Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya
Vol 18, No 3 (2017)

MEMPEREBUTKAN WAHYU MAJAPAHIT DAN DEMAK: MEMBACA ULANG JEJAK KESULTANAN PAJANG DALAM HISTORIOGRAFI INDONESIA

Purwanto, Bambang (Unknown)



Article Info

Publish Date
31 Dec 2017

Abstract

Pajang sebagai sebuah kerajaan dan masyarakatnya yang pernah ada dalam sejarah Indonesia pasca-kegemilangan Kemaharajaan Mapajahit dan Kesultanan Demak tidak mendapat tempat yang memadai dalam historiografi Indonesia selama ini. Padahal nama Jaka Tingkir yang diyakini sama dengan Sultan (H)Adiwijaya yang merupakan sultan pertama Pajang, dikenal juga oleh masyarakat, terutama di Jawa. Tulisan ini membahas tentang peminggiran dan marginalisasi Kesultanan Pajang dari naratif besar sejarah Indonesia, berdasarkan asumsi adanya mata rantai yang putus antara memori sosial sebagai sistem budaya masyarakat dengan tradisi historiografi Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk melihat relasi historis fungsional antara kenyataan sejarah sebagai peristiwa masa lalu dan pembentukan memori dengan historiografi sebagai sebuah naratif bangsa yang merupakan wujud dari kontestasi atas sejarah itu sendiri.____________________________________________________________Pajang as a kingdom and its society that once existed in post-glorious Maps and Demak Sultanate in Indonesian history does not get adequate place in the historiogrphy of Indonesia so far. Even though the name Jaka Tingkir is believed to be the same as the Sultan (H)Adiwijaya who is the first sultan of Pajang, widely known by the people, especially in Java. This paper discusses the exclusion and marginalization of the Pajang Sultanate from the Indonesian grand historical narrative, based on the assumption of a broken link between social memory as a cultural system of society and the tradition of Indonestan historiography. This paper aims to look at the functional historical relation between historical reality as a past event and the formation of memory with historiography as a national narrative which is a manifestation of contestation over history itself.

Copyrights © 2017






Journal Info

Abbrev

patrawidya

Publisher

Subject

Arts Social Sciences

Description

The Patrawidya appears in a dark gray cover with a papyrus manuscript. The Patrawidya Journal is published three times a year in April, August and December. The study of the Patrawidya Journal article is on the family of history and culture. The Patrawidya name came from a combination of two words ...