Scan request form and eventually there were 46 patients (63%) with the radiologic diagnosis of tumor mass in the nasopharynx. The majority of patients were males (30 patients; 65,2%); age group 50-59 years old (17 patients; 37%); and T4 as the size of the primary tumor (18 cases; 39.1%). There were five anatomical structures most frequently infiltrated, as follows: nasal cavity (39.1%), ethmoidal sinuses (30.4%), maxillary sinuses (23.9%), sphenoidal sinuses (23.,9%), and intracranial areas (19.6%).Keywords: nasopharyngeal carcinoma, computerized tomography scan. Abstrak: Karsinoma nasofaring merupakan keganasan kepala dan leher yang paling sering terjadi. Indonesia memiliki prevalensi sekitar 6/100.000 dan Manado menjadi salah satu daerah dengan insidensi karsinoma nasofaring yang tinggi. Pemeriksaan radiologi CT Scan, merupakan modalitas radiologis standar dalam mendiagnosis dan mengevaluasi karsinoma nasofaring. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan profil pemeriksaan CT Scan pada pasien karsinoma nasofaring. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif yang dilakukan pada bulan November 2016. Data diperoleh melalui lembaran permintaan pemeriksaan CT Scan kepala-leher dan didapatkan sebanyak 46 pasien (63%) dengan diagnosis radiologis massa tumor di nasofaring. Mayoritas pasien ialah ialah laki-laki berjumlah 30 pasien (65,2%), kelompok usia 50-59 tahun berjumlah 17 pasien (37%), dan ukuran tumor primer T4, pada 18 pasien (39,1%). Didapatkan lima struktur anatomi yang paling sering diinfiltrasi, yaitu kavum nasi (39,1%), sinus etmoidalis (30,4%), sinus maksilaris (23,9%), sinus sfenoidalis (23,9%), dan area intrakranial (19,6%). Kata kunci: karsinoma nasofaring, computerized tomography scan
Profil hasil pemeriksaan foto toraks pada pasien pneumotoraks di Bagian / SMF Radiologi FK Unsrat RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2015 – Agustus 2016 Masengi, Windy D.P.; Loho, Elvie; Tubagus, Vonny
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14397

Abstract

Abstract: Radiology examination especially chest x-ray can enforce various kinds of pulmonary diseases inter alia pneumothorax. Pneumothorax is defined as the presence of air in the pleural cavity. The causes of pneumothorax are very diverse ranging from idiopathic, infection, trauma, and iatrogenic. This study was aimed to obtain the profile of chest x-ray in patients with pneumothorax. This was a retrospective descriptive study by using secondary data from the medical records at the Department of Radiology Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from January 2015 to August 2016. Samples were the medical records of patients that were radiologically diagnosed as pneumothorax. There were 41 patients that were diagnosed radiologically as pneumothorax. The majority of cases were male (90.2%), age group >50 years (36.6%), location of lesion in the right hemithorax (53.7%), and secondary spontaneous pneumothorax as the etiology (43,9 %). Conclusion: In this study, pneumothorax was more common among males, age group of ≥50 years, and secondary spontaneous pneumothorax as the etiology of pneumothorax.Keywords: pneumothorax, radiology, chest x-ray Abstrak: Pemeriksaan radiologi khususnya foto toraks dapat menegakkan berbagai macam diagnosis penyakit paru, salah satunya ialah pneumotoraks. Pneumotoraks adalah terdapatnya udara bebas didalam rongga pleura dengan penyebab yang sangat beragam mulai dari idiopatik, infeksi, trauma, maupun iatrogenik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil hasil pemeriksaan foto toraks pada pasien pneumotoraks. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan pengambilan data di Bagian Radiologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado pada bulan Januari 2015 sampai dengan Agustus 2016. Sampel yaitu data rekam medik pasien yang didiagnosis pneumotoraks secara radiologis sebanyak 41 pasien. Yang tersering ditemukan ialah pasien laki-laki sebanyak 37 orang (90,2%), kelompok usia >50 tahun sebanyak 15 orang (36,6%), lokasi lesi hemitoraks deksra sebanyak 22 kasus (53,7%), serta etiologi pneumotoraks spontan sekunder sebanyak 18 kasus (43,9%). Simpulan: Pada penelitian ini didapatkan pneumotoraks paling banyak pada laki-laki, kelompok usia ≥50 tahun, dengan pneumotoraks spontan sekunder sebagai etiologi tersering. Kata kunci: pneumotoraks, radiologi, foto toraks