Ferlina Sugata
Universitas Kristen Maranatha

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KETERKAITAN AKTIVITAS PRADAKSINA PADA RAGAM TIPOLOGI BANGUNAN STUPA SUGATA, FERLINA
Serat Rupa Journal of Design Vol 1 No 2 (2016): SRJD-SEPTEMBER
Publisher : Maranatha Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/srjd.v1i2.452

Abstract

Circumambulation as one of the Buddhist worship activity is a pathway around the shrines  clockwise, from East to the West. There are two kinds of  pradaksina activity refer  to schools in Buddhism, the Theravada as an honor symbol and the Mahayana as one type of meditation. Stupa as one of Buddhist worship architecture is a place to accommodate the activity itself and the worship symbol  as well.  Stupa is a conical monument erected over relics of  the Buddhas, Arhats, Kings or other great men. Stupa as a religious architecture nowadays became the image of The Buddha as known all around the world  which is also known as the symbol of the composition of robe, bowl, and walking stick from a monk. The interrelatedness  between the pradaksina as an activity and the stupa as the architecture cause some effects that related to space dimension, space quality, orientation of space, and function of the building. All the effects only influence the spatial matter but not influence the meaning of pradaksina and the stupa. Keyword: pradaksina; stupa’s typology, the interrelatedness
REPRESENTASI DAN ORIENTASI SIMBOL PENGHORMATAN DALAM DINAMIKA RUANG IBADAH AGAMA BUDDHA (Studi Kasus: Ruang Ibadah Cetiya di Bandung) Tjandradipura, Carina; Sugata, Ferlina
Ide dan Dialog Desain Indonesia (Idealog) Vol 1 No 1 (2016): Jurnal Idealog Volume 1 nomor 1
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/idealog.v1i1.839

Abstract

Setiap umat beragama pada umumnya memiliki simbol penghormatan untuk memuja keagungan dan kebesaran seseorang yang dianggap sangat penting dalam agama masing-masing. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh perkembangan dunia arsitektur dan penyesuaian aktivitas peribadatan berbeda-beda pula sehingga mempengaruhi munculnya tatanan ruang yang beragam pada salah satu ruang ibadah umat agama Buddha yakni cetiya. Dalam perkembangan bentuk ruang cetiya tersebut, aktivitas dalam cetiya ini pun mengalami perubahan yakni sebagai wadah aktivitas ritual dan interaksi keagamaan sehingga memberikan dampak terhadap esensi makna bagi sebuah aktivitas spiritual. Tujuan penelitian ini untuk mengeksplorasi sejarah dan perkembangan bentuk, fungsi dan makna cetiya pada masa awal muncul hingga saat ini, dengan mengidentifikasi tipe cetiya di ranah publik dan privat, dan masih difungsikan sesuai awal terbentuknya namun telah mengalami pergeseran dalam aspek wadah fisik dan kontennya; serta mengetahui sejauh mana terjadi pergeseran tersebut dengan menganalisis faktor-faktor mendorong terjadinya hal tersebut. Metode analisis yang digunakan adalah kajian fenomenologis, yakni mencari faktor pendorong dengan teknik kualitatif rasionalistik sehingga teknik pengolahan datanya merupakan analisis hubungan dari kedua variabel yang dijabarkan menjadi faktor-faktor dan kemudian dilanjutkan denganmenggunakan tabulasi sederhana, sehingga menghasilkan sistematika dari faktor-faktor tersebut. Pada saat ini cetiya telah mengalami perubahan bentuk menjadi sebuah ruang atau bangunan tempat peribadatan pribadi maupun kelompok tertentu, yakni berupa sudut ruangan atau kamar khusus di sebuah fungsi hunian atau kantor. Pergeseran fungsi yang kini terjadi, tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap penataan pola ruang dan tetap dapat memperlihatkan representasi simbol Buddha dengan orientasi ruang memusat serta tetap terjaganya hierarki sebagai ruang ibadah privat dan khusuk walaupun dengan elemen pelingkup dan atributruang yang berlainan. Berdasarkan hasil temuan penelitian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa simbol masih dikenal hingga saat ini namun direpresentasikan secara berbeda dari konsep awalnya yang berupa tempat suci atau penyimpanan benda suci Buddha. Penggunaan nama masih tetap digunakan dan fungsi cetiya sebagairuang ibadah yang menampung aktivitas penghormatan pun masih dipertahankan.
PREFERENSI PRIVASI VISUAL PADA RUANG KERJA TIM REDAKSI KANTOR PUSAT SURAT KABAR PIKIRAN RAKYAT BANDUNG Azka, Hafizha; Setyoningrum, Yunita; Sugata, Ferlina
Serat Rupa Journal of Design Vol 3 No 2 (2019): SRJD-JULY
Publisher : Maranatha Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/srjd.v3i2.1192

Abstract

This research explores how the open-plan office space in the Pikiran Rakyat Bandung head office influences the visual privacy preferences of the editorial staff. The aim is to find out what visual privacy is needed by the employees and the factors that might cause visual privacy disturbance on the employees of the open-plan office. The research observed several workstations with the potential of visual privacy disturbances, namely workstations that: a) is back-to-back with the walkway, b) is located at a walkway junction, c) is directly adjacent to the door, d) is adjacent to joint work facilities, e) is facing other coworkers, and f) is close to other co-workers on the right or left side. The research method was descriptive qualitative, using field observations and interviews to collect data. The result shows that: a) The interior settings of the workspace in open office space adjacent to coworkers both on the right side and left side are the most dominant factors that cause disruption to employees in visual privacy; b) Characteristics of employee?s task which need solitude condition influence visual privacy preferences the most, especially in the work layout (monitor). Thus, office space planning in an open office space at the Bandung People's Mind headquarters should consider the need for visual privacy by a) Rearranging the interior settings of the workspace with the ideal amount of workspace, b) Adding physical barriers between workspaces, and c) Arranging centralized shared work facilities for employees in open office space, hence minimalize disturbance from the conducted activities.