Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

PENGEMBANGAN WISATA EDUKASI BERKELANJUTAN DI MUSEUM GEOLOGI BANDUNG Maesari, Nadhia; Suganda, Dadang; Rakhman, Cecep Ucu
Jurnal Kepariwisataan: Destinasi, Hospitalitas dan Perjalanan Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.323 KB) | DOI: 10.34013/jk.v3i1.29

Abstract

Geology Museum is a popular destination for educational tourism. But there are various obstacles so that in the implementation, educational tourism in Geological Museum has not been optimal so that need for the development of sustainable educational tourism model that can benefit both the visitors of the museum and the museum. Methods in this study using qualitative methods. Qualitative methods are used to obtain data based on factual conditions that occur, field observations, interviews and literature studies. The results in this study resulted in a new model for sustainable education in the Museum of Geology which refers to museum education policies, education and sustainable tourism indicators.
PEMANFAATAN KONSEP “MUKA” (FACE) DALAM WACANA WAYANG GOLEK: ANALISIS PRAGMATIK Suganda, Dadang
Jurnal Humaniora Vol 19, No 3 (2007)
Publisher : Faculty of Cultural Science Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.737 KB) | DOI: 10.22146/jh.908

Abstract

This paper attempts to describe the concept of face found in wayang golek discourse. This descriptive and qualitative study is done under the scope of pragmatics. The concept of face to a certain extent determines how a conversation can be conducted efficiently, effectively, and politely. The concept of face in wayang golek discourse yields two concepts namely positive and negative face concepts.
ASPEK LOKALITAS PADA NOVEL POPULER INDONESIA Adji, Muhamad; Suganda, Dadang; Banita, Baban
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.443 KB) | DOI: 10.15408/dialektika.v5i1.8168

Abstract

Abstract: Contemporary popular novels generally bring about a global discourse. This is the impact of the authors' contact with the global world. Andrea Hirata and Ahmad Fuadi are authors who are closely related to the global world affecting their works. However, local cultural values are also contained in the novels. Thus, there is a wedge between local and global values within the text. This paper is intended to examine how the local values are represented by the text of a global popular novel. This study uses two popular novel texts as the object of study, namely Sang Pemimpi by Andrea Hirata and Negeri 5 Menara by Ahmad Fuadi. The questions that guide this paper are a) how aspects of locality are represented in popular novels, b) what forms of locality aspects are contained in popular novels. In this paper, an analytical descriptive method using the perspective of cultural studies is used. The results show that the aspects of locality are featured in popular novels through background stories, figures, and habits demonstrated by the main characters. These intrinsic elements show the values of locality that are related to mutual cooperation and wander traditions.Abstrak: Novel-novel populer kontemporer pada umumnya banyak memunculkan wacana global. Hal ini merupakan imbas dari persentuhan para pengarang dengan dunia global. Andrea Hirata dan Ahmad Fuadi adalah pengarang-pengarang yang memiliki keterkaitan erat dengan dunia global sehingga berdampak pada karya-karya mereka. Namun demikian, nilai-nilai budaya lokal juga termuat di dalam novel-novel tersebut. Sehingga, terjadi irisan antara nilai-nilai lokal dan global di dalam teks tersebut. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengkaji bagaimana nilai-nilai lokal tersebut direpresentasikan teks novel popoler yang berwacana global. Kajian ini menggunakan dua teks novel populer sebagai objek kajian, yaitu Sang Pemimpi karya Andrea Hirata dan Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Pertanyaan yang menuntun tulisan ini adalah a) bagaimana aspek lokalitas direpresentasikan di dalam novel populer, b) apa bentuk aspek lokalitas yang ada di dalam novel populer. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan perspektif kajian budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek lokalitas ditampilkan dalam novel populer melalui latar cerita, tokoh-tokoh, dan kebiasaan yang ditunjukkan oleh tokoh utama. Unsur-unsur intrinsik tersebut menunjukkan nilai-nilai lokalitas yang berkaitan dengan tradisi gotong royong dan merantau.
Negative Labeling towards Teachers as Expression of Violence in Modern Literature Manurung, Rosida Tiurma; Suganda, Dadang; Cristiana, Davidescu
EDUCARE Vol 6, No 2 (2014)
Publisher : EDUCARE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.318 KB)

Abstract

ABSTRACT: Previous to 1960, the literatures recognized teachers as highly respected figures. Upon seeing a teacher from far away, a student would hurriedly run to reach him/her and would lead his/her bike. It was considered an honor to help teachers in one way or another. Time and time in the past literature, teachers are labeled in such ways that the students would kiss their teachers’ hands to show them respect. The students would not hesitate to give their selves away to help cut their teachers’ grass. However, it is no longer the case in today’ literatures. The literatures repeatedly make fun of teachers, as well harassing and paralyzing them. It is ironical. Teachers have lost their positive label and are labeled negatively as the product of indecent behavior from the part of the students. Schools are becoming the fields for channeling violent attitude and behaviors to ruin the good image of a teacher. In this work, teachers labeling in the past and today’ literature are compared. Literatures from 1960s and 2000s become the sources of data. Language expression is analyzed with the help of Critical Discourse Analysis using the method of contrasted descriptive and analysis, while data are collected by the technique of library study and interviews. It is expected that the result of the research help put the teachers’ label (already fading away, corrupted, and falling onto pieces) on its early respected place again. Teachers with positive image are always needed and cannot be compromised. With the positive label of teachers, the process of studying and teaching can be performed more conducive, effective, interactive, and optimum. Positive labeling of teachers need to be started in today literature. Poets and authors have the central role to give appreciation for the teachers.KEY WORDS: Teachers labeling, violent expression, 1960s’ literature, today’ literature, contrasted analysis, and critical discourse analysis.    About the Authors: Rosida Tiurma Manurung is a Ph.D. Student at the Postgraduate Program of Literature Science, Majoring in Linguistic UNPAD (Padjadjaran University) in Bandung, West Java, Indonesia; and Prof. Dr. Dadang Suganda and Prof. Dr. Davidescu Cristiana are the Lecturers at the Faculty of Humanities UNPAD Bandung. Corresponding author is: rosidatm@gmail.comHow to cite this article? Manurung, Rosida Tiurma, Dadang Suganda & Davidescu Cristiana. (2014). “Negative Labeling towards Teachers as Expression of Violence in Modern Literature” in EDUCARE: International Journal for Educational Studies, Vol.6(2) February, pp.161-168. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI in Bandung, West Java and FKIP UMP in Purwokerto, Central Java, ISSN 1979-7877.Chronicle of the article: Accepted (December 26, 2013); Revised (January 29, 2014); and Published (February 17, 2014).   
SENI KERAJINAN KELOM GEULIS DI KOTA TASIKMALAYA SEBAGAI PELENGKAP FASHION WANITA Sofyan, Agus Nero; Sofianto, Kunto; Sutirman, Maman; Suganda, Dadang
Sosiohumaniora Vol 20, No 2 (2018): SOSIOHUMANIORA, JULI 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.339 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v20i2.13968

Abstract

Penelitian ini berjudul “Seni Kerajinan Kelom Geulis di Tasikmalaya sebagai Pelengkap Fashion Wanita”. Tasikmalaya merupakan kawasan di Priangan Timur Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini mengkaji pemerolehan dan pemilihan bahan baku, proses produksi (desain, pengukuran, pencetakan, pengepakan, dan pelabelan), dan pemasaran. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif-analitik. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah survei ke lapangan melalui wawancara, pengamatan secara langsung, dan pengambilan sumber-sumber tertulis dari masyarakat dan pemerintah setempat. Selain itu, teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara pengambilan gambar di lapangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji kelom geulis sebagai pelengkap fashion wanita. Kelom geulis adalah jenis kerajinan khas yang berasal dari Tasikmalaya yang dibuat turun-temurun. Kelom geulis bagian dari jenis sandal pada umumnya. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data lapangan melalui participant observation sebagai data primer dan sumber kepustakan sebagai data sekunder. Objek penelitian ini adalah kelom geulis di Tasikmalaya. Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana pemerolehan dan pemilihan bahan baku kelom yang berkualitas, proses produksi mulai dari mendesain, mengukur, mencetak, melabel, dan mengepak, serta memasarkan kelom geulis ke tempat-tempat yang strategis, baik dalam maupun luar negeri. Hasil yang dicapai dari penelitian ini bahwa kelom geulis produksi Kota Tasikmalaya memiliki kualitas yang baik, meningkatkan fashion pemakainya sehingga nyaman dipandang (eye-cathcing), dan meningkatkan jumlah produksi karena banyak permintaan dari dalam dan luar negeri. Selain itu, usaha pemerintah setempat dalam pelestarian seni produksi kelom geulis dengan memberikan peningkatan modal kepada para perajin, mendatangkan investor, dan memberikan peluang pemasaran baik di dalam maupun di luar.
KOSAKATA ETNOMEDISIN DALAM PENGOBATAN TRADISIONAL SUNDA: KAJIAN LINGUISTIK ANTROPOLOGI (ETHNOMEDICINE LEXICON IN SUNDANESE TRADITIONAL TREATMENT: AN ANTROPOLINGUISTICS STUDY) Suganda, Dadang; Wagiati, NFN; Riyanto, Sugeng; Darmayanti, Nani
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 16, No 2 (2018): Metalingua Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.481 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v16i2.241

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan kosakata etnomedisin dalam pengobatan tradisional Sunda di dilihat dari kajian antropolinguistik. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas dua pendekatan, yaitu pendekatan secara teoretis dan pendekatan secara metodologis. Secara teoretis, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan antropolinguistik. Secara metodologis, pendekatan yang digunakan di dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Atas dasar itu, metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan analisis data deskriptif. Analisis dibagi menjadi klasifikasi dan deskripsi leksikon berdasarkan bahan pengobatan tradisional, klasifikasi dan deskripsi leksikon berdasarkan nama penyakit tradisional sunda, cerminan kultural kosakata etnomedisin dalam pengobatan tradisional sunda, dan gejala kultural dari praktik etnomedisin dalam pengobatan tradisional sunda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kosakata etnomedisin dalam pengobatan tradisional Sunda diklasifikasikan berdasarkan sudut pandang bentuk lingualnya menjadi dua bentuk, yaitu bentuk kata dan bentuk frasa, (2) kosakata etnomedisin dalam pengobatan tradisional Sunda setidaknya memiliki tiga cerminan kultural, yaitu adanya harmonisasi masyarakat dengan alam, adanya harmonisasi nilai religius terhadap alam, dan cerminan ekonomis, dan (3) keberadan pengetahuan masyarakat atas bahan-bahan pengobatan tradisional termasuk warisan kultural yang telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi tua kepada generasi muda.Kata kunci: leksikon, etnomedisin, bahasa Sunda, antropolinguistik
FUNGSI INDEKSIKAL REFERENSIAL DAN NONREFERENSIAL PADA KONSTRUKSI DIATESIS BAHASA JEPANG (REFERENTIAL AND NONREFERENTIAL INDEXICAL FUNCTIONS IN JAPANESE VOICE CONSTRUCTIONS) Otsuka, Hiroko; Suganda, Dadang; Purwo, Bambang Kaswanti; Sobarna, Cece
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 16, No 1 (2018): Metalingua Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1489.492 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v16i1.123

Abstract

Penelitian ini membahas fungsi dan makna indeksikal konstruksi diatesis bahasa Jepang. Dalam tradisi linguistik Barat, konstruksi diatesis merupakan piranti untuk menyatakan makna proposisional mengenai hubungan di antara partisipan dengan situasi yang digambarkan verba. Dengan menggunakan kerangka indeksikal referensial dan nonreferensial, penelitian ini mencoba menjelaskan fungsi konstruksi diatesis bahasa Jepang bermakna  nonproposisional. Fungsi dan makna indeksikal dijelaskan melalui pengontrasan paradigmatis  terkait makna konstruksi yang membentuk seperangkat opsi terbatas dalam penentuan pilihan penutur. Penelitian ini menjelaskan bahwa indeksikal referensial berfungsi pula menyatakan makna evaluatif penutur seperti ‘stance’ afektif/emotif terhadap partisipan peristiwa yang selama ini oleh peneliti dianggap dinyatakan melalui indeksikal nonreferensial. Penelitian ini menjelaskan pula bahwa makna indeksikal nonreferensial konstruksi diatesis bahasa Jepang dapat mencakup sikap mental yang meliputi sikap menjaga citra diri, sikap menimbang rasa orang lain dan sebagainya. Hasil penelitian membuktikan bahwa fungsi indeksikal referensial maupun nonreferensial pada konstruksi diatesis bahasa Jepang berhubungan erat dengan kehidupan sosial budaya Jepang. 
SENI BORDIR TASIKMALAYA DALAM KONSTELASI ESTETIK DAN IDENTITAS Nero, Agus; Sofianto, Kunto; Sutirman, Maman; Suganda, Dadang
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARET 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.043 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i1.476

Abstract

 Penelitian ini berjudul “Seni Bordir Tasikmalaya dalam Konstelasi Estetik dan Identitas”. Penelitian ini mengkaji seni bordir Tasikmalaya dilihat dari aspek estetik dan identitas. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif-analitik. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah survei ke lapangan melalui wawancara, pengamatan secara langsung, dan pengambilan sumber-sumber tertulis dari masyarakat dan pemerintah setempat. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data lapangan melalui participant observation sebagai data primer dan sumber kepustakan sebagai data sekunder. Objek penelitian ini adalah kerajinan bordir di Tasikmalaya. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa latar kultural yang mengawali lahir dan berkembangnya kerajinan bordir Tasikmalaya adalah kondisi kultural Tasikmalaya yang identik dengan aspek religi. Perkembangan kerajinan bordir Tasikmalaya telah mengalami perluasan ke arah dimensi pemaknaan, tujuan, hingga pengaruh estetika modern, pada masanya nanti telah berpengaruh pada adanya bauran estetik antara estetika tradisional dan estetika modern.This study entitled "Tasikmalaya Embroidery Art in Estetic Constelation and Identity". This study reviewed Tasikmalaya embroidery art from the aspects of aesthetic and identity. The method used in this research is descriptive-analytic method. Data collection techniques in this study is a survey of the field through interviews, direct observations, and taking written sources from the community and local government.The object of this study is embroidery in Tasikmalaya.The results obtained from this study is that the cultural background that started the birth embroidery cultural conditions of Tasikmalaya is identical with the religious aspect. Tasikmalaya embroidery developments have expanded toward the dimension of meaning, purpose, to the influence of modern aesthetics, in his time later have an effect on their aesthetic mix between traditional aesthetics and modern aesthetics.
Kerajinan Payung Geulis sebagai Kearifan Lokal Tasikmalaya Sofyan, Agus Nero; Sofianto, Kunto; Sutirman, Maman; Suganda, Dadang
PANGGUNG Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.48 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v28i4.708

Abstract

ABSTRACTThis study entitled " The Payung Geulis Craft as a Local Wisdom of Tasikmalaya" aims to obtain data on a local wisdom as ancestral culture of Tasikmalaya. The method employed is a descriptive-analytical approach, which is used to describe phenomena taking place in the present or the past. Data collection techniques in this study are interviews, direct observations, and written sources from the community and a local government. The problems addressed in this study are to find the historical, economic, and aesthetic values existed at the Tasikmalaya craft; and how does the umbrella craft pass down from the older generation to the younger generation. The outcome of this research are, first, a Geulis umbrella  is a product based on local knowledge that characterisize a Tasikmalaya society; the Geulis umbrella crafthas cultural, economic, and aestheticsignificances; and the existence of Geulis umbrella today isnearly extinct.Keywords: local wisdom, indigenous crafts, geulis umbrellas, Tasikmalaya. ABSTRAKPenelitian berjudul “Kerajinan Payung Geulissebagai Kearifan Lokal Tasikmalaya”ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi tentang kearifan lokal Payung Geulis sebagai budaya leluhur Tasikmalaya.Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif-analitik, yaitu metode yang digunakan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung saat ini atau saat yang lampau.Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, pengamatan secara langsung, dan pengambilan sumber-sumber tertulis dari masyarakat dan pemerintah setempat. Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana nilai historis, ekonomis, dan estetis yang ada pada kerajinan Payung Geulis Tasikmalaya; dan bagimana regenerasi kerajinan Payung Geulis itu dari generasi tua kepada generasi muda. Hasil yang dicapai dari penelitian ini adalah kerajinan Payung GeulisTasikmalaya merupakan kearifan lokal yang menjadi ciri dari masyarakat Tasikmalaya; kerajinan Payung Geulismemiliki nilai kultural, ekonomis, dan estetis yang cukup tinggi; eksistensi dan keberadaan Payung Geulis dewasa ini sudah semakin sulit ditemukan.Kata Kunci: kearifan lokal, kerajinan lokal, Payung Geulis, budaya, Tasikmalaya.
PEMBELAJARAN DAN PELATIHAN KESENIAN TRADISIONAL BADUD DI PANGANDARAN JAWA BARAT SEBAGAI WARISAN BUDAYA LELUHUR Sofyan, Agus Nero; Sofianto, Kunto; Sutirman, Maman; Suganda, Dadang
Dharmakarya Vol 7, No 2 (2018): Juni
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.393 KB) | DOI: 10.24198/dharmakarya.v7i2.16981

Abstract

Tulisan ini berjudul “Pembelajaran dan Pelatihan Kesenian Tradisional Badud di Pangandaran Jawa Barat sebagai Warisan Budaya Leluhur”. Pangandaran merupakan kawasan di Priangan Timur Provinsi Jawa Barat. Materi yang diberikan dalam pengabdian masyarakat ini adalah seni tradisional leluhur masyarakat Pangandaran, yaitu kesenian tradisional badud. Sumber data yang digunakan adalah menampilkan narasumber yang kompeten dalam bidang kesenian tradisional badud sebagai data primer dan kajian pustaka sebagai data sekunder.Masalah yang dibahas dalam tulisan ini adalah bagaimana awal mula lahir dan berkembangnya kesenian tradisional badud, fungsi-fungsi kesenian tradisional badud, dan preservasi kesenian tradisional badud. Hasil yang dicapai dari penelitian ini adalah Kesenian tradisional badud merupakan satu di antara kesenian andalan yang lahir dan berkembang di daerah Pangandaran; kesenian tradisional badud Pangandaran menjadi daya tarik pariwisata karena memiliki beberapa keunikan, seperti ada mitos historis yang melatarbelakangi lahirnya kesenian ini, tidak ditemukannya di daerah atau di tempat lain, dan ada kekhasan seni suara yang berbeda dengan kesenian lainnya; harus ada usaha-usaha serius dari berbagai pihak untuk menjaga, melestarikan, dan mengembangkan potensi seni dan budaya yang dimiliki oleh daerah tersebut.