Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

DEKONSTRUKSI SEJARAH PERANG KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI ASIA TENGGARA DALAM PEDAGOGI SEJARAH Supriatna, Nana
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 9, No 2 (2008): Perkembangan Islam di Indonesia
Publisher : Departemen Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.483 KB) | DOI: 10.17509/historia.v9i2.12177

Abstract

In this article, subject-matter of history at the junior and senior high schools as well (SMP and SMA) on Islamic Sultanates in the Nusantara region “is deconstructed” from the “history of wars” to become Islamic history which is now relevant to the contemporary social issues faced by the Muslim ummah in Indonesia. Common issues such as poverty, ummah enforcement, working ethos, entrepreneurship, social networking (silaturahim) and the commemoration of the glorious grandeur of the past maritime world of the Sultanates, are all historic issues which are still problems faced by the Muslim ummah and, are more interesting as foci of inquiry in the learning process of history class. Deconstruction of war history in history pedagogy is necessary and in accordance with contextual approach and, at the same time as a response to the accusation that Islam is identical with violence and terrorism. Deconstruction in history pedagogy is to build a new image on Islamic history which. It is very important for the Islamic ummah to response all kinds of challenges which they confront at this time. In this article the notion of deconstruction is carried out on conventional history which stresses too much on progress account experienced by the Sultanates in the Nusantara, including wars which becomes problematic topic and contextual with the real life of the students. The results of deconstruction will be constructed by using interrelated construction of topics, concepts, emancipator questions, and associate to contemporary social problems which are faced by the Muslims.
Pengembangan Kreativitas Imajinatif Abad Ke-21 dalam Pembelajaran Sejarah Supriatna, Nana
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 2, No 2 (2019): Pendidikan Sejarah abad 21
Publisher : Departemen Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.097 KB) | DOI: 10.17509/historia.v2i2.16629

Abstract

“Bangsa Indonesia belum merdeka sejak tahun 1945”. Itulah jawaban seorang peserta didik di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Bandung ketika ditanya gurunya dengan kalimat tanya “Bagaimana cara bangsa Indonesia mengisi kemerdekaan setelah memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945? Jawaban itu muncul ketika guru melontarkan pertanyaan kepada seluruh kelas dan salah seorang siswa mengangkat tangan dan langsung menjawabnya. Kegiatan tanya jawab itu berlangsung saat seorang guru pamong mengajar sesuai Kurikulum Tahun 2013. Artikel ini dikembangkan dari hasil observasi terhadap proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru Sejarah dan mahasiswa peserta Program Pengalaman Lapangan (PPL) Departemen Pendidikan Sejarah, UPI, di salah satu SMA di Bandung. Melalui dialog antara dosen, mahasiswa dan guru pamong disepakati kegiatan pembelajaran lebih fokus pada pencapaian kompetensi inti kedua (KI-2) disamping pencapaian Kompetensi Dasar (KD). Salah satu unsur KI-2 adalah kreatifitas yang dikembangkan lebih lanjut menjadi kreatifitas-imajinatif serta dihubungkan dengan keterampilan yang banyak digarap oleh kalangan pendidik guna menyiapkan peserta didik berperan aktif di abad ke-21 ini. Creativity and Innovation yang dikembangkn oleh Trilling and Fadel (2009), Piirto (2011) dan Griffin (2012), digunakan sebagai rujukan. Kurikulum Tahun 2013 dijadikan sebagai guideline terkait dengan KI dan KD dan diperkaya dengan curriculum as an experiences dan dikembangkan dalam pembelajaran kontekstual. Peserta didik ditempatkan sebagai pelaku sejarah pada zamannya (Supriatna, 2007).
Technological, Pedagogical, Content Knowledge (TPACK): A Discursions in Learning Innovation on Social Studies Mutiani, Mutiani; Supriatna, Nana; Abbas, Ersis Warmansyah; Rini, Tika Puspita Widya; Subiyakto, Bambang
The Innovation of Social Studies Journal Vol 2, No 2 (2021): The Innovation of Social Studies Journal, March 2021
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/iis.v2i2.3073

Abstract

Terobosan berpikir dan kebaruan merupakan satu tantangan yang harus dijawab dalam abad 21. Tantangan tersebut harus direspon oleh pendidikan guna menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan melek terhadap perkembangan teknologi. Pengintegrasian informasi, komunikasi, dan technology dalam pembelajaran dikenal dengan Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK). Artikel ini bertujuan mendeskripsikan telaah konseptual TPACK sebagai inovasi dalam pembelajaran IPS. Artikel diuraikan dengan studi literatur yang memanfaatkan mesin pencari dalam mendapatkan ebook dan jurnal. Pembahasan yang diuraikan dalam artikel melingkupi tujuh domain pengetahuan dalam TPACK dan kaitannya dengan pembelajaran IPS. TPACK dalam pembelajaran IPS diyakini sebagai satu role model pembelajaran yang berorientasi pada perubahan dan tuntuntan abad 21 dalam merespon era pengetahuan. Pengorganisasian materi akan bersifat kontekstual. Guru dapat mengembangkan materi yang bersifat aktual.
PENGGUNAAN KONSEP ILMU SOSIAL DALAM KONSTRUKSI PEMBELAJARAN SEJARAH KRITIS Supriatna, Nana
Paramita: Historical Studies Journal Vol 22, No 1 (2012): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v22i1.1877

Abstract

This article contains thoughts on the use of social science concepts in the construction of a critical study of history. In view of critical theory, the teaching of history is not only oriented to the past but also the present and contemporary issues. Learning not only highlight the critical history or glorify the greatness of the past but also about the failures and weaknesses in the nation that has been passed that should be corrected in the present. Such learning should be able to include all groups of society as historical figures, including the students in it. History does not only emphasize on national development, but also include local issues are more relevant to students interests. Learning the history of this kind can be presented using a variety of approaches as a way to make students active learners as well as historical actors of his day. This paper criticizing the teaching of history in schools depart from the views essentialis and perenialis and critical importance of developing the teaching of history in accordance with such critical views by using the concept of learning in particular analytical concept.Key words: learning, critical history, curriculumTulisan ini berisi pemikiran tentang penggunaan konsep ilmu sosial dalam konstruksi pembelajaran sejarah kritis. Dalam pandangan teori kritis, pembelajaran sejarah tidak hanya berorientasi pada masa lalu melainkan juga masa kini dan persoalan kontemporer. Pembelajaran sejarah kritis tidak hanya menonjolkan atau mengagungkan kebesaran masa lalu melainkan juga tentang kegagalan dan kelemahan bangsa pada masa yang telah dilewati yang harus diperbaiki pada masa kini. Pembelajaran seperti ini  harus dapat memasukkan semua kelompok masyarakat sebagai tokoh sejarah, termasuk para siswa di dalamnya. Sejarah tidak hanya menekankan pada perkembangan nasional, tetapi juga memasukkan isu-isu lokal yang lebih relevan dengan kepentingan siswa. Pembelajaran sejarah seperti ini dapat disajikan dengan menggunakan beragam pendekatan dengan cara menjadikan siswa sebagai pembelajar yang aktif sekaligus sebagai pelaku sejarah pada jamannya. Tulisan ini mengkritisi pembelajaran sejarah di sekolah yang berangkat dari pandangan perenialistis dan esensialistis serta pentingnya mengembangkan pembelajaran sejarah kritis sesuai dengan pandangan kritis  antara lain dengan menggunakan pembelajaran konsep khususnya konsep analitis. Kata kunci: pembelajaran, sejarah kritis, kurikulum
Konstruksi Pembelajaran Sejarah yang Berorentasi pada Masalah Kontemporer Pembangunan Supriatna, Nana
MIMBAR (Jurnal Sosial dan Pembangunan) Volume 27, No.1, Year 2011 (Accredited by Dikti)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mimbar.v27i1.308

Abstract

This research seeks to explore alternative approach in teaching history which commonly oriented  toward enhancing collective memory. By applying Habermas’ model of “ways of knowing” attributed to the contemporary social issues experienced by high school students, there are several findings need to be addressed as results of this research. First, students were emancipated during the process of teaching history by critical praxis. Second, this emancipation has enabled students to create their own knowledge and experience toward the issue being discussed in historical perspective. Finally, the process of knowledge production has empowering teachers and students as well. Pembelajaran sejarah dalam kurikulum nasional, selama ini didominasi oleh hafalan kolektif. Kajian ini membahas  pendekatan alternatif dalam mengajarkan mata pelajaran sekolah, yang diterapkan di SMA. Menggunakan model “ways of knowing” Habermas, sebagai bagian dari pendidikan kritis, penelitian dilakukan terhadap pelajaran sejarah yang didasarkan pada isu-isu sosial kontemporer sebagaimana dialami para siswa. Hasilnya, siswa mengalami proses emansipasi sepanjang pembelajaran. Emansipasi tersebut memungkinkan siswa menciptakan pengetahuannya sendiri menyangkut isu yang dibahas dengan perspektif historis. Pada dasarnya, keseluruhan proses produksi pengetahuan dengan pendekatan ini berhasil memberdayakan guru maupun siswa.
ANALYSIS OF STUDENTS ECOLOGICAL INTELLIGENCE Pratiwi, Rani Tania; Disman, Disman; Supriatna, Nana; Wiyanarti, Erlina; Agustira, Deden
International Journal of Educational Management and Innovation Vol 1, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/ijemi.v1i2.1825

Abstract

In December 2018, Kuningan University launched the Green Campus. The eco - campus program is motivated by, among others, that the campus environment is expecting to be a comfortable, clean, shady (green), beautiful, and healthy place to gain knowledge. The campus environment as an inseparable part of the urban ecosystem is not insignificant in its role and contribution to increasing or reducing global warming. Besides that, what is also important is how the campus community can implement Environmental Science and Technology in a Real Field. Therefore the Eco-Campus program is aimed at increasing the awareness and concern of the campus community as a collection of scientific societies to participate and be responsible for reducing Global Warming. However, er, of all these issues, the most important thing is how we can apply the concept in our daily behavior better known as green behavior, then how this behavior can be transmitted and taught in the context of education. Sometimes we think too hard about behaviors like what can say green behavior
Ekofeminisme: Perempuan, Alam, Perlawanan atas Kuasa Patriarki dan Pembangunan Dunia (Wangari Maathai dan Green Belt Movement 1990-2004) Maulana, Risal; Supriatna, Nana
FACTUM: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah Vol 8, No 2 (2019): Historical Learning
Publisher : Departemen Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/factum.v8i2.22156

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan studi mendalam mengenai Wangari Maathai dan Green Belt Movement dalam mengatasi krisis lingkung dan diskrimnasi perempuan di Kenya. Secara umum, penelitian ini ingin menjawab pertanyaan mengenai “bagaimana ekofeminisme Green Belt Movement menyelesaikan persoalan lingkungan dan perempuan di Kenya?”. Untuk menguji permasalahan, peneliti melakukan penelitian dengan menggunakan metode historis yang mencakup empat langkah penelitian. Langkah-langkah penelitian diantaranya yaitu pengumpulan sumber tertulis melalui studi literatur (heuristik), kritik sumber, interpretasi atau analisis sumber dan historiografi. Peneliti juga menggunakan konsep untuk menyederhanakan analisis, diantaranya konsep ekologi, ekofeminisme, patriarki, three legged stool. Sebuah rasionalisasi untuk studi ekofeminisme ini, karena banyak perspektif tentang klaim yang dibuat oleh pemerintah atau gerakan itu sendiri. Analisis ekofeminisme muncul dalam bentuk pertanggungjawaban atas analisis perempuan dan alam sebagai kedua objek perjuangan yang dilakukan oleh Maathai, disamping itu ekofeminisme muncul digunakan sebagai alat perjuangan yang tidak memfokuskan pada perjuangan perempuan terhadap alam saja, melainkan berfokus juga pada permasalahan penindasan atas hak perempuan melalui perjuangan perempuan dan alam
Penggunaan Media Alternatif pada Kultur In Vitro Jahe (Zingiber officinale Rosc.) Varietas Gajah Sutarto, Ismiyati; Supriatna, Nana; Yuliasti, ,
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 31 No. 1 (2003): Buletin Agronomi
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.157 KB) | DOI: 10.24831/jai.v31i1.1523

Abstract

The problem faced in cultivation of ginger is the availability of uniform plant propagation materials.  Ginger is propagated through underground rhizomes. Growth of the  rhizome is not uniform, since the shoots do not sprout at the same time. Most of the rhizomes were attacked by several diseases such as bacterial wilt, soft rot, and nematodes. Propagation of plant material through in-vitro culture is also an obstacle since the price of pure agar and chemicals is very expensive. Therefore, production of cheap, uniform and disease-free plant materials with rapid multiplication rate is necessary for the successful ginger cultivation. The use of alternative media on in-vitro culture of ginger (Zingiber officinale Rosc.) cv. Gajah was conducted in order to substitute cheaper alternative media for in-vitro culture of ginger. An experiment using two basic composition of media (MS and liquid fertilizer) and three different types of agar (seaweed, Swallow and Oxoid agar) was done at the Tissue Culture Laboratory of Center for Research and Development of Isotope and Radiation Technology, Jakarta. The result showed that the highest shoot height, number of shoot and leaf was obtained from medium composition of sea weed and MS. Whilst the medium of Oxoid agar and MS produced the longest and the highest number of root. The cheapest medium was found from seaweed and liquid fertilizer composition, whereas the most expensive medium was from Oxoid agar and MS composition. Seaweed and Swallow agar in MS media showed similar growth performance as well as Oxoid agar in development of ginger plantlets.    Key words : Media, In-Vitro, Ginger
Marker Assisted Selection for Bacterial Leaf Blight Rice Mutant Lines Resistant Aryanti, A.; Almaida, A.; Heryani, Rika; Supriatna, Nana
Indonesian Journal of Biotechnology Vol 20, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.029 KB) | DOI: 10.22146/ijbiotech.15264

Abstract

Induction of mutation using gamma rays for improving of Mira-1 rice variety has been conducted.Rice mutant lines M2 generation have been obtained from mutation by the doses of 25, 50, 75, 100, 150 and200 Gy of gamma rays. Selection of mutant lines tolerant to the disease was only observed in the field neithergenetically. Marker assisted selection is a tool to obtain a new rice variety tolerant to the disease of bacterialleaf blight (BLB) genetically. Xanthomonas oryzae pv.oryzae (Xa) was the pathogen of BLB, and the identificationof rice mutant lines which were containing of Xa5, Xa13 and Xa21 genes have been done using PolymeraseChain Reaction ( PCR ) method. The result showed that one mutant line, and four mutant lines from mutationby the doses of 25 Gy and 150 Gy were containing Xa5, Xa13 and Xa21 genes the same as that of Code ricevariety as positive control, and none in Kencana Bali rice variety as negative control. Mira-1 rice variety as theparent plant was only contains Xa5 and Xa21 genes. The doses of 50 Gy and 100 Gy were very affective onremoving of all bands for identification of those genes. The purpose of this research was to obtain the mutantlines which were contain of those Xa genes as indicator for resistant to BLB disease genetically.
PENGEMBANGAN SEJARAH LOKAL SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH YANG KONTEKSTUAL Wiyanarti, Erlina; Supriatna, Nana; Winarti, Murdiyah
FACTUM: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah Vol 9, No 1 (2020): Model-Model Pembelajaran Sejarah
Publisher : Departemen Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/factum.v9i1.21666

Abstract

Visi pembelajaran sejarah adalah penanaman nilai kepada peserta didik dalam rangka pembentukan karakter yang paripurna. Namun, pada praktiknya materi sejarah yang terdapat dalam kurikulum nasional terbatas pada aspek-aspek nasional, ditambah faktor kemampuan guru, kadang dirasakan kurang relevan dengan tuntutan zaman. Artikel ini akan mendiskusikan potensi pengembangan materi sejarah lokal sebagai sumber pembelajaran yang kontekstual di samping sejarah nasional berdasarkan telaah deskriptif atas pelaksanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat pada 2019. Melalui studi pustaka, kita dapat menyimpulkan (1) sejarah lokal memiliki nilai strategis sebagai sumber alternatif dalam pembelajaran sejarah (2) pemanfaatan sejarah lokal sebagai sumber pembelajaran sejarah yang kontekstual dapat diintegrasikan sejalan dengan pembelajaran sejarah nasional (3) masih minimnya pemanfaatan sejarah lokal dalam pembelajaran di sekolah memerlukan suatu upaya yang terstruktur untuk mengembangkannya secara optimal.