cover
Contact Name
Agus Eka Aprianta
Contact Email
penerbitan@isi-dps.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isi-dps.ac.id
Editorial Address
Institut Seni Indonesia Denpasar, Gedung LP2MPP. Jl. Nusa Indah Denpasar 80235
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Mudra Jurnal Seni Budaya
ISSN : 08543461     EISSN : 25410407     DOI : https://doi.org/10.31091/mudra
Core Subject : Education, Art,
Mudra Jurnal Seni Budaya merangkum berbagai topik kesenian, baik yang menyangkut konsepsi, gagasan, fenomena maupun kajian. Mudra memang diniatkan sebagai penyebar informasi seni budaya sebab itu dari jurnal ini kita memperoleh dan memetik banyak hal tentang kesenian dan permasalahannya.
Articles 307 Documents
Balutan Identitas Maskulin pada Pengguna Tato dari Perspektif Fenomenologi Levinas Ernawati, Arni; Marta, Rustono Farady
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol. 35 No. 3 (2020): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i3.1039

Abstract

Maskulinitas merupakan identitas yang berharga terkhusus bagi seorang laki-laki, tak heran banyak dari laki-laki mencoba berbagai cara untuk mengekspresikan maskulinitas mereka. Tato dianggap sebagai salah satu simbol maskulinitas bagi laki-laki. Tato dapat menjadi representasi identitas dan ekspresi seseorang, banyak dari laki-laki mengekspresikan diri mereka dengan simbol-simbol tato yang dilukis ditubuh mereka. Tato dalam pandangan masyarakat memiliki makna yang beragam, dalam beberapa komunitas masyarakat adat di Indonesia tato bahkan menjadi budaya yang sarat dengan pesan hidup sementara di masyarakat modern tato selain penyampai pesan juga sebagai unsur yang memiliki nilai estetika tersendiri. Simbol maskulinitas berupa tato dianggap memiliki nilai seni yang tinggi dan nilai pesan yang sangat baik untuk mengekpresikan pesan maskulin seseorang.
Monumentalitas Seni Instalasi Bambu “Getah Getih” Murwonugroho, Wegig; Wiyoso, Aghastya
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol. 35 No. 3 (2020): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i3.1036

Abstract

Karya seni instalasi merupakan perpaduan dari berbagai seni rupa yang dipasang dengan maksud sebagai hiasan berdurasi terbatas. Seni instalasi bambu bernama “Getah Getih” yang ditempatkan di seberang Bundaran Hotel Indonesia (HI) Jakarta merupakan karya Joko Dwi Avianto menurut ide Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Konsep “Getah Getih” diinspirasi oleh sejarah keberanian, dedikasi, dan sifat rela berkorban pasukan kerajaan Hindu Majapahit yang baru mendarat demi kejayaan kerajaan. Konsep bambu yang disusun saling bertautan memiliki makna penyemangat para atlet yang berlaga di Asian Games 2018. Bahan bambu dipilih karena keunikannya di antara bangunan beton bertingkat di Jakarta. Namun, pemaknaan sebuah karya seni tidak bisa lepas dari fenomena yang sedang terjadi pada waktu karya tersebut dibuat. Jalinan bambu menimbulkan kontroversi saat sebagian masyarakat menganggapnya menyimbolkan posisi bersetubuh. Pemilihan bahan baku yang tidak awet juga menuai kritik keras. Pun demikian halnya dengan anggaran besar yang dianggap tidak sesuai dengan nilai fungsi karya seni. Maka, ekspektasi publik Jakarta untuk seni instalasi yang elegan, modern, dan bertahan lama tidak terpenuhi. “Getah Getih” lantas dianggap sebagai pencitraan politik Anies belaka. Esensi kekecewaan terhadap “Getah Getih” bersumber dari tuntutan hadirnya kemonumentalan seni yang dipajang di ruang publik. Indikator kemonumentalan dilekatkan pada seni instalasi yang bersifat temporer. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan fenomenologi. Paradigma penilaian kemonumentalan dilihat dari wilayah ide/gagasan, ekspresi, komunikasi, dan apresiasi pewacanaan. Dari analisis ditemukan bahwa seni instalasi patung “Getah Getih” yang diharapkan tidak monumental justru mencapai titik kemonumentalannya karena adanya kebaruan berupa unsur tak beraga yaitu pewacanaan melalui media sosial dan keterlibatan opini publik menerima atau menolak kehadirannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kemonumentalan sebuah seni instalasi tidak sengaja dapat terbagun apabila diletakkan pada ruang sentral sebuah kota, banyak diakses publik secara langsung, dan ketepatan waktu ketika seni dijadikan komoditas yang dipertentangkan antar kubu politik.
Membangun Kewirausahaan Seni Melalui Festival Dalam Bandung Isola Performing Arts Festival (BIPAF) Lahpan, Neneng Yanti Khozanatu; Nur Ghaliyah, Bunga Dessri
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol. 35 No. 3 (2020): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i3.876

Abstract

Wirausaha seni, khususnya di bidang seni pertunjukan, menjadi hal penting dalam kaitan dengan perkembangan ekonomi dan industri kreatif. Bidang ini mendapat perhatian khusus dari pemerintan dalam 4 tahun belakangan, dengan dibentuknya sebuah badan khusus, BEKRAF. Mengembangkan wirausaha seni di antaranya dapat dilakukan melalui festival. Tulisan ini mengambil studi kasus Bandung Isola Performing Arts Festival (BIPAF) yang telah meletakkan dasar wirausaha seni sejak tahun 2016. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan teori social enterpreneurship, penelitian ini menghasilkan sejumlah rumusan bahwa (1) BIPAF telah menawarkan sebuah model pengembangan wirausaha seni dengan model pasar seni pertunjukan (performing arts market) yang menggunakan site specific stage, yakni Villa Isola UPI Bandung, untuk mempromosikan bentuk karya tari dan atau teater tari inovatif berbasis tradisi dan kolaborasi, serta mempertemukan para kreator dengan stakeholdernya, sekaligus berperan dalam pelestarian seni budaya; (2) untuk menjaga kualitas karya yang dihasilkan, karya-karya yang ditampilkan di BIPAF melalui sejumlah tahapan seleksi dan kurasi, inkubasi, pertunjukan hingga evaluasi. Indikator keberhasilan program ini di antaranya terlihat pada meningkatkan kuantitas pementasan para pentolan BIPAF yang dikelola secara profesional oleh para pengelola event, baik di dalam maupun di luar negeri.
Tradisi dalam Modernisasi Seni Lukis Sumatera Utara: Eksplorasi Kreatif Berbasis Etnisitas Batak Toba Zulkifli, Zulkifli; Sembiring, Dermawan; Pasaribu, Mangatas
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol. 35 No. 3 (2020): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i3.878

Abstract

Artikel ini membahas tentang sejauhmana potensi nilai dan karakter tradisional dapat dikembangkan sebagai tema garapan dalam eksplorasi kreatif seni lukis masa kini. Artikel berbasis hasil penelitian terapan ini, bertujuan menemukan bentuk dan wujud seni rupa tradisi yang khas, khususnya dari etnik Batak Toba, untuk dikembangkan secara kreatif dalam garapan seni lukis Sumatera Utara. Tujuan dimaksud diwujudkan melalui aplikasi teknologi digital serta rekayasa media dan peralatan melukis. Metode yang digunakan adalah survey dan metode penciptaan kreatif, mulai persiapan, inkubasi, iluminasi, eksekusi, konfirmasi, dan validasi. Analisis data disajikan dalam bentuk deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa eksplorasi seni lukis modern Sumatera Utara melahirkan karakter bentuk orisinil, sebagai penanda jati diri dan promosi budaya rupa etnik Batak Toba. Karakter seni lukis eksploratif ini berkontribusi pada pengayaan budaya rupa nasional. Hasil penelitian juga menemukan efektivitas penggunakan teknologi digital dan rekayasa media seni lukis, sebagai stimulasi penggunaan media alternatif dalam pengembangan model industri kreatif.
Pola Interaksi Simbolik Dan Pewarisan Kesenian Jaran Kepang Semarangan Berbasis Agil Di Era Disrupsi Kusumastuti, Eny Kusumastuti; -, Indriyanto; Widjajantie, Kusrina
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol. 35 No. 3 (2020): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i3.883

Abstract

Jaran Kepang Semarangan merupakan salah satu kesenian tradisional kerakyatan yang ada di wilayah Kabupaten Semarang. Pola interaksi simbolik dan pewarisan pertunjukan Jaran Kepang memiliki keunikan tersendiri dalam menghadapi berbagai tantangan di era disrupsi ini. Penelitian ini mengkaji 1) Pola interaksi simbolik dalam pertunjukan Kesenian Jaran Kepang Semarangan di era disrupsi, 2) Pola pewarisan Kesenian Jaran Kepang Semarangan di era disrupsi. Tujuan penelitian mendiskripsikan dan menarik sebuah konsep atau teori terkait dengan pola interaksi simbolik dan pewarisan Kesenian Jaran Kepang Semarangan di era disrupsi. Lokasi penelitian di Paguyuban Langen Budi Sedyo Utomo Dusun Sombron Desa Tlompakan Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnokoreologi dan sosiologi. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara dan dokumentasi. Keabsahan data menggunakan kriteria dependabilitas dan konfirmabilitas dengan teknik triangulasi sumber, teori dan teknik. Analisis data melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan simpulan data. Teori yang digunakan untuk menganalisis interaksi simbolik yakni milik Herbert Mead. Temuan penelitian meliputi 1) pola interaksi simbolik antara penari dengan penari, penari dengan pemusik, penari dengan penonton, pemusik dengan penonton dan penonton dengan penonton dan 2) pola pewarisan Kesenian Jaran Kepang Semarangan di era disrupsi mengacu skema AGIL yaitu adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi dan latensi. Pertama, dalam proses adaptasi, pola-pola kesenian Jaran Kepang Semarangan beradaptasi dengan perkembangan jaman di era modern seperti sekarang ini dengan melihat kebutuhan masyarakat. Kedua, dalam proses pencapaian tujuan, kelompok kesenian Jaran Kepang Semarangan harus memiliki tujuan dalam pelestarian di era modern. Ketiga, dalam proses integrasi, kesenian Jaran Kepang Semarangan dapat mengintegrasikan kelompok masyarakat pelaku, pendukung dan penikmat secara tidak langsung. Keempat, dalam proses latensi, kelompok Kesenian Jaran Kepang Semarangan tetap menjaga dan melestarikan kesenian Jaran Kepang Semarangan di era modern.
Penerepan PETRUK dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Berbasis Budaya sebagai Upaya Internalisasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal Puryanti, Yeni Agus Tri; Marzuki, Marzuki
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol. 35 No. 1 (2020): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i1.925

Abstract

The research objectives are to describe:(1)The application of "PETRUK" in culture-based extracurricular activities as an effort to internalize the values ​​of local wisdom.(2)Supporting factors for the application of "PETRUK" in culture-based extracurricular activities as an effort to internalize the values ​​of local wisdom.(3)Factors inhibiting the application of "PETRUK" in culture-based extracurricular activities as an effort to internalize the values ​​of local wisdom. The research approach uses qualitative with descriptive type. This research was conducted at SMP Negeri 3 Banguntapan Bantul. Determination of research subjects is done by purposive method. Data collection is done by field observations, in-depth interviews, and documentation. Test the validity of the data using triangulation techniques, then data analysis using the interactive data analysis model of Miles, Huberman and Saldana. The results of research at SMP Negeri 3 Banguntapan Bantul show (1)Internalization of local wisdom values ​​using the application of "PETRUK" (a)the letter P means modeling, (b)the letter E means empowering, (c)the letter T means teaching, (d)the letter R means reinforcing,(e)the letter U means unique, (f)the letter K means comprehensive. The values ​​of local wisdom internalized in karawitan extracurricular activities are 15 values, batik 10 values, dance 12 values ​​which are guided by DIY PERGUB No. 68 of 2012. (2)Among the inhibiting factors are students' lack of awareness in joining extracurricular activities and students accustomed to modern culture. (3) Supporting factors include, getting support from parents, government and society.
Faktor Ideasi dalam Proses Kreasi Seniman Lukis Jelekong Shabiriani, Uzda Nabila; Junaidy, Deny Willy; Setiawan, Pindi
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol. 35 No. 3 (2020): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i3.971

Abstract

Jelekong painters community transferred their knowledges to generations by hereditary who do not have formal art education background because unlike the creation process (formally) learned in university, Jelekong painting artists could have their own understanding of such concept. This research aims to determine the ideation factor in the creation process of Jelekong painting artists who do not have formal art education background to build an understanding of creation process in the context of hereditary painting knowledges. The creation process at early stage of the idea analyzed using verbal report method, though an associative concept network analysis of subject’s experience when drawing sketches, image analysis and factor analysis. From the data analysis results, 10 Jelekong painting artists examined in their minds when the drawing sketches process leads to harmony indicated by the distance close of houses, the object placement generally amount to two on the right and left, the different colors of distant and near objects, the ideal natural landscape with clouds, figurative shapes and other natural objects, sung the different lines to give texture, different professions, different activities, and balanced composition. When drawing sketches, the painters also considers the serenity that is indicated through a quiet atmosphere in the absence of damaged natural elements, such as drought but cozy atmosphere, painters’ memories of a cozy and quite natural atmosphere, pictures with a large space, as if there is only one house and extremely rare draw many living things. The ideation factor in the creation process of Jelekong painting artists tends to practice imitating or copying works that have been made before and really rare to find the element of novelty that causes harmony and serenity factors frequently found in each works.
Literasi Media Kritis dalam Adaptasi Novel Salah Asuhan ke Sinetron dan Film Suaka, I Nyoman
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol. 35 No. 2 (2020): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i2.972

Abstract

Tujuan artikel ini untuk mengetahui hasil adaptasi dari teks novel Salah Asuhan ke film dan sinetron. Masalahnya adalah sejauh mana perubahan teks tersebut dan faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadi perubahan?. Masalah tersebut akan dikaji dari teori literasi media kritis dari Devito (2008), sebab peran media dan aktor-aktor media sangat menentukan keberhasilan sebuah program acara. Objek Penelitian adalah novel Salah Asuhan (2008) karya Abdul Muis, film Salah Asuhan (1972), sutradara Asrul Sani dan sinteron Salah Asuhan (1994), sutradara Ami Priyono. Data-data dalam film dan sinetron diperoleh melalui VCD Salah Asuhan. Data-data dikumpulkan dengan teknik catat dan audio visual. Berdasarkan analisis data, maka temuan penelitian adalah, film Salah Asuhan sutradara Asrul Sani merupakan adaptasi murni dari novelnya, sedangkan sinetron Salah Asuhan merupakan adaptasi bebas dari sutradara Ami Priyono. Sinetron tersebut berhasil menggali ide atau gagasan asli pengarang Abdul Muis. Teks novel Salah Asuhan yang beredar di pasaran merupakan karya yang sudah disensor oleh redaksi Volkslectuur, sebuah penerbitan di bawah pemerintah kolonial Belanda. Dengan demikian, melalui literasi media kritis dapat menempatkan teks Salah Asuhan dengan variasi masing-masing sesuai konteks zamannya.
Eksistensi Budaya Pappaseng Sebagai Sarana Pendidikan Moral Handayani, Dewi; Sunarso, Sunarso
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol. 35 No. 2 (2020): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i2.974

Abstract

This study aims to analyze the importance of the existence of Pappaseng culture as a moral education suggestion for young people so that they have character and wise attitudes and behaviors in the midst of globalization. Pappaseng is a traditional literary work which is a work of art that uses language as a medium in presentation, passed down from generation to generation as a will in the Bugis tribe. The method in this research uses a qualitative approach with ethnographic design. Research subjects were sixteen South Sulawesi female student dormitories in Yogyakarta. Data collection techniques through in-depth interviews and literature study. The research results show that the development of the times has made Pappaseng's values ​​gradually eroded in some individuals, but there are still many people who still maintain Pappaseng culture because it is a life guide inherited from ancestors and the values ​​contained in Pappaseng culture are relevant to the values Islam. The importance of culture-based education because it can improve the quality of human life such as Pappaseng which can be used as a means of moral education and character building for humans. Keywords : Culture, Pappaseng, Moral Education
Animasi sebagai Media Pendidikan Karakter Berbasis Tri Kaya Parisudha untuk Anak-Anak Rangga Lawe, I Gusti Agung; Irfansyah, Irfansyah; Ahmad, Hafiz Aziz
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol. 35 No. 2 (2020): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i2.975

Abstract

Pendidikan karakter sangat penting untuk diberikan pada anak sejak dini, terutama saat ia berada dalam fase imitasi, di mana anak belajar meniru perangai seperti cara bicara dan cara bersikap yang diambil dari model yang diteladani. Meniru dengan keteladanan mengajarkan anak untuk mengembangkan moral, sosial dan spiritual mereka. Salah satu landasan pendidikan karakter dalam Hindu adalah ajaran Tri Kaya Parisudha, yang terdiri dari Manacika, Wacika, dan Kayika. Ajaran ini sangat penting untuk dipahami dan diamalkan oleh anak di kehidupan sehari-hari, karena akan membentuk sifat integritas dan jati dirinya. Keselarasan antara pikiran, ucapan, dan tindakan agar selalu berada di jalan yang baik dan benar dalam Tri Kaya Parisudha dapat disampaikan menggunakan pendekatan keteladanan, yaitu proses meniru perilaku yang diperagakan oleh model/idola yang disukai mereka. Di era modern, penerapan pendidikan karakter bisa dilakukan dengan bantuan media eksternal seperti animasi. Konsep pendidikan karakter dikemas lewat tokoh animasi dan dapat dijadikan model/idola oleh anak untuk ditiru. Selain itu, nilai yang terkandung lewat cerita di animasi juga dapat terbawa sampai anak tumbuh dewasa, dan dijadikan referensi olehnya saat dibutuhkan. Adanya ikatan emosional anak pada karakter animasi menyebabkan anak meniru gaya/gerak karakter tersebut, hingga turut merasakan apa yang dirasakan karakter itu. Selain itu, cerita dalam animasi juga memberikan pengalaman baru bagi anak untuk dijadikan pembelajaran dalam pembentukkan karakternya. Sebagai media pembelajaran, animasi dapat menunjang aspek kognitif anak dengan cara mengingat apa yang ia dapat di animasi tersebut, untuk kemudian ditiru agar dapat membentuk karakter mereka.

Page 1 of 31 | Total Record : 307