Edi Setiadi Putra
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

DESAIN WORKSTATION SAUNG KULINER BERDASAR KAJIAN EGO-KULTURAL SUNDA Putra, Edi Setiadi
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractOne of the causes of slums in the city of Bandung is the use of untreated tent stalls. The entrepreneurial society does not have the basic culinary culture tent use, because they do not have the sensitivity to maintain it. The tent stalls were originally temporary, has turned into a permanent. Through a review ofethnography, derived the concept of systematic ergonomic working in the kitchen, which is connected with the efficient use of workspace and effective use of a kitchen utensil. In the concept of Sundanese local wisdom, known as the hierarchy level of comfort based on individuals, families and communities,namely 'genah-merenah-tumaninah', characterized by the use of huts 'badak heuay and jogo anjing,' home stage 'jolopong, babancong, sontong', and building 'galudra ngupuk, Jangga wirangga and towering ngapak'. This hierarchy shows the concept of stages in the culinary business Sundanese, according turnover and experience, the tavern, eating houses and restaurants.The design of furniture products in the aesthetic form of huts 'badak heuay and jogo anjing', This is one of the solutions in rediscovering saung that has been lost, because of eroded stall tent of a foreign culture. AbstrakSalah satu penyebab kekumuhan di Kota Bandung adalah penggunaan warung tenda yang tidak terawat. Masyarakat wirausaha kuliner tidak memiliki dasar budaya penggunaan tenda, karena mereka tidak memiliki kepekaan dalam pemeliharaan tenda. Warung tenda yang awalnya bersifat sementara, telah berubah menjadi permanen. Melaluitinjauan etnografi, diperoleh adanya konsep ergonomis tentangsistematika kerja di dapur, yang terhubung dengan pemakaian ruang kerja yang efisien dan penggunaan perkakas dapur yang efektif. Dalam konsep kearifan lokal Sunda, dikenal adanya hirarki kenyamanan berdasarkan tingkatan individu individu, keluarga dan masyarakat, yaitu 'genah-merenah-tumaninah', yang ditandai dengan penggunaan saung 'badak heuay dan jogo anjing', rumah panggung 'jolopong, babancong, sontong', dan gedung 'galudra ngupuk, jangga wirangga dan julang ngapak'. Hirarki ini menunjukkan adanya konsep tahapan dalambisnis kuliner Sunda, sesuai omset dan pengalamannya, yaitu kedai,
KOMPARASI PATIKRAMA TATANEN HUMA SUNDA DI PADUKUHAN DAN PEDESAAN DI JAWA BARAT Putra, Edi Setiadi; Djatmiko, Mohammad Djalu; Waskito, Mohamad Arif
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (887.288 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i3.440

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna Patikrama Tatanen Huma Sunda, suatu prinsip pengelolaan ladang yang terkait dengan sistem pelestarian ekosistem hutan tropis. Patikrama Tatanen Huma tersirat dalam beberapa naskah kuno, yang tata caranya dilestarikan oleh beberapa padukuhan kabuyutan Sunda. Banyak penelitian tentang patikrama tatanen huma ini terfokus pada kehidupan pahuma di Desa Kanekes dan kawasan kasepuhan lain, namun belum banyak yang melakukan studi komparasi dengan kegiatan huma di kawasan padesaan. Melalui pendekatan etnografi, penelitian dilakukan pada beberapa kawasan padesaan di Jawa Barat yang masih melakukan aktivitas pertanian huma yang produktif. Penelitian ini diharapkan dapat mengetahui adanya perbedaan dan persamaan paradigma dalam aplikasi Patikrama Tatanen Huma Sunda. Komparasi ini dapat memberikan wawasan tentang konsekuensi perubahan serta nilai manfaat dalam pelestariannya, sehingga menjadi bahan pertimbangan dalam pemulihan ekosistem desa hutan dan menghidupkan kembali prinsip bertani yang sesuai dengan akar budaya masyarakat petani di kawasan padesaan.This study aims to reveal the meaning of Sundanese Patikrama Tatanen Huma, a principle of field management  related to the system of preserving tropical forest ecosystems. Patikrama Tatanen Huma is implied in some ancient manuscripts, the procedure of which is preserved by some Sundanese kabuyutan. Many of the researches on the patriarchal order of public relations focused on the life of pahuma in the village of Kanekes and other areas of Kasepuhan, but not many have conducted comparative studies with the activities of public relations in the region. Through an ethnographic approach, research was conducted in several rural areas in West Java that were still carrying out productive agricultural activities. This research was intended to find out the differences and similarities in the paradigm in the application of Huma Sunda Patikrama Tatanen. This comparison can provide insight into the consequences of change and the value of benefits in its preservation, so that it becomes a consideration in restoring forest village ecosystems and reviving farming principles that are in accordance with the cultural roots of farmers in the rural areas.
PEMANFAATAN TEKNOLOGI DIGITAL SEBAGAI USAHA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KREATIF PEKERJA DESAIN DI IKM ALAS KAKI MELALUI KEGIATAN PERANCANGAN RAGAM HIAS UPPER SEPATU Waskito, Mohamad Arif; Putra, Edi Setiadi
Jurnal Desain Indonesia Vol 1 No 1 (2019): Jurnal Desain Indonesia
Publisher : ADPII (Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1075.297 KB)

Abstract

   Pemanfaatan teknologi digital dan informatika di dunia industri memiliki peran penting pada bidang perancangan, produksi, distribusi hingga pemasaran sehingga mampu menggantikan cara-cara konvensional yang selama ini diterapkan. Perkembangan teknologi digital di dunia industri membuat Indonesia berusaha untuk menjadi negara industri maju melalui pencanangan Revolusi Industri Indonesia 4.0 sebagai konsep pembangunan industrinya (Kemenperin RI, 2018). Namun percepatan penggunaan teknologi digital tersebut belum sepenuhnya mampu diikuti oleh kelas industri kecil-menengah (IKM), yang salah satu penyebabnya adalah sumber daya manusia (SDM) di industri yang masih gagap terhadap adanya kemajuan tersebut.  Di industri kecil alas kaki, teknologi digital dapat diterapkan pada kegiatan perancangan produk atau pembuatan ornamen ragam hias pada upper. Hanya saja untuk dapat diimplementasikan sebagai proses kreasi, diperlukan strategi khusus mengingat SDM yang berperan sebagai tenaga kerja bidang desain di IKM-IKM umumnya tidak memiliki pendidikan formal dan pada umumnya terbiasa dengan tindakan peniruan atau memodifikasi yang mengakibatkan rendahnya kemampuan kreativitas mereka.  Merujuk pada kondisi seperti itu, maka dikembangkan teknik modifikasi digital (Digital Modification Technique/ DMT) yang merupakan teknik menyederhanakan bentuk dari suatu objek tertentu (stilasi) dengan melibatkan software aplikasi desain untuk menghasilkan kreasi-kreasi baru dalam bentuk ragam hias, yang kemudian dijadikan ornamen visual pada bagian upper sepatu. Melalui teknik sederhana ini diharapkan para pengrajin dapat mempelajarinya dengan mudah sehingga lebih produktif dan kreatif untuk menghasilkan kebaruan dan keunikan pada produk-produk yang mereka hasilkan.   The use of digital technology and informatics in the industrial world has an important role in the fields of design, production, distribution and marketing so as to replace conventional methods that have been implemented. The development of digital technology in the industrial world has made Indonesia strive to become an advanced industrial country through the launch of the Indonesian Industrial Revolution 4.0 as the concept of its industrial development (Ministry of Industry, 2018). However, the acceleration of the use of digital technology has not been fully able to be followed by Small-Medium Industry (SMI) classes, one of the causes of which is human resources (HR) in the industry who are still stuttering about the progress. In the small footwear industry, digital technology can be applied to product design activities or the making of decorative ornaments in the upper. It's just that to be implemented as a creative process, a special strategy is needed considering that human resources who act as design workers in the SMI generally do not have formal education and are generally accustomed to imitation or modifying actions that result in their low creativity. Referring to such conditions, a digital modification technique (DMT) is developed which is a technique to simplify the form of a particular object by involving design application software to produce new creations in the form of ornament, which is then used as an ornament visually on the upper part of the shoe. Through this simple technique, it is expected that the craftsmen can learn it easily so that it is more productive and creative to produce novelty and uniqueness in the products they produce
Interpretasi Visual terhadap Bentuk dan Fungsi Kujang Huma Pamangkas dengan Uji ANOVA (Analysis Of Variance) dan VAS (Visual Analog Scale) Putra, Edi Setiadi
Jurnal Rekarupa Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract   The kujang recognizable as a typical cultural artifact Sunda. Classification of Kujang is determined by functions, namely as weapons, agricultural tools and ceremonial tool. The functions of kujangs are determined based on user behavior that characterize a particular form, this phenomenon is interesting to traced, to determine the elements in form of Kujang huma pamangkas as agricultural tools who showing variability of functions, the study sought to explore the visual perception of some observers, through VAS approach (visual analog scale) and the ANOVA test (analysis of variance), towards some form of kujang pamangkas from several museums, This study concluded the fact the relationship between form with function (form follows function), which was preserved until the present into the design characteristics of traditional farming tools in west Java. Keyword: Kujang, huma, Sunda ABSTRAK   Kujang dikenali sebagai artefak khas budaya Sunda. Klasifikasi kujang ditentukan berdasarkan fungsinya, yaitu sebagai senjata, perkakas pertanian serta alat upacara. Fungsi-fungsi kujang ditentukan berdasarkan perilaku pengguna yang membentuk karakter bentuk tertentu. Fenomena ini menarik untuk ditelusuri, guna mengetahui unsur pada karakter bentuk kujang perkakas pertanian yaitu kujang huma pamangkas yang menunjukkan variabilitas fungsi. Penelitian ini mencoba menggali persepsi visual dari beberapa pemerhati, melalui pendekatan VAS (Visual Analog Scale) dan uji ANOVA (Analysis Of Variance), terhadap beberapa bentuk artefak kujang pamangkas dari beberapa museum. Penelitian ini menyimpulkan adanya fakta keterkaitan antara bentuk dengan fungsinya (form follows function), yang dilestarikan hingga masa kini kedalam karakter desain perkakas pertanian tradisional di Jawa Barat.   Kata kunci: Kujang, huma, Sunda  
Konsep Terapan Ergokultur Sunda Pada Desain Sarana Niaga Bersepedamotor untuk Kuliner Cepat Saji Keliling di Kota Bandung Putra, Edi Setiadi
Jurnal Rekarupa Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Bisnis makanan cepat saji berkembang pesat di Bandung. Dimulai oleh kegiatan delivery order dari perusahaan makanan cepat saji multinasional. Makanan yang dipesan, diantarkan ke seluruh pelosok kota. Penjual makanan cepat saji  menggunakan moda transportasi beroda untuk menjangkau domisili konsumen, yaitu:  gerobak, sepeda, sepedamotor, triseda, dan mobil. Penggunaan jenis transportasi, disesuaikan dengan area jelajah, durasi kerja, batasan berat, volume, dan jenis kuliner. Fenomena bisnis ini telah menjadi ikon budaya urban di Kota Bandung, yang menunjang city branding Kota Bandung sebagai kota wisata kuliner terkemuka di Indonesia.   Banyak pedagang menggunakan sarana dagang dan jenis sepedamotor apa adanya, seakan tidak mempertimbangkan faktor keselamatan kerja, kenyamanan, kebersihan dan kesehatan. Masalah yang ada merupakan suatu permasalahan ergonomi dan budaya. Dengan pendekatan kajian ergonomi dan budaya (ergonomi kultural; ergoculture), diperoleh peluang untuk menunjukkan solusi melalui desain produk fasilitas dagang makanan cepat saji yang sesuai dengan konsep budaya kuliner Sunda. Implementasi kearifan lokal Sunda diperoleh dari budaya tradisi kirim-antar kuliner dengan mempergunakan ‘tetenong’ yang memiliki aturan adat yang sangat ergonomis.   Kata Kunci : Ergonomi, Budaya Sunda, Ergokultur, Kuliner ABSTRACT   The fast food business is growing rapidly in Bandung. Started by delivery-order activities of multinational fast food companies. Food ordered, delivered to all corners of the city. The fast food vendors, use traditional wheeled mode of transportation to reach the consumer's domicile, namely: carts, bicycles, motorcycles, triseda, and cars. The use of other modes of transport, adapted to the cruising area, duration of action, weight limits, volume, and type of cuisine. This business phenomenon has become an icon of urban culture in the city of Bandung, which support the Bandung city branding as a leading culinary tourism in Indonesia.   Many traders use trading facilities and the type of motorcycle they are, if not consider the factor of safety, comfort, hygiene and health. The problem is there is an issue of ergonomics and culture. With the approach of ergonomics studies and culture (cultural ergonomics; ergoculture), earned opportunities to show solutions through product design of trading facilities for fast food trade in accordance with the concept of Sundanese culinary culture. Implementation indigenous Sundanese culture obtained from delivery culinary tradition by using 'tetenong', which has a very ergonomic custom rules Keywords: Ergonomics, Sundanese culture, Ergoculture, Culinary