Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

MONITORING THE LAND USE CHANGE IN CAMPUS 2 STKIP PGRI PONTIANAK Purwanto, Ajun; Bayuardi, Galuh
Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning Vol 3, No 1 (2016): (April 2016)
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1639.86 KB) | DOI: 10.14710/geoplanning.3.1.77-86

Abstract

The aims of the research are: 1) investigating the changes of land-use occurring at campus 2 of STKIP PGRI Pontianak, 2) determining the tendency towards changes of land-use at campus 2 of STKIP PGRI Pontianak and, 3) mapping the land-use change at campus 2 of STKIP PGRI Pontianak from 2003 to 2011. The methods used in this research were survey and interpretation of the image of a multiple-color composite in 2003, 2008 and 2011 using GIS software. The data used were the types of land-use and the width of land-use change area. The data were analyzed by overlay method. The results have shown the following: 1) The changes of land use have been largely from forest land and paddy fields to settlement area; 2) The trend of the change is approaching to the North side, East side, South side and West side of the campus; 3) The characteristics of the extension of land-use changes from 2003 to 2011 are: settlement increased 66,110 m2, field service (restaurant) became 10,254 m2, the fields had added 17,097 m2, paddy field had decreased 25,211 m2, the forest area had decreased 104,327 m2 and educational facilities had increased 35,427 m2 while police station had extended 650 m2.
PENGALAMAN TRANSMIGRASI DI INDONESIA (Studi di Desa Olak-Olak, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya) Firmansyah, Andang; Superman, Superman; Bayuardi, Galuh
Historia Vol 6, No 2 (2018): HISTORIA
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/hj.v6i2.1086

Abstract

Kepadatan penduduk di Pulau Jawa dan Madura menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010 adalah 136.610.590 jiwa. Hal tersebut berbanding jauh dengan Pulau Kalimantan yang hanya 13.787.831 jiwa. Ketimpangan jumlah penduduk antara Pulau Jawa dan Madura dengan pulau lainnya sangat besar. Oleh sebab itu pemerataan penduduk terus menerus digalakkan salah satunya dengan program transmigrasi. Jauh sebelum negara Indonesia merdeka, program perpindahan penduduk ini sudah dilaksanakan, tentu saja dengan tujuan yang menguntungkan kolonialisme.Program perpindahan penduduk di Masa Kolonial gencar dilakukan pada saat dibukanya perkebunan. Kolonial Belanda menginginkan tenaga kerja yang murah serta mudah. Program ini kemudian berlanjut pada masa politik etis, walaupun tujuan awalnya untuk pemerataan jumlah penduduk akan tetapi banyak terjadi penyelewengan. Kemudian setelah Indonesia merdeka, masalah kepadatan penduduk di Pulau Jawa dan Madura masih menjadi perhatian serius pemerintah. Oleh sebab itu Pemerintahan Soekarno mencanang program transmigrasi pada tahun 1950 yang diselenggarakan oleh Dinas Transmigrasi (Jawatan Transmigrasi).Provinsi Kalimantan Barat khususnya Desa Olak-Olak merupakan salah satu tempat tujuan transmigrasi di Indonesia. Kelompok transmigrasi yang pertama datang pada tahun 1958 sampai dengan tahun 1959. Rata-rata transmigran ini berasal dari daerah Jawa Tengah dan sekitarnya. Oleh sebab itu budaya Jawa masih sangat kental ditemui di Desa Olak-Olak ini, akan tetapi mulai memudar pada generasi-generasi selanjutnya. Keadaan Desa Olak-Olak ini sampai sekarang masih dikatakan belum berkembang karena terhambat banyak faktor salah satunya adalah transportasi.
Kondisi Sosial Ekonomi dan Kualitas Hunia Rumah Tangga Nelayan di Desa Kuala Kecamatan Selakau Kabupaten Sambas Equanti, Dian; Bayuardi, Galuh
Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial Vol 5, No 1 (2018): Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial
Publisher : IKIP PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.768 KB) | DOI: 10.31571/sosial.v5i1.854

Abstract

Desa Kuala merupakan desa pesisir yang terletak di muara Sungai Selakau, dengan dominan aktivitas ekonomi nelayan tangkap tradisional, dan kegiatan ekonomi yang berkaitan. Jangkauan area tangkap nelayan tangkap yang sempit dan ketergangtungan yang besar pada kondisi alam menyebabkan penghasilan yang tidak menentu. Kondisi ini rentan terhadap pendapatan yang rendah dan hunian yang tidak layak. Untuk berkontribusi pada penyediaan data wilayah, penelitian ini bertujuan menggambarkan: satu, kondisi sosial ekonomi rumah tangga nelayan di Desa Kuala Kecamatan Selakau Kabupaten Sambas; dua, kualitas hunian rumah tangga nelayan di Desa Kuala Kecamatan Selakau Kabupaten Sambas. Hasil penelitian menunjukkan pertama, rendahnya pendapatan rumah tangga dengan komponen pengeluaran makanan lebih dari 50 persen dari total pendapatan, serta lebih dari 60 persen responden berpendidikan SD. Kedua, kualitas hunian masyarakat dalam kategori cukup, dengan 70 persen berdinding tembok, namun sebagian besar dengan air bersih dan sanitasi kurang layak.
FRAGMENTASI, SEJARAH, HETEROGENITAS PENDUDUK, DAN BUDAYA KOTA PONTIANAK Bayuardi, Galuh; Firmansyah, Andang; Superman, Superman
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 18, No 3 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4024.043 KB)

Abstract

Pontianak merupakan kota madya di Indonesia. Secara geografis, lokasi Pontianak dekat dengan negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. Kondisi ini menyebabkan Pontianak sering dikunjungi pelancong dari negara tetangga, baik pengunjung yang memiliki urusan di Kota Pontianak, maupun yang sekadar singgah sebelum menuju destinasi lain di wilayah Indonesia. Jika ditelusuri dari sejarahnya, pada dasarnya Pontianak didesain sebagai kota perdagangan. Pontianak mengalami pembangunan yang cepat saat kedatangan VOC yang membuat kesepakatan dengan Kesultanan Pontianak. Sebagai tindaklanjut dari kesepakatan itu, mereka membangun kantor pemerintahan dan juga keraton untuk mendukung aktivitas politik di Pontianak. Seiring dengan pesatnya pentumbuhan Kota Pontianak, berbagai kelompok etnis menjadikan Pontianak sebagai kota yang heterogen. Kini, Pontianak dikunjungi berbagai etnis dari berbagai wilayah di Indonesia. Kelompok etnis yang tinggal di Pontianak di antaranya adalah Melayu, Dayak, Tionghoa, Jawa, Batak, Bugis, Madura, Banjar, Sunda, dan Bali. Berbagai etnis bergaul satu sama lain. Kondisi sosial heterogen di Pontianak tidak serta merta melahirkan pluralitas. Terkadang muncul sentimen kedaerahan baik itu klaim oleh penduduk lokal, maupun oleh mereka yang ditandai sebagai pendatang, meskipun pernyataan ini tidak terlihat secara langsung, tapi memiliki potensi masalah di kemudian hari.____________________________________________________________Pontianak is one of municipality in Indonesia. Geographicaly Pontianak location, is a region close to neighboring countries such as Malaysia and Singapore. This condition causes the Pontianak o en visited by travelers from neighboring countries either intentionally been to Pontianak Municipality and those who simply stopped to proceed to the main destinations in Indonesia other region. If traced far back on the history, basically Pontianak was designed to be a commercial city. Pontianak expertencing rapid development when VOC entrance and made an agreement with the ruler of Pontianak sultanate. As a follow up of the agreement, they established government offices and also the castle to support the political act wities in Pontianak. Along with the rapid growth of the Pontianak city, various ethnic groups from within and outside the island ofBorneo began to arrive. The arrival of the various ethnic groups making Pontianak as one of the cities where the population is heterogeneous. Today, Pontianak is much visited various ethnic groups from various regions in Indonesia. Ethnic groups who live in Pontianak, among others are Malay, Dayak, Chinese, Javanese, Batak, Bugis, Madurese, Banjar, Sunda, Bali, etc. Various ethnic coexistence between ethnic group and mingle with one another. Conditions heterogeneous society in Pontianak do not necessarily give birth to plurality. Sometimes it appears regionalist sentiment either of those claiming to be local residents as well as those who are considered immigrants even though it is not exposed directly but has the potential to become a problem in the future.
MEMBACA LIRIK LAGU POPULER INDONESIA: PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN BAHASA Bayuardi, Galuh
Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya Volume 2, Nomor 1, Desember 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (788.964 KB) | DOI: 10.33652/handep.v2i1.26

Abstract

Lirik lagu populer merupakan produk budaya populer yang dapat menyampaikan pesan dan gagasan dari penciptanya kepada para penyimak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan teknologi komunikasi dan bahasa yang terekam dalam lirik lagu populer. Prosedur penelitian yang dilakukan meliputi tahap seleksi dan konfirmasi lagu-lagu yang liriknya akan dikaji, melakukan reading text untuk menemukan teks-teks yang terkait dengan penggunaan alat komunikasi dan bahasa, serta melakukan analisis intertekstual terhadap teks (lirik lagu) yang diambil dari lagu yang berbeda untuk mengamati adanya hubungan antarteks. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa perkembangan teknologi komunikasi dapat ditelusuri melalui lirik-lirik lagu populer Indonesia, mulai dari radio amatir, telepon kabel, radio, pager, telepon seluler dengan pesan teks, jaringan internet hingga media sosial. Perkembangan bahasa sebagai implikasi dari penggunaan teknologi komunikasi ditunjukkan melalui penggunaan bahasa khusus dalam berkomunikasi yang muncul dalam bentuk istilah, kode, ungkapan, dan kosakata baru. Intertekstualitas yang terdapat dalam beberapa lagu-populer menggambarkan adanya kemiripan situasi, yakni proses perkenalan dan hubungan percintaan yang terbangun melalui penggunaan alat dan media komunikasi, serta perasaan yang disebabkan oleh gangguan bunyi alat komunikasi.
KINSHIP OF BIDAYUH DAYAK ETHNIC AT THE BORDER OF ENTIKONG-INDONESIA AND TEBEDU-MALAYSIA Efriani, Efriani; Hasanah, Hasanah; Bayuardi, Galuh
ETNOSIA : Jurnal Etnografi Indonesia Vol.5. No.1. Juni 2020
Publisher : Department Anthropology, Faculty of Social and Political Sciences Hasanuddin University.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31947/etnosia.v5i1.8300

Abstract

This study of Dayak Bidayuh ethnic kinship system at the boundaries of Entikong and Tebedu is based on the issue of border area development, the issue of cultural extinction and cultural values, as well as the issue of cultural claims and cultural values. Besides, the existence of Bidayuh ethnic groups spread across Indonesia and Malaysia has become interesting to study and describe. The study used qualitative method by interviewing and observing people of Dayak Bidayuh in Sontas-Indonesia and Bidayauh in Entubuh-Malaysia. Based on the concept of kinship and border studies, this study shows that (1) Bidayuh Sontas Kinship System refers to the concept of kinship system with a unilateral lineage pattern, so that the Bidayuh Sontas nuclear family is part of an extended family; (2) Bidayuh Sontas has a transnational kinship pattern with Entubuh-Malaysia Bidayuh; (3) The presence of the State is the cause of the separation of Bidayuh Sontas citizenship from Bidayuh Entubuh; (4) When there is a marriage between them, the citizenship must be determined; and (5) Transnational kinship Bidayuh at the Entikong-Indonesia and Tebedu-Malaysia Border as a socio-cultural space phenomenon. An ethnic community that existed before the presence of state?s border is still continuing their daily lives, even though they have been constructed into different nationalities.
KETERLIBATAN AKADEMISI DALAM MENANGGULANGI DAMPAK COVID-19 TERHADAP MASYARAKAT MELALUI AKSI BERBAGI SEMBAKO Herlan, Herlan; Efriani, Efriani; Sikwan, Agus; Hasanah, Hasanah; Bayuardi, Galuh; Listiani, Endang Indri; Yulianti, Yulianti
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 3, No 2 (2020): JULI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.078 KB) | DOI: 10.31764/jces.v3i2.2314

Abstract

Abstrak: Aspek ekonomi menerima dampak ±60% dari bencana pandemi. Dampak ini umumnya merupakan bagain dari  proses  tindakan pencegahan dan pengendalian terhadap penyebaran Virus. Indonesia merupakan satu negara yang sedang dilanda bencana pandemi Covid-19. Berbagai kebijakan dalam upaya pencegahan telah dilakukan oleh pemerintah, yang berdampak pada aspek ekonomi masyarakat. Masyarakat pedesaan merupakan masyarakat yang rentan mengalami resiko kerugian akibat pandemi Covid-19. Oleh karena itu, pengabdian ini bertujuan untuk meringankan dampak pandemi Covid-19 terhadap masyarakat di beberapa desa yang menerima dampak dari kebijakan pencegahan penyebaran Covid-19. Pengabdian ini menjadi satu wujud nyata keterlibatan akademisi dalam mengurangi dampak Covid-19 terhadap masyarakat di pedesaan. Pengabdian ini menggunakan model kolaborasi sebagai metode dalam pelaksanaannya. Hasil dari kegiatan ini terdapat 400 keluarga yang mendapat dampak ekonomi dari pandemi Covid-19 yang tersebar di tiga desa. Pengabdian kepada masyarakat dengan model kolaborasi dinilai sebagai tindakan yang baik dalam mewujudkan keterlibatan perguruan tinggi dengan tetap melakukan social distancing.Abstract: Economic aspects received ± 60% of the impact of a pandemic disaster. This impact is generally part of the process of preventing and controlling the spread of the virus. Indonesia is a country that is being hit by the Covid-19 pandemic disaster. Various policies in prevention have been carried out by the government, which have an impact on the economic aspects of society. Rural communities are vulnerable to the risk of loss due to Covid-19 pandemic. Therefore, this service aims to mitigate the impact of the Covid-19 pandemic on communities in several villages that received the impact of the policy of preventing the spread of Covid-19. This service became a tangible manifestation of academic involvement in reducing the impact of Covid-19 on rural communities. This service uses the collaboration model as a method of implementation. As a result of this activity, 400 families were affected by the economic impact of the Covid-19 pandemic in three villages. Community service with a collaboration model is considered as a good action in realizing university involvement while continuing to do the social distance.