Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Analisis Risiko Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki pada Pasien Lanjut Usia di Rumah Sakit Umum Surabaya Herawati, Fauna; Utomo, Andri
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.815 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2016.5.2.98

Abstract

Orang lanjut usia memiliki risiko tujuh kali lebih besar mengalami Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD) dibandingkan dengan orang yang lebih muda. Penelitian yang dilakukan di rumah sakit di Irlandia melaporkan bahwa kejadian ROTD pada pasien lanjut usia sebesar 26%. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat tingkat risiko ROTD dan jenis obat yang digunakan pada pasien lanjut usia rawat inap di RSUD Dr. Moh. Soewandhie Surabaya Periode November–Desember 2014 dengan alat Gerontonet Score dan kriteria Screening Tool of Older People’s Prescriptions (STOPP). Penelitian ini merupakan studi potong lintang dengan jumlah responden 42 orang. Gerontonet score dan kriteria STOPP digunakan untuk melihat tingkat risiko dan jenis obat yang dapat meningkatkan ROTD. Gerontonet score terdiri dari 6 variabel (≥4 comorbid, gagal jantung, gangguan liver, jumlah obat, riwayat ROTD, dan gangguan ginjal); skor ≥4 menunjukkan pasien yang berisiko tinggi mengalami ROTD. Hasil penelitian menunjukkan variabel yang paling banyak menentukan skor adalah GFR ≤60 mL/menit/1,73 m2 dan jumlah obat yang diterima pasien; 15 orang memiliki risiko tinggi (skor ≥4) mengalami ROTD; dan 9,7% (6/62) jenis obat yang termasuk dalam kriteria STOPP, yaitu: furosemid, aspirin, digoksin, dan golongan OAINS (diklofenak, ketoprofen, dan meloksikam). Jadi, GFR ≤60 mL/menit/1,73 m2 dan jumlah obat merupakan faktor risiko yang dapat meningkatkan ROTD.Kata kunci: Gerontonet score, kriteria STOPP, lanjut usia, ROTD Analysis of the Risk of Adverse Drug Reaction on Elderly Patients in General Hospital Surabaya Abstract Elderly people have the risk of adverse drug reaction (ADR) seven times as high as the adult ones. A research conducted in one of the hospitals in Ireland reported that the incident of ADR was 26%. The objective of this study was to find out the level of ADR risk and types of drugs used to treat elderly inpatients in Dr. Moh. Soewandhi General Hospital Surabaya for the period of November–Desember 2014 utilizing gerontonet score and Screening Tool of Older People’s Prescriptions (STOPP) criteria. The method of this research is cross sectional with a total of 42 participants. In this study, gerontonet score and STOPP criteria was used to analyze the data in order to determine the level of risk and types of drugs. Gerontonet score consists of 6 variables (>4 comorbid, heart failure, liver disorder, amount of drug, history of ADR, and kidney failure); score of ≥4 at presentation identified that the patient is at high risk of ADR. The result of this study showed the variables that mostly determine score was GFR ≤60 mL/min/1,73 m2; 15 participant at high risk of ADR (≥4); and amount of drugs used for treatments; and 9,7% (6/62) kind of drugs used for treatments was included in STOPP criteria: furosemide, aspirin, digoxin, and NSAID (diclofenac, ketoprofen, and meloxicam). The conclusion of this study showed GFR ≤60 mL/min/1,73 m2 and amount of drugs used for treatments increased the risk of ADR.Key words: ADR, elderly, Gerontonet score, STOPP criteria
Evaluasi Penggunaan Antibiotik dan Profil Kuman pada Seksio Sesarea di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Pasuruan Yulia, Rika; Herawati, Fauna; Jaelani, Abdul K.; Anggraini, Wirda
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.967 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2018.7.2.69

Abstract

Infeksi Luka Operasi (ILO) adalah salah satu komplikasi pembedahan yang paling umum terjadi di dunia, terutama di negara berkembang. Penggunaan antibiotik profilaksis sebelum operasi yang tepat dapat mengurangi ILO. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil penggunaan antibiotik dan kesesuaian penggunaan antibiotik pada seksio sesarea dengan peta kuman rumah sakit, Pedoman Penggunaan Antibiotik (PPAB) 2016, Formularium Rumah Sakit (RS), Formularium Nasional (Fornas), serta mengidentifikasi profil kuman penyebab ILO pada luka pasien. Metode penelitian menggunakan metode cohort prospective melalui penelusuran data terhadap rekam medik pasien yang menjalani tindakan operasi seksio sesarea di salah satu rumah sakit di Kabupaten Pasuruan periode Maret–Mei 2017, yaitu data penggunaan antibiotik (jenis antibiotik, dosis, waktu pemberian) dan data peta kuman bulan Januari–Maret 2017 terkait resistensi antibiotik. Analisis data berupa deskripsi profil penggunaan antibiotik, kesesuaian penggunaan antibiotik pada pasien seksio sesarea dengan pedoman, dan profil kuman penyebab ILO. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik pada pasien seksio sesarea adalah ampisilin/sulbaktam 37%, sefuroksim 34%, seftriakson 24%, sefazolin 5%, metronidazol 1%, dan gentamisin 1%. Kesesuaian berdasarkan jenis antibiotik secara berturut-turut 5% berdasarkan PPAB, 100% berdasarkan Formularium RS dan 63% berdasarkan Fornas. Hal ini disebabkan oleh pola sensitivitas sefazolin berdasarkan peta kuman bulan Januari–Maret 2017 semakin menurun. Kesesuaian berdasarkan dosis antibiotik 100% sesuai berdasarkan PPAB, Formularium RS dan Fornas. Kesesuaian berdasarkan dosis antibiotik dan waktu pemberian 92% sesuai berdasarkan PPAB. Kuman yang ditemukan pada luka pasien adalah bakteri Hafnia alvei.Kata kunci: Antibiotik profilaksis, Infeksi Luka Operasi, seksio sesarea Evaluation of Antibiotics Use and Bacteria Profile of Caesarean Section at Regional General Hospital, PasuruanAbstractSurgical Site Infection (SSI) is one of the most common surgical complications in the world, especially in developing countries. Proper use of prophylaxis antibiotics in appropriate intraoperative procedures may reduce SSI. The aim of this study was to determine the profile of antibiotic used and the adherence of antibiotic in caesarean section to Hospital Guideline 2016, Hospital Formulary, National Formulary, bacteria profile that cause SSI on the patient’s wound. Method used in this study was cohort prospective study design using record data of patients who underwent caesarean section surgery at Regional General Hospital of Pasuruan from March–May 2017, i.e. antibiotics usage data (type, dosage and time of delivery) and microbial pattern data about antibiotic resistance from January–March 2017. Data analysis was description of the profile of antibiotic use, adherence use of antibiotic of caesarean section inpatients to the guidelines, and profile of bacteria that cause SSI. The results showed that the use of antibiotics in caesarean section patients was ampicillin/sulbactam 37%, cefuroxime 34%, ceftriaxone 24%, cefazolin 5%, metronidazole 1%, and gentamycin 1%. Adherence by type of antibiotics was 5% based on Hospital Guideline, 100% based on Hospital Formulary and 63% based on National Formulary. This was due to a decrease of cefazolin sensitivity pattern from 20% to 0% in January–March 2017 period. Adherence of antibiotic dosage was 100% based on Hospital Guideline, Hospital Formulary and National Formulary. Adherence of time of delivery 92% was based on Hospital Guideline. Bacteria found in the wounds of patients was Hafnia alvei.Keywords: Caesarean section, prophylaxis antibiotic, surgical site infection
Influence of historical use of antibiotics toward antibiotic resistance Alkindi, Fawandi Fuad; Yulia, Rika; Herawati, Fauna; Jaelani, Abdul Kadir
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol 4, No 1 (2019): April
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (955.669 KB) | DOI: 10.22219/farmasains.v4i1.7901

Abstract

A WHO’s Global Surveillance of Antibiotic Resistance showed there is an increase of antimicrobial resistance in Asia between 2013 until 2014. Many studies showed that there is a correlation between prior antibiotic use with antimicrobial resistance case. The primary objective of this study is to analyze the relationship between prior antibiotic use with antimicrobial resistance. İt was a retrospective and descriptive study conducted at Bangil Regional General Hospital. The data collected from the medical record and microbiological test from the patient at the internal ward. Chi-square analysis used for the statistic. This study showed that prior antibiotic use increased 0,399 bigger for antimicrobial resistance rate (p=0,001). 
The Relation between Knowledge and Belief with Adult Patient’s Antibiotics Use Adherence Nuraini, April; Yulia, Rika; Herawati, Fauna; Setiasih, Setiasih
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 8, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (671.097 KB) | DOI: 10.22146/jmpf.37441

Abstract

The inappropriate use of antibiotics has resulted in bacterial resistance to antibiotics. One of the factors supporting this phenomenon is the lack of patient knowledge and belief of antibiotics. The study aimed to know the relationship between knowledge and belief with adherence in using antibiotics in adult patients at Syarifah Ambami Rato Ebu Hospital, Bangkalan, based on the Health Belief Model theory. This research is observational analysis using cross-sectional study. There were 103 patients chosen by incidental sampling. Data collection about knowledge was obtained through questionnaires containing 13 questions, while one about belief used a questionnaire containing 30 valid and reliable questions. Adherence was measured by the pill count method. The relationship between knowledge and belief to adherence was analyzed using logistic regression test. The relationship between demography and adherence was analyzed using Spearman correlation test with α = 0.05. The result of this research shows that most patients had sufficient knowledge (57,2%), sufficient belief (69,9%) and adherence (55,3%). There was a significant relationship between knowledge with adherence in the use of antibiotics (p = 0.011) and a significant relationship between belief and adherence in the use of antibiotics (p = 0.046). In terms of belief, perceived benefits have a significant effect on adherence. The conclusions of this study is that there is a relationship between knowledge and belief with adherence in the use of antibiotics and in accordance with health belief model (HBM) theory.
The Relation between Knowledge and Belief with Adult Patient’s Antibiotics Use Adherence Nuraini, April; Yulia, Rika; Herawati, Fauna; Setiasih, Setiasih
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 8, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.485 KB) | DOI: 10.22146/jmpf.37441

Abstract

The inappropriate use of antibiotics has resulted in bacterial resistance to antibiotics. One of the factors supporting this phenomenon is the lack of patient knowledge and belief of antibiotics. The study aimed to know the relationship between knowledge and belief with adherence in using antibiotics in adult patients at Syarifah Ambami Rato Ebu Hospital, Bangkalan, based on the Health Belief Model theory. This research is observational analysis using cross-sectional study. There were 103 patients chosen by incidental sampling. Data collection about knowledge was obtained through questionnaires containing 13 questions, while one about belief used a questionnaire containing 30 valid and reliable questions. Adherence was measured by the pill count method. The relationship between knowledge and belief to adherence was analyzed using logistic regression test. The relationship between demography and adherence was analyzed using Spearman correlation test with α = 0.05. The result of this research shows that most patients had sufficient knowledge (57,2%), sufficient belief (69,9%) and adherence (55,3%). There was a significant relationship between knowledge with adherence in the use of antibiotics (p = 0.011) and a significant relationship between belief and adherence in the use of antibiotics (p = 0.046). In terms of belief, perceived benefits have a significant effect on adherence. The conclusions of this study is that there is a relationship between knowledge and belief with adherence in the use of antibiotics and in accordance with health belief model (HBM) theory.
Tingkat kesepahaman masalah terkait obat antara dokter dan apoteker di apotik Herawati, Fauna; Astrini, Ni Nyoman Yuni; Wirasuta, I Made Agus Gelgel
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 9, No 1 (2017): Punica Granatum
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK: Kolaborasi antar tenaga kesehatan diperlukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada pasien. Kolaborasi antar tenaga kesehatan didefinisikan sebagai profesional tenaga kesehatan dengan peran yang saling melengkapi dan kooperatif bekerja sama, berbagi tanggung jawab untuk pemecahan masalah dan pengambilan keputusan untuk merumuskan dan melaksanakan rencana perawatan pasien; demikian pula dalam kolaborasi dokter dan apoteker, diperlukan kesepahaman tentang masalah terkait obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kesepahaman dokter-apoteker di klinik pada periode September-Oktober 2013. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dan dilakukan di salah satu apotek di Bali yang bekerja sama dengan dokter spesialis penyakit dalam. Sampel penelitian adalah resep dokter spesialis penyakit dalam dan pengambilan resep dilakukan secara consecutive sampling. Jumlah sampel yang berhasil diperoleh berjumlah 102 lembar resep pasien diabetes melitus rawat jalan yang akan di analisis melalui 3 tahap dengan menggunakan elemen MTM, PCNE versi 6.2, dan kappa agreement. Hasil analisis menunjukkan tingkat kesepahaman (κ) sebesar  0,84. Kesepahaman antara dokter dan apoteker tentang masalah terkait obat cukup tinggi (95% sepaham); ketidaksepahaman terutama terkait aspek farmasetik, oleh karena itu apoteker perlu meningkatkan pengetahuan agar dapat berkontribusi dalam kolaborasi tersebut. Apoteker dalam kolaborasi interprofesional dapat berperan dalam pengaturan dosis, identifikasi efek samping, rekonsialiasi pengobatan, dan memberikan rekomendasi terapi berbasis bukti.
Analisis Risiko Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki pada Pasien Lanjut Usia di Rumah Sakit Umum Surabaya Herawati, Fauna; Utomo, Andri
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.09 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2016.5.2.98

Abstract

Orang lanjut usia memiliki risiko tujuh kali lebih besar mengalami Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD) dibandingkan dengan orang yang lebih muda. Penelitian yang dilakukan di rumah sakit di Irlandia melaporkan bahwa kejadian ROTD pada pasien lanjut usia sebesar 26%. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat tingkat risiko ROTD dan jenis obat yang digunakan pada pasien lanjut usia rawat inap di RSUD Dr. Moh. Soewandhie Surabaya Periode November–Desember 2014 dengan alat Gerontonet Score dan kriteria Screening Tool of Older People’s Prescriptions (STOPP). Penelitian ini merupakan studi potong lintang dengan jumlah responden 42 orang. Gerontonet score dan kriteria STOPP digunakan untuk melihat tingkat risiko dan jenis obat yang dapat meningkatkan ROTD. Gerontonet score terdiri dari 6 variabel (≥4 comorbid, gagal jantung, gangguan liver, jumlah obat, riwayat ROTD, dan gangguan ginjal); skor ≥4 menunjukkan pasien yang berisiko tinggi mengalami ROTD. Hasil penelitian menunjukkan variabel yang paling banyak menentukan skor adalah GFR ≤60 mL/menit/1,73 m2 dan jumlah obat yang diterima pasien; 15 orang memiliki risiko tinggi (skor ≥4) mengalami ROTD; dan 9,7% (6/62) jenis obat yang termasuk dalam kriteria STOPP, yaitu: furosemid, aspirin, digoksin, dan golongan OAINS (diklofenak, ketoprofen, dan meloksikam). Jadi, GFR ≤60 mL/menit/1,73 m2 dan jumlah obat merupakan faktor risiko yang dapat meningkatkan ROTD.Kata kunci: Gerontonet score, kriteria STOPP, lanjut usia, ROTD Analysis of the Risk of Adverse Drug Reaction on Elderly Patients in General Hospital Surabaya Abstract Elderly people have the risk of adverse drug reaction (ADR) seven times as high as the adult ones. A research conducted in one of the hospitals in Ireland reported that the incident of ADR was 26%. The objective of this study was to find out the level of ADR risk and types of drugs used to treat elderly inpatients in Dr. Moh. Soewandhi General Hospital Surabaya for the period of November–Desember 2014 utilizing gerontonet score and Screening Tool of Older People’s Prescriptions (STOPP) criteria. The method of this research is cross sectional with a total of 42 participants. In this study, gerontonet score and STOPP criteria was used to analyze the data in order to determine the level of risk and types of drugs. Gerontonet score consists of 6 variables (>4 comorbid, heart failure, liver disorder, amount of drug, history of ADR, and kidney failure); score of ≥4 at presentation identified that the patient is at high risk of ADR. The result of this study showed the variables that mostly determine score was GFR ≤60 mL/min/1,73 m2; 15 participant at high risk of ADR (≥4); and amount of drugs used for treatments; and 9,7% (6/62) kind of drugs used for treatments was included in STOPP criteria: furosemide, aspirin, digoxin, and NSAID (diclofenac, ketoprofen, and meloxicam). The conclusion of this study showed GFR ≤60 mL/min/1,73 m2 and amount of drugs used for treatments increased the risk of ADR.Key words: ADR, elderly, Gerontonet score, STOPP criteria
Evaluasi Penggunaan Antibiotik dan Profil Kuman pada Seksio Sesarea di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Pasuruan Yulia, Rika; Herawati, Fauna; Jaelani, Abdul K.; Anggraini, Wirda
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.91 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2018.7.2.69

Abstract

Infeksi Luka Operasi (ILO) adalah salah satu komplikasi pembedahan yang paling umum terjadi di dunia, terutama di negara berkembang. Penggunaan antibiotik profilaksis sebelum operasi yang tepat dapat mengurangi ILO. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil penggunaan antibiotik dan kesesuaian penggunaan antibiotik pada seksio sesarea dengan peta kuman rumah sakit, Pedoman Penggunaan Antibiotik (PPAB) 2016, Formularium Rumah Sakit (RS), Formularium Nasional (Fornas), serta mengidentifikasi profil kuman penyebab ILO pada luka pasien. Metode penelitian menggunakan metode cohort prospective melalui penelusuran data terhadap rekam medik pasien yang menjalani tindakan operasi seksio sesarea di salah satu rumah sakit di Kabupaten Pasuruan periode Maret–Mei 2017, yaitu data penggunaan antibiotik (jenis antibiotik, dosis, waktu pemberian) dan data peta kuman bulan Januari–Maret 2017 terkait resistensi antibiotik. Analisis data berupa deskripsi profil penggunaan antibiotik, kesesuaian penggunaan antibiotik pada pasien seksio sesarea dengan pedoman, dan profil kuman penyebab ILO. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik pada pasien seksio sesarea adalah ampisilin/sulbaktam 37%, sefuroksim 34%, seftriakson 24%, sefazolin 5%, metronidazol 1%, dan gentamisin 1%. Kesesuaian berdasarkan jenis antibiotik secara berturut-turut 5% berdasarkan PPAB, 100% berdasarkan Formularium RS dan 63% berdasarkan Fornas. Hal ini disebabkan oleh pola sensitivitas sefazolin berdasarkan peta kuman bulan Januari–Maret 2017 semakin menurun. Kesesuaian berdasarkan dosis antibiotik 100% sesuai berdasarkan PPAB, Formularium RS dan Fornas. Kesesuaian berdasarkan dosis antibiotik dan waktu pemberian 92% sesuai berdasarkan PPAB. Kuman yang ditemukan pada luka pasien adalah bakteri Hafnia alvei.Kata kunci: Antibiotik profilaksis, Infeksi Luka Operasi, seksio sesarea Evaluation of Antibiotics Use and Bacteria Profile of Caesarean Section at Regional General Hospital, PasuruanAbstractSurgical Site Infection (SSI) is one of the most common surgical complications in the world, especially in developing countries. Proper use of prophylaxis antibiotics in appropriate intraoperative procedures may reduce SSI. The aim of this study was to determine the profile of antibiotic used and the adherence of antibiotic in caesarean section to Hospital Guideline 2016, Hospital Formulary, National Formulary, bacteria profile that cause SSI on the patient’s wound. Method used in this study was cohort prospective study design using record data of patients who underwent caesarean section surgery at Regional General Hospital of Pasuruan from March–May 2017, i.e. antibiotics usage data (type, dosage and time of delivery) and microbial pattern data about antibiotic resistance from January–March 2017. Data analysis was description of the profile of antibiotic use, adherence use of antibiotic of caesarean section inpatients to the guidelines, and profile of bacteria that cause SSI. The results showed that the use of antibiotics in caesarean section patients was ampicillin/sulbactam 37%, cefuroxime 34%, ceftriaxone 24%, cefazolin 5%, metronidazole 1%, and gentamycin 1%. Adherence by type of antibiotics was 5% based on Hospital Guideline, 100% based on Hospital Formulary and 63% based on National Formulary. This was due to a decrease of cefazolin sensitivity pattern from 20% to 0% in January–March 2017 period. Adherence of antibiotic dosage was 100% based on Hospital Guideline, Hospital Formulary and National Formulary. Adherence of time of delivery 92% was based on Hospital Guideline. Bacteria found in the wounds of patients was Hafnia alvei.Keywords: Caesarean section, prophylaxis antibiotic, surgical site infection
Tingkat Kesepahaman Masalah terkait Obat antara Dokter dan Apoteker di Apotek Herawati, Fauna; Astrini, Ni Nyoman Yuni; Wirasuta, I Made Agus Gelgel
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 1 No. 2 (2016): DECEMBER
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.534 KB) | DOI: 10.24123/mpi.v1i2.190

Abstract

Kolaborasi antar tenaga kesehatan diperlukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatankepada pasien. Kolaborasi antar tenaga kesehatan didefinisikan sebagai profesional tenaga kesehatandengan peran yang saling melengkapi dan kooperatif bekerja sama, berbagi tanggung jawab untukpemecahan masalah dan pengambilan keputusan untuk merumuskan dan melaksanakan rencanaperawatan pasien; demikian pula dalam kolaborasi dokter dan apoteker, diperlukan kesepahamantentang masalah terkait obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kesepahaman dokter-apoteker di klinik pada periode September-Oktober 2013. Penelitian ini menggunakan metodedeskriptif observasional dan dilakukan di salah satu apotek di Bali yang bekerja sama dengan dokterspesialis penyakit dalam. Sampel penelitian adalah resep dokter spesialis penyakit dalam untukpasien diabetes mellitus (DM) dan pengambilan resep dilakukan secara consecutive sampling. Jumlahsampel yang berhasil diperoleh berjumlah 102 lembar resep pasien diabetes melitus rawat jalanyang akan dianalisis melalui 3 tahap dengan menggunakan elemen medication therapy management(MTM), daftar periksa the Pharmaceutical Care Network Europe (PCNE) versi 6.2, dan kappa agreement.Hasil analisis menunjukkan tingkat kesepahaman (κ) sebesar 0,84. Kesepahaman antara dokterdan apoteker tentang masalah terkait obat sangat baik (95% sepaham); ketidaksepahaman terutamaterkait pertimbangan klinis penggunaan obat dan kepatuhan pasien, oleh karena itu apotekerperlu meningkatkan pengetahuan agar dapat berkontribusi dalam kolaborasi tersebut. Apotekerdalam kolaborasi interprofesional dapat berperan dalam pengaturan dosis, identifikasi efek samping,rekonsiliasi pengobatan, dan memberikan rekomendasi terapi berbasis bukti.
Penggunaan Analgesik untuk Perawatan Paliatif Pasien Kanker di Poli Paliatif Puskesmas di Kota Surabaya Herawati, Fauna; Pratiwi, Vina Fitriana
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 2 No. 1 (2018): JUNE
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.177 KB) | DOI: 10.24123/mpi.v2i1.1298

Abstract

Gejala paling umum dan menyedihkan pada pasien kanker adalah nyeri. Oleh karena itu telah dilakukanpenelitian yang bertujuan untuk mengetahui profil penggunaan analgesik dan mengevaluasi tingkatkualitas hidup pasien kanker setelah mendapatkan perawatan paliatif dengan alat ukur nyeri berupa kuesionerBrief Pain Inventory (BPI) dan kuesioner Indonesian Barrier Quetionnaire (IBQ). Penelitian ini adalah noneksperimentaldengan rancangan penelitian cross sectional. Pasien kanker diberikan alat ukur nyeri dan kuesionerpada saat datang ke Puskesmas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil penggunaan analgesik padapasien kanker sudah sesuai dengan pedoman bebas nyeri WHO yaitu step 2 pengobatan untuk nyeri ringan hinggasedang dengan obat yang digunakan kombinasi antara kodein dan parasetamol. Kualitas hidup pasien kankeryang telah menerima perawatan paliatif sudah cukup baik, diukur menggunakan alat ukur untuk penilaiannyeri, BPI, terlihat bahwa nyeri yang dirasakan adalah nyeri ringan dengan hasil penilaian 0,8322 serta diukurmenggunakan kuesioner IBQ dapat terlihat hambatan yang terjadi adalah kecil dengan hasil penilaian 0,432.