Ardiyasa, I Putu
Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kepercayaan Interpersonal: Keberlanjutan Pengelolaan Organisasi Papermoon Puppet Theatre Ardiyasa, I Putu
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 2, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.44 KB) | DOI: 10.24821/jtks.v2i1.1812

Abstract

Bagaimana membangun kepercayaan organisasi seni pertunjukan? Sebagai organsiasi yang memberdayakan “jasa” pertunjukan, pengelolaan organisasi selalu mengacu pada kehadiran penonton, sehingga sangat membutuhkan hadirnya kepercayaan penonton kepada organisasi yang berkelanjutan. Organisai seni pertunjukan cenderung tidak memperhatikan aspek kepercayaan, organisasi lebih fokus pada karya. Oleh sebab itu, penelitian ini mengajukan suatu klasifikasi model kepercayaan interpersonal pada keberlanjutan pengelolaan organisasi Papermoon Puppet Theatre. Sembilan orang narasumber diwawancarai untuk mendapatkan informasi terkait topik penelitian tersebut. Hasilnya menunjukkan terdapat kepercayaan internal dan eksternal organisasi. Terdapat tiga aspek penting yang harus diberdayakan dalam membangun kepercayaan, yaitu seniman, kesenian, dan masyarakat. How to build the trust of a performing arts organization? As an organization that empowers the services of the show, organizational management always refers to the presence of the audience, thus requiring the presence of trust in the audience to a sustainable organization. The performing arts organizations tend not to pay attention to the aspect of trust, the organization focuses more on the work. Therefore, this study proposes a classification of interpersonal trust models on the sustainability of the Papermoon Puppet Theater organization. Nine resource persons were interviewed for information related to the research topic. The results show there are internal and external organizational confidence. There are three important aspects that must be empowered in building trust, namely artists, art, and society.
STRATEGI PENGELOLAAN SANGGAR SENI ANACARAKA DALAM MEWADAHI BAKAT ANAK-ANAK DI PEGUNUNGAN KINTAMANI BALI Ardiyasa, I Putu
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 1, No 2 (2015): Desember
Publisher : Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.621 KB) | DOI: 10.24821/jtks.v1i2.1639

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang pengelolaan Sanggar Seni Anacaraka dalam upaya mewadahi bakat anak-anak di Kintamani, Bali. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab dua permasalahan yang diajukan : pertama strategi apa yang semestinya diterapkan oleh pengelola dalam rangka menjaga eksistensi di tengah persaingan global; kedua bagaimana rancangan penerapan strategi pada Sanggar Seni Anacaraka. Untuk membedah permasalahan tersebut, digunakan pendekatan kualitatif, dengan menggunakan alat pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Analisis data dilakukan dengan metode SWOT untuk mengkaji permasalahan baik dalam lingkup internal dan eksternal. Sumber data diperoleh di lokasi penelitian dengan menentukan key person yang berkompeten dan sumber data tertulis yang mendukung dan relevan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Sanggar Seni Anacaraka perlu melakukan pemilihan strategi berupa penggunaan setiap kekuatan (strenght) untuk menghadapi segala ancaman (treath) dengan melakukan penetrasi pasar, pengembangan pasar, pengembangan produk dan diversifikasi terkait. Selain itu, pengelolaan Sanggar Seni Anacaraka menggunakan strategi tumbuh dan membangun karena posisi sanggar yang baru berdiri dan belum memiliki kekuatan yang bisa mendukung pembangunan sanggar. Bentuk edukasi seperti ini akan terus berkembang dengan keterlibatan masyarakat dan pemerintah bersama pihak pengelola, sehingga ke depan mampu mengedukasi anak-anak secara berkelanjutan dalam rangka menjaga keberlangsungan hidup seni.
Retorika I Dewa Made Rai Mesi dalam Pertunjukan Wayang Kulit Purwa Lakon Irawan Rabi Ardiyasa, I Putu
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 2, No 2 (2018): September 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rai Mesi is an interesting phenomenon in the world of puppetry in Bali because its presence offers a different color and is able to revive the wayang kulit purwa. It is also what makes it a legendary dalang for the people. Rai Mesi as a dalang who is good at bringing stories, always be the first choice for people who want to hold a puppet show. Each show is always packed with spectators. It is therefore not surprising that the style of Rai Mesi puppetry is still used as a reference by the young puppeteers until now. Given its capacity as the mastermind of the story, the focus of the discussion in this paper is the issue of rhetoric that focuses on the choice of words, the use of language, and the way of narration, both in narrative and in dialogue. The data used is Lakon Irawan Rabi in the form of ribbon tape recordings which are then transcribed into written form. The result of the research shows that Rai Mesi has succeeded in composing the Irawan Rabi play as a Javanese wayang kulit playwoman to play Balinese parrot leather puppets through the processing of language style, bothbeautiful language, hilarious, figurative, and alternation. In addition to processing the style of language, Rai Mesi in his speech also inserted the language outside Bali, be it the language of the archipelago and foreign languages. Rai Mesi’s rhetoric is very communicative.Rai Mesi merupakan fenomena yang menarik dalam dunia pedalangan di Bali karena kehadirannya menawarkan warna yang berbeda dan mampu menggairahkan kembali pertunjukan wayang kulit purwa. Hal ini pula yang membuatnya menjadi dalang legendaris bagi masyarakatnya. Rai Mesi sebagai dalang yang pandai membawakan cerita, selalu menjadi pilihan pertama bagi masyarakat yang ingin menyelenggarakan pertunjukan  wayang. Setiap pertunjukkannya selalu dipadati penonton. Oleh karenaitu tidak mengherankan apabila gaya pedalangan Rai Mesi masih dijadikan acuan oleh dalang-dalang muda hingga sekarang. Mengingat kapasitasnya sebagai dalang cerita, maka fokus bahasan dalam tulisan ini adalah masalah retorika yang berfokus pada pemilihan kata,  pemakaian bahasa, serta cara penuturannya, baik dalam narasi maupun dialognya. Data yang digunakan adalah Lakon Irawan Rabi dalam bentukrekaman kaset pita yang kemudian ditranskrip ke dalam bentuk tulisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rai Mesi telah berhasil menggubah Lakon Irawan Rabi sebagai lakon wayang kulit Jawa menjadi lakon carangan wayang kulit parwa Bali melalui pengolahan gaya bahasa, baik bahasa indah, kocak, kiasan, dan alternasi. Selain mengolah gaya bahasa, Rai Mesi dalam tuturannya juga menyisipkan bahasa luar Bali, baik itu bahasa Nusantara maupun bahasa asing. Retorika Rai Mesi sangat komunikatif.