Ahmad Shams Madyan, Ahmad Shams
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENELUSURAN SEJARAH AL-QUR’AN VERSI ORIENTALIS: SEBUAH GAMBARAN METODOLOGIS Madyan, Ahmad Shams
EMPIRISMA: JURNAL PEMIKIRAN DAN KEBUDAYAAN ISLAM Vol 24, No 1 (2015): Al-Qur'an dan Paradigma Tafsir
Publisher : STAIN Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/empirisma.v24i1.3

Abstract

Although being defined as a scholarly knowledge of Eastern cultures and languages, Orientalism seemed to be confined to a mere discussion on Islam. Orientalist’s hostorical approaches toward the Qur’an have raised heated debates among Muslims. As an approach, Orientalism is not a free value, rather it containes ideology-based accounts despite of its alledgedly scientific nature. This paper attempts to answer whether or not Orientalism’s historical method of interpreting the Qur’an is really scientific or it needs to be countered and criticized.Keywords: Orientalisme, al-Qur’an, Autentisitas
The Re-Production of Discourse, the Exercise of Power, and the Creation of Piety in the Issue of HIV/AIDS and Islam in Indonesia Madyan, Ahmad Shams
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol 3 No 2 (2013): September
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.401 KB)

Abstract

AIDS dipahami oleh mayoritas orang Islam Indonesia sebagai sebuah bentuk balasan tuhan, aib keluarga, hukuman homoseksual atau laknat tuhan. Pada kenyataannya, melalui fatwâ dan khotbah terkait AIDS, Muslim yang terjangkit penyakit HIV &AIDS diasingkan dari wilayah kesalehan Islam dengan ditempatkan dalam kategori berbeda melalui kekuasaan agama. Makalah ini hendak menawarkan pendekatan analisis-evaluatif dalam melihat respons (ajaran) Islam terhadap orang-orang Muslim yang positif terkena HIV di Indonesia. Artikel ini juga akan melihat landasan logis dari lahirnya kategorisasi dan identifikasi kelas-kelas sosial yang kemudian dikenal dengan nama MLWHA (Muslims Living with HIV and AIDS). Makalah ini juga berusaha mengurai kategori-kategori MLWHA yang sebenarnya dikonstruksi oleh “pemegang otoritas” yang mewakili umat Muslim Indonesia, yakni MUI (Majelis Ulama Indonesia). Lembaga ini mengeluarkan fatwâ terkait dengan HIV dan AIDS pada tahun 1995, yang kemudian dikenal sebagai Tadzkirah Bandung. Melalui fatwâ tersebut MUI mengklasifikasi Muslim Indonesia ke dalam tiga kategori: (1) Mereka yang terkena HIV dan AIDS, (2) mereka yang berisiko terkena HIV, dan (3) umat Muslim secara umum. Artikel ini bermaksud menjelaskan relasi kekuasaan yang melatari lahirnya kategori sosial tersebut. Ini untuk memahami dampak individu dan sosialdari munculnya klasifikasi di atas. 
THE RE-PRODUCTION OF DISCOURSE, THE EXERCISE OF POWER, AND THE CREATION OF PIETY IN THE ISSUE OF HIV/AIDS AND ISLAM IN INDONESIA Madyan, Ahmad Shams
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 3 No. 2 (2013): September
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.401 KB)

Abstract

AIDS dipahami oleh mayoritas orang Islam Indonesia sebagai sebuah bentuk balasan tuhan, aib keluarga, hukuman homoseksual atau laknat tuhan. Pada kenyataannya, melalui fatwâ dan khotbah terkait AIDS, Muslim yang terjangkit penyakit HIV &AIDS diasingkan dari wilayah kesalehan Islam dengan ditempatkan dalam kategori berbeda melalui kekuasaan agama. Makalah ini hendak menawarkan pendekatan analisis-evaluatif dalam melihat respons (ajaran) Islam terhadap orang-orang Muslim yang positif terkena HIV di Indonesia. Artikel ini juga akan melihat landasan logis dari lahirnya kategorisasi dan identifikasi kelas-kelas sosial yang kemudian dikenal dengan nama MLWHA (Muslims Living with HIV and AIDS). Makalah ini juga berusaha mengurai kategori-kategori MLWHA yang sebenarnya dikonstruksi oleh ?pemegang otoritas? yang mewakili umat Muslim Indonesia, yakni MUI (Majelis Ulama Indonesia). Lembaga ini mengeluarkan fatwâ terkait dengan HIV dan AIDS pada tahun 1995, yang kemudian dikenal sebagai Tadzkirah Bandung. Melalui fatwâ tersebut MUI mengklasifikasi Muslim Indonesia ke dalam tiga kategori: (1) Mereka yang terkena HIV dan AIDS, (2) mereka yang berisiko terkena HIV, dan (3) umat Muslim secara umum. Artikel ini bermaksud menjelaskan relasi kekuasaan yang melatari lahirnya kategori sosial tersebut. Ini untuk memahami dampak individu dan sosialdari munculnya klasifikasi di atas.