Warih Andan Puspitosari, Warih Andan
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Hubungan Onset Usia dengan Kualitas Hidup Penderita Skizofrenia di Wilayah Kerja Puskesmas Kasihan II Bantul Yogyakarta Wijayanti, Ajeng; Puspitosari, Warih Andan
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 14, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v14i1.2469

Abstract

Skizofrenia adalah suatu gangguan jiwa dimana adanya keretakan atau ketidakseimbangan antara proses berfikir, perasaan dan perbuatan. Skizofrenia prevalensinya sama antara laki-laki dan wanita, perbedaannya adalah dalam hal onset usia dan perjalanan penyakit. Hasil penelitian sebelumnya menyatakan skizofrenia onset usia muda mengalami penurunan IQ, fungsi psikomotor, dan memori verbal lebih besar daripada skizofrenia onset usia tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara onset usia dan kualitas hidup skizofrenia. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan cross-sectional. Responden penelitian sebanyak 25 orang penderita skizofrenia di wilayah kerja Puskesmas Kasihan II Bantul Yogyakarta, yaitu di Desa Ngestiharjo dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Pengumpulan data dengan wawancara dan kuesioner. Data penelitian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara onset usia dengan kualitas hidup pasien skizofrenia (sig=0,934, p 0,05). Hal ini disebabkan banyak faktor lain yang mempengaruhi kualitas hidup pasien skizofrenia selain faktor onset usia yaitu faktor jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan dan penghasilan. Disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara onset usia dengan kualitas hidup pasien skizofrenia.Skizofrenia is a mental disorder which presence the cracks or imbalance between the processes of thinking, feeling and action. Schizophrenia prevalence is equal between men and women, the differ­ence is in terms age of onset and course of disease. The result from previous study state that a young age of onset of schizophrenia decreased IQ, psychomotor function, verbal memory larger than the old age onset of schizophrenia. The research aims to determine the correlation between onset age and quality life of schizophrenia. This study is observational analytic study with cross-sectional design. The respondents was 25 schizophrenia patient in the work area Kasihan Primary Health Care II Bantul in the Ngestiharjo village, Yogyakarta using consecutive sampling technique. The data was collected by inter­view and questionnaire. The research data were analyzed using the Spearman correlation test. The result from Spearman test show there are no correlation between age of onset and quality of life schizo­phrenia patient (sig=0,934, p 0,05). This is due to many other factors that affect quality of life of schizo­phrenic patients except the age of onset there are gender factor, education level, occupation and in­come. Concluded that there no correlation between age of onset with quality of life schizophrenia pa­tient.
Hubungan antara Kecanduan Online Game dengan Depresi Puspitosari, Warih Andan; Ananta, Linaldi
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i1.1592

Abstract

In psychological aspect, bad relation between online game addict to their families and friends usually causes isolation from the community, which can induce some psychiatric disorder for example depression. The purposes of this research are to identify depression score in online game addict and analyze the relation between the addiction to online game and depression. This study is a descriptive non-experimental study, uses cross sectional method. Data analysis uses SPSS 16 with Spearman non-parametric correlation method. The subject are 64 people from online gamer in Genesis game centre attain the age of 17-24 year old. Subjects are asked to fill the questionnaire of online game addiction from Astuti and depression score determined with Beck Depression Inventory (BDI). Result of this study showed that from 64 subjects, 35 subjects (54,7%) are low addiction, and then 29 subjects (45,3%) are high addiction. Moreover, about depression, from 64 subjects 39 subjects (60,9%) are normal and 16 subjects (25%) suffer mild depression, 8 subjects (12,5%) suffer moderate depression, and 1 subject (1,6%) suffers severe depression. Analysis result by Spearman non-parametric correlation test and Sugiyono correlation strength table showed weak correlation between online game addicts and depression (sig 0,005; correlation coefficient 0,348). The conclusion of this study is there’s weak correlation between online game addiction and depression.Kecanduan online game membawa dampak negatif, baik dari aspek fisik maupun psikologis. Dari aspek psikologis, buruknya hubungan sosial dengan keluarga dan teman, menyebabkan pecandu online game seringkali terisolasi dari masyarakat dan rentan menderita gangguan psikiatri, salah satunya adalah depresi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui skor depresi pada pecandu online game dan menganalisis hubungan antara kecanduan online game dengan depresi. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif non-eksperimental dengan rancangan penelitian cross sectional study. Analisis data dilakukan dengan alat bantu program komputer dengan metode analisis korelasi Spearman. Subyek penelitian adalah pemain online game di game centre Genesis Yogyakarta, berusia 17-24 tahun, sebanyak 64 orang. Subyek diminta untuk mengisi kuesioner online game addict dan kuesioner depresi. Kuesioner online game addict yang digunakan adalah kuisioner dari Astuti (2005), sedangkan untuk menilai skor depresi digunakan Beck Depression Inventory Scale (BDI). Hasil penelitian menunjukkan bahhwa dari total subyek sebanyak 64 orang, 35 orang (54,7%) merupakan low addiction, sedangkan 29 orang (45,3%) merupakan high addiction. Sejumlah 39 subyek (60,9%) termasuk kategori tidak depresi, 16 orang (25%) depresi ringan, 8 orang (12,5%) depresi sedang, dan 1 orang (1,6%) depresi berat. Hasil analisis menggunakan teknik korelasi non- parametrik Spearman menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara kecanduan online game dengan depresi. (p 0,005), dengan kekuatan hubungan lemah yaitu 0,348. Oleh karena itu dapat disimpulkan terdapat hubungan yang lemah antara kecanduan online game dengan depresi.
Terapi Musik dalam Menurunkan Tingkat Depresi pada Lansia Pratama, Ryan Nuari; Puspitosari, Warih Andan
Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta Vol 6, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.954 KB) | DOI: 10.2016/jkry.v6i2.302

Abstract

Salah satu terapi non farmakologi yang dapat digunakan dalam menurunkan tingkat depresi pada lansia adalah terapi musik. Mendengarkan musik dapat mempengaruhi sistem saraf otonom (sistem saraf simpatis dan parasimpatis) yang dapat  menghasilkan respon relaksasi. Hal ini akan memperbaiki perilaku dan gejala psikologis pada lansia yang mengalami depresi. Tujuan artikel ini adalah untuk mereview literature tentang efektifitas terapi musik terhadap penurunan tingkat depresi pada lansia. Pencarian literatur review ini menggunakan database Science Direct, PubMed dan Goggle Scholar dengan menggunakan keywords: “Music Therapy AND Depression AND Elderly”. Hasil pencarian artikel menemukan sebanyak 3.570 artikel dalam jurnal internasional dalam rentang tahun  2016 sampai 2019. Artikel tersebut diseleksi dan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi adalah sebanyak 10 artikel. Hasil dari 10 jurnal tersebut, 8 penelitian menunjukkan bahwa ada perubahan efek yang signifikan dalam penurunan gejala depresi pada lansia setelah dilakukan beberapa jenis terapi diantaranya China Traditional Music, Preferred Music Combined, Interaktive Music, Choral Singing Therapy, Turkis Traditional Music, Combined Music and Tai Chi. Literatur review ini menunjukkan bahwa metode terapi musik mempunyai peranan yang sangat penting dalam tatalaksana non-farmakologi. Terapi musik ini menunjukkan sebagai salah satu metode yang efektif dalam menurunkan gejala depresi pada lansia. Tinjauan literatur review ini mendapatkan hasil bahwa pemberian terapi musik efektif dalam menurunkan tingkat depresi pada lansia.
Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Seks Puspitosari, Warih Andan
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 1 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v2i1.1502

Abstract

The need of the appropriate comprehension of the human sex essentials for adolescents is urgently required. The facts show that adolescents fre¬quently do not know where to go in finding the right information about sexu¬ality; hence they seek information to resources who do not certainly provide the right information. This could mislead them to go on the wrong path. In fact, the information about the right sexual issues can be provided through sex education. The understanding that sex education is only a mere knowledge of sexual intercourse will result the rejection of many people to provide sex education for the adolescents. The stigma in the society that sex education is a taboo should be eliminated, hence the adolescents could obtain the right informa¬tion. An open-minded point of view that sex issues can be politely and well discussed has to be arised, hence not causing rejections from many people. The best sex education is the one provided by the parents as the closest people, in relaxing condition, with heart-to-heart approach. Therefore, it re-quires appropriate comprehension of the parents on those issues.Kebutuhan akan pemahaman yang benar tentang hakekat seksualitas manusia bagi remaja kian mendesak untuk dipenuhi. Kenyataan menunjukkan bahwa remaja sering tidak tahu ke mana mereka bisa mendapatkan informasi yang benar tentang seksualitas, sehingga mereka mencari informasi pada pihak-pihak yang belum tentu memberikan pengertian secara benar. Hal ini justru bisa menyesatkan para remaja. Sebenarnya, informasi tentang masalah seks yang benar dapat diberikan melalui pendidikan seks. Pemahaman bahwa pendidikan seks hanyalah pengetahuan tentang hubungan seks semata-mata menyebabkan banyak pihak menolak untuk memberikan pendidikan seks kepada remaja. Stigma yang ada di masyarakat bahwa pendidikan seks adalah sesuatu yang tabu harus dihapus, sehingga remaja bisa mendapatkan informasi yang benar. Perlu dibuka sebuah wacana bahwa masalah seks bisa didiskusikan secara sopan dan baik, sehingga tidak menimbulkan penolakan dari berbagai pihak. Pendidikan seks yang terbaik adalah yang diberikan oleh orang tua sebagai orang terdekat, dalam suasana santai dengan pendekatan dari hati ke hati, sehingga dibutuhkan pemahaman yang benar dari orang tua tentang masalah tersebut.
Kasus Depresi Berulang pada Anak Usia Sekolah dengan Penolakan Bersekolah Puspitosari, Warih Andan; Pratiti, Budi
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (2007)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i2.1677

Abstract

Depression in children is often under-recognized because not all children complain of sad feeling. The incidence of depression in prepuberty and adolescence is estimated 1.5-2.5% and 4-5% respectively. The clinical appearance is influenced by the child’s age and psychological experience such as irritability, decrease of school achievement, withdrawal from social or leisure activity, and feeling more of inward signs like depressed, guilty or useless feeling and suicidal ideation. The aim of this paper is to report a case of recurrent child depression with refusal of going to school with method depth-interview towards the child and his family. Result of this report case of recurrent depression in a school-aged child with refusal to go to school was reported. A 10-year old boy who was in 5th grade of elementary school refused to go to school for 3 months. Clinical appearance showed sad looking, withdrawal, irritability, difficulty to sleep, depressed feeling, and decreased school achievement. The psychosocial stressor was bullying done by his schoolmates. Two years prior to the condition when he was in the 3th grade, the child showed the same clinical appearance with a stressor of mistreatment from his teacher. He was given pharmacotherapy and behavioral therapy.Berbeda dengan Depresi pada orang dewasa, kasus depresi pada anak sering tidak terdiagnosis (uunderrecognised), karena tidak semua penderita Depresi pada anak mengeluh sedih. Insiden anak prapubertas diperkirakan 1,5-2,5% dan menjadi 4-5% pada masa remaja. Gambaran klinis yang tampak pada anak dipengaruhi oleh usia dan pengalaman psikologis anak, seperti lekas marah (iirritable), prestasi sekolah menurun, menyingkir dari kegiatan sosial atau aktivitas yang menyenangkan dan anak merasa murung (inward sign) seperti perasaan yang tertekan, rasa bersalah, rasa tak berharga, dan pikiran bunuh diri, tujuannya adalah melaporkan 1 kasus depresi berulang pada anak dengan masalah penolakan bersekolah, metoda yang digunakan wawancara mendalam terhadap penderita dan keluarga penderita. Dilaporkan 1 kasus depresi berulang pada anak usia sekolah dengan masalah penolakan sekolah. Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun, klas 5 SD, tidak mau sekolah selama 3 bulan. Gejala klinis yang ada adalah tampak sedih, tidak mau keluar rumah untuk berinteraksi dengan teman-temannya, mudah marah (irritabel), sulit tidur, merasa tertekan, prestasi belajar menurun, menyakiti diri sendiri. Stressor psikososial adalah perlakuan nakal dari teman-temannya dalam bentuk ejekan dan perilaku kasar yang menyakitkan. Dua tahun sebelumnya pada saat duduk di kelas 3, anak pernah mengalami hal serupa dengan stressor perlakuan gurunya yang tidak baik. Diberikan farmakoterapi dan terapi perilaku pada penderita.
Perbedaan Skor Kecerdasan Emosi dan Kecemasan Siswa Kelas Akselerasi dan Kelas Reguler Puspitosari, Warih Andan
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1564

Abstract

Acceleration is designedfor students with extraordinary capabilities. They are expected to graduate earlier, but on the other side the full schedules and minimum social interactions would bring negative consequences, such as low emotional quotient and hight level of anxiety. It S said that success determined by 20% of IQ and the rest by emotional quotient (EQ). The aims of this research is identify the difference of emotional quotient score and anxiety score between acceleration students and regular students in Muhammadiyah 1 Highschool in Yogyakarta. This is a cross-sectional analytic descriptive study. It’s conducted at Muhammadiyah 1 Highschool in Yogyakarta on August-October 2008. The study took two populations. Sample taken were all of acceleration students 45 and regular students. Instruments used include BarOn Emotional Quotient Inventory-YV, Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS) Data were analyzed with independent t-test There is significant difference of anxiety score but no significant difference of EQ score between acceleration students and regular students (p=0,024, p=0,646). Conclusions this research are : (l)Acceleration students have higher score of anxiety than regular students. (2)There is no significant difference of EQ score between acceleration students and regular students.Program kelas akselerasi diperuntukkan bagi siswa yang memiliki kemampuan luar biasa, agar bisa menyelesaikan studi lebih cepat dan mengembangkan kemampuannya secara optimal. Padatnya kegiatan dan terbatasnya interaksi serta kesempatan bersosialisasi dikhawatirkan akan berdampak buruk pada siswa, dintaranya adalah rendahnya kecerdasan emosi dan tingginya tingkat kecemasan. Rendahnya kecerdasan emosi dan tingginya tingkat kecemasan justru akan menurunkan produktifitas siswa. Kesuksesan seseorang lebih 80% ditentukan oleh kecerdasan emosinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perbedaan skor kecerdasan emosi dan kecemasan antara siswa kelas akselerasi dan siswa kelas regular di SMU Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional deskriptif analitik. Penelitian dilakukan di SMU Muhammadiyah 1 Yogyakarta pada bulan Agustus-Oktober 2008. Populasi penelitian adalah siswa kelas akselerasi dan siswa kelas regular. Jumlah sampel untuk kelas akselerasi 45 siswa dan kelas reguler 58 orang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuestioner kecerdasan emosi BarOn Emotional Quotient Inventory-YV, kuestioner kecemasan Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS). Data dianalisis dengan Independent t-Test. Terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara skor kecemasan siswa kelas akselerasi dan regular dengan p=0,024. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara skor kecerdasan emosi siswa kelas akselerasi dan regular dengan p=0,646. Kesimpulan dari penelitian ini adalah : 1) Skor kecemasan siswa kelas akselerasi lebih tinggi dibanding siswa kelas regular, 2) Tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara skor kecerdasan emosi siswa kelas akselerasi dan regular
Regulasi Emosi dalam Tatalaksana Pasien Kanker : A Literatur Review Seprian, Dwin; Puspitosari, Warih Andan
Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta Vol 6, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.64 KB) | DOI: 10.2016/jkry.v6i2.301

Abstract

Salah satu tatalaksana non-farmakoterapi yang saat ini digunakan untuk penderita kanker dalam mengelola masalah psikologis yang dialami adalah dengan proses regulasi emosi. Tujuan tulisan ini adalah mereview literature tentang efektifitas regulasi emosi terhadap masalah psikologis penderita kanker. Pencarian literatur review ini menggunakan database PubMed dan Goggle Scholar dengan menggunakan keywords: “Emotion Regulation AND Patient AND Cancer”. Hasil pencarian artikel menemukan sebanyak 24.414 artikel dalam jurnal internasional dalam rentang tahun 2016-2018. Artikel tersebut diseleksi dan yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi adalah sebanyak 10 artikel. Hasil dari 10  jurnal tersebut, 7 jurnal didapatkan hasil bahwa terdapat tekanan psikologis pada pasien kanker meliputi ketidakberdayaan, emosi negatif, denial, penyesuaian diri, kecemasan, depresi, kecemasan, gangguan pola tidur, dan ketakutan dalam kekambuhan penyakit khususnya untuk pasien yang sudah selesai melakukan prosedur pengobatan, serta hasil intervensi regulasi emosi pada pasien kanker ada hubungan yang signifikan antara emosi regulasi diri dengan peningkatan kualitas hidup pada pasien kanker. Literatur review ini menunjukkan bahwa metode ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam tatalaksana non-farmakologi. Terapi regulasi emosi ini menunjukkan sebagai salah satu metode yang efektif dalam penatalaksaan emosi pada pasien kanker. Tinjauan literatur review ini mendapatkan hasil bahwa regulasi emosi merupakan langkah strategis dalam upaya penanggulangan masalah emosi atau masalah psikologi pada pasien kanker.
The Influence of Negative Symptoms on the Social Function of People with Schizophrenia in the Community Puspitosari, Warih Andan; Soewadi, Soewadi; Sumarni, Sumarni
Berkala Kedokteran Vol 14, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v14i2.5326

Abstract

Abstract: The most People with Schizophrenia (PwS) experience a decline in social function caused by various factors. Clinical symptoms of PwS affect the social function of PwS, especially negative symptoms. The purpose of this study is to analyze the effect of negative symptoms on the social function of people with schizophrenia in the community. This is a cross-sectional study. Subjects of the study were people with schizophrenia aged 18-56 years who will follow Community-Based Rehabilitation activities in 10 areas of puskesmas in Yogyakarta Special Region. The study was conducted in February 2017. The social function and negative symptoms of PwS were measured using a validated measuring instrument. Hypothesis test using Anova test. The subjects of the study were obtained by purposive sampling technique of 100 PwS that fulfilled inclusion and exclusion criteria. Subjects with a PSP score of 0-30 (poor: someone who intensively needs care and social support) of 8 people (8%) had negative PANSS score of 28.50 ± 6.78. Subjects with a score of 31-70 (moderate: someone who occasionally needs care and social support) of 57 people (57%) had negative PANSS of 20.65 ± 8.18. Subjects with a score of 71-100 (mild: someone with mild disturbance, but able to perform individual functions) of 35 subjects (35%) had negative PANSS score of 12.49 ± 5.98. PwS which has a negative value of PANSS is greater, has a worse social function. The results showed that the negative symptoms had an effect on the social function of people with schizophrenia which was statistically significant (p <0.05). Negative symptoms affect the social function of PwS. PwS that has a high negative symptom score, has a worse social function. Keywords: social function, schizophrenia, negative symptoms
The Effectiveness of Elderly Management Effort Activities towards Geriatric Depression Scale of Permanent Shelter Residents in Post Eruption of Merapi Listiowati, Ekorini; Puspitosari, Warih Andan; Kellyana, Kellyana
International Journal of Public Health Science (IJPHS) Vol 4, No 4: December 2015
Publisher : Intelektual Pustaka Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.926 KB) | DOI: 10.11591/ijphs.v4i4.4746

Abstract

Disasters can happen due to nature and human being which cause damages, loss, and deteriorating health as well as health care. Psychosocial and mental health problems arise whilst and post disaster since disaster will lead to trauma for those who undergo it. Depression has comorbidity with dementia which decreases the quality of life of the elderly, thus it needs an effective and sustainable treatment with the goal to recover coping mechanism toward physical and psycho-social problem, prevent physical and psycho-social disability, and optimize psycho-social function. The research aimed to analyze the effectiveness of Elderly Management Effort activities towards geriatric depression scale of permanent shelter residents in post Eruption of Merapi. This research is quasi-experimental research using pretest postest design. The subject of this research is 40 people which meet the inclusive criteria: elderly, living in shelter, having non-terminal illnesses, and willing to join the whole research. The exclusive criteria are having a medical record with severe psychological problem and DO which will be used for those who do not join all session completely. The samples were taken using consecutive sampling method. The instruments used in this research are the Geriatric Depression Scale and the Elderly Management Effort. The data were analyzed through t test and chi square. Decreasing of score was found for the Geriatric Depression Scale from 5.2 to 2.1 and back to the score 4.3 at the last intervention in the 10th month. The Elderly Management Effort through the activities in Posyandu including Dance Movement Therapy dan Reminiscence Therapy is proven effective to decrease the Geriatric Depression Scale in post disaster.
Pengaruh APGAR Keluarga terhadap Kecerdasan Emosi Remaja Dewi, Arlina; Puspitosari, Warih Andan
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i2.1571

Abstract

Emotional intelligence (EQ) contributed 80% in determining one ’s success. EQ was developed in 3 containers, namely: family, school and society, and experts agree that keluargalah have great influence on the development anak.Untuk, it is necessary to find whether the relationship between healthy functioning in the family (Apgar family) with adolescent emotional intelligence in family. This study aims to determine whether or not there any healthy relationship between family junction with emotional intelligence in adolescents in the family. Observational study conducted by the research design of cross-sectional survey. Samples were selected by simple random sampling from the population at SMU Negeri 1 Bantul Poor. Research instruments for assessing emotional intelligence using the instrument Baron Emotional Quotient Inventory Version andfamily function assessment using the Family Apgar instrument of Gabriel Smilkstein, which has been translated. Data analysis to determine relations between the two variables above using Pearson test. Statistical analysis showed that the Apgar Family related/correlated (r = 0.460) was significant (p 0.05) with adolescent emotional intelligence in the family. Concluded that there is a significant relationship between Apgar Families with teenagers Emotional Intelligence.Kecerdasan emosi (EQ) menyumbang 80% dalam menentukan keberhasilan seseorang. Kecerdasan emosi dikembangkan dalam 3 wadah, yaitu : keluarga, sekolah dan masyarakat, dan para ahli sepakat bahwa keluargalah yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak.Untuk itu, perlu dicari hubungan antara sehat tidaknya fungsi di dalam keluarga (APGAR keluarga) dengan kecerdasan emosi remaja di dalam keluarga tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah hubungan antara sehat tidaknya fungsi keluarga dengan kecerdasan emosi pada remaja di keluarga tersebut. Penelitian dilakukan secara observasional dengan rancangan penelitian cross-sectional. Sampel penelitian dipilih secara simple random sampling dari populasi di SMU Negeri 1 Kasihan Bantul. Instrumen penelitian untuk menilai kecerdasan emosi menggunakan BarOn Emotional Quotient Inventory Version dan penilaian fungsi keluarga menggunakan instrumen Family APGAR dari Gabriel Smilkstein, yang telah dialihbahasakan. Analisis data untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel di atas menggunakan uji Pearson. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa APGAR Keluarga mempunyai hubungan/ korelasi (r=0,460) yang bermakna (p 0,05) dengan kecerdasan emosi remaja di keluarga tersebut. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara APGAR Keluarga dengan Kecerdasan Emosi remaja.