cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
MUDRA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Mudra: The Cultural and Arts Journal is dedicated to the best representation of Indonesian culture and arts from various perspectives. As the link of exchange knowledge and experience, Mudra provides oppurtunities to world scholar and the recearchers communities, who are focused in culture and arts studies as well as the practices of arts
Arjuna Subject : -
Articles 217 Documents
Onomatopoea sebagai Pembuka Signifikasi Teks dalam Komik Tintin Petualangan Tintin Penerbangan 714 ke Sidney versi Terjemahan Bahasa Indonesia Ardianto, Deny Tri; Susanto, Dwi; Mataram, Sayid
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1401.717 KB) | DOI: 10.31091/mudra.v33i2.349

Abstract

Komik Tintin memperlihatkan onomatopoea yang dimanfaatkan untuk memperjelas makna. Onomatopoea memberikan “celah” sebagai pembuka makna teks dengan melihat gagasan yang lain dalam teks. Pembacaan yang dilakukan atas onomatopoea adalah pembacaan dekonstruksi. Masalah utama dari hal itu adalah apakah makna dalam teks dengan mendasarkan pada bagian terpinggir dari teks seperti onomatopoea. Objek material dari tulisan ini komik terjemahan dari Tintin edisi Petualangan Tintin Penerbangan 714 ke Sidney. Objek formalnya adalah makna dari teks Tintin. Data yang digunakan adalah onomatopoea dalam teks, gagasan yang muncul dari teks, isi cerita dan lain-lain. Teknik interpretasi data dilakukan dengan mendasarkan pada prosedur pembacaan dekonstruksi. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa onomatopoea menjadi pembuka makna teks melalui serangkaian oposisi seperti onomatopoea versus narasi teks, onomatopoea versus visual, dan narasi teks versus visual. Onomatopoea mengikat sekuen sebelum dan sesudahnya dan meluruhkan narasi teks serta visual yang “tidak penting” disekitar onomatopoea. Gagasan interteks yang muncul adalah melanjutkan proyek rasionalisme, bias kolonial dan keunggulan ras, serta meluruhnya gagasaan tersebut melalui kritik atas materialisme. Hal itu ditunjukkan melalui teks-teks petualangan, konflik ideologis, hingga hero yang super seperti pada era Romantisme Eropa.Tintin comic utilizes onomatopoeia to clarify meaning. Onomatopoeia gives a "window" as an opening to the meaning intended in the text by relating to other context in it. Onomatopoeia reading is a deconstructive reading. The main problem of this type of reading is whether the meaning in the text is based on the marginalized part of the text such as onomatopoeia. The material object of this paper is a comic translation of Tintin's Adventure entitled Tintin Flight 417 to Sidney. The formal object of this paper is the meaning of the text in the comic. The data of this research are onomatopoeia in the text, ideas that arise from the text, and the content of the story. Data interpretation technique was conducted according to deconstruction reading procedure. The results show that onomatopoeia clarify the meaning of the text through a series of oppositions such as onomatopoeia versus text narrative, onomatopoeia versus visual, and text narrative versus visual. Onomatopoeia binds the previous and following sequences and sheds the "unecessary" visuals and narrative texts around it. The intertextual ideas that arise are issues related to rationalism, colonial bias and racial superiority, and the dissolve of those ideas due to criticisms of materialism. These are shown through the texts of adventure, ideological conflict, and super hero characteristics like commonly presented in the era of European Romance.
Nilai Estetik dan Nilai Filosofis pada Qiu Qian di Kelenteng Perempuan Vihara Buddhi Bandung Widjaja, Tjutju; Adriati, Ira; Sabana, Setiawan
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 2 (2020): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i2.805

Abstract

Vihara Buddhi, atau yang populer dengan sebutan Kelenteng Perempuan adalah tempat ibadah masyarakat Tionghoa yang unik yang menganut ajaran Sanjiao atau Tridharma (tiga ajaran). Sanjiao atau Tridharma (Tiga Ajaran) adalah perwujudan sinkretisme dari tiga aliran utama kepercayaan masyarakat Tionghoa yakni: Buddhisme, Konfusianisme dan Taoisme. Vihara Buddhi berlokasi berlokasi di Jl. Cibadak 281 Bandung dan dikelola oleh sekelompok pendeta perempuan yang dikenal dengan sebutan Zhai Ji. Qiu Qian adalah salah satu artefak yang terdapat di Kelenteng Perempuan yang digunakan sebagai benda ritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap nilai estetik dan nilai filosofis pada Qiu Qian di Vihara Buddhi Bandung. Teori yang digunakan adalah teori nilai seni dan estetika mitis dari Jakob Sumardjo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif: Studi pustaka, observasi, wawancara, dokumentasi dan purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai estetik Qiu qian terletak pada teknik pembuatan dekorasi yang diaplikasikan pada Qian Tong atau wadah penyimpanan batang Qiu Qian. Dekorasi dibuat secara manual dengan tangan menggunakan teknik ukiran berjenis ukiran cembung dan ukiran sedang. Nilai filosofis pada Qiu Qian terletak pada simbol-simbol yang menjadi objek dekorasi pada Qian Tong. Simbol-simbol yang diukir pada Qian Tong merepresentasikan nilai-nilai yang merupakan prinsip dalam Buddhisme.
Visualisasi Identitas Islam Dalam Komunitas Virtual Palanta Urang Awak Minangkabau Franzia, Elda; Piliang, Yasraf Amir; Saidi, Acep Iwan
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 31 No 2 (2016): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v31i2.26

Abstract

Palanta Urang Awak Minangkabau merupakan salah satu komunitas virtual masyarakat etnis Minangkabau yang terbentuk di jejaring sosial Facebook. Komunitas virtual ini terbentuk sehagai ruang berkumpul dan bercakap di dunia maya, yang diperuntukkan untuk memupuk persaudaraan bagi masyarakat Minangkabau di mana pun berada. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah atau adat yang berlandaskan agama Islam dan Al Qur’an dideklarasikan sebagai identitas etnis masyarakat Minangkabau. Sebagai identitas etnis, nilai-nilai Islami menjadi landasan kehidupan pribadi dan sosial. Penelitian ini clilakukan untuk memahami bentuk-bentuk visualisasi identitas Islam yang terwujud di ruang virtual khususnya dalam komunitas Palanta UrangAwak Minangkabau. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan cultural studies dan metode analisis semiotik. Penggunaan tanda-tanda visual menjadi wujud visualisasi identitas Islam dalam ruang virtual jejaring sosial. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan dokumentasi virtual foto profil anggota komunitas Palanta Urung Awak Minangkabau, untuk mengidentifikasi identitas Islam yang muncul di dalam komunitas virtual tersebut. Hasil penelitian menunjukkan ragam tanda visual yang digunakan untuk membentuk identitas Islam melalui foto profil anggota komunitas virtual Palant Urang Awak Minangkabau di jejaring sosial Facebook.
Komodifikasi Seni Lukis Wayang Kamasan Sebagai Produk Industri Kreatif Penunjang Pariwisata Mudana, I Wayan; Ribek, Pande Ketut
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 32 No 1 (2017): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v32i1.83

Abstract

Komodifikasi merupakan proses yang tidak hanya berhubungan dengan bagaimana produksi menjadi produk massa, tetapi juga berhubungan bagaimana produk tersebut dapat didistribusikan ke pasar untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Seni lukis wayang Kamasan merupakan fenomena komodifikasi dan industri kreatif yang menarik untuk dikaji secara kritis dengan pendekatan culture studies untuk mengetahui keinginan pariwisata. Sebagai alat analisis digunakan teori teori komodifikasi. Metode yang digunakan mengkaji penelitan komodifikasi adalah metode kritis yang bersifat emansipatoris, melibatkan pelukis,dan pelaku bisnis (industri pariwisata). Hasil penelitian ini; (1) produksi seni lukis wayang Kamasan sudah terjadi pengkaburan makna dari makna simbolik menjadi makna ekonomi, keos (brecolage), dan menjadi produksi massa, (2) distribusi seni lukis wayang Kamasan di pasar sangat dinamis, selain untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal tetapi juga pasar global berupa produk kreatif. (3) konsumsi seni lukis wayang Kamasan tidak hanya oleh masyarakat lokal sebagai persembahan, tetapi juga oleh pariwisata sebagai souvenir
Sesolahan Barong Kadengkleng dalam Upacara Ngaben di Desa Pakraman Munggu, Desa Serampingan, Kecamatan Selemadeg, Kabupaten Tabanan Sudarma, I Putu
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 31 No 1 (2016): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v31i1.244

Abstract

Umat Hindu di Bali hampir setiap hari melaksanakau berbagai yadnya. Salah satu di antara yadnya yang dilaksanakan terdapat upacara ngaben. Upacara ini diselenggarakan sebagai penghormatan keluarga kepada mendiang. Penghormatan dilakukan berdasarkan atas keyakinan bahwa orang yang meninggal atmanya tidak pernah mati, akan tetapi tetap hidup di alam yang tidak nyata. Di samping itu diyakini bahwa jika leluhurnya dalam keadaan babagia, beliau juga akan berusaha membantu membahagiakan keturunannya yang masih hidup. Upacara ngaben terutama di Desa Pakraman Munggu Tabanan tidak bisa dipisahkan dengau berbagai perlengkapan saraua upacarauya. Salah satu di antara saraua yang unik, yaitu pertunjukkau Barong Kadengk/eng. Barong ini selalu dipentaskan di desa pakraman ini ketika dilaksanakan ritual ngaben pada tingkatan madya ke atas. Bentuk seso/ahan Barong Kadengkleng dalam ritual ngaben disertai dengan daeng dari pihak keluarga mendiaug. Pertunjukkannya dilaksanakan sehari sebelum upacara ngaben dimu­ lai dari depan pintu masuk rumah mendiang kemudian dilanjutkan ke perbatasan jalan Desa Pakraman Munggu dan berakhlr di depan bale adat tempat jenazah disemayarnkan. Ditinjau dari fungsinya, sesolahan Barong Kadengkleng memiliki dua fungsi, yaitu fungsi religius dan fungsi pengawal. Dalam fungsi religius, yaitu setiap pertunjukkan Barong Kadengk/eng menggunakan sesajen dan hanya dipertunjukkan berkaitan dengan ritual ngaben, sedangkan dalam fungsinya sebagai pengawal, yaitu membantu menangkal dan mengawal pengembalian unsur-unsur pancamahabhuta dan atma ke asalnya.
Eksistensi Budaya Pappaseng Sebagai Sarana Pendidikan Moral Handayani, Dewi; Sunarso, Sunarso
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 2 (2020): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i2.974

Abstract

This study aims to analyze the importance of the existence of Pappaseng culture as a moral education suggestion for young people so that they have character and wise attitudes and behaviors in the midst of globalization. Pappaseng is a traditional literary work which is a work of art that uses language as a medium in presentation, passed down from generation to generation as a will in the Bugis tribe. The method in this research uses a qualitative approach with ethnographic design. Research subjects were sixteen South Sulawesi female student dormitories in Yogyakarta. Data collection techniques through in-depth interviews and literature study. The research results show that the development of the times has made Pappaseng's values ​​gradually eroded in some individuals, but there are still many people who still maintain Pappaseng culture because it is a life guide inherited from ancestors and the values ​​contained in Pappaseng culture are relevant to the values Islam. The importance of culture-based education because it can improve the quality of human life such as Pappaseng which can be used as a means of moral education and character building for humans. Keywords : Culture, Pappaseng, Moral Education
Designing The Elderly Janger Dance Model In Tonja Village Denpasar Ruastiti, Ni Made
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 31 No 3 (2016): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v31i3.58

Abstract

The Elderly ./anger Dance (EJD) is a type of performing that particularly designed for elderly people, initially from its choreography, costume and makeup, or even its musical accompaniment. This performing is significantly created as those elderly people are offered a performing art model that is not suitable to their physical condition.Several problems arose during its process of creation, choreography, and the tempo, costume makeup, duration and their condition while performing the dance. It results to their disinterest on art participation. Therefore, this research is aimed at solving the problem on the improper of the art-performing model for those elderly people. This research is conducted in Tonja village, Denpasar by considering the adequateness of number and art potential of this area.The designing ofthis performing model is carried out through applying the participatory-implemented method. It focuses on the cooperation between researchers and the related parties started from socialization-planned model, implementation model until the trial model.Based on the whole stages of designing model on EJD, it is produced outputs as follows: EJD Model, activities report, article, lesson module, and HKI. Through this dance creation, those elderly are passionate again to participate on art. Simultaneously, it will affect their health quality improvement through art activity.Keywords: Performing- model design, Choreography, Outlook/make up and costume, musical accompaniment, Elderly Janger Dance (EJD)
Understanding Visual Novel As Artwork of Visual Communication Design Pratama, Dendi; Gunarti, Winny; Akbar, Taufiq
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 32 No 3 (2017): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v32i3.177

Abstract

Visual Novel is a kind of audiovisual game that offers visual strength through the narrative and visual characters. The developer community of Visual Novel (VN) Project Indonesia indicated a limited local game developer that produces Visual Novel of Indonesia. In addition, Indonesian Visual Novel production was also more influenced by the style of anime or manga from Japan. Actually, Visual Novel is part of the potential of  creative industries products. The study is to formulate the problem, how to understand Visual Novel as artwork of visual communication design, especially among students? This research is a case study conducted on visual communication design student at the University Indraprasta PGRI Jakarta. The results showed low levels of knowledge, understanding, and experience of  the Visual Novel game, which is below 50%. Qualitative and quantitative methods combined with structural semiotic approach is used to describe the elements of the design and the signs structure at the Visual Novel. This research can be a scientific reference for further introduce and encourage an understanding of Visual Novel as artwork of Visual Communication Design. In addition, the results may add to the knowledge of  society, and encourage the development of Visual Novel artwork that  reflect the culture of Indonesia.Visual Novel adalah sejenis permainan audiovisual yang menawarkan kekuatan visual melalui narasi dan karakter visual. Data dari komunitas pengembang Visual Novel (VN) Project Indonesia menunjukkan masih terbatasnya pengembang game lokal yang memproduksi Visual Novel Indonesia. Selain itu, produksi Visual Novel Indonesia juga lebih banyak dipengaruhi oleh gaya anime dan manga dari Jepang. Padahal Visual Novel adalah bagian dari produk industri kreatif yang potensial. Studi ini merumuskan masalah, bagaimana memahami Visual Novel sebagai karya seni desain komunikasi visual, khususnya di kalangan mahasiswa? Penelitian ini merupakan studi kasus yang dilakukan terhadap mahasiswa desain komunikasi visual di lingkungan Universitas Indraprasta PGRI Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan masih rendahnya tingkat pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman terhadap permainan Visual Novel, yaitu di bawah 50%. Metode kombinasi kualitatif dan kuantitatif dengan pendekatan semiotika struktural digunakan untuk menjabarkan elemen desain dan susunan tanda yang terdapat pada Visual Novel. Penelitian ini dapat menjadi referensi ilmiah untuk lebih mengenalkan dan mendorong pemahaman tentang Visual Novel sebagai karya seni Desain Komunikasi Visual. Selain itu, hasil penelitian dapat menambah pengetahuan masyarakat, dan mendorong pengembangan karya seni Visual Novel yang mencerminkan budaya Indonesia.
Preservation and Development Strategies of Gorontalo’s Local Culture through Gorontalo Cultural Digital Repository Application Mulyanto, Arip; Latief, Mukhlisulfatih; Rohandi, Manda; Supriyadi, S
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 31 No 3 (2016): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v31i3.43

Abstract

This study aims to implement a strategy of preservation and development of Gorontalo’s local culture through a web based application that can store and display the digitizing results of Gorontalo’s local culture called “Gorontalo cultural digital repository". The Gorontalo cultural digital repository provides information about the cultures in Gorontalo such as the mores, dances, historic sites and Gorontalo’s cultural artifacts in the form of video, images and text. The method used in this research is applied method withresearch procedures by: 1) Exploration, is to identify and analyze the data of local Gorontalo’s culture that covers Gorontalo’s mores, dances historic sites and Gorontalo’s cultural artifacts. 2) The development of Gorontalo cultural digital collection, which digitize the identification and analysis result of Gorontalo’s local culture. 3) Gorontalo Cultural Digital Repository application development. From the result of the research found: 1) Exploration the mores of Gorontalo consist of four important aspects, namely customarywelcoming guests, traditional coronation, marriage customs and funeral customs. There are more or less 20 historic sites located in Gorontalo. There are four dances that are usually performed in the customary celebration in Gorontalo.
Kalosara di Kalangan Masyarakat Tolaki di Sulawesi Tenggara Amiruddin, .; Suardika, I Ketut; Anwar, .
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 32 No 2 (2017): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v32i2.111

Abstract

Pendidikan pada dasarnya berbasis sosial budaya berupa kegiatan pembelajaran yang didasarkan pada unsur-unsur budaya yang ada pada masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan: (1) untuk menganalisis fungsi kalosara dalam masyarakat Tolaki, (2) untuk mendeskripsikan fungsi kalosara sebagai media etnope- dagogik dalam pengembangan karakter bangsa. Metode penelitian digunakan etnografi dengan pendekatan fenomenologis. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, pengamatan, dan wawancara. Hasil analisis menunjukkan bahwa kalosara merupakan sumber dari segala adat-istiadat Orang Tolaki. Kalosara sebagai adat pokok dapat digolongkan ke dalam 5 cabang, yaitu: (1) sara wonua, yaitu adat pokok dalam pemerin- tahan; (2) sara mbedulu, yaitu adat pokok dalam hubungan kekeluargaan dan persatuan pada umumnya; (3) sara mbe’ombu, yaitu adat pokok dalam aktivitas agama dan kepercayaan; (4) sara mandarahia, yaitu adat pokok dalam pekerjaan yang berhubungan dengan keahlian dan keterampilan; dan (5) sara monda’u, mom- bopaho, mombakani, melambu, dumahu, meoti-oti, yaitu adat pokok dalam berladang, berkebun, beternak, berburu, dan menangkap ikan. Ada empat fungsi kalosara, yaitu: (1) ide, (2) focus dan pengintegrasian unsur-unsur kebudyaan, (3) pedoman hidup, serta (4) pemersatu. Fungsi kalosara sebagai media etnopeda- gogik merupakan praktek pendidikan berbasis kearifan lokal dalam berbagai ranah seperti pengobatan, seni bela diri, lingkungan hidup, pertanian, ekonomi, pemerintahan, dan sistem penanggalan. Melalui media kalosara, maka pengetahuan, nilai, dan keterampilan berbasis sosial budaya Tolaki dapat tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat sebagai pengembangan karakter bangsa.

Page 1 of 22 | Total Record : 217