Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

KUALIFIKASI GURU BERDASARKAN 1 TESALONIKA 2:7-12 Tari, Ezra
Khazanah Theologia Vol 2, No 1 (2020): Khazanah Theologia
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.468 KB) | DOI: 10.15575/kt.v2i1.6745

Abstract

The author studies 1 Thessalonians 2: 7-12 about teacher qualifications. This study departs from the writer's anxiety about the condition of the teacher. Where teachers are currently required to perform tasks according to the educational qualifications of each level. But in reality, there are still many teachers who have not met the minimum bachelor requirements. One obstacle is the distance to go to college and the age that is not young anymore. As a result, many teachers have difficulty in accessing education. With that problem, the author examines the qualifications of teachers based on 1 Thessalonians 2: 7-12. The method used by the author is qualitative. The method used to trace the actual state of the object of research. The study used is exegese. Exegese tries to understand the text from various aspects. Based on the study conducted by the author in this paper, there are two important things that need to be learned, namely hospitality in love. And the example of struggle is an example for many people. Teaching is a very important task in Paul's ministry. Paul gave an example of how to work hard in work as a teacher, providing holistic service. This paper is a teacher qualification study that touches on nature that must be possessed by a teacher.
Tinjauan Teologis-Antropologis Terhadap Peran Agama Oleh Manusia Dalam Mengembangkan Nilai–Nilai Kemanusiaan Di Era-postmodernisme Tari, Ezra
Jurnal Jaffray Vol 10, No 1 (2012): Jurnal Jaffray Volume 10 No. 1 April 2012
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v10i1.62

Abstract

Dalam penulisan karya ilmiah ini penulis memiliki tujuan yakni: Pertama,Menguraikan Kajian teoritis Postmodernisme . Kedua, Memaparkan sumbangsih agama didalam Postmodernisme. Ketiga, Memaparkan peran agama dalam mengembangkan nilainilaikemanusiaan di era postmodernisme berdasarkan tinjauan teologis-antropologis.Dalam penulisan karya ilmiah ini penulis menggunakan metode penelitianpustaka yang berkaitan dengan persoalan yang ditulis. Data primer yang digunakanadalah buku-buku yang berkaitan langsung dengan objek penelitian, data dariinternet, karangan yang tidak diterbitkan serta beberapa sumber yang menyangkuttopik yang diteliti.Dalam penelitian ini memperoleh hasil bahwa sumbangsih postmodernisme bagiagama, yakni paradigma berpikir dan cara beragama yang baru, dialog dan cara beragamayang baru melalui kemanusiaan titik pijak yang baru. Manusia mempunyai hubungan denganrealitas tertinggi yakni Allah. Sebab, modernisme melupakan sisi manusia yang lain yaknikesadaran akan kekuatan yang diluar dirinya. Identitas manusia, ditentukan oleh dimensihubungannya dengan Tuhan dan hubungannya dengan sesama. Dalam hal ini agamadan sain bekerja sama dalam membangun dan membuat manusia sejahtera.
ETOS KERJA PROFESIONAL GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN Suparti, Hana; Tari, Ezra
REGULA FIDEI: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 4, No 2 (2019): September 2019
Publisher : Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.478 KB) | DOI: 10.46307/regula fidei.v4i2.36

Abstract

Here the writer conducted a study of the professional work ethic of Christian Education teachers. This study starts from the anxiety of the writer towards the conditions of the teacher's work ethic, who in actually the teachers have now lost their direction in carrying out their duties. In East Indonesia Region many teachers do not fulfill the undergraduate education qualifications. With this problem, the writer examine the professional work ethic from empirical experience. Based on investigations conducted by the writer in this article, then there are two important things that need to be learned, namely first, teachers who have standards or qualifications in teaching. Second, the availability of facilities and infrastructure that support the implementation of teaching and learning processes. Therefore, the search for the work ethic of the Christian Education teacher is related to the activities of the teacher in carrying out the task. Penulis melakukan kajian terhadap etos kerja professional guru Pendidikan Agama Kristen. Kajian ini berangkat dari kegelisahan penulis terhadap kondisi etos kerja guru, di mana para guru sekarang ini telah hilang arah dalam melaksanakan tugas. Daerah Indonesia Timur banyak guru tidak memenuhi kualifikasi pendidikan strata satu. Dengan persoalan itu maka, penulis mengupas tentang etos kerja profesional dari pengalaman empiris. Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan oleh penulis dalam artikel ini, maka ada dua hal penting yang perlu dipelajari, yakni pertama, guru yang memeliki standar atau kualifikasi dalam mengajar. Kedua, ketersediaan sarana dan prasarana yang mendukung terlaksanya proses belaajr mengajar. Karena itu,penelusuran tentang etos kerja guru Pendidikan Agama Kristen berkaitan dengan aktivitas guru dalam melaksanakan tugas.
KEPEMIMPINAN KRISTEN BERDASARKAN 1 TIMOTIUS 3:1-7 Tari, Ezra; Mosooli, Ermin Alperiana; Tulaka, Elsye Evasolina
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 2, No 1 (2019): Agustus 2019
Publisher : JURNAL TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1141.545 KB)

Abstract

This article examines Christian leadership with integrity based on 1 Timothy 3: 1-7. This study departs from the condition of the leaders, both church leaders and leaders in general. Some leaders are no longer a figure or role model for their own families, people they lead and even society in general. With that problem, the authors describe the leader who is an example for everyone. The method used is a qualitative method. Based on the study conducted by the author, there are two important things that need to be learned, namely Leadership Model is without blemish, husband of one wife, can hold back, polite, wise, likes to give a ride, and inspires many people including the servants in Church. Furthermore, the leader has a good name inside and outside the congregation. This is evident from the activities of the leader himself. Therefore, this paper is a study of Christian leadership that highlights all aspects of the life of Christian leaders not only in the Church but in society. Abstrak Artikel ini mengkaji tentang kepemimpinan Kristen yang berintegritas berdasarkan 1 Timotius 3:1-7. Kajian ini berangkat dari kondisi para pemimpin, baik pemimpin gereja maupun pemimpin pada umumnya. Beberapa pemimpin tidak lagi menjadi figur atau teladan bagi keluarganya sendiri, orang yang dipimpinnya bahkan masyarakat pada umumnya. Dengan persoalan itu maka, penulis memaparkan tentang pemimpin yang menjadi teladan bagi semua orang. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh penulis, maka ada dua hal penting yang perlu dipelajari, yakni Keteladanan pemimpin itu tidak bercacat, suami dari satu istri, dapat menahan diri, sopan, bijaksana, suka memberi tumpangan, dan menginspirasi banyak orang termasuk para pelayan-pelayan di Gereja. Selanjutanya, pemimpin itu memiliki nama baik di dalam dan di luar jemaat. Hal ini nampak dari aktiftas pemimpin itu sendiri. Oleh karena itu, tulisan ini merupakan studi kepemimpinan Kristen yang menyoroti seluruh aspek kehidupan pemimpin Kristen bukan hanya di dalam Gereja tetapi dalam masyarakat.
Pendidikan Anak dalam Keluarga Berdasarkan Kolose 3:21 Tari, Ezra; Tafonao, Talizaro
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 5, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v5i1.93

Abstract

This article aimed to describe the education of children in the family based on Colossians 3:21. This study used a sociological criticism approach by conducting a study of the text of Colossians 3:21 to analyze the Bible's view of children's education in the family. The conclusion of this textual study is educating children without violence. Paul reminded fathers in educating children to prioritize love as the basis for education in the family. The love of a father will be reflected in the lives of every child through communication and imprinted in an attitude of obedience and respect for parents. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mendreskripsikan pendidikan anak dalam keluarga berdasarkan Kolose 3:21. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kritik sosiologis dengan melakukan kajian terhadap teks Kolose 3:21untuk meng-analisis pandangan Alkitab tentang pendidikan anak dalam keluarga. Kesimpulan dalam kajian terhadap teks tersebut adalah mendidik anak tanpa adanya kekerasan. Paulus mengingatkan para ayah dalam mendidik anak-anak lebih mengutamakan kasih sayang sebagai dasar pendidikan dalam keluarga. Kasih sayang seorang ayah akan tercermin dalam kehidupan setiap anak melalui komunikasi dan terpatri dalam sikap taat dan menghormati orang tua.
Teologi Tongkonan: Berteologi dalam Konteks Budaya Toraja Tari, Ezra
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 2 (2018): Gereja dalam Perubahan Zaman
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (858.993 KB) | DOI: 10.33991/epigraphe.v2i2.40

Abstract

Theology in Indonesia Context, especially in Toraja culture is a necessity. This paper shows how to conduct theology in the context of Toraja culture. Where with the correct understanding of Christ and his work as true God and true human with theological and cultural positions. So that criticism is a preparation step towards theological reflection. This study provides a response from the Bible's point of view of the position of believers in the middle of culture. To obtain data in accordance with the problems that have been described previously, the authors conducted research with qualitative descriptive research. In general, the approach used is to create a difference between the Gospel and Culture. But theology and the attitude of believers develop thoughts that transform culture. The Gospel and Culture constantly dialogue in finding values that are capable of transforming humans who embrace the culture. The most important thing in establishing a culture and the gospel is to produce peace or hospitality for the people. AbstrakBerteologi Dalam Konteks di Indonesia, terutama dalam budaya Toraja adalah sebuah keniscayaan. Tulisan ini menunjukkan bagaimana berteologi dalam konteks dalam budaya Toraja. Di mana dengan pemahaman yang benar tentang Kristus dan karya-Nya sebagai Allah sejati dan manusia sejati dengan posisi teologi dan budaya. Sehingga kritik adalah langkah persiapan kearah refleksi teologis. Penelitian ini memberikan tanggapan dari sudut pandang Alkitab bagaimana posisi sebagai orang percaya yang ada ditengah kebudayaan.Untuk mendapatkan data sesuai dengan permasalahan yang telah dipaparkan sebelumnya, maka penulis melakukan penelitian dengan jenis penelitian deskritif kualitatif. Pada umumnya pendekatan yang digunakan adalah menciptakan perbedaan antara Injil dan Kebudayaan. Namun Teologi dan sikap orang percaya mengembangkan pemikiran yang mentransformasi budaya. Injil dan Kebudayaan terus-menerus berdialog dalam menemukan nilai yang mampu mengubahkan manusia yang menganut kebudayaan. Hal yang sangat penting dalam menjalin kebudayaan dan injil adalah menghasilkan kedamaian atau hospitalitas bagi umat.
PERAN GEREJA DALAM PENGEMBANGAN PROGRAM KEWIRAUSAHAAN DI ERA DIGITAL Pasande, Purnama; Tari, Ezra
VISIO DEI: JURNAL TEOLOGI KRISTEN Vol 1 No 1 (2019)
Publisher : STT STAR'S LUB LUWUK BANGGAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (822.091 KB) | DOI: 10.35909/visiodei.v1i1.6

Abstract

Peran Gereja dalam mengembangkan program kewirausahaan dalam menghadapi era digital adalah mencoba tantangan baru melalui aplikasi. Banyak model pengembangan kewirausahaan misalnya, Gereja dengan mall satu lokasi. Ada juga koperasi, menjual makanan ringan, usaha kecil dan menengah, warung makan dan lain-lain. Gereja dituntut untuk kreatif dalam memngembangkan kewirausahaan, terutama di era digital ini. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah metode penelitian kualitatif. Di mana metode kualitatif bersifat deskriptif analisis. Peneliti menemukan keragaman kewirausahaan, sehingga tidak ada yang sama persis dengan yang lain. Karena itu, Gereja harus aktif baik dalam pemenuhan kebutuhan rohani maupun jasmani.
Tinjauan Teologis-Antropologis Terhadap Peran Agama Oleh Manusia Dalam Mengembangkan Nilai–Nilai Kemanusiaan Di Era-postmodernisme Tari, Ezra
Jurnal Jaffray Vol 10, No 1 (2012):
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v10i1.62

Abstract

Dalam penulisan karya ilmiah ini penulis memiliki tujuan yakni: Pertama,Menguraikan Kajian teoritis Postmodernisme . Kedua, Memaparkan sumbangsih agama didalam Postmodernisme. Ketiga, Memaparkan peran agama dalam mengembangkan nilainilaikemanusiaan di era postmodernisme berdasarkan tinjauan teologis-antropologis.Dalam penulisan karya ilmiah ini penulis menggunakan metode penelitianpustaka yang berkaitan dengan persoalan yang ditulis. Data primer yang digunakanadalah buku-buku yang berkaitan langsung dengan objek penelitian, data dariinternet, karangan yang tidak diterbitkan serta beberapa sumber yang menyangkuttopik yang diteliti.Dalam penelitian ini memperoleh hasil bahwa sumbangsih postmodernisme bagiagama, yakni paradigma berpikir dan cara beragama yang baru, dialog dan cara beragamayang baru melalui kemanusiaan titik pijak yang baru. Manusia mempunyai hubungan denganrealitas tertinggi yakni Allah. Sebab, modernisme melupakan sisi manusia yang lain yaknikesadaran akan kekuatan yang diluar dirinya. Identitas manusia, ditentukan oleh dimensihubungannya dengan Tuhan dan hubungannya dengan sesama. Dalam hal ini agamadan sain bekerja sama dalam membangun dan membuat manusia sejahtera.
Tinjauan Teologis-Sosiologis terhadap Pergaulan Bebas Remaja Tari, Ezra; Tafonao, Talizaro
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 2 (2019): April 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v3i2.181

Abstract

Abstract. This study aimed to find solutions to the problems of free association among teenagers starting from theological and sociological analysis. In conducting this study the author used a literature study method on various previous thoughts and studies that have been carried out. The results obtained from this study were that teenagers are often ignored by the church. The church often only pays attention to adult problems. Therefore, in order to overcome the problem of teenagers free association, good cooperation is needed between parents, the church, the government, and the community.Abstrak. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengupayakan solusi dari permasalahan pergaulan bebas di kalangan remaja dengan berangkat dari analisis secara teologis dan sosiologis. Dalam melakukan kajian ini penulis menggunakan metode studi pustaka terhadap berbagai pemikiran dan kajian terdahulu yang pernah dilakukan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa remaja seringkali diabaikan oleh gereja. Gereja sering hanya menaruh perhatian besar kepada masalah-masalah orang dewasa. Oleh karena itu, dalam rangka mengatasi persoalan pergaulan bebas remaja tersebut diperlukan kerjasama yang baik antara orang tua, gereja, pemerintah, maupun masyarakat.
KONSEP HAMBA BERDASARKAN MARKUS 10:44 Tari, Ezra; Tafonao, Talizaro
KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Vol 5, No 1 (2019): KENOSIS : JURNAL KAJIAN TEOLOGI
Publisher : IAKN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.691 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan menemukan makna hamba berdasarkan Injil Markus 10:44. Umat Kristen menemukan diri sebagai hamba yang taat pada tuannya menjalankan semua tugas yang diembannya. Hamba yang baik adalah mereka yang taat kepada Firman Allah dan sabar menanggung penderitaan. Setiap orang dipanggil kepada Allah melalui Yesus Kristus yang merindukan kebebasan dan mendambakan kehidupan yang bahagia. Metode penelitian yang digunakan penulis adalah eksegesis terhadap teks Alkitab. Selain itu, peneliti juga menggunakan sumber berupa literarur dalam menyelidiki dan menganalisis teks tersebut. Berdasarkan pembahasan, penulis menarik beberapa kesimpulan: pertama, seorang hamba harus taat seperti Yesus. Kedua, menjadi hamba berarti harus menyangkal diri, merelakan diri dan hidupnya untuk melayani orang lain. Yesus adalah contoh hamba yang masih sangat relevan dalam kehidupan kekirstenan hingga saat ini.