Suprajaka Suprajaka
Peneliti MAdya Bidang Geografi Terapan, Bakosurtanal

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PERENCANAAN SPASIAL PENINGKATAN PRODUKSI KEDELAI BERBASIS KESESUAIAN LAHAN DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Widiatmaka, Widiatmaka; Ambarwulan, Wiwin; Munajati, Sri Lestari; Munibah, Khursatul; Murtilaksono, Kukuh; Tambunan, Rudi P; Nugroho, Yusanto A; Santoso, Paulus B.K.; Suprajaka, Suprajaka; Nurwadjedi, Nurwadjedi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.475 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-2.86

Abstract

Pemanfaatan data survei tanah dan evaluasi lahan dilakukan untuk perencanaan peningkatan produksi kedelai menjawab tantangan kelangkaan pasokan kedelai di Kab. Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Data yang digunakan adalah hasil survei oleh Pusat Pemetaan dan Integrasi Tematik, Badan Informasi Geospasial dilengkapi dengan analisis citra dan evaluasi lahan fisik dan ekonomi untuk kedelai. Analisis kesesuaian lahan fisik dan ekonomi untuk kedelai dilakukan menggunakan Automated Land Evaluation System (ALES). Penggunaan lahan diinterpretasi menggunakan citra SPOT-5, dipertajam dengan data lebih detil menggunakan citra IKONOS dari Kementerian Pertanian. Hasil-hasil analisis diinterpretasi dalam term potensi intensifikasi kedelai pada lahan sawah eksisting dan potensi perluasan tanaman kedelai pada lahan kering yang potensial. Hasil analisis menunjukkan bahwa di wilayah Kabupaten Lombok Timur masih dimungkinkan dilakukan intensifikasi dan ekstensifikasi untuk peningkatan produksi kedelai dalam rangka peningkatan ketahanan pangan regional. Persoalannya, keuntungan petani dalam budidaya kedelai pada berbagai kelas kesesuaian lahan jauh lebih kecil dibandingkan pengusahaan padi sawah. Perencanaan fisik berbasis kesesuaian lahan perlu diikuti dengan upaya menciptakan kondisi agar penanaman kedelai menarik bagi petani dari sisi ekonomi.Kata Kunci: Ketahanan Pangan, SPOT-5, Kesesuaian Lahan, Sistem Evaluasi Lahan Otomatis.ABSTRACTData from soil survey and land evaluation were used in planning for increasing  soybean production, answering the lack of soybean supply in East Lombok Regency, West Nusa Tenggara Province. The results of the survey of Center for Integrated Mapping, Geospatial Information Agency were used, combined with image analysis and physical and economical land suitability analysis for soybeans. Analysis of physical and economical land suitability for soybean was performed using Automated Land Evaluation System (ALES). Land use was interpreted using SPOT-5 imagery, completed by the data of IKONOS imagery from Ministry of Agriculture. The results of the analysis were interpreted in terms of the potential intensification of soybean on existing ricefield and the potential expansion of soybean crops ondry land. The analysis showed that in East Lombok Regency, there is still possible to do the intensification and extension of soybean in order to improve regional food security. The problem is, benefit of farmers in the cultivation of soybeans in various land suitability classes are much smaller than rice cultivation. Physical planning based on land suitability needs to be coupled with efforts to create an attractive situation to farmers for planting soybean.Keywords: Food Security, SPOT-5, Land Suitability, Automated Land Evaluation System.
Land use planning of paddy field using geographic information system and land evaluation in West Lombok, Indonesia Widiatmaka, Widiatmaka; Ambarwulan, Wiwin Ambarwulan; Tambunan, Rudi P; Nugroho, Yusanto A; Suprajaka, Suprajaka; Nurwadjedi, Nurwadjedi; Santoso, Paulus B.K.
Indonesian Journal of Geography Vol 46, No 1 (2014): Indonesian Journal of Geography
Publisher : Faculty of Geography, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2130.338 KB) | DOI: 10.22146/ijg.5004

Abstract

Planning analysis to increase rice production either through intensiḀcation of existing paddy Ḁeld area or ex-tensiḀcation in potential land area was conducted in West Lombok Regency, West Nusa Tenggara Province, Indonesia. Existing paddy Ḁeld was delineated using high-resolution data from IKONOS imagery of 2012. Land use and land cover outside existing paddy Ḁeld were interpreted using SPOT-5 imagery of 2012. ἀe Automated Land Evaluation System (ALES) was used for land suitability analysis for paddy. ἀe results are interpreted in terms of the potential of paddy Ḁeld intensiḀcation in existing paddy Ḁeld area and the potential of extensiḀcation in land potentially used for paddy Ḁeld. ἀe result of analysis showed that in West Lombok Regency, there are still possible to do intensiḀcation and extensiḀca-tion of paddy Ḁeld to increase rice production in order to improve regional food security.
SURVEI CEPAT TERINTEGRASI UNTUK PEMANTAUAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENGATASI BANJIR DI SUNGAI BEKASI Poniman, Aris; Hartini, Sri; Suprajaka, Suprajaka; Nugratama, Sony
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.868 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.72

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengaplikasikan metode survei penginderaan jauh geografis secara cepat danterintegrasi untuk pemantauan dan pengambilan keputusan dalam mengatasi bencana banjir. Lokasi penelitiandifokuskan di sepanjang Sungai Bekasi sampai Sungai Cikeas sebagai bagian dari DAS Bekasi. Peta Rupabumi danpeta citra penginderaan jauh tegak multi resolusi digunakan sebagai informasi geospasial utama, dilengkapi dengansurvei lapangan meliputi susur sungai menggunakan perahu karet dan survei darat serta wawancara denganpenduduk di sekitar bantaran sungai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di sepanjang bantaran Sungai Bekasi diDAS Hilir dan Sungai Cikeas di DAS Tengah dan Hulu telah banyak digunakan untuk berbagai penggunaan lahan,yaitu permukiman, kawasan industri, pemakaman, lapangan golf, gedung perkantoran, rumah sakit, dan fasilitasumum lainnya. Dengan semakin berkurangnya lahan bervegetasi di wilayah DAS Hulu dan Tengah, memperbesaraliran permukaan, dan berakibat seringnya terjadi banjir di sepanjang sempadan sungai Bekasi Bagian Hilir.Kata Kunci: Penginderaan Jauh, Multi Resolusi, Banjir, Survei Cepat Terintegrasi, Pengambilan Keputusan.ABSTRACTThis research aims to apply a method of integrated geographic remote sensing rapid survey for flood disastermonitoring and decision making in order to find a solution in the case of flood occurence. The research sites had beenfocused along the Bekasi River to Cikeas River. Topographic maps and remote sensing imagery map at small andlarge scales were used as the primary geospatial information, and supplemented by field surveys along the river usingrubber boats, land cover/ land use surveys and interviews around the riverbanks. The results showed that the floodplains along rivers in the lower watershed of Bekasi and Cikeas in the middle and upper watershed has been widelyused for a variety of land uses, such as settlements, industrial areas, cemeteries, golf courses, office buildings, andother public facilities. The decreasing amount of vegetated land in the upper and middle watershed resulted inincreasing of run off and more frequent flooding along the river banks down stream of Bekasi River.Keywords: Remote Sensing, Multi Resolution, Flood, Rapid Integrated Survey, Decision Making.
ANALISIS NERACA SPASIAL HUTAN MANGROVE DI WILAYAH PROBOLINGGO Yuwono, Doddy M.; Cahyo, Anggoro; Hartini, Sri; Suprajaka, Suprajaka
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.887 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-1.214

Abstract

Mangrove Pulau Jawa telah mengalami degradasi yang cukup signifikan dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Permasalahan tersebut diperparah dengan terbatasnya ketersediaan data spasial yang memadai untuk mengetahui besar maupun laju perubahan/penurunan luas hutan mangrove. Analisa neraca spasial digunakan untuk mengetahui perubahan lahan mangrove. Ketersediaan data spasial yang terbatas dan bersumber dari beragam data citra, menjadi masalah dalam penyediaan data geospasial untuk analisa neraca karena terdapat perbedaan karakter pada data citra yang digunakan. Penelitian ini mendemonstrasikan dan mengkaji bagaimana penggunaan sumber citra dengan perbedaan karakteristik spasial dan spektral untuk analisa neraca spasial perubahan lahan mangrove dengan mengambil lokasi kasus sebagian area mangrove di Probolinggo Jawa Timur. Penelitian ini memberikan indikasi bahwa ketidakpastian dalam data spasial perlu diperhitungkan dalam analisis atau pemetaan neraca spasial. Citra SPOT 4 liputan tahun 2006/2007 digunakan sebagai data awal atau data aktiva yang menunjukkan kondisi awal sumber daya mangrove, sedangkan citra GeoEye dan Quickbird tahun 2010/2011 digunakan sebagai data akhir/pasiva. Metode yang digunakan adalah interpretasi citra dengan metode gabungan antara klasifikasi digital unsupervised dan interpretasi visual, serta dilengkapi dengan kerja lapangan dan generalisasi data spasial. Proses penyusunan neraca dengan membandingkan antara data aktiva dan pasiva. Penyesuaian model data vektor atau generalisasi dilakukan untuk mendapatkan perbandingan yang sama antara dua layer vektor hasil klasifikasi yang bersumber dari dua data citra yang berbeda. Metode generalisasi yang diterapkan adalah aggregate polygon, smoothing polygon, dan simplify polygon. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa luasan sebagian area mangrove di Kota Probolinggo mengalami penurunan sebesar 0,52 km2 atau 38,8%, dan penurunan area mangrove di Kabupaten Probolinggo sebesar 0,41 km2 atau 16,7%. Pemetaan neraca menggunakan dua sumber citra dengan karakteristik spasial dan spektral yang berbeda, dapat menghasilkan kualitas pemetaan yang kurang dapat diandalkan (26,35 m) dibandingkan dimensi piksel citra (20 m) yang digunakan sebagai input analisis.Kata kunci: mangrove, neraca spasial, generalisasiABSTRACTMangrove forest in Java Island has been significantly degrading and experiencing deforestation in the last 20 years. Limited spatial data and information is one of the difficulties in analyzing mangrove forest change and deforestation rate.Spatial balance derived from various digital satellite image data is used to analyse mangrove forest change. However, differences in imageries characters and specifications are the main obstacle for spatial balance analysis. This research demonstrate and evaluate how difference spatial and spectral characteristics of imageries used for spatial balance anlysis and mapping. This research tries to indicate, not an exact calculation, a spatial uncertainties occured in spatial balance mapping and analyses. Location of the research took place in a specific mangrove forest area covered by SPOT, GeoEye, and Quickbird imageries in Probolinggo Region Jawa Timur. SPOT imagery 2006/2007 showed initial state of mangrove forest while GeoEye and Quickbird imageries showed the present state. Hybrid classification was used as primary method in this research. Furthermore, field work and spatial generalization completed the whole methodology. Spatial balance analysis was conducted based on comparison of two generalized spatial data derived from the satellite imageries. Spatial generalization used for cartographic refinement was: aggregate polygon, smoothing polygon, and simplify polygon. The result showed that mangrove forest in Probolinggo City was deforested around 0.52 km2 or around 38.8%. While, mangrove area deforestation in Probolinggo Regency was of 0.41 km2 or around 16.7%. Spatial balance analysis using two difference spatial and spectral characterization resulting a poor quality (26.35 m) comparing to image pixel dimension (20 m) used as an input for analysis.Keywords: mangrove, spatial balance, generalization
PERUBAHAN SOSIAL PADA KEHIDUPAN SUKU BAJO: Studi Kasus Di Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara Suryanegara, Ellen; suprajaka, Suprajaka; Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (790.809 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-1.230

Abstract

Selama berabad-abad, suku Bajo tinggal di atas perahu dan hidup bebas di lautan luas sehingga mereka dikenal sebagai pengembara laut (sea nomads). Perkembangan zaman membuat suku Bajo yang sebelumnya hidup nomaden menjadi tinggal menetap di wilayah pesisir dan laut sekitar. Salah satu populasi terbesar suku Bajo yang telah menetap terletak di Kepulauan Wakatobi dengan jumlah penduduk suku Bajo lebih dari 10.000 jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perubahan sosial yang terjadi pada suku Bajo yang mulanya hidup berpindah (nomaden) menjadi menetap di suatu wilayah. Dilihat pula faktor pendorong perubahan tersebut dan dampak dari perubahan sosial tersebut terhadap kehidupan masyarakat Bajo yang telah bermukim. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan analisis data menggunakan studi kasus di Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2015 dengan jenis data yang dikumpulkan adalah data sekunder dan primer. Hasil penelitian menunjukkan perubahan sosial pada masyarakat Bajo yang telah tinggal menetap yaitu terjadinya perubahan pola perilaku masyarakat, interaksi sosial, nilai yang dianut masyarakat, organisasi sosial dan susunan lembaga kemasyarakatan, serta perubahan lapisan sosial dalam masyarakat. Faktor yang mendorong suku Bajo untuk menetap di Kepulauan Wakatobi antara lain penurunan potensi sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup, persediaan kayu untuk perahu yang semakin langka, didorong dengan adanya program pemerintah, serta adanya pengaruh kebudayaan dari masyarakat daratan. Dampak positif yang muncul akibat perubahan sosial tersebut yaitu munculnya kesadaran pendidikan, terciptanya lapangan pekerjaan baru, meningkatnya taraf hidup, dan modernisasi sistem perikanan. Sedangkan dampak negatif yang ditimbulkan yaitu semakin berkurangnya eksistensi adat istiadat, reorientasi pandangan hidup, serta mulai munculnya pola hidup konsumtif.Kata kunci: perubahan sosial, suku pengembara laut, Bajo, WakatobiABSTRACTFor centuries, Bajo tribe lived freely on boats in the ocean. They were known as the sea nomads. Nowadays, Bajo tribe who previously lived a nomadic life became settled at the coastal areas. One of the largest populations of Bajo tribe in Indonesia who had been settled located in Wakatobi islands with more than 10,000 inhabitants. This study aims to describe the social changes that occurred in the Bajo tribe who originally lived a nomadic life became settled in a certain area. This study also looks for the driving factors of these changes and the impact of social changes that occurred on Bajo tribe. This study is a qualitative research with data analysis using case studies in Wakatobi, Southeast Sulawesi. The study was conducted in 2015 with the type of data collected was secondary and primary data. The result showed that there were social changes in Bajo society who have permanent residence, such as changes in society behavior patterns, social interaction, society values, social organization, social institutions, and changes in social strata of the society. Driving factors that encourage Bajo tribe to settle down in Wakatobi are because of the economic demands, decreasing wood supplies for boat, government program, and get influenced by the landlubber. The social change has also positive and negative impacts, such as the rise of awareness for formal education, the emergence of new jobs, increasing standard of living, modernization of fisheries system, reduced the customs existence, reorientation on life, and the escalation of consumptive lifestyleKeywords: social change, sea noma, Bajo, Wakatobi
REVIEW ON A NATIONAL MANGROVE MAPPING Hartini, Sri; Saputro, Guridno Bintar; Suprajaka, Suprajaka; Niendyawati, Niendyawati
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.39 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.125

Abstract

Indonesia is the largest archipelagic country in the world with coastline span about 95,181 km. With such long coastline, coastal resources continuously support to the live of most Indonesian people. Mangroves are among the important coastal resources in terms of its economical and ecological functions. The mangroves have been severely deteriorated mostly due to the increasing exploitation as a result from the growing number of the population. Moreover, mangroves considered as a fragile ecosystem since it only grows in a unique area, which is in the tidal plain area. These problems have been discussed widely particularly to address how to preserve the functions of the mangroves. Planners and decision makers that concern on coastal resources and developments want to evaluate their changes overtime. Therefore, current data of the status of the mangroves nationally is highly demanded. This paper describes and evaluates the experience of the Center for Marine Resources Survey, Bakosurtanal in mapping mangroves Indonesia in 2009. Remote sensing approach had been used on the mangroves mapping. Remote sensing technique was considered as the most useful approach particularly due to the area that should be covered was very large. Besides that, mangroves can be easily recognized and delineated from most of satellite imageries. However, there are also some limitations on the application of remote sensing technology for mangroves mapping.Keywords: Mangrove, Remote Sensing, Mapping, Indonesia ABSTRAKIndonesia adalah Negara kepulauan terbesar di dunia, dengan panjang garis pantai mencapai lebih dari 95.181 km. Dengan garis pantai sepanjang itu, sumberdaya pesisir secara terus menerus menyokong kehidupan sebagian besar penduduk Indonesia. Mangrove merupakan salah satu sumberdaya pesisir yang penting baik dinilai secara ekonomi maupun secara ekologi. Sebagian dari mangrove tersebut mengalami kerusakan karena eksploitasi yang berlebihan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Disamping itu, mangrove juga merupakan ekosistem yang rapuh karena mangrove hanya bisa tumbuh di lingkungan yang khusus, yaitu sepanjang area pasang surut saja. Permasalahan ini telah banyak dibahas, khususnya untuk mencari solusi guna melindunginya. Para perencana dan pengambil keputusan selalu ingin mengevaluasi perubahannya dari waktu ke waktu. Dengan demikian, data mengenai keberadaan mangrove terkini selalu diharapkan ketersediaannya. Tulisan ini memaparkan dan mengulas tentang pemetaan mangrove Indonesia yang dilakukan oleh Pusat Survei Sumber Daya Alam Laut, Bakosurtanal pada tahun 2009. Teknik penginderaan jauh telah digunakan sebagai pendekatan dalam pemetaan mangrove tersebut. Pendekatan ini dianggap sebagai alat yang sangat berguna karena mangrove dapat dengan mudah dikenali dan didelineasi dari citra satelit penginderaan jauh. Namun demikian, dalam aplikasi teknologi penginderaan jauh untuk pemetaan mangrove ini juga terdapat keterbatasan atau kekurangan.Kata kunci: Mangrove, Penginderaan Jauh, Pemetaan, Indonesia
Analisis Spasio-Temporal Perubahan Luas Lahan Garam di Pesisir Kabupaten Rembang Maulana, Edwin; Saputro, Guridno Bintar; Suprajaka, Suprajaka; Sari, Cahyawati Mandala
Jurnal Wilayah dan Lingkungan Vol 8, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jwl.8.3.280-289

Abstract

The increase in salt consumption is not proportional to the growth of salt production land. So far, the mapping of salt ponds has been carried out on a small to medium scale, so the accuracy is not too good. This study aimed to analyze changes in large-scale salt ponds in Rembang Regency during the period of 2005-2015. The data source used is a Very High-Resolution Satellite Image (CSRST) which has been corrected and other secondary data. Salt area was calculated through visual interpretation and manual detection. CSRST data usage by visual interpretation methods and manual detection had advantages in terms of geometric accuracy compared with the use of medium-sized image of automation methods. The analysis showed that the area of salt land in Rembang Regency increased during 2005-2015. The biggest increase occurred in 2005-2011, which increased by 546,255 ha or by 32%. The increase in area during 2011-2015 was not significant by 198.45 ha (11.46%). Area expansion was expected to occur in the next few years, but it was not expected to be significant because of the optimal land use in the most of Rembang already. Expansion of salt ponds remained possible by converting the existing rice fields on the coast of Rembang Regency. However, a comparative study of the economic value of rice fields and salt ponds must be carried out before converting the paddy fields to salt ponds.