Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

GAMBARAN MAKROSKOPIS GINJAL MENCIT (Mus musculus) JANTAN MODEL UROLITHIASIS DENGAN PEMBERIAN INFUSUM SELEDRI (Apium graveolens) Aritonang, Erfan Andrianto; Sjafarjanto, Agus; Solfaine, Rondius
PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN 2018 BUKU I
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran maksroskopis ginjal mencit (Mus musculus) model urolithiasis dengan pemberian infusum seledri (Apium graveolens). Penelitian terbagi dalam empat perlakuan yaitu K 1 (akuades); K 2 (induser urolithiasis);  S 1 (infusum seledri 20%, setelah satu jam kemudian diberi induser urolithiasis); dan S 2 (infusum seledri 40%, setelah satu jam kemudian diberi induser urolithiasis). Induser urolithiasis adalah 0,75% etilen glikol dan 2% amonium klorida. Perlakuan dilakukan selama 10 hari, nekropsi dan analisis makroskopis ginjal dilakukan pada hari ke-11. Analisis makroskopis meliputi skoring gambaran makroskopis ginjal, panjang dan tebal ginjal, serta bobot ginjal mencit. Data hasil skoring gambaran makroskopis ginjal di analisis menggunakan uji Chi Kuadrat, sedangkan panjang dan tebal ginjal serta bobot ginjal dianalisis menggunakan uji Anova. Hasil skoring gambaran makroskopis ginjal kelompok S 1 dan S 2 terhadap kelompok K 2 menunjukan adanya perbedaan yang nyata (p>0,05). Hasil rata-rata panjang dan tebal ginjal kanan setiap kelompok adalah 0,80; 0,38(K 1); 1,08; 0,50(K 2); 1,05; 0,48 (S 1); dan 0,975; 0,47(S 2) dan rata-rata panjang dan tebal ginjal kiri setiap kelompok adalah 0,83; 0,36(K 1); 0,94; 0,44(K 2); 0,94; 0,44(S 1); 0,89; 0,39(S 2). Hasil rata-rata bobot ginjal setiap kelompok adalah 0,259 ± 0,50(K 1); 0,372 ± 0,44(K 2); 0,370 ± 0,41(S 1); dan 0,325 ± 0,079(S 2). Uji statistik ANOVA terhadap ukuran dan bobot ginjal mencit kelompok S 1 dan S 2 terhadap kelompok K 2 tidak berbeda nyata (p>0,05).
Residu Antibiotika pada Hati dan Karkas Ayam Pedaging Sjafarjanto, Agus; Huzai, Muslihan
VITEK : Bidang Kedokteran Hewan Vol 4 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the residue antibiotic on liver and broiler carcass at the market Dukuh Pakis district. Location and time of the research carried out at the Laboratory of Veterinary Public Health Faculty of Veterinary Medicine Wijaya Kusuma University of Surabaya. Sampling by liver and broiler carcass performed in markets around the market Dukuh Pakis district. This study is an observational study, using liver and broiler carcass were taken from a sub market of Dukuh Pakis tested for antibiotic residues were detected comparing the market where the highest levels of antibiotic residues. Samples in the form of livers and broiler carcasses must come from the same broiler taken from the traditional markets and supermarkets around the Dukuh Pakis District. The data obtained were analyzed using descriptive methods.Antibiotic residues on broiler carcasses in Dukuh Pakis market based on the results of the test showed that 27.5% positive and 72.5% negative. While antibiotic residues in broiler liver in Dukuh Pakis Market based testing showed positive results of 32.5% and negative 67.5%.
Kejadian penyakit bovine ephemeral fever (BEF) pada sapi potong peranakan limousin Sjafarjanto, Agus; Winoto, Suko
VITEK : Bidang Kedokteran Hewan Vol 4 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to find out and identify cases of illness Bovine Ephemeral Fever (BEF), as well as how to handle on beef cattle (Limousin Straits), at Soko subdistrict of Tuban District.This research method using observational data retrieval by way of secondary cases of illness Bovine Ephemeral Fever (BEF) at Straits Limousin beef cattle in 2013, annual reports on cases of animal diseases at Soko subdistrict of Tuban District.The research results, obtained a conclusion that the level of the prevalence of disease of Bovine Ephemeral Fever (BEF) as much as 0,54 %, to scatter data disease of Bovine Ephemeral Fever (BEF) in fourteen village at Soko sub-district, indicating the level of events that high in the village of teak and villages Prambon Tergayam, that is, there were six cases in 2013, because geographically, is a hilly area being at two villages indicating low levels of occurrences of a disease Bovine Ephemeral Fever (BEF), which only one case in the village of Menilo, and villages Cekalang, who is mistakenly geogafis is lowland and hot climate.
Pengaruh Pemberian Pakan Tambahan Tepung Bekicot (Achatina Fulica) Terhadap Motilitas dan Viabilitas Spermatozoa pada Mencit (Mus Musculus) Sjafarjanto, Agus; Rosandi, Fradila Nurmahita
VITEK : Bidang Kedokteran Hewan Vol 5 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tepung bekicot (Achatina fulica) terhadap motilitas dan viabilitas spermatozoa mencit (Mus musculus).Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah mencit sebagai control, mencit yang diberi tepung bekicot 1 g, 2 g, dan 3 g. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Reproduksi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya pada tanggal 4 Agustus sampai 18 Agustus 2014. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analisis Varian (ANOVA).Hasil penelitian menunjukkan, bahwa ada pengaruh tepung bekicot (Achatina fulica) terhadap motilitas dan viabilitas spermatozoa mencit (Mus musculus). Perlakuan pemberian tepung bekicot (Achatina fulica) 3 g mampu meningkatkan motilitas dan viabilitas spermatozoa dibandingkan dengan pemberian tepung bekicot (Achatina fulica) 1 g dan 2 g.