Dian Widiawati
Magister Desain FSRD ITB

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

EKSPLORASI SISA PERTENUNAN SERAT SUTERA DENGAN TEKNIK MAKRAME PADA PRODUK FASHION Hady, Devi Candraditya; Widiawati, Dian
Craft Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Craft

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.174 KB)

Abstract

Abstrak Penelitian ini membahas tentang potensi sisa pertenunan serat sutera sebagai salah satu komoditi yang memiliki nilai tinggi. Sejauh ini pemanfaatan limbah benang dari industri pertenunan serat hanya terbatas digunakan sebagai bahan baku benang saja. Namun, volume sisa pertenunan serat sutera yang berlimpah terkadang juga dimusnahkan dengan cara dibakar agar tidak terlalu banyak memakan tempat. Belum banyak orang yang tertarik mengolah sisa pertenunan serat sutera sutera tersebut  menjadi barang siap pakai yang bernilai lebih. Studi kasus dilakukan di industri pertenunan sutera Tarogong, Garut, Jawa Barat. Melalui eksperimentasi material sisa pertenunan serat sutera dengan berbagai karakteristiknya, sisa pertenunan serat sutera tersebut ternyata dapat digunakan sebagai salah satu produk tekstil alternatif. Pada penelitian tahap awal ini dilakukan berbagai cara pengolahan sisa pertenunan serat sutera menjadi bahan baku serat tekstil, khususnya dengan teknik makrame.  Dengan melakukan pengolahan terhadap sisa pertenunan serat sutera diharapkan dapat dapat menjadi salah satu solusi alternatif dalam upaya pengurangan sampah yang diakibatkan oleh industri pertenunan yang ada di hampir beberapa sentra serat. Pengolahan sisa produksi pertenunan juga diharapkan memaksimalkan potensi dan meningkatkan kualitas juga nilai estetika sehingga dapat menjadi salah satu alternatif bahan tekstil dan produk fashion yang berkualitas. Kata Kunci : eco fashion,  limbah, makrame, serat sutera  Abstract The impact of various phenomena and issues upon the environtment that exist today should make the change in mindset of society of these days upon beholding the state of the natural environment. One of the efforts in supporting the environmental conservation movement was to manufacture the eco-fashion products which one of them was the use of weaving production residual material on reproducing the textile and fashion products. The case studies of this research discussed the potential of the weaving residual of silk fibers reproduced into such commodity with high value. So far, the utilization of this yarn waste from fiber weaving industry was only limited to be used as a raw material for the yarn. However, the remaining volume of the silk fiber was so overwhelming that sometimes be destroyed by fire so as to reduce the consuming of place. The availability of this waste was so abundant, especially in the area of Tarogong, Garut regency, West Java where not many people were keen to processing the rest of the silk weaving waste into ready-made goods with high value. Through the deep exploration of silk fiber weaving waste with its various characteristics, this weaving waste could apparently be used as an alternative textile products. On the early stage of research, many ways of tabulation were executed to achieve the manner of good textile product material, performed especially by the technique of macrame.The execution of the tabulation process to the silk fiber weaving waste as the main ingridient was to be expected to maximize the potential and also to improve the quality as well as the aesthetic value hence it could become one alternative for high quality textile material and fashion products. The tabulation process of the weaving waste was also expected to be able to facilitate an alternative solution in the effort of reducing the waste caused by the weaving industry in  nearly many fiber manufacturing centrals. Also, it could provide a great opportunity for small household industries which were expected to become a major players in tabulation process for the further weaving wasteproducts and also one which would have an impact on the economic empowerment of the community at large. Keywords : eco-fashion, macrame, silk fiber, waste product
PRODUK FASHION Ramadhan, Budi; Widiawati, Dian
Craft Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Craft

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.174 KB)

Abstract

Abstrak Bulu binatang telah digunakan selama berabad-abad sebagai material penghangat tubuh dikala musim dingin. Dengan seiring berjalannya waktu, bulu binatang dijadikan salah satu material yang menggambarkan keberadaan kalangan mengengah ke atas mengingat harga produksinya yang sangat mahal. Penggunaan bulu binatang dalam industri fashion menimbulkan beberapa kontroversi termasuk proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan bulu tersebut, seperti menguliti sampai membunuh binatang. Hal tersebut mengakibatkan banyak binatang punah atau berkurang jumlahnya. Untuk mengimbangi hal tersebut, kemudian diciptakanlah bulu sintetis yang diharapkan bisa menjadi solusi terhadap kekerasan terhadap binatang yang marak dilakukan. Tapi pengembangan bulu sintetis juga bukan tanpa masalah, proses pembuatan bulu sintetis menghasilkan berbagai limbah kimia yang berdampak sangat buruk pada lingkungan. Masalah yang timbul dari proses produksi bulu binatang asli maupun sintetis itulah yang kemudian menjadi inspirasi untuk memberikan pilihan lain kepada konsumen agar bisa mendapatkan material yang memberikan kesan bulu binatang tanpa menyakiti binatang maupun merusak lingkungan. Sesuai dengan konsep eco-fashion yang sedang berlangsung, digunakanlah material ramah lingkungan terbuat dari serat alam yang dieksplorasi sedemikian rupa agar mendapatkan hasil yang paling mendekati dengan material bulu binatang yang ada untuk tugas akhir ini.  Kata Kunci : animal fur; fashion; serat alam, tekstil.   Abstract   Animal fur is a material that has been used to warm up living things for centuries. As the time goes by, animal fur becomes a high-end material as its production cost is expensive.  In fashion industry, the use of animal fur has been an unstoppable controversial issue related to the unethical animal treatment in the manufacturing process. It causes a great loss and even extinction of certain animal population. Thus, the invention of syntactic fur is in the hope of becoming the solution for this situation.  The manufacture of syntactic fur, however, disposes chemical waste that endangers environment. Problems caused by both of manufacturing process are the underlying reason for creating fur-look material.  In accordance with eco-fashion concept, eco-friendly material made from natural fibers would be explored in order to get material that has the most resembling look to the original one for this final project.
EKSPLORASI STRUKTUR SERAT TANAMAN KENAF (HIBISCUS CANNABINUS L.) PADA TEKNIK TENUN ATBM SEBAGAI BAHAN BAKU TEKSTIL Indriani, Innamia; Widiawati, Dian
Craft Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Craft

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.174 KB)

Abstract

Tanaman kenaf (Hibiscus cannabinus L.) adalah tanaman yang berkembang di Indonesia sejak tahun 1979/1980 sebagai karung goni. Namun, pada abad ke-21, tanaman ini kembali dikembangkan sebagai fiberboard untuk mobil oleh industri otomotif. Berkembangnya isu ‘keberlanjutan’ membuat material alam dilirik oleh berbagai macam industri, salah satunya industri fashion, terutama di bidang tekstil. Serat tanaman kenaf memiliki potensi sebagai bahan baku tekstil, karena karakter seratnya yang berbentuk filamen serta tidak menggunakan bahan kimia dalam jumlah banyak pada saat pengolahan. Melalui eksperimen dan eksplorasi pada pengolahan serat tanaman kenaf, terutama pada teknik reka struktur tekstil dengan menggunakan teknik tenun ATBM, membuka potensi bagi serat tanaman kenaf tersebut untuk dijadikan bahan baku tekstil. Penelitian ini tidak hanya membuka potensi sebagai bahan baku tekstil, namun juga sebagai produk pakai, khususnya pada produk aksesoris fashion, yaitu tas.// //
EKSPLORASI BUNGA KRISAN (CHRYSANTHEMUM) SEBAGAI ZAT PEWARNA ALAMI PADA KAIN SUTERA UNTUK PRODUK FASHION Listyani, Nadia Gitta; Widiawati, Dian
Craft Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Craft

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.174 KB)

Abstract

Laporan tugas akhir yang berjudul “Eksplorasi Bunga Krisan (Chrysanthemum) sebagai Zat Pewarna Alami pada Kain Sutera untuk Produk Fashion” menitikberatkan konsep kembali ke alam pada teknik pewarnaan tekstil dengan menggunakan bahan alami bunga krisan yang dikenal pula sebagai bunga seruni pada kain sutera untuk menghasilkan produk fashion yang ramah lingkungan (eco friendly) sesuai dengan isu global warming dewasa ini “go green”. Bumi Nusantara sangat kaya akan bunga krisan yang bisa hidup kapan saja tanpa memandang musim, namun bunga krisan ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai bunga hiasan berupa karangan bunga atau sebagai dekorasi ruangan, sebagai tanaman obat tradisional/herbal, penghasil racun serangga yang merugikan (hama). Pemanfaatan bunga krisan sebagai bahan pewarna alami yang ramah lingkungan masih terbatas penggunaannya. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dan minat masyarakat, kurang peduli dan menipisnya rasa kebanggaan terhadap alam Indonesia. Inilah yang menjadi daya tarik utama penelitian. Teknik pencelupan kain sutera dengan zat pewarna alami bunga krisan dengan teknik celup ikat akan menghasilkan karya-karya estetik yang bernilai tinggi, unik, berbeda dalam ragam corak dan warna dibanding dengan menggunakan pewarna sintetis. Produk yang dihasilkan berupa lembaran kain dan produk fashion yang memiliki nilai tambah dalam budaya lokal yang ramah lingkungan. Diharapkan dimasa mendatang teknik pewarna alami lebih bisa memasyarakat sehingga membuka peluang usaha baru yang menjanjikan bagi sebagian bangsa Indonesia.// //
PEMANFAATAN SABUT KELAPA DAN PEWARNA ALAM INDIGOFERA SEBAGAI MATERIAL ALTERNATIF PADA PRODUK KRIYA Andini, Septia; Widiawati, Dian
Craft Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Craft

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.174 KB)

Abstract

Sabut kelapa merupakan salah satu serat yang memiliki struktur yang kuat. Kelebihan-kelebihan yang dimiliki sabut kelapa antara lain tidak gampang membusuk dan berjamur dan tahan lama. Indonesia merupakan negara penghasil sabut kelapa terbesar di dunia karena Indonesia merupakan Negara kepulauan. Pada kenyataannya Indonesia masih belum mengolah sabut kelapa dengan maksimal. Setiap tahunnya dari keseluruhan persediaan sabut kelapa di Indonesia hanya sebesar 15% yang diolah kembali oleh masyarakat sedangkan sisa sabut kelapa yang menumpuk dibiarkan menjadi limbah yang kemudian mengering dan pada akhirnya dibakar. Sangat disayangkan minimnya usaha untuk memanfaatkan sabut kelapa tersebut melihat peluang yang besar dalam pengolahan sabut kelapa terhadap perdagangan dunia. Terlebih sabut kelapa belum dikenal dengan luas dalam lingkup kriya. Saat ini penggunaan kembali bahan-bahan alam dalam dunia kria sangatlah tinggi, hal itu memberikan peluang besar dalam pemanfaatan sabut kelapa. Sabut kelapa akan diolah menjadi material alternatif dalam pembuatan produk kriya. Kemudian munculah ide untuk menambah lagi nilai jual sabut kelapa. Sabut kelapa akan lebih menarik lagi apabila dipadu dengan pewarna alam yang dapat menambah nilai jual sabut kelapa tersebut. Pewarna alam indigofera cocok untuk dipadukan dengan sabut kelapa karena pewarna alam indigofera merupakan pewarna alam berkualitas tinggi yang juga telah dipakai sejak dulu oleh masyarakat. Untuk memadukan sabut kelapa dan pewarna alam indigofera maka di lakukan eksplorasi teknik tekstil dalam menemukan cara terbaik untuk menghasilkan material alternatif yang baru. Setelah dilakukan eksplorasi-eksplorasi dan pada hasilnya teknik tekstil yang paling tepat untuk pengolahan sabut kelapa dan pewarna alam indigofera berupa penggabungan teknik kempa, teknik jahit, bordir, dan teknik anyam.// // //
EKSPLORASI PEMANFAATAN KAYU SECANG (Caesalpinia sappan Linn) SEBAGAI PEWARNA ALAMI PADA TEKNIK LUKIS SUTERA Dewi, Tiara Nurmalita; Widiawati, Dian
Craft Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Craft

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.174 KB)

Abstract

Eksplorasi pemanfaatan kayu secang (Caesalpinia sappan Linn) sebagai pewarna alami pada teknik lukis sutera menonjolkan keunikan dari salah satu teknik pengolahan tekstil, yaitu lukis yang menggunakan ekstrak kayu secang sebagai zat pewarnanya. Selain mencoba untuk meneliti keungkinan alternatif penggunaan kayu secang sebagai pewarna alami di bidang tekstil, penulis juga mencoba mengembangkan teknik dari lukis diatas kain sutra yang hingga kini masih menggunakan zat pewarna sintetis. Meskipun sampai sekarang pemanfaatan utama kayu secang masih sebagai pewarna dalam industri pangan dan kemungkinan pengembangannya di bidang medis, pengkajian sebagai alternatif bahan pewarna alami teknik lukis sutera menjadi daya tarik utama bagi penelitian. Terbatasnya pengetahuan terhadap nilai lebih yang dimiliki pewarna alam menyebabkan pewarna sintetis lebih banyak dipilih. Melalui penelitian tugas akhir ini penulis berharap dapat menarik perhatian dan rasa kepedulian masyarakat terhadap penggunaan pewarna alami dengan mengembangkan bahan-bahan yang memiliki potensi baik untuk menjadi dasar dari zat pewarna alami. Selain itu diharapkan dapat tercipta karya-karya estetik yang memiliki nilai ketekunan tangan yang tinggi sehingga dapat membawa keunikan yang baru dan berbeda dalam bidang kriya.// //
EKSPLORASI TEKNIK ECOPRINT DENGAN MENGGUNAKAN LIMBAH BESI DAN PEWARNA ALAMI UNTUK PRODUK FASHION Pressinawangi KP, RR.Nissa; Widiawati, Dian
Craft Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Craft

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.174 KB)

Abstract

Penelitian ini sejalan dengan konsep produk yang berkelanjutan (sustainable product) menggunakan teknik ecoprint yang merupakan perkembangan dari ecofashion, untuk menghasilkan produk fashion yang ramah lingkungan.Teknik pewarnaan ecoprint yang dipelopori oleh India Flint, ecoprint diartikan sebagai proses untuk mentransfer warna dan bentuk ke kain melalui kontak langsung. Teknik ini berpotensi dikembangkan dengan material lain, diantaranya limbah besi. Material limbah besi bila direaksikan secara langsung dapat sekaligus berperan sebagai mordant pada proses pencelupan dengan pewarna alam pada kain sehingga memberikan efek yang berbeda. Eksplorasi ini akan menghasilkan karya-karya estetik yang bernilai tinggi, unik, berbeda dalam ragam corak dan warna dibanding dengan menggunakan pewarna sintetik. Produk yang dihasilkan berupa lembaran kain dan produk fashion, memiliki nilai tambah dalam budaya lokal yang ramah lingkungan. Diharapkan pada masa mendatang setelah dilakukannya penelitian ini, teknik pewarnaan alami di Indonesia semakin berkembang hingga ditemukan potensi potensi baru yang memiliki dampak positif bagi kekayaan khasanah pertekstilan di Indonesia.
PEMANFAATAN TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT SEBAGAI MATERIAL TEKSTIL DENGAN PEWARNA ALAM UNTUK PRODUK KRIYA Wardani, Aditya Putri Kusuma; Widiawati, Dian
Craft Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Craft

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.174 KB)

Abstract

Indonesia merupakan penghasil utama minyak kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit Indonesia terdapat di wilayah Sumatera, Jawa Barat, Kalimantan, Sulawesi, Bangka Belitung, dan Papua. Luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 7.099.388 ha. Produk utama kelapa sawit adalah tandan buahnya yang menghasilkan minyak. Setelah proses pengolahan, tersisa Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) sebagai produk sampingan. Secara fisik TKKS memiliki serat. Saat ini pemanfaatan serat TKKS yaitu untuk pupuk organik, bahan baku pembuatan kertas, briket, dan umumnya baru sampai pada pemanfaatan serat sebagai bahan pengisi suatu medium seperti pengisi rongga jok mobil dan kasur, sehingga muncul kesadaran untuk meneliti lebih lanjut mengenai potensi TKKS sebagai material serat alam yang dapat diolah menjadi bahan tekstil untuk produk kriya dengan mengangkat nilai kearifan lokal dan sumber daya alam yang belum terolah secara optimal khususnya sebagai bahan tekstil. Potensi TKKS masih belum terkaji dengan baik di Indonesia maupun dunia. Dengan adanya penelitian ini diharapkan adanya perkembangan lebih lanjut mengenai pengolahan tekstil serat TKKS.
EKSPLORASI MOTIF BUNGA EMPAT MUSIM CHINA DENGAN TEKNIK QUILTING PADA PRODUK FASHION Sabrina, Puthya Nur; Widiawati, Dian
Craft Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Craft

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.174 KB)

Abstract

Karya tugas akhir ini dibuat dengan tujuan untuk mengangkat teknik quilting sebagai teknik yang alternatif surface design pada produk pakaian. Umumnya produk quilting di Indonesia dibuat dengan menggunakan mesin, produk yang dihasilkannya pun kebanyakan berupa peralatan rumah tangga seperti selimut dan taplak, motifnya kebanyakan berbentuk geometris. Berdasarkan hal tersebut, maka muncullah gagasan untuk membuat produk fashion menggunakan teknik quilting hand made dengan motif bunga empat musim China atau the four flowers yaitu bunga peony, lotus, chrysanthemum, dan plum blossom. Melalui karya tugas akhir ini, diharapkan teknik quilting akan lebih dikenal oleh masyarakat.
EKSPLORASI MULTILAYER PADA KULIT KAYU DENGAN PEWARNA ALAM NILA (INDIGOFERA TINCTORIA) DAN SECANG (CAESALPINIA SAPPAN) UNTUK PRODUK FASHION Prisanti, Intan; Widiawati, Dian
Craft Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Craft

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.174 KB)

Abstract

Indonesia dengan kondisi geografisnya, mampu menghasilkan kekayaan sumber daya alam yang sangat berpotensi untuk diolah menjadi beragamtekstil. Salah satunya adalah kain kulit kayu. Kulit kayu Saeh (Broussonetia papyfera) dan Lantung (Arthocarpus elasticus) merupakan jenis kayuyang sering diolah menjadi produk tekstil, karena memiliki karakteristik yang kuat, lentur, transparan, dan berkilau. Karakteristik tersebutdimanfaatkan dalam eksplorasi menggunakan teknik multilayer untuk menghasilkan bentuk dan warna baru dari kulit kayu yang saling menumpuk.Kain kulit kayu diolah menggunakan pewarna alam nila (Indigofera tinctoria) dan secang (Caessalpinia sappan) untuk menghasilkan warna yangcerah dan dinamis. Warna dan siluet yang dikembangkan dalam pembuatan produk dipengaruhi oleh perpaduan antara tren mode di tahun 1960-andengan tren mode saat ini, Pembuatan produk yang menggunakan material kulit kayu ini diharapkan dapat membuat kulit kayu lebih dikenal dandilestarikan oleh masyarakat Indonesia.