Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK RUMPUT LAUT Sargassum cinereum (J.G. Agardh) DARI PERAIRAN PULAU PANJANG JEPARA TERHADAP BAKTERI Escherichia coli DAN Staphylococcus epidermidis Alamsyah, Heru Kurniawan; Widowati, Ita; Sabdono, Agus
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.526 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v3i2.4966

Abstract

Munculnya sifat resistensi dan infeksi patogenitas bakteri membuat para ilmuwan berupaya untuk menemukan obat baru. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemanfaatan organisme laut sebagai agen antibakteri alami. Beberapa penelitian melaporkan aktivitas biologis Sargassum sp. dalam bidang farmakologi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak Sargassum cinereum terhadap bakteri E.coli dan S. epidermidis serta mengetahui golongan senyawa dan toksisitas ekstrak S.cinereum. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling methods. Pengeringan sampel dilakukan secara kering angin (air drying). Ekstraksi dilakukan secara bertingkat dengan menggunakan tiga pelarut yang berbeda kepolarannya. Uji aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi agar (Kirby-bauer) konsentrasi 100, 50, 25, 15, 5, 1, 0,5, dan 0,1 µg/disc dengan 3 kali pengulangan. Analisis fitokimia dilakukan secara deskriptif kualitatif berdasarkan perubahan warna serta karakteristik fisika kimia suatu golongan. Uji toksisitas dilakukan menggunakan larva A. salina umur 48 jam (instar III/IV). Nilai toksisitas akut (LC50) dilakukan dengan menggunakan persamaan regresi linier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak S. cinereum pelarut etil asetat memiliki aktivitas antibakteri terbaik dengan zona hambat 5,08 ± 0,56 (bakteri E. coli) dan 6,69 mm ± 0,14 (bakteri S. epidermidis) serta memiliki aktivitas bakteriosidal. Hasil analisis fitokimia menunjukkan ekstrak Sargassum cinereum mengandung senyawa alkaloid (pelarut etil asetat), steroid (ketiga pelarut), saponin dan tanin (pelarut metanol). Hasil uji toksisitas menunjukkan ekstrak S.cinereum pelarut etil asetat memiliki toksisitas yang sangat toksik dengan nilai LC50-24 jam sebesar 24,25 ppm (sangat toksik kategori kronik).
Aktivitas Antifouling dan Karakteristik Fitokimia Ekstrak Rumput Laut Sargassum sp. dari Perairan Gunung Kidul, Yogyakarta Hakim, Muhamad Fikri Hudi Nur; Widowati, Ita; Sabdono, Agus
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.639 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v7i3.25910

Abstract

ABSTRAK : Marine biofouling merupakan tumbuhnya organisme yang tidak diinginkan pada suatu permukaan yang terendam air laut. Penempelan ini dapat menyebabkan gangguan teknis dan kerusakan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari senyawa aktif antifouling yang ramah lingkungan sebagai pengganti TBT. Materi yang digunakan adalah ekstrak rumput laut Sargassum echinocarpum dan S. cinereum dengan berbagai macam pelarut (n-heksan, etil asetat, dan metanol). Sampel diambil dari perairan Gunungkidul, Yogyakarta. Bakteri biofilm diisolasi dari substrat plat kayu mahoni yang direndam selama 2 minggu. Metode dalam penelitian ini adalah Uji aktivitas antifouling menggunakan metode disk-diffusion, Uji Fitokimia, Uji Biokimia, dan Uji Brine Shrimp Lethality Test. Hasil penelitian menunjukan aktivitas antimikrofouling terbaik ditunjukkan oleh ekstrak kasar S. cinereum dengan pelarut etil asetat dan S. echinocarpum dengan pelarut metanol. Berdasarkan analisa One-Way ANOVA dengan signifikansi <0,05menunjukkan ekstrak dengan pelarut metanol dan etil asetat tidak berbeda nyata, sedangkan ekstrak dengan pelarut n-heksan tidak membentuk zona hambat. Uji Biokimia menunjukkan jenis bakteri yang dapat dihambat adalah Bacillus sp., dan Nacordiasp. Hasil fitokimia menunjukkan ekstrak S. cinereum dengan pelarut etil asetat mengandung senyawa alkaloid, quinon, steroid, dan flavonoid. Sedangkan ekstrak S. echinocarpum dengan pelarut metanol mengandung senyawa quinon, triterpenoid, dan flavonoid. Uji Brine Shrimp Lethality Test menunjukkan bahwa ekstrak S. echinorcarpum dan S. cinereum dengan pelarut metanol dan n-heksan memiliki nilai LC50 568,4347 bpj; 663,613 bpj; 639,711 bpj; dan 855,3114 bpj dengan kategori toksik. Dapat disimpulkan dari penelitian ini bahwa ekstrak S. cinereum dan S. echinocarpum dapat digunakan sebagai sumber antifouling.  ABSTRACT : Marine biofouling is the growth of unwanted organism on the structure, which is submerged in seawater. The attachment of those organisms could lead to technical because it attaches and destroys the structures.The aim of this research to find an active antifouling compound that is environmentally friendly as a replacement for TBT. This research used a sample of S. echinocarpum and S. cinereum, which was extracted in various solvents (n-hexane, ethyl acetate, and methanol). The seaweed samples were taken from Gunungkidul, Yogyakarta. The biofilm bacteria was isolated from the mahogany plate substrate that has been submerged in the sea for two weeks. Antifouling activity test used the disk diffusion method, Phytochemicals test used the Harborne test methods, Biochemical test used the Cowan and Steel methods, and Brine Shrimp Lethality Test used the Meyer methods. The results showed that the antimicrofouling activity is most well demonstrated by the extract of S. cinereum with ethyl acetate solvent and S. echinocarpum with methanol solvent. Based on the analysis of One-Way ANOVA with significance <0.05 is known that the different types of solvent does not affects the results of inhibitory zone where methanol and ethyl acetate  are not significantly different, which the extract with n-hexane solvent does not form an inhibition zone.Biochemistry test shows that the type of bacteria that can be inhibited is Bacillus sp., and Nacordia sp.. The results showed that the phytochemical extracts of the S. cinereum crude extract with ethyl acetate solvent contains alkaloid, quinone, steroid and flavonoid compounds. While the crude extract of S. echinocarpum with methanol solvent contains quinone, triterpenoid and flavonoid compounds.Brine Shrimp Lethality Test showed that the crude extract of S. echinorcarpum and S. cinereum with methanol and n-hexane occupy the toxic category with LC50 values 568.4347 bpj; 663.613 bpj; 639.711 bpj; and 855.3114 bpj. It was concluded that the crude extract of S. cinereum and S. echinocarpum making it possible to be used as a source of antifouling.
POTENSI RUMPUT LAUT Sargassum duplicatum SEBAGAI SUMBER SENYAWA ANTIFOULING Santi, Ika Wulan; Radjasa, Ocky Karna; Widowati, Ita
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.282 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v3i3.5999

Abstract

Biofouling di laut menyebabkan kerusakan pada lambung kapal dan merusak infrastruktur kelautan lainnya. Rumput lautgenus Sargassum banyak dilaporkan sebagai alternatif sumber senyawa antifouling alami yang ramah lingkungan. Penelitian ini menggunakan S. duplicatum dari Perairan Teluk Awur Jepara yang diekstrak dengan berbagai pelarut (n-heksana, etil asetat dan metanol) untuk mengetahui potensi ekstrak sebagai antifouling dan golongan senyawanya serta untuk mengidentifikasi jenis bakteri biofilm yang sensitif terhadap ekstrak. Bakteri biofilm diisolasi dari panel kayu dan fiberglass yang dibenamkan dilaut selama 2 minggu. Uji aktivitas antimicrofouling menggunakan metoda disc diffusion, uji fitokimia menggunakan metoda Harborne (1987) dan uji biokimia menggunakan metoda Cowan and Steels (1974) dan Bergey’s (2005). Aktivitas antimicrofouling paling baik ditunjukan oleh ekstrak etil asetat yang dapat menghambat 22 dari 34 bakteri biofilm dengan kisaran zona hambat 0,65 – 3,73 mm. Sedangkan, bakteri yang paling sensitif terhadap ekstrak S. duplicatum adalah bakteri K.10.3.1.4 dan F.10.3.1.2. S. duplicatum mengandung senyawa golongan alkaloid, saponin, quinon, fenolik, steroid, dan flavonoid. Berdasarkan identifikasi bakteri secara biokimia, bakteri K.10.4.1.5 adalah genus Achromobacter, sedangkan kode isolat F.10.3.1.2 adalah genus Flavobacterium cytophaga. Kehadiran satu ataulebih senyawa fitokimia dalam ekstrak diduga bertanggung jawab atas aktivitas antifouling yang terjadi.
SKRINING ANTIBAKTERI EKSTRAK RUMPUT LAUT Sargassum plagyophyllum DARI PERAIRAN BANDENGAN JEPARA TERHADAP BAKTERI PATOGEN Enterobacter, Pseudomonas aeruginosa DAN Staphylococus aureus Yunianto, Hendi Perdian; Widowati, Ita; Radjasa, Ocky Karna
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.443 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v3i3.5987

Abstract

Sifat resistensi dan infeksi patogenitas bakteri terhadap manusia saat ini meningkat, maka perlu adanya obat alternatif baru. Senyawa bioaktif yang terkandung dalam rumput laut merupakan salah satu sumber antibakteri baru yang diperoleh dari alam. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak Sargassum plagyophyllum terhadap bakteri patogen Enterobacter, P. aeruginosa dan S. aureus serta mengetahui golongan senyawa dan toksisitas senyawa bioaktif ekstrak S. plagyophyllum. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2012 – Mei 2013. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling method. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental laboratoris. Ekstraksi dilakukan secara bertingkat dengan menggunakan tiga pelarut yang berbeda kepolarannya. Uji aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi agar (Kirby-bauer) dengan 3 kali pengulangan. Analisis fitokimia dilakukan secara deskriptif kualitatif berdasarkan perubahan warna serta karakteristik fisika kimia suatu golongan. Uji toksisitas dilakukan menggunakan larva Artemia salina. Nilai toksisitas akut (LC50) ditentukan dengan menggunakan persamaan regresi linier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak Sargassum plagyophyllum pelarut etil asetat memiliki aktivitas antibakteri terbaik dengan zona hambat 4,87 ± 0,49 (bakteri Enterobacter); 6,06 ± 0,58 (bakteri S. aureus) dan 6,30 ± 0,62 (bakteri P. aeruginosa) serta memiliki aktivitas bakteriosidal. Hasil analisis fitokimia menunjukkan bahwa secara umum ekstrak Sargassum plagyophyllum mengandung senyawa alkaloid (pelarut heksana), steroid (ketiga pelarut), saponin (pelarut metanol). Hasil uji toksisitas menunjukkan ekstrak S. plagyophyllum pelarut etil asetat memiliki toksisitas yang toksik dengan nilai LC50-24 jam sebesar 291 ppm (toksik kategori kronik).
Studi Kandungan Logam Berat Pb, Cu, Cd, Cr Pada Kerang Simping (Amusium pleuronectes), Air Dan Sedimen Di Perairan Wedung, Demak Serta Analisis Maximum Tolerable Intake Pada Manusia Azhar, Husnan; Widowati, Ita; Suprijanto, Jusup
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.451 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v1i2.2017

Abstract

Wedung, Demak which have large potential of asian moon scallop (Amusium pleuronectes). This potential has leaded the increasing activities of fishing, industrial, and dense residential in Wedung. Those activities were thought to be one of the sources of heavy metals (Pb, Cu, Cd, Cr) accumulated in the simping. This study was aimed to determine the concentration of Pb, Cu, Cd, Cr in the A. pleuronectes, in the water and the sediment. Moreover, this study was also aimed to investigate the maximum weekly consumption A. pleuronectes which contained Pb, Cu, Cd, and Cr in Wedung waters area, Demak. The study was conducted in October-November 2011. The method used in this study was a study case method, while the purposive sampling method was used to determine the sampling locations. Sampling was conducted once every two week, with three repetitions. AAS (Atomic Absorbtion spectrophotometry), were used to analyze the heavy metal concentration, while the consumption of security analysis was used to analyze the MTI (Maximum Tolerable Intake). The range of the analysis results of Pb concentration in the scallop’s shells were 33,1362 – 35,0762 ppm, and 11,1272 – 13,0852 ppm in the sediments, while the concentration in the soft tissues and water, were not detected. The Cu concentration in the soft tissue were ranged from 8,9849 – 9,4659 ppm, where in the scallop’s shells were 11,9836 – 12,2358 ppm, water were 0,07 – 0,14 ppm, and in the sediments were 13,0624 – 17,6040 ppm. The Cd concentration in soft tissue were ranged from 5,9212 – 8,0136 ppm, scallop’s shell were 2,6195 – 5,0125 ppm, and water were 0,01 ppm at 2nd and 3rd samplings, while at the first sampling was not detected, whereas in the sediments the concentration ranged from 0,4694 – 0,7257 ppm. Cr concentration in the soft tissue were only detected in the third sampling with 0,7285 ppm, while in the scallop’s shells ranged from 1,9694 – 2,6924 ppm, and in the sediments were 0,9693 – 1,6933 ppm, while its concentration in water was not detected. Maximum weekly intake of scallop in Wedung water which are safe for consumption were 22,64 kg for Cu; 0,06 kg for Cd; and 5,76 kg of Cr per week for people with average body weight 60 kg, while the Pb concentration not detected.
Optimasi Sumber Karbon Dan Nitrogen Sebagai Co-Substrat Untuk Pertumbuhan Bakteri Probiotik Pseudomonas sp. Doresti, Livvy; Setyati, Willis Ari; Widowati, Ita
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.394 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v7i3.25907

Abstract

ABSTRAK : Pencemaran limbah organik pada sistem tambak udang merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan produksi. Limbah organik seperti sisa pakan dan feses terakumulasi pada substrat perairan sehingga kualitas air menurun dan timbul penyakit. Pseudomonas sp. merupakan bakteri probiotik yang dapat menghasilkan  enzim  pendegradasi  protein  dan amilum, limbah organik yang banyak ditemukan di sistem tambak. Penelitian ini dilakukan penentuan jenis dan optimasi sumber karbon dan nitrogen untuk pertumbuhan Pseudomonas sp. dalam upaya mengetahui komposisi medium yang lebih baik untuk produksi biomassa bakteri probiotik. Eksperimen yang dilakukan berupa penentuan sumber karbon yang meliputi glukosa, fruktosa dan molase. Penentuan sumber nitrogen meliputi ammonium nitrat, ammonium klorida dan urea. Pengamatan pertumbuhan dilakukan dengan metode spektrofotometri berdasarkan perubahan optical density pada kultur bakteri. Pertumbuhan Pseudomonas sp. memilik fase lag (adaptasi) pada jam ke-0 hingga jam ke-6. Hasil penelitian penentuan jenis sumber karbon diperoleh glukosa dengan nilai OD laju pertumbuhan tertinggi yaitu 0.118±0.001 dan penentuan jenis sumber nitrogen diperoleh ammonium nitrat dengan nilai OD laju pertumbuhan 0.117±0.000. Sumber karbon glukosa optimum pada konsentrasi 4% dengan nilai OD laju pertumbuhan 0.106±0.000 dan sumber nitrogen ammonium nitrat optimum pada konsentrasi 0.5% dengan nilai OD laju pertumbuhan 0.112±0.002. ABSTRACT : The contamination of organic waste in the shrimp pond system is one of the factors that lowering shrimp production. Organic waste such as leftover feed and fecal matter accumulated in the waters substrate decreasing the water quality and emerging disease. Pseudomonas sp. is a probiotic bacteria which can produce enzymes that degrade proteins and amylum-an organic waste commonly found in pond systems. This study was conducted to determine the type and optimization of carbon and nitrogen source for the growth of Pseudomonas sp. in an effort to know the composition of a better medium for probiotic biomass production. Experiments were carried out in the form of determination of carbon sources include glucose, fructose and molasses. Determination of nitrogen sources include ammonium nitrate, ammonium chloride and urea. The observations of growth rate was done by spectrophotometric method based on optical density in a bacterial culture. The growth of Pseudomonas sp. reached lag phase (adaptation) on 0 up to 6 hours. Then, on 6 up to 36 hours the bacterium has exponential phase which is characterized by the significant growth. The results of the determination of carbon source obtained glucose was the highest growth rate 0118 ± 0001 and determination of the nitrogen source obtained ammonium nitrate with growth rate 0117 ± 0000 by the OD value. Optimization carbon source was at 4% concentration of glucose with the growth rate 0.106 ± 0.000, and also the optimization nitrogen source was at 0.5% concentration of ammonium nitrate with growth rate of 0112 ± 0002 by the OD value.
Kandungan Seng (Zn) Dalam Air, Sedimen Dan Kerang Darah (Anadara granosa L) Di Perairan Tambaklorok Semarang Kalangie, Dimas Judah Mozes; Widowati, Ita; Suprijanto, Jusup
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.393 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v7i1.25887

Abstract

ABSTRAK : Tingginya aktivitas pesisir di daerah Tambaklorok serta adanya penurunan tanah dan abrasi pantai diduga menjadi sumber pencemaran logam berat. Salah satu bentuk pencemaran logam berat tersebut adalah logam berat seng (Zn). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan logam berat Zn dalam air, sedimen dan jaringan lunak kerang darah (Anadara granosa L) dan mengetahui nilai MTI dan MWI pada manusia. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2015 (uji pendahuluan), pengambilan sampel I (Desember 2015) dan II (Februari 2016). Uji pendahuluan dilakukan dengan cara membeli sampel kerang di pasar Tambaklorok yang langsung diambil dari perairan Tambaklorok. Metode dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Penentuan lokasi sampling dilakukan dengan metode purposive sampling. Analisa logam berat menggunakan AAS. Hasil penelitian menunjukan kandungan logam berat Zn dalam air sebesar 0,005 mg/l dan <0,001 mg/l, sedimen 109,2 mg/kg dan 75,89 mg/kg, Anadara granosa L sebesar 8,59 mg/kg (uji pendahuluan), 19,67 mg/kg, dan 18,68 mg/kg. Hasil menunjukan bahwa air, sedimen dan jaringan lunak kerang darah (Anadara granosa L) di Perairan Tambaklorok masih sesuai dengan baku mutu KMLH No. 51 tahun 2004 dan Wiconsin Department of Natural Resources tahun 2003 untuk sedimen. Nilai MWI dengan asumsi 60 kg untuk laki-laki sebesar 420 mg dan 45 kg untuk perempuan sebesar 315 mg. Nilai MTI asumsi 60 kg laki-laki pada uji pendahuluan sebesar 48,89 kg, Desember 2015 sebesar 21,35 kg dan Februari 2016 sebesar 22,48 kg. Sedangkan asumsi 45 kg untuk perempuan pada uji pendahuluan sebesar 36,67 kg, Desember 2015 sebesar 16,01 kg dan Februari 2016 sebesar 16,86 kg.  ABSTRACT : The high activity in the coastal areas Tambaklorok and a decrease in soil and coastal erosion is suspected to be the source of heavy metal pollution. One form of the heavy metal pollution was heavy metals zinc (Zn). This study aimed to analyze the Zn content of heavy metals in water, sediments and shellfish soft tissue blood (Anadara granosa L) and know the value of MTI and MWI in humans. This research was conducted in November 2015 (preliminary test), sampling I (December 2015) and II (February 2016). Preliminary test done by buying in the market Tambaklorok shellfish samples taken directly from the waters Tambaklorok. The method in this research is descriptive method. Determining the location of the sampling is done by purposive sampling method. Heavy metal analysis using AAS. The results showed Zn content of heavy metals in water of 0.005 mg / l and <0,001 mg / l, sediment 109.2 mg / kg and 75.89 mg / kg, Anadara granosa L of 8.59 mg / kg (preliminary test) , 19.67 mg / kg and 18.68 mg / kg. Results showed that water, sediments and shellfish soft tissue blood (Anadara granosa L) in the waters of Tambaklorok still in accordance with the quality standards KMLH No. 51 in 2004 and Wiconsin Department of Natural Resources in 2003 for sediment. MWI value assuming 60 kg for males at 420 mg and 45 kg for females at 315 mg. MTI value assuming 60 kg male in a preliminary test of 48.89 kg, in December 2015 amounted to 21.35 kg and February 2016 amounted to 22.48 kg. While the assumption of 45 kg for women in a preliminary test of 36.67 kg, in December 2015 amounted to 16.01 kg and February 2016 amounted to 16.86 kg. 
Komposisi dan Kelimpahan Ophiuroidea dan Echinoidea di Perairan Pantai Pok Tunggal, Gunung Kidul, Yogyakarta Pakpahan, Herlina Lestari; Irwani, Irwani; Widowati, Ita
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.262 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i2.26101

Abstract

ABSTRAK: Echinodermata merupakan salah satu komponen penting dalam keaneka ragaman fauna di ekosistem pantai. Habitat utama echinodermata adalah terumbu karang, hal ini karena terumbu karang berperan sebagai tempat berlindung dan mencari makan bagi fauna echinodermata. Salah satu penyebaran biota ini adalah di perairan rataan terumbu karang pantai selatan di pantai Pok Tunggal, Gunung Kidul, Yogyakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan struktur komunitas echinodermata di pantai Pok Tunggal,  kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2019 di pantai Pok Tunggal. Metode pengambilan data kelimpahan menggunakan metode transek kuadrat berukuran 1x1 m, parameter kualitas perairan yang diukur adalah salinitas, DO, pH, serta suhu. Analisis  data meliputi identifikasi spesies, kelimpahan jenis (ind/m2), indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi. Hasil pengamatan ditemukan beberapa spesies, dari 2 kelas filum echinodermata, antara lain 2 species dari kelas Ophiuroidea yaitu Ophiocoma erinaceus dan Ophiocoma dentata, 3 species dari kelas Echinoidea yaitu Echinometra oblonga, Echinometra mathei dan Echinothrix diadema. Hasil penelitian menunjukkan kelimpahan individu tertinggi adalah Echinometra oblonga (16,6 ind/m2) dan terendah adalah Echinothrix diadema (0,4 ind/m2). Parameter lingkungan perairan di pantai Pok Tunggal pada setiap stasiun masih menunjang kehidupan Echinodermata. Struktur komunitas echinodermata yaitu nilai indeks keanekaragaman (H‟) berkisar antara 0,667-1,198, nilai indeks keseragaman (E) berkisar antara 0,744 - 0,999 dan nilai indeks dominansi (C) berkisar berkisar 0,308 - 0,525. ABSTRACT: Echinoderms are one of important component of fauna diversity in coastal ecosystems. The main habitat of Echinoderms is coral reefs, because coral reefs act as a shelter and food for echinoderms fauna. This species distributed in the flat waters of the coral reefs of the south coast at Pok Tunggal beach, Gunung Kidul, Yogyakarta. The aim of this study was to determine the species and Community Structure of echinoderms on the Pok Tunggal beach, Gunung Kidul Regency, Yogyakarta. This research was conducted in July 2018 at Pok Tunggal Beach. Sampling was done by using transect quadrant measuring 1x1 m. Parameter of water quality was salinity, DO, pH, and temperature. Data analysis includes species abundance (ind/m2), diversity index, uniformity index and dominance index. The result showed that several species of Echinodermal phylum classes, including 2 species of Ophiuroidea class namely Ophiocoma erinaceus and Ophiocoma dentata, 3 species of Echinoidea class namely Echinometra oblonga, Echinometra mathei and Echinothrix diadema. The highest individual abundance was Echinometra oblonga (16,6 ind/m2) and the lowest was Echinothrix diadema (0,4 ind/m2). The environmental conditions of the waters at the Pok Tunggal beach at each station can support the life of echinoderms. Echinoderms community structure, namely diversity index (H ') ranges from 0,667-1,198, uniformity index (E) ranges from 0,744-0,999 and dominance index value ranges (C) ranges from 0,308-0,525.
Molecular Ecology Comparison of Blue Leg Hermit Crab (Calcinus elegans) based on Spatial Factor in South Coast of Java Island Handayani, Muliawati; Anggoro, Sutrisno; Widowati, Ita; Hideyuki, Imai
International Journal of Marine and Aquatic Resource Conservation and Co-existence 2014: IJMARCC Volume 1 Issue 1 Year 2014
Publisher : International Journal of Marine and Aquatic Resource Conservation and Co-existence

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.047 KB) | DOI: 10.14710/ijmarcc.1.1.p

Abstract

The study was conducted to determine the genetic diversity of Calcinus elegans based on sequences of the COI mitochondrial DNA. Successfully 54 samples of Garut; 43 of Yogyakarta and 47 of Banyuwangi populations were amplified by PCR using universal primers LCO 1490 and HCO 2198 successfully amplified COI gene in 625 bp, with an overall haplotype totaled 64 at 111 polymorphic sites. All population showed high genetic diversity within population interpreted by the value of gene diversity (H): Garut is 0.9266 ± 0.0251; Yogyakarta is 0.9668 ± 0.0156 and Banyuwangi is 0.9288 ± 0.0257 and the value of nucleotide diversity (π): Garut is 0.007155 ± 0.003972; Yogyakarta is 0.007966 ± 0.004387 and Banyuwangi is 0.00723 ± 0.004021. Gene diversity and nucleotide diversity did not differ significantly between populations. While genetic diversity among populations interpreted from haplotypes similarity or shared haplotype. Number of shared haplotypes among three populations is 12 haplotypes with 90 samples included. Banyuwangi population showed smallest intensity interaction with other populations indicated by the smallest value of haplotypes; polymorphic sites; hetorozigosity and distribution of larvae are influenced by spatial factor. However, three populations come from one ancestors and part of a large population. Thus the current and other environmental factors in South Coast of Java Island are effected on the genetic diversity among populations of C. elegans with a correlation coefficient is r = 0.98 (genetic diversity with current) and r = >0.90 (genetic diversity with temperature, salinity, pH, depth and distance).   Key words: Calcinus elegans, genetic diversity, COI, mitochondrial DNA, haplotype
Potentiality of Using Spreading Sargassum Species from Indonesia as an Interesting Source of Antibacterial and Radical Scavenging Compounds: A Preliminary Study Widowati, Ita; Puspita, Maya; Stiger-Pouvreau, Valerie; Bourgougnon, Nathalie
International Journal of Marine and Aquatic Resource Conservation and Co-existence 2014: IJMARCC Volume 1 Issue 1 Year 2014
Publisher : International Journal of Marine and Aquatic Resource Conservation and Co-existence

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.406 KB) | DOI: 10.14710/ijmarcc.1.1.p

Abstract

As an archipelagic country with 95,181 km long coastline, Indonesia has great potential as the producer of seaweeds. The diverse phyla of marine macroalgae (red, brown and green seaweeds) are known to produce molecules which are attractive for diverse industries. Applications of algal products range from simple biomass production for food, feed and fuels to valuable products such as sugar polymers, cosmetics, pharmaceuticals, pigments, and food supplements. Seaweeds also have the potential to be used as a source of new bioactive for human, animal or plant health, as well as a source of new synthons and biocatalysts in sustainable chemistry (Bourgougnon and Stiger-Pouvreau, 2011). In this paper, among species of economic value we focus on brown seaweeds belonging to family Sargassaceae and genus Sargassum spreading along Indonesian coasts. Members of this genus are especially abundant in tropical and subtropical regions (Zemke-White and Ohno, 1999). The purpose of this study is to analyze the antibacterial and antioxidant activity of three species of Sargassum, i.e. S. echinocarpum, S. duplicatum and S. polycystum. Both polar and non-polar extracts have been prepared from those three species. In vitro antibacterial activities of extracts were evaluated against Gram-positive bacteria Staphylococcus aureus and Gram-negative bacteria Escherichia coli. Results indicated all the three species tested showed an antibacterial activity. The most effective antibacterial activity against S. aerous was from S. echinocarpum with ethil asetat, inhibition zone 1.13 ± 0.25 mm; S. duplicatum with N-Hexane was most effective against E. coli, 1.20 ± 0.28 mm.   Key words: Antibacterial, Sargassum, Staphylococcus aureus, Escherichia coli.