cover
Contact Name
Anugrah Nur Rahmat
Contact Email
anugrahnr0@gmail.com
Phone
+6281253524447
Journal Mail Official
jpkmi.kesmas@ulm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran, Universitas lambung Mangkurat Jl A Yani km.36 Banjarbaru 70714
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
JPKMI (Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia)
ISSN : 24071625     EISSN : 25810901     DOI : http://dx.doi.org/10.20527/jpkmi.v7i1
urnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia (JPKMI) adalah jurnal ilmiah yang memfokuskan pada ilmu Kesehatan Masyarakat. Jurnal ini berisi mengenai Editorial Kesehatan, Literature Review, dan Hasil Penelitian dalam bidang kesehatan masyarakat seperti Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, Gizi Kesehatan, Administrasi Kebijakan Kesehatan, Epidemiologi, Biostatistika dan Kependudukan, Perilaku dan Promosi Kesehatan, Kesehatan Ibu Anak dan Kesehatan Reproduksi.
Articles 100 Documents
HUBUNGAN USIA, TINGKAT PENDIDIKAN, FASILITAS KESEHATAN DENGAN KEPUASAN PASIEN DI PUSKESMAS MUARA LAUNG Arifin, Syamsul; Rahman, Abdur; Muhyi, Ruslan; Octaviana Putri, Andini; Hadianor, Hadianor
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 6, No 2 (2019): Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpkmi.v6i2.7457

Abstract

ABSTRAKAngka kontak di Puskesmas Muara Laung adalah sebesar 17,35% atau terendah dari empat Puskesmas di Kabupaten Murung Raya yang menerapkan sistem Kapitasi Berbasis Komitmen (KBK). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan usia, tingkat pendidikan, fasilitas dengan kepuasan pasien. Rancangan penelitian observasional analitik, dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian masyarakat yang pernah mendapatkan pelayanan kesehatan dengan jumlah sampel 100 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan menggunakan chi-square dengan derajat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia dengan kepuasan (nilai p = 0,030; OR = 2,674), terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan kepuasan pasien (nilai p = 0,0001; OR = 9,211), serta ada hubungan antara fasilitas dengan kepuasan pasien (nilai p = 0,0001; OR = 14,885). Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara usia, tingkat pendidikan, fasilitas dengan kepuasan pasien di Puskesmas Muara Laung.Kata-kata kunci: Usia, tingkat pendidikan, fasilitas, kepuasanABSTRACTThe contact rate at the Muara Laung Health Center is 17.35% or the lowest of the four Public Health Centers in the Regency of Murung Raya that applies the Commitment-Based Capitation system. The purpose of this study was to determine the relationship of age, education level, facilities with patient satisfaction. Analytic observational research design, with cross sectional approach. Community research subjects who have received health services with a sample of 100 people. The sampling technique uses purposive sampling. Data analysis was performed using chi-square with a degree of confidence of 95%. The results showed that there was a significant relationship between age and satisfaction (p = 0.030; OR = 2.674), there was a relationship between education level and patient satisfaction (p = 0.0001; OR = 9.211), and there was a relationship between facilities with patient satisfaction (p = 0.0001; OR = 14.885). Based on this it can be concluded that there is a relationship between age, level of education, facilities and patient satisfaction at the Muara Laung Health Center.Keywords: Age, education level, facilities, satisfaction
ANALISIS TIMBULAN SAMPAH DI KANTOR GUBERNUR PROVINSI SULAWESI BARAT Chairani Hairuddin, Miftah; Rahmah, Siti
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpkmi.v7i1.8791

Abstract

ABSTRAK Total sampah di Indonesia khususnya Mamuju memberikan kontribusi sekitar 200 meter kubik. Data profil dari Dinas Tata Ruang dan Kebersihan Kabupaten Mamuju pada tahun 2009 volume sampah mencapai 62.208 m³, tahun 2010 mencapai 71.280 m³ dan pada tahun 2011 mencapai 83.035 m³. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi hubungan antara jumlah timbulan dengan jumlah karyawan dan luas bangunan. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional study. Populasi adalah jumlah sampah yang ada di kantor pada Kompleks Perkantoran Gubernur Provinsi Sulawesi Barat sedangkan sampel adalah jumlah sampah di Kantor Gubernur Sulawesi Barat. Teknik pengambilan sampel secara non random yaitu total sampling. Instrumen penellitian berdasarkan prosedur dalam SNI 19-3964-1194 berupa form. Analisis data yang dilakukan adalah analisis univariat berdasarkan rumus yang tertera pada SNI 19-3964-1194 dan analisis bivariat menggunakan uji Spearman. Dari hasil penelitian ini didapatkan berat timbulan sampah yang paling tinggi berada di Gedung F yaitu 0,24 kg/org/hari atau 0,10 liter/org/hari. Jumlah timbulan, baik satuan massa maupun satuan volume, tidak memiliki korelasi hubungan dengan jumlah karyawan dan luas bangunan. Kata-kata kunci:  Sampah, berat jenis, timbulan, komposisi, pengelolaan sampah  ABSTRACT Total garbage in Indonesia especially Mamuju contributes about 200 cubic meters per day. The data from Spatial and Cleanliness Department of Mamuju Regency in 2009, volume of the waste reached 62,208 m³ and 71,280 m³ in 2010 and 83,035 m³ in 2011. The purpose of this study is to determine correlation between the number of generation waste with number of employees and building area.This research was an observational research with cross sectional study design. Populations were amount of waste in Governor Office Area in West Sulawesi Province while the sample were amount of waste in Governor Office. Sampling technique was non-random which is total sampling. Research instruments based on SNI 19-3964-1194 procedures. Data analysis was univariate analysis based on the formula stated in SNI 19-3964-1194 and bivariate analysis using the Spearman test. The highest weight of generation waste was in Building F which was 0.24 kg/people/day or 0.10 L/people/day. The number of generation waste, both mass and volume, was no association between the number of employees and building area. Keywords: Composition, generation, gravity, specific, waste
HUBUNGAN USIA MATERNAL DENGAN METODE PERSALINAN DAN LUARAN BAYI (BERAT BADAN LAHIR DAN APGAR SCORE) DI RSUD ULIN BANJARMASIN PERIODE Aditya, Renny; Richardo, Yuvens
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 5, No 3 (2018): Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpkmi.v5i3.6535

Abstract

ABSTRAKKehamilan remaja adalah kehamilan pada ibu dengan usia kurang dari 20 tahun saat melahirkan. Faktor risiko diantaranya prematuritas, berat badan lahir rendah, preeklampsia, perdarahan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis adanya hubungan usia ibu saat hamil (usia maternal) dengan metode persalinan dan luaran bayi (berat bayi lahir dan APGAR menit pertama) di Bagian Obstetri & Ginekologi RSUD Ulin Banjarmasin. Desain penelitian ini berupa analitik observasional dengan pendekatan cohort retrospective study, dengan metode simple random sampling.dari rekam medis. Sampel penelitian sejumlah 304 pasien hamil. Instrumen penelitian adalah lembar checklist dan medical record pasien. Analisis data dengan menggunakan uji chi square dengan derajat kepercayaan 95%. Hasil menunjukkan adanya hubungan signifikan antara usia maternal dengan berat bayi lahir (p value = 0,0001), dengan risiko relatif terjadinya BBLR (<2500 g) pada kelompok usia 14-19 tahun adalah 1,72; CI 95% 1,72-1.75. Usia maternal juga memiliki hubungan yang signifikan dengan metode persalinan (p value =0,0001), dengan risiko relatif metode persalinan perabdominam pada kelompok usia 14-19 tahun adalah 1,32; CI 95% 1,32-1,33. Sedangkan terhadap skor APGAR menit pertama, usia maternal tidak memiliki hubungan yang bermakna (p value >0,05). Jadi, dapat disimpulkan bahwa usia remaja berisiko untuk terjadinya berat bayi lahir rendah dan dengan metode persalinan perabdominal. Berdasarkan hasil penelitian ini,disarankan dilakukan peningkatan pendidikan dan informasi kesehatan seksual dan reproduksi pada remaja sejak dini.Kata-kata kunci: Kehamilan remaja, berat badan lahir, APGAR score, metode persalinanABSTRACTTeenage pregnancy is pregnancy in mothers less than 20 years of age during childbirth. Risk factors include prematurity, low birth weight, preeclampsia, bleeding. The purpose of this study was to analyze the relationship between maternal age during pregnancy (maternal age) with the method of delivery and outcome of the baby (birth weight and first minute APGAR) in the Obstetrics & Gynecology Section of Ulin Hospital Banjarmasin. The design of this study is an observational analytic with a cohort retrospective study approach, with a simple random sampling method. Research instrument is checklist paper and patient medical records. Data analysis with chi-square test at 95% singnificancy. The sample was 304 pregnant patients. The results showed a significant relationship between maternal age and birth weight (p value = 0.0001), with the relative risk of LBW (<2500 g) in the 14-19 year age group being 1.72; 95% CI 1.72-1.75. The maternal age also had a significant relationship with the method of delivery (p value = 0.0001), with the relative risk of maternal maternal labor methods in the 14-19 year age group being 1.32; CI95% 1.32-1.33. Whereas for the first minute APGAR score, maternal age did not have a significant relationship (p value> 0. 05). So, it can be concluded that the age of adolescents is at risk for the occurrence of low birth weight and with the method of maternal labor. Based on the results of this study, it is recommended that an increase in education and information on sexual and reproductive health in adolescents early on.Keywords: Teen pregnancy, birth weight, APGAR score, method of delivery
HUBUNGAN PENDIDIKAN, PENGETAHUAN DAN DUKUNGAN SUAMI DENGAN ANC K4 DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BERANGAS KABUPATEN BARITO KUALA Anam, Khairul; Norfai, Norfai
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 4, No 3 (2017): Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpkmi.v4i3.4317

Abstract

Abstrak Antenatal Care adalah pelayanan kesehatan secara berkala selama masa kehamilan ibu yang diselenggarakan oleh tenaga kesehatan professional seperti dokter spesialis kandungan, kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat kepada ibu hamil dan janin yang dikandungnya untuk menjamin agar ibu hamil dapat melalui masa kehamilan, persalinan dan nifas dengan baik dan selamat serta melahirkan bayi yang sehat. Cakupan ANC K4 di Puskesmas Berangas terjadi penurunan persentase dari tahun 2014 sebesar 76,50% menjadi sebesar 63,6% pada tahun 2015, sedangkan pada tahun 2015 Puskesmas Berangas menempati urutan kedua terendah dalam cakupan ANC K4 dari 19 Puskesmas yang terdapat di Kabupaten Barito Kuala. Penelitian ini bertujuan mengetahui dan menjelaskan hubungan pendidikan, pengetahuan dan dukungan suami dengan ANC K4 di wilayah kerja Puskesmas Berangas Kabupaten Barito Kuala tahun 2016. Penelitian ini merupakan survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Besar sampel sebanyak 92 responden dengan cara pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang dibagikan langsung kepada responden. Data dianalisis menggunakan statistik univariat dan bivariat uji Chi Square dengan uji alternatif uji Fisher Exact menggunakan program komputer dengan nilai kemaknaan (a) 0,05. Variabel yang secara statistik berhubungan bermakna dengan Antenatal Care (ANC) K4 (nilai p ≤ 0,05) adalah pengetahuan dengan nilai p = 0,001 dan dukungan suami dengan nilai p = 0,009. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan  bahwa faktor pengetahuan dan dukungan suami mempunyai kontribusi besar terhadap ibu hamil dalam hal pemeriksaan kehamilan secara berkala sesuai standar minimal. Kata-kata kunci: ANC K4, pendidikan, pengetahuan dan dukungan suami  Abstract Antenatal Care is health care on a regular basis during pregnancy of mother organized by health care professionals such as obstetricians, obstetric, general practitioners, midwives and nurses to pregnant women and the fetus to ensure that pregnant women can go through pregnancy, childbirth and postpartum well and happy and healthy baby. Coverage of ANC K4 in Berangas public health service occurs decreasing the percentage of 2014 amounted to 76.50% to 63.6% in 2015, whereas in 2015 Berangas public health service ranks second lowest in the ANC K4 coverage of 19 public health service that located in Barito Kuala. This study aims to identify and explain the relationship of education, knowledge and husband support with the ANC K4 in working area Barito Kuala Berangas public health service in 2016. This research is an analytic survey with cross sectional approach. With sample of 92 respondents by taking of sampling using purposive sampling. Data were collected by using a questionnaire distributed directly to the respondent. Data were analyzed using univariate and bivariate statistics Che Square test by Fisher Exact alternative test uses a computer program with a value of significance (a) 0.05. Variables were significantly associated with the ANC K4 (p-value ≤ 0.05) is the knowledge with p value = 0,001 and husband support with p value = 0,009. Based on it can be concluded that knowledge factor and husband support have big contribution to pregnant mother in case of periodic checking of pregnancy according to minimum standard. Keywords: ANC K4, education, knowledge and husband support 
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEIKUTSERTAAN PESERTA KB METODE OPERASI PRIA (MOP) DI KECAMATAN KONTUNAGA KABUPATEN MUNA Ramadhan, Kadar
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpkmi.v2i3.2728

Abstract

AbstrakPartisipasi pria dalam program KB khususnya penggunaan alat kontrasepsi masih sangat rendah. Kesetaraan berkontrasepsi masih timpang antara pria dan wanita, ini menimbulkan anggapan bahwa program KB selama ini mengarahkan sasaran pada perempuan. Keengganan pria berkontrasepsi banyak disebabkan faktor persepsi umum yang menyatakan bahwa KB adalah urusan wanita dengan kodratnya untuk hamil dan melahirkan. Rendahnya keikutsertaan pria dalam pengunaan alat kontrasepsi dapat dilihat dari berbagai aspek. Dari pria itu sendiri: pengetahuan sikap dan praktek serta kebutuhan yang diinginkan, serta kondisi lingkungan sosial budaya, masyarakat, dan keluarga/istri. Penelitian bertujuan untuk mengetahui beberapa faktor yang berhubungan dengan keikutsertaan Peserta KB Metode Operasi Pria (MOP)Jenis penelitian adalah penelitian observasional dengan pendekatan ”cross sectional study”. Populasi adalah seluruh Peserta KB pria yang terdaftar di PLKB yaitu sebanyak 107 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah peserta yang terpilih yaitu sebanyak 84 sampel. Pengambilan sampel dengan cara “stratified random sampling”. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan (p<0,001), jumlah anak (p<0,001), kesepakatan suami dan istri (p=0,002), ketersediaan alat/tindakan kontrasepsi pria (p=0,015), dan pemberian informasi dari petugas KB (p<0,001) dengan keikutsertaan peserta KB Metode Operasi Pria (MOP).Kata-kata kunci : KB, Metode Operasi Pria. Abstract The participation of men in family planning programs, especially the use of contraceptives is still very low. Equality contraception use still unequal between men and women, this leads to the assumption that the program has been directing targeted at women. The reluctance of many men ussing contraception due to factors common perception that states that family planning is a matter of women with nature to get pregnant and give birth. The low participation of men in the use of contraceptives can be viewed from various aspects. From the man himself: the knowledge attitudes and practices and requirements, as well as the socio-cultural environment, community, and family / wife. The study aimed to determine factors related to the participation Participants family planning Male Permanent Sterilization The study was an observational study with a "cross sectional". The population is all Participants KB PLKB men registered as many as 107 people. The sample in this study are listed participants as many as 84 samples. Sampling by means of "stratified random sampling". The results showed relationship between knowledge (p<0.001), the number of children (p<0.001), the agreement of husband and wife (p = 0.002), the availability of tools / actions of male contraception (p=0.015), and the provision of information from officers KB (p<0.001) with the participation of contraception use Male Permanent Sterilization.Keyword: Family planning, Male Permanent Sterilization
FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN BERAT BAYI BARU LAHIR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MARTAPURA KABUPATEN BANJAR Diniya, Nashihatu; Rahayu, Atikah; Musafaah, Musafaah
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpkmi.v3i3.2757

Abstract

AbstrakBerat badan bayi lahir merupakan salah satu gambaran keadaan kesehatan dan gizi bayi dalam masa kandungan. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar tahun 2013 di wilayah kerja Puskesmas Martapura terdapat 41 kasus BBLR, pada tahun 2014 terdapat 35 kasus, dan pada tahun 2015 terdapat 48 kasus BBLR. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan case control study melalui pendekatan retrospektif. Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil pada tahun 2013, 2014 dan 2015 di wilayah kerja Puskesmas Martapura Kabupaten Banjar yang diambil menggunakan teknik simple random sampling. Sampel penelitian ini berjumlah 164 responden dengan perbandingan jumlah sampel 1:3 dihitung menggunakan rumus Lemeshow uji hipotesis beda dua proporsi. Analisis data secara univariat dan bivariat dengan uji Chi Square tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara paritas ibu dengan berat bayi baru lahir (pvalue= 0,017), ada hubungan antara LILA ibu dengan berat bayi baru lahir (p-value=0,0001), ada hubungan antara status kunjungan antenatal care ibu dengan berat bayi baru lahir (p-value=0,003), ada hubungan antara kadar Hb ibu dengan berat bayi baru lahir (p-value=0,0001), ada hubungan antara usia ibu saat hamil dengan berat bayi baru lahir (p-value=0,008), dan ada hubungan antara usia kehamilan ibu dengan dengan berat bayi baru lahir (p-value=0,0001). Kesimpulan berat bayi baru lahir dipengaruhi oleh paritas >4, LILA <23,5, kunjungan antenatal care tidak lengkap, kadar Hb kategori anemia, usia ibu saat hamil dan usia kehamilan yang berisiko.Kata-kata kunci: Berat bayi lahir rendah, paritas, usia kehamilan, ibu hamil. AbstractBirth weight babies is one of the representation of baby health and nutrient condition in pregnant period, Dinas Kesehatan District of Banjar data on 2013 in work area of Public Health Center Martapura showed that there were 41 cases BBLR, on 2014 there were 35 cases, and on 2015 there were 48 cases. This research was analitic observasional with case control study through retrospective approach. Research population was all pregnant women on 2014, 2014, and 2015 in work area Public Health Center Martapura District of Banjar which collected using simple random sampling technique. Research sample was 164 respondents with amount comperation 1:3 counted used Lemeshow formula proportion two different hyphotesis test. Data analysis in univariat and bivariat with Chi Square test with 95% confidence level. The research result showed that there was correlation between mother parity with birth weight babies (p-value=0,017), there was correlation between mother LILA with birth weight babies (p-value=0,0001), there was correlation between mother visit status with birth weight babies (p-value=0,003), there was correaltion between Mother Hb degree with birth weight babies (pvalue= 0,0001), there was correlation between mother age on pregnant period with birth weight babies (p-value=0,0001). The conclusion’s with birth weight babies influenced by parity >4, LILA <23,5, uncomplete antenatal care visit, Hb degree anemia category, mother agen on pregnant period and risk age of pregnant.Key words: low birth weight, parity, age on pregnant, pregnant women.
KARAKTERISTIK PENDERITA TB PARU PENGGUNA OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) DI INDONESIA Zubaidah, Tien; Setyaningrum, Ratna
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpkmi.v2i1.2710

Abstract

Abstrak Tuberkulosis (TB) Paru merupakan penyakit infeksi kronik dan menular yang erat kaitannya dengan keadaan lingkungan dan perilaku  masyarakat.  Upaya penurunan TB Paru di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1969, namun sampai sekarang perkembangan penanggulangan  TB Paru belummenunjukkanhasilyangmenggembirakan.Ketidakpatuhan penderita dalam pengobatan TB Paru membuat bakteri TB  Paru menjadi resisten pada tubuh. Pengawasan selama proses pengobatan yang berlangsung tidak dapat terlaksana dengan baik oleh keluarga maupun penderita sendiri. Tujuan umum yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah menganalisis faktor yang berpengaruh terhadap penggunaan OAT pada penderita TB Paru di Indonesia ditinjau dari karakteristik individu (umur, jenis kelamin dan tingkat pendidikan) dan status pekerjaan. Jenis penelitianstudi non-intervensi dan desain penelitian potong lintang (cross sectional). Penelitian ini dilakukan pada 33 (tiga puluh tiga) provinsi di Indonesia. Hasil uji regresi logistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, dengan penggunaan OAT. Variabel status pekerjaan penderita TB Paru tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penggunaan OAT (p=0,454). Kata-kata Kunci : Karakteristik Penderita TB Paru, Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Abstract                Pulmonary tuberculosis is a chronic infectious and contagious disease that is closely related to the environment and people's behavior. Pulmonary tuberculosis reduction efforts in Indonesia have started since 1969, but until now the development of pulmonary tuberculosis prevention have not shown encouraging results. Non-compliance in the treatment of patients with pulmonary tuberculosis make Pulmonary tuberculosis bacteria become resistant to the body. Supervision during the treatment process which takes place can not be implemented properly by the family and the patient himself. The general objective to be achieved in this research was to analyze the factors that influence the use of anti-tuberculosis drugs in patients with pulmonary tuberculosis in Indonesia in terms of individual characteristics (age, gender and level of education) and job status.The study of non-intervention studies and cross-sectional study design (cross-sectional). This study was conducted on 33 (thirty-three) provinces in Indonesia. The results of logistic regression test showed a significant relationship between sex, age, education level with the use of anti-tuberculosis drugs. Job status variables pulmonary tuberculosis patients did not significantly affect the use of anti-tuberculosis drugs (p = 0.454). Factors that influence the use of anti-tuberculosis drugs in patients with Pulmonary in Indonesia that the characteristics of patients with pulmonary tuberculosis (gender, age, level of education) are an influential factor in this study and statistically significant. Keywords: The Characteristics of Patients With Pulmonary Tuberculosis, The use Anti-Tuberculosis Medicine
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DENGAN USIA MENARCHE DI SMPN 7 BANJARMASIN Yuliastuti, Erni
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpkmi.v2i1.2706

Abstract

Abstrak Masa remaja merupakan masa transisi yang unik dan ditandai dengan terjadinya haid pertama/menarche. Membaiknya  standar  kehidupan berdampak pada penurunan usia menarche ke  usia  yang  lebih  muda, usia  menarche remaja  putri  di indonesia  berkisar  pada  angka 10,82  tahun. Berat badan sangat mempengaruhi status gizi dalam kaitanya terhadap usia menarche. Di Kalimantan Selatan prevalensi remaja putri usia 13-15 tahun dengan prevalensi kurus yaitu 11,1% dan prevalensi gemuk yaitu 10,8%. Sebaliknya prevalensi gemuk naik dari 1,4 persen (2007) menjadi 7,3 persen (2013). Selanjutnya akan diteliti hubungan Indeks massa tubuh dengan usia menarche di SMPN 7 Banjarmasin.Rancangan penelitian yang digunakan Cross Sectional (Analitik). Populasi penelitian siswi kelas VIII sebanyak 118 orang. Sampel penelitian sebanyak 55 orang, dengan tehnik Purposive Sampling. Analisa statistik menggunakan uji Chi square.Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar indeks massa tubuh (IMT) kategori normal sebanyak 35 orang (63,6%) dan sebagian besar usia menarche kategori normal sebanyak 46 (83,6%). Analisa Chi square untuk hubungan indeks massa tubuh (IMT) dengan usia menarche didapatkan nilai sebesar 0,001. Nilai signifikan lebih rendah dari taraf signifikan 0,1. Sehingga dinyatakan bahwa terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dengan usia menarche di SMPN 7 Banjarmasin. Dari penelitian ini indeks massa tubuh berhubungan dengan usia menarche. Kata-kata Kunci : Indeks massa tubuh (IMT), usia menarche  Abstract Adolescence is a unique period of transition and is characterized by the occurrence of the first menstruation / menarche. The improvement in the standard of living impact on the age of menarche to the younger age,  age of menarche girls in Indonesia stood at approximately 10.82 years.  Weight greatly affect nutritional status in relation to the age of menarche. In South Kalimantan prevalence of young women aged 13-15 years with a prevalence of 11.1% and the underweight prevalence is 10.8% fat. Conversely the prevalence of obese rose from 1.4 percent (2007) to 7.3 percent (2013). Furthermore, we will study the relationship of body mass index with age of menarche in SMPN  7 Banjarmasin. Used a cross sectional design (Analytical).  The study population was 118 eighth grader with the purposive sampling technique, number of samples 55 respondents. Statistical analysis using Chi square test. The results showed most of the body mass index (BMI) of normal category by 35 people (63,6%) and most of the normal age of menarche category as many as 46 people (83,6%). Chi-square analysis for the relationship of body mass index (BMI) with age of menarche obtained  value of 0.001. Significantly lower value than the significant level of 0.1. So it is stated that there is a relationship between body mass index with age of menarche in SMP 7 Banjarmasin. In this study, body mass index associated with the age of menarche. Keywords : Body mass index (BMI), age of menarche
DETERMINAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KATOBENGKE Hudayah, Nur; Meilani, Ni’ma; Ona, Wa
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 6, No 3 (2019): Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpkmi.v6i3.8182

Abstract

ABSTRAKLebih dari sekitar 132 juta bayi lahir setiap tahunnya di dunia, hanya 51 juta yang mendapatkan ASI Ekslusif dan 81 juta lainnya tidak mendapatkan ASI eksklusif. Menurut data laporan Dinas Kesehatan Kota Baubau diketahui bahwa pada tahun 2017 cakupan ASI eksklusif di Puskesmas Katobengke menempati urutan keempat dengan persentase mencapai 52,6%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan pemberian ASI eksklusif yang meliputi karakteristik ibu (umur saat melahirkan, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan) dan promosi susu formula. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Jumlah populasi dalam penelitian ini berjumlah 96 orang yang mempunyai bayi 0-6 bulan yang terdaftar dalam catatan KIA Puskesmas Katobengke. Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik total sampling sehingga seluruh populasi dalam penelitian ini adalah sampel. Data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara dan observasi dengan instrumen berupa kuesioner. Analisis data dalam penelitian ini adalah analisis bivariat menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%. Uji chi square menunjukkan p-value untuk variabel umur adalah sebesar 0,654. Besaran p-value untuk variabel pendidikan adalah 0,497. Besaran p-value untuk variabel pekerjaan dan pengetahuan adalah 0,003. Besaran p-value untuk variabel promosi susu formula adalah 0,019. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara umur ibu dan pendidikan ibu dengan perilaku pemberian ASI ekslusif di wilayah kerja Puskesmas Katobengke. Serta diperoleh hubungan yang bermakna antara pekerjaan ibu, pengetahuan ibu, dan promosi susu formula terhadap perilaku pemberian ASI eksklusif di Puskesmas Katobengke.Kata-kata kunci : Determinan, ASI eksklusif, karakteristik ibu, susu formula ABSTRACTMore than about 132 million babies are born every year in the world, only 51 million get exclusive breastfeeding and another 81 million do not get exclusive breastfeeding. According to the Baubau City Health Office data report it is known that in 2017 exclusive breastfeeding coverage at the Katobengke Health Center ranks fourth with a percentage reaching 52.6%. This study aims to determine the determinants of exclusive breastfeeding which includes maternal characteristics (age at birth, education, occupation, knowledge) and the promotion of formula milk. This type of research is quantitative research with cross sectional research design. The population in this study amounted to 96 people who have babies 0-6 months registered in the MCH records Katobengke Health Center. The determination of the sample in this study uses a total sampling technique so that the entire population in this study is the sample. Data in this study were obtained from interviews and observations with instruments in the form of questionnaires, as well as literature studies from several sources both agencies and other literature. Data analysis in this study included univariate analysis to see or get a picture of the distribution of respondents and bivariate analysis using the Chi-square test with a confidence level of 95%. Chi square test shows the p-value for the age variable is 0.654. The p-value for the education variable is 0.497. The p-value for work and knowledge variables is 0.003. The p-value for the formula milk promotion variable is 0.019. So it can be concluded that there is no relationship between mother's age and mother's education with exclusive breastfeeding behavior in the working area of Katobengke Health Center. And obtained a significant relationship between mother's work, mother's knowledge, and the promotion of formula milk to the behavior of exclusive breastfeeding at Katobengke Health Center.Keywords : Determinants, Exclusive breastfeeding, mother's characteristics, formula milk
GAMBARAN KEPATUHAN PERAWAT DALAM PELAKSANAAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) CUCI TANGAN DI RUANG ISOLASI DAN BEDAH RSUD POSO Parwata, Ni Made Ridla Nilasanti; Nursana, I Made
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 4, No 1 (2017): Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpkmi.v4i1.3426

Abstract

Page 1 of 10 | Total Record : 100