Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

POTENSI BMT (BAITUL MAL WATTAMWIL) PESANTREN GUNA MENGGERAKKAN EKONOMI SYARI’AH DI MASYARAKAT Podungge, Rulyjanto
Al-Mizan Vol 10, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekonomi Syari’ah mengalami akselerasi perkembangan bukan semata karena aspek emosional keagamaan tetapi juga aspek rasionalitas ekonomi yaitu terterima oleh masyarakat dan pasar. Pesantren dengan kekayaan kultur dan potensi ekonominya, sangat strategis sebagai penggerak ekonomi syari’ah. Pesantren layak menjadi lokomotif pengembangan ekonomi syari’ah di negeri ini. Pesantren telah menciptakan kemajemukan dan kedinamisan sebagai sebuah lembaga multi fungsi yang melibatkan kiai, santri, ustadz, masyarakat, dan pemerintah. Dari identitas dan dinamisasi itulah, maka pesantren dapat berperan aktif dalam kehidupan sosial, ekonomi bahkan politik.  Fondasi motor penggerak adalah koperasi BMT. Fleksibilitas BMT sebagai lembaga bisnis jasa keuangan syari’ah dan organ inti sel bisnis sektor riil, sinergis dan simultan bersama pesantren dengan pelanggan fanatiknya.
HUBUNGAN MUSLIM-NON MUSLIM: (Membendung Radikalisme, Membangun Inklusivisme) Podungge, Rulyjanto
Farabi Vol 11 No 2 (2014): AL-Farabi
Publisher : LPPM IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketika masyarakat berkembang semakin luas dan kebutuhan manusia meningkat, maka hubungan dengan orang lain dengan beragam identitas primordialnya menjadi tidak bisa dihindarkan. Sebagai konsekuensi dari fakta ini adalah kemungkinan munculnya gesekan-gesekan antara berbagai kelompok masyarakat yang berbeda. Ketika menyangkut hubungan dengan penganut agama lain, Islam memberikan rambu-rambu dan batasan mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Maka kontroversi seringkali tidak bisa dihindarkan. Isu hubungan dengan orang yang berbeda agama dari kita, atau yang secara mudah sering diistilahkan dengan non-Muslim menjadikan perbedaan pendapat antara berbagai kecenderungan pemikiran dalam Islam. Sebutlah kelompok moderat, kelompok radikal, kelompok liberal, juga kelompok tradisionalis dan kelompok modernis. Tulisan ini menguraikan pola hubungan Muslim-Non-Muslim melalui pendekatan yang lebih moderat dan kontekstual.
UPAYA INTEGRASI MUATAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM PEMBELAJARAN DI MADRASAH ALIYAH Podungge, Rulyjanto
Tadbir: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol 2, No 1 (2014): Tadbir
Publisher : JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semakin maraknya kejadian bencana alam di tanah air akhir-akhir ini menjadi fenomena yang memprihatinkan. Betapa tidak, banjir yang berkepanjangan misalnya terjadi hampir di semua wilayah Indonesia penderitanya sudah pasti manusia, korban jiwa, lenyapnya harta benda, penderitaan para pengungsi di tempat-tempat pengungsian hingga  wabah penyakit yang merebak pasca banjir. Sebagai negara dengan jumlah hutan yang sangat luas Indonesia berperan dalam menjaga ekosistem keseimbangan alam. Terganggunya ekosistem keseimbangan alam akan berdampak pada terjadinya bencana alam. Olehnya masyarakat Indonesia sejak dini harus diberikan pendidikan tentang lingkungan hidup agar kelestarian bumi sebagai rumah bagi jutaan umat manusia tetap terjaga dan lestari
PRAKTEK “MOPOHULO’O PANGIMBA” MASYARAKAT GORONTALO TINJAUAN LEGALITAS SYAR’I: TEORI AKAD, KAIDAH MUAMALAH DAN KONSEP GADAI Podungge, Rulyjanto
Al-Buhuts Vol 11, No 1 (2015)
Publisher : IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini berawal dari pertanyaan yang sering ditanyakan pada program interaktif“hikmah pagi” RRI Gorontalo yang disiarkan pada jam 05.00 – 06.00 wita. Beberapa waktu dan bisa dibilang sering pertanyaan yang ada berkisar pada praktik hutang uang oleh petani kepada seseorang dengan menjaminkan sawah miliknya. Sebagai ketentuan sawah tersebut bisa dimanfaatkan dan kemudian dinikmati hasilnya oleh penerima gadai. Praktik gadai seperti ini umum terjadi di tengah masyarakat Gorontalo terutama ketika petani dalam keadaan terdesak secara finansial dan membutuhkan talangan dana secepatnya. Penulis berusaha menguraikan hukum masalah ini ditinjau dari legalistas syar’I rukun-rukun akad yang ada di dalamnya disertai kaidah dan asas-asas umum fiqhiyah di bidang muamalah.
Hubungan Muslim dan non-Muslim dalam Kerangka Inklusivisme Podungge, Rulyjanto
TEOSOFI: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam Vol. 8 No. 2 (2018): December
Publisher : Program Studi Filsafat Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.031 KB) | DOI: 10.15642/teosofi.2018.8.2.479-503

Abstract

When a society grows and the needs of its members increase, the relation between them and other people?who possess various primordial identities?will be impossibly avoided. This social relation will potentially bring about friction among different groups existed in the society. Islam has established a number of rules concerning the relationship of Muslims and other religious adherents. Although the regulations have been firmly settled, the controversy among the Muslims themselves?in dealing with their relation with the non-Muslims?is often inevitable. The issue of relation with other people of different religions has become contentiously debatable topic among the Muslim academics. The debate has subsequently brought about the emergence of different ideological inclinations within the Muslim society. This ideological preference emerges through such number of ?appearances? as moderates, radicals, liberals, traditionalists, and modernists. Each group possesses its own perception along with its arguments about the issue. This article seeks to explain the pattern of Muslims and non-Muslims relation in the light of more moderate and contextual approach. This is so why that Muslims should constantly prioritize inclusive behavior and reciprocally sincere interreligious dialogue with their non-Muslim fellows.
Hubungan Muslim dan non-Muslim dalam Kerangka Inklusivisme Podungge, Rulyjanto
TEOSOFI: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam Vol. 8 No. 2 (2018): December
Publisher : Aqidah and Islamic Philosophy Study Program, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Sunan Ampel State Islamic University Surabaya.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.031 KB) | DOI: 10.15642/teosofi.2018.8.2.479-503

Abstract

When a society grows and the needs of its members increase, the relation between them and other people—who possess various primordial identities—will be impossibly avoided. This social relation will potentially bring about friction among different groups existed in the society. Islam has established a number of rules concerning the relationship of Muslims and other religious adherents. Although the regulations have been firmly settled, the controversy among the Muslims themselves—in dealing with their relation with the non-Muslims—is often inevitable. The issue of relation with other people of different religions has become contentiously debatable topic among the Muslim academics. The debate has subsequently brought about the emergence of different ideological inclinations within the Muslim society. This ideological preference emerges through such number of “appearances” as moderates, radicals, liberals, traditionalists, and modernists. Each group possesses its own perception along with its arguments about the issue. This article seeks to explain the pattern of Muslims and non-Muslims relation in the light of more moderate and contextual approach. This is so why that Muslims should constantly prioritize inclusive behavior and reciprocally sincere interreligious dialogue with their non-Muslim fellows.