Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Hubungan Pemberian Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dengan Kadar Asam Urat Setiawan, Ivan; Setijadi, Ana Rima; Sari, Yulia
Nexus Kedokteran Klinik Vol 3, No 1 (2014): Nexus Kedokteran Klinik
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.046 KB)

Abstract

Background: Multidrug tuberculosis treatment which is a long term medication often causes various side effects. One of them is an increase of uric acid level. This study aims to determine the correlation between tuberculosis treatment administration and uric acid level. Methods: This study used cohort method with one group before and after intervention design. A total of 30 tuberculosis patients who were admitted to Center of Lung Health Society Surakarta between April and August 2013 were taken as samples by consecutive sampling method. Criteria of sampling are pulmonary tuberculosis patients who is planned to get rifampisin, isoniazid, pirazinamid, and ethambutol for more than 4 weeks, aged over 18 years old, and had given informed consent. In this study we excluded pulmonary tuberculosis patients who also had liver or renal disorders, had suffered from hyperuricemia or took drugs for decreasing uric acid level, or had hypertension. The measurements of uric acid level was collected before the treatment and more than one  month after the treatment. Data were analyzed by paired t test (α = 0,05). Results: The average uric acid level of 30 patients before treatment was 4.68 ± 1.12 mg/dL, while the average uric acid levels after treatment was 8.56 ± 2.21 mg/dL, which was significantly higher than pretreatment (p=0.001). During treatment, hyperuricemia (uric acid level > 7 mg/dL) was reported in 73.33% (22/30) of patients and two patients had arthralgia. Conclusions: Tuberculosis treatment administration may affect uric acid level. Hiperuricemia was reported in 73.33% of patients who receive tuberculosis treatment. Keywords: tuberculosis treatment, uric acid level, tuberculosis 
AKURASI FIBRINOGEN DAN HS-CRP SEBAGAI BIOMARKER PADA SINDROMA KORONER AKUT Setiawan, Ivan; Wardhani, Viera; Sargowo, Djanggan
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.915 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.04.10

Abstract

Peran fibrinogen dan Hs-CRP menunjukkan potensinya sebagai biomarker pada sindrom koroner akut. Penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan potong lintang yang berlangsung dari bulan Februari dampai dengan Juli 2011. Jumlah subjek untuk tiap kelompok kasus maupun kontrol adalah 76, berusia antara 35 sampai dengan 80 tahun. Kedua kelompok diukur kadar fibrinogen dan Hs-CRP. Cut off masing-masing biomarker diukur dengan Receiver Operating Curve. Akurasi dr nilai diukur dengan sensitivitas, spesifitas, rasio kemungkinan, nilai duga positif dan nilai duga negatif, baik secara kombinasi maupun terpisah. Umur rerata pada kedua kelompok 57,5 tahun. Kadar fibrinogen pada kelompok kasus (5,8±1,56 g/L) berbeda bermakna dibandingkan dengan kelompok kontrol (3,78±1,78 g/L). Kadar Hs-CRP pada kelompok kasus (4,04±1,94 mg/L) berbeda bermakna dibanding kelompok kontrol (1,98±1,25 mg/L). Kedua biomarker baik secra kombinasi atau terpisah dapat dipakai sebagai alat diagnostik pada sindrom koroner akut. Fibrinogen dan Hs-CRP mempunyai nilai diagnostik terbaik dibanding bila digunakan secara terpisah.Kata Kunci: Atherosklerosis, biomarker, fibrinogen, Hs-CRP, inflamasi, sindrom koroner akut
Hubungan Pemberian Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dengan Kadar Asam Urat Setiawan, Ivan; Setijadi, Ana Rima; Sari, Yulia
Nexus Kedokteran Klinik Vol 3, No 1 (2014): Nexus Kedokteran Klinik
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.046 KB)

Abstract

Background: Multidrug tuberculosis treatment which is a long term medication often causes various side effects. One of them is an increase of uric acid level. This study aims to determine the correlation between tuberculosis treatment administration and uric acid level. Methods: This study used cohort method with one group before and after intervention design. A total of 30 tuberculosis patients who were admitted to Center of Lung Health Society Surakarta between April and August 2013 were taken as samples by consecutive sampling method. Criteria of sampling are pulmonary tuberculosis patients who is planned to get rifampisin, isoniazid, pirazinamid, and ethambutol for more than 4 weeks, aged over 18 years old, and had given informed consent. In this study we excluded pulmonary tuberculosis patients who also had liver or renal disorders, had suffered from hyperuricemia or took drugs for decreasing uric acid level, or had hypertension. The measurements of uric acid level was collected before the treatment and more than one  month after the treatment. Data were analyzed by paired t test (α = 0,05). Results: The average uric acid level of 30 patients before treatment was 4.68 ± 1.12 mg/dL, while the average uric acid levels after treatment was 8.56 ± 2.21 mg/dL, which was significantly higher than pretreatment (p=0.001). During treatment, hyperuricemia (uric acid level > 7 mg/dL) was reported in 73.33% (22/30) of patients and two patients had arthralgia. Conclusions: Tuberculosis treatment administration may affect uric acid level. Hiperuricemia was reported in 73.33% of patients who receive tuberculosis treatment. Keywords: tuberculosis treatment, uric acid level, tuberculosis 
ANALISIS FAKTOR KEPUASAN KERJA DAN PENGARUHNYA TERHADAP TURNOVER INTENTION KARYAWAN Hadini, Sri; Setiawan, Ivan
JSMA Vol 11 No 1 (2019): JSMA (Jurnal Sains Manajemen dan Akuntansi)
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi STAN IM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.498 KB)

Abstract

Turnover karyawan merupakan masalah yang sering dihadapi oleh organisasi bisnis, khususnya sektor privat. Turnover dapat berupa pengunduran diri, perpindahan keluar unit organisasi, pemberhentian, atau kematian anggota. Turnover berlebih merupakan hal yang tidak dikehendaki oleh perusahaan, karena dapat merugikan perusahaan dilihat dari segi biaya, sumber daya maupun motivasi karyawan yang bertahan pada perusahaan. Dilihat dari perspektif psikologi, turnover dapat dipahami sebagai suatu sikap yang dapat diukur dan diproksi oleh turnover intention, yaitu kecenderungan atau niat karyawan untuk berhenti bekerja dari pekerjaannnya. Penelitian ini mencoba memahami turnover intention berdasarkan aspek sikap lain yaitu kepuasan kerja. Secara umum, kepuasan kerja tersusun atas dimensi-dimensi gaji, kondisi pekerjaan, promosi, supervisi, dan rekan kerja. Lebih dari 40 tahun dimensi-dimensi tersebut dipahami, diukur, dan umumnya diterima oleh peneliti. Beberapa variasi terjadi melalui penambahan dimensi. Persoalan mendasar yang layak apakah kelima dimensi tersebut masih relevan mengingat perjalanan waktu dan perbedaan kondisi subjek maupun lingkungan yang diteliti. Penelitian ini mengkaji ulang keberadaan lima dimensi kepuasan kerja dengan menggunakan teknik analisis faktor serta menghubungkannya dengan keluaran penting organisasi yaitu turnover intention. Subjek adalah 60 responden yang bekerja pada industri food and beverage. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi kepuasan kerja tersusun atas enam dimensi yaitu gaji, supervisi, promosi, lingkungan non-fisik, kondisi pekerjaan, dan rekan kerja. Pengujian hipotesis menunjukkan bahwa dimensi gaji dan supervisi berpengaruh negatif terhadap turnover intention. Dimensi-dimensi lainnya mencakup promosi, lingkungan non-fisik, kondisi pekerjaan, dan rekan kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap turnover intention.
HUBUNGAN ANTARA PERCEIVED ORGANIZATIONAL SUPPORT DAN TASK PERFORMANCE DENGAN ORGANIZATION CITIZENSHIP BEHAVIOR Setiawan, Ivan; Nurbaeti, Teti
JSMA Vol 10 No 2 (2018): JSMA (Jurnal Sains Manajemen dan Akuntansi)
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi STAN IM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.209 KB)

Abstract

Semua tujuan organisasi, pada dasarnya kembali pada aspek manusianya. Manusia sebagai penentu tujuan organisasi, pengelola organisasi, dan pengendali organisasi untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam hal ini, kembali pada task performance individual para karyawannya yang mendinamisir organisasi. Penelitian ini menempatkan task performance sebagai konsekuensi perceived organizational support dan sebagai anteseden bagi organization citizenship behavior. Teknik analisis menggunakan analisis jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perceived organization support memiliki hubungan positif dengan task performance. Demikian pula, task performance memiliki hubungan positif dengan organizational citizenship behavior. Penelitian ini juga menunjukkan pentingnya keberadaan task performance sebagai mediator antara perceived organizational support dengan organization citizenship behavior.
Hubungan Antara Role Stressor Dan Komitmen Organisasional Dengan Turnover Intention Setiawan, ivan
JSMA Vol 11 No 2 (2019): JSMA (Jurnal Sains Manajemen dan Akuntansi)
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi STAN IM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.245 KB) | DOI: 10.37151/jsma.v11i2.41

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara role stressor yang terdiri atas role ambiguity dan role conflict, serta komitmen organisasional dengan turnover, mengingat keterkaitan antara vaiabel-variabel tersebut masih menunjukkan inkonsistensi hasil-hasil penelitian. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kedua jenis role stressor tersebut merupakan prediktor yang signifikan bagi turnover, namun berbagai penelitian lainnya menunjukkan bahwa role stressor dan komitmen organisasional bukan merupakan prediktor yang signifikan. Penelitian ini menggunakan 61 responden dari satu perusahaan yang berlokasi di dua kota. Mengingat penelitian ini bersifat cross-section, maka turnover intention digunakan sebagai proksi dari turnover. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis jalur. Hasil penelitian menunjukkan role ambiguity dan role conflict merupakan prediktor yang signifikan bagi komitmen organisasional. Namun dari kedua jenis role stressor tersebut, hanya role conflict yang memiliki hubungan negatif dengan turnover intention. Terakhir, temuan menunjukkan bahwa komitmen organisasional merupakan prediktor penting bagi turnover intention. Bagian akhir paper ini menyajikan beberapa keterbatasan.
Expert System for Diagnosing Diseases in Cats that Can Contagious to Humans Using the Certainty Factor Method: Expert System for Diagnosing Diseases in Cats that Can Contagious to Humans Using the Certainty Factor Method Setiawan, Ivan; Fauziah, Fauziah; Andrianingsih, Andrianingsih
Jurnal Mantik Vol. 3 No. 4 (2020): February: Manajemen, Teknologi Informatika dan Komunikasi (Mantik)
Publisher : Institute of Computer Science (IOCS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1066.901 KB)

Abstract

Cats are one of the most popular pet in the world. In addition to adorable, maintenance is not too much trouble is also a reason that makes this animal rage. However, the way poor maintenance can make a cat exposed to various diseases. Some diseases in cats can even be transmitted to humans. For this reason, research was undertaken to design an expert system to diagnose the disease in cats that can be transmitted to humans using the method of Certainty Factor, so that the cat's owner can recognize the symptoms of the disease in cats peliaharaannya. Black box testing results show that the features of the application has been running well. While the validity of the test showed that the data are in accordance with the reference books.