cover
Contact Name
Yushak Soesilo
Contact Email
yushak@sttintheos.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.dunamis@sttintheos.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : 25413937     EISSN : 25413945     DOI : -
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani dengan nomor ISSN 2541-3937 (print), ISSN 2541-3945 (online) diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta. Tujuan dari penerbitan jurnal ini adalah untuk mempublikasikan hasil kajian ilmiah dan penelitian dalam bidang ilmu Teologi Kristen, terutama yang bercirikan Injili-Pentakosta, dan bidang Pendidikan Kristiani.
Arjuna Subject : -
Articles 63 Documents
Folklore Saka Mese Nusa sebagai Basis Teologi Lokal dalam Relasi Komunitas Kristen dan Non-Kristen di Seram Bagian Barat Pentury, Marcho David
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 1 (2020): Oktober 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v5i1.343

Abstract

Abstract. This article aimed to read local theological folklore for a society. Folklore is arranged to reconcile differences, especially religion, in a pluralistic society. The method used in this study is a qualitative method by conducting empirical research on the appreciation of folklore saka mene nusa of the West Seram community. The result was that when folklore is appreciated and used as material for local theology, it will result in a moral transformation that reaches non-Christian communities. That means theology does not only build relationships with God, but also solidarity with others.Abstrak. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengusulkan folklore sebagai teologi lokal bagi suatu masyarakat. Folklore diyakini dapat mendamaikan perbedaan, khususnya agama, dalam masyarakat yang majemuk. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan melakukan penelitian empiris terhadap penghayatan folklore saka mene nusa masyarakat Seram Bagian Barat. Hasilnya adalah ketika folklore tersebut dihargai dan dijadikan bahan baku teologi lokal, maka hal itu akan menghasilkan transformasi moral yang menjangkau juga komunitas di non-Kristen. Itu artinya teologi tidak hanya membangun relasi kepada Tuhan, namun juga solider dengan sesama.
An Analysis of Economic Wealth of God’s People from Nomadic to Post Exilic Era Wiryadinata, Halim
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 2 (2019): April 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v3i2.184

Abstract

The terminology of the economic wealth is not actually related to the poor in terms of poverty and wealth in the Bible. The terminology of wealth and poverty is not a matter of relationship to the business or economy, but they are rather to have relationships to seek the righteousness of God. Thus, one should clarify the meaning of wealth and poverty in order to seek the real meaning of the Old Testament theology. The eras of Nomadic to Post Exilic give the idea of how God dealt with the people of God in term of sinful nature. It is not the matter of the economic situation, but it is blessedness for the people who seek Him with all their heart. Nomadic era gives an idea of how God gives the promise land to the people of Israel as long as they can keep the covenant. However, throughout the history the Israelites never entered into the promise land, except Caleb and Joshua. The picture of Babylonia is the wrath of God to the people of Israel who never listen to the command of God. In conclusion, seeking God with full heart will find ‘rest’ forever and keep the promise forever more. Keeping the righteousness of God will bring justice to the poor and let the poverty be away from the poor.
Beyond the Language: Sebuah Studi Analisis Dan Komparasi antara Konsep Bahasa Roh dalam Teologi Pentakosta dengan Konsep Rede dalam Filsafat Martin Heidegger Layantara, Jessica Novia
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4, No 1 (2019): Oktober 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v4i1.207

Abstract

Abstract. This article discusses the comparison between the concepts of speaking in tongues in Pentecostal theology and the concept of Rede in the philosophy of Martin Heidegger. The thesis of this article was that the concept of speaking in tongues in Pentecostal theology had many similarities to the concept of Rede in Heidegger's philosophy. The similarities were found in the characters in both concepts, which were communicative, intelligible, revealing and both were authentic human characters (Dasein). Nevertheless, the concept of speaking in tongues in Pentecostal theology had a uniqueness over the concept of Rede in Heidegger's philosophy, because it encompassed not only the human rationality, but also the realm of faith. In this article it was shown that the two concepts influenced and enriched each other. This comparative study also yielded some conceptual contributions to both Pentecostal theology and Heidegger's philosophy, which were also useful for dealing with the criticisms raised against both.Abstrak. Artikel ini membahas komparasi antara konsep bahasa roh dalam teologi Pentakosta dengan konsep Rede dalam filsafat Martin Heidegger. Tesis dari artikel ini adalah bahwa konsep bahasa roh dalam teologi Pentakosta memiliki banyak kemiripan dengan konsep Rede dalam filsafat Heidegger. Kemiripan-kemiripan tersebut terdapat dalam karakter-karakter yang ada di dalam kedua konsep tersebut, antara lain sama-sama bersifat komunikatif, bersifat menyingkapkan, dapat dimengerti, dan keduanya merupakan karakter dari manusia yang otentik (Dasein). Walau demikian, konsep bahasa roh dalam teologi Pentakosta memiliki kekhasan dibanding konsep Rede dalam filsafat Heidegger, karena bukan hanya mencakup ranah rasionalitas manusia tetapi juga ranah iman. Di dalam artikel ini akan ditunjukkan bahwa kedua konsep tersebut dapat saling mempengaruhi dan memperkaya satu sama lain. Studi komparasi ini juga akan menghasilkan beberapa kontribusi yang bermanfaat secara konseptual baik bagi teologi Pentakosta maupun filsafat Heidegger, yang juga bermanfaat untuk menghadapi kritik-kritik yang diajukan terhadap keduanya.
Mengajarkan Nasionalisme Lewat Momentum Perayaan Paskah: Refleksi Kritis Keluaran 12:1-51 Siahaan, Harls Evan
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 2 (2017): April 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v1i2.119

Abstract

This research is due to social phenomenon in Indoensia lately, where tendention of nationalism is decreasing. Church, which is being a part of this nation component, has responsibility to build its people’s sense of nationalism, not mere making them as heavenly citizen. The aim of this article is to point out a biblical study about Passover celebration at the first time in The Old Testament, which constituted a commemoration of Israel nationality deliverance from the bondage of Egypt, what was to become an implication of Jesus’ death and resurrection event. It uses a historical analysis on biblical text Exodus 12:1-51 with exposition approach for acquiring an event implication in Old Testament theology context. After reading the whole text in the passage, considering its context and genre, then reconstruct its narrative and analyze it, so the conclusion is, that Passover celebration in the first time is God’s action to deliver Israel as a nation from Egypt. The research finding is to recommend that Passover celebration in future will be able to increase church’s sense of nationality in Indonesia context.Artikel ini adalah sebuah penelitian yang berkaitan dengan fenomenologi sosial di Indonesia dewasa ini, di mana kecenderungan memupusnya sikap nasionalisme anak bangsa. Gereja Tuhan sebagai bagian dari komponen bangsa ini memiliki tanggung jawab untuk membangun rasa nasionalisme umat, tidak hanya sekadar menjadikannya warga surga seperti idealisme teologi. Tujuan artikel ini untuk menunjukkan kajian biblikal tentang perayaan Paskah yang secara asali merupakan peringatan tentang perjuangan pembebasan Israel sebagai sebuah bangsa, yang di kemudian hari memberikan implikasi teologis pada peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus. Metode yang digunakan adalah analisis historis pada teks Keluaran 12:1-51 dengan pendekatan eksposisi, untuk mendapatkan implikasi peristiwa dalam konteks teologi Perjanjian Lama. Setelah membaca teks secara keseluruhan, lalu memperhatikan konteks dan genre sastera, merekonstruksi narasi teks dan menganalisisnya, maka disimpulkan bahwa pada awalnya peristiwa Paskah merupakan perbuatan ilahi untuk membebaskan Israel dari penjajahan Mesir. Temuan pembahasan dan simpulan merekomendasikan agar momentum perayaan Paskah dapat meningkatkan rasa nasionalisme gereja dalam konteks Indonesia.
Memahami Kesia-sian dalam Kitab Pengkhotbah Susanta, Yohanes Krismantyo
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 1 (2017): Oktober 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v2i1.124

Abstract

Abstract: This paper is an attempt to understand a phrase in the  book of Ecclesiastes which is often-misunderstood that  "a lot of learning makes the body to be weary." Using the biblical approach, it argued that the tone of skepticism in the book needs to be re-understood. The phrase does not justify the lazy nature; Instead it becomes a rebuke and an invitation for believers not to rely on human reason and wisdom but to rely on God, the owner of life. Abstrak: Tulisan ini merupakan usaha memahami sebuah ungkapan dalam kitab pengkhotbah yang seringkali disalahpahami yaitu “banyak belajar melelahkan badan.” Dengan memanfaatkan pendekatan biblika, saya berpendapat bahwa nada skeptis dalam kitab ini perlu dipahami ulang. Ungkapan tersebut tidak membenarkan sifat malas; justru ia menjadi teguran sekaligus ajakan bagi orang beriman agar tidak mengandalkan akal budi dan hikmat manusia melainkan tetap bersandar kepada Allah, sang pemilik kehidupan.
Evaluasi Seratus Hari Periode Kedua Pemerintahan Presiden Joko Widodo Melalui Peristiwa Penobatan Saul sebagai Raja Hehanussa, Jozef M.N.
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4, No 2 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v4i2.237

Abstract

Abstract. Saul as the first king of Israel is often regarded as a king who was rejected by God. According to 1 Samuel 13, he had acted against the will of God as Samuel had reminded. However, from a different perspective can be found the good values of King Saul’s leadership. The author used the narrative interpretation method of 1 Samuel 10-11 in order to explore the positive values of King Saul's leadership which were then used as an evaluation for 100 days of the second period of President Joko Widodo's reign. The result is President Joko Widodo's efforts in building peace should be appreciated, but in upholding justice and human rights leave an unsatisfactory record.Abstrak. Saul sebagai raja pertama Israel sering dianggap sebagai raja yang ditolak oleh Allah. Menurut 1 Samuel 13, dia telah bertindak melawan kehendak Tuhan yang telah diingatkan oleh Samuel. Namun demikian, dari perspektif yang berbeda dapat ditemukan nilai-nilai kepemimpinan yang baik dari Raja Saul. Penulis menggunakan metode tafsir naratif terhadap 1 Samuel 10-11 dalam rangka menggali nilai-nilai positif dari kepemimpinan Raja Saul tersebut yang kemudian digunakan sebagai evaluasi bagi 100 hari periode kedua pemerintahan Presiden Joko Widodo. Hasilnya adalah dalam hal upaya Presiden Joko Widodo untuk menciptakan damai sejahtera patut diapresiasi, namun dalam hal tanggung jawab untuk menegakkan keadilan dan HAM masih menjadi catatan yang belum memuaskan.
Tidak Patut Mendidik Menurut Jalan yang Patut: Studi Eksegesis Amsal 22:6 Kelelufna, Jusuf Haries
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 1 (2020): Oktober 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v5i1.310

Abstract

Abstract. Proverbs 22:6 is generally understood as providing assurance of the good results when the education process was carried out properly. However, the reality is that there is good people who is basicly not highly educated, on the other hand, there is people who is well educated but having bad behavior. The purpose of this study was to explore the true meaning of good education for young people. The approach taken was exegesis to Proverbs 22:6 by analyzing the lexical, context and syntax of the Hebrew grammar. The result of the analysis showed that good education did not always end up good results because it was influenced by many factors in education process.Abstrak. Amsal 22:6 pada umumnya dipahami sebagai memberikan kepastian hasil didikan yang baik jika proses didikannya dilakukan dengan baik. Namun demikian, realitasnya ada orang baik namun tidak berpendidikan tinggi, dan sebaliknya, ada orang yang berpendidikan tinggi namun berperilaku buruk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggali maksud sebenarnya didikan yang baik bagi orang muda. Pendekatan yang dilakukan adalah eksegesis terhadap Amsal 22:6 dengan cara menganalisis leksikal, konteks serta sintaks tata bahasa Ibraninya. Hasil analisis menunjukkan bahwa didikan yang baik tidak selalu menghasilkan yang baik oleh karena pendidikan dipergaruhi juga oleh banyak faktor.
Merumuskan Etika Politik Kristen dalam Era Gangguan Terorisme di Indonesia Kristianto, Paulus Eko
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 2 (2019): April 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v3i2.186

Abstract

Abstract. Disruption of terrorism was a serious thing that threatens the life of nationalism in Indonesia. This disorder must be responded quickly and precisely as soon as possible. This article aimed to formulate one of the steps that could be taken, namely by building relevant Christian political ethics. The method used was descriptive analysis of various related literature that addresses this theme. In conclusion, Christian political ethics that have to be practiced by Christians is to develop an open understanding of "the other", including developing neighbouring theology.Abstrak. Gangguan terorisme merupakan hal yang serius mengancam kehidupan berbangsa di Indonesia. Gangguan ini harus direspon dengan cepat dan tepat sesegera mungkin. Artikel ini bertujuan untuk merumuskan salah satu langkah yang bisa dilakukan yakni dengan membangun etika politik Kristen yang relevan. Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis pada berbagai literaur terkait yang membahas tema ini. Kesimpulannya, etika politik Kristen yang harus diamalkan orang Kristen yaitu membangun pemahaman terbuka terhadap “sang liyan”, termasuk mengembangkan teologi pertetanggaan.
Pertobatan di Dalam Philokalia: Artikel Ulasan Wijaya, Hendi
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1 (2018): Oktober 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v3i1.174

Abstract

Abstract. This is a review article of repentance according to the writers of Philokalia. Philokalia is a collection of texts written between the fourth and fifteenth centuries by monks and Church Fathers from the Orthodox Christian tradition. Repentance is a process of renewing the inner man with tears so that the outer man is being process of holy before God and mature in Christ. There are two main points of the review: the process of repentance and the results of repentance. The process of repentance is the renewal of NOUS to Christ's maturity so that our NOUS or the intellect is not subject to the body or the desires of the flesh. The result of repentance is the sanctity of life and baptism in truth.Abstrak. Artikel ini adalah sebuah ulasan tentang pertobatan menurut pandangan para Bapa Gereja dalam buku Philokalia. Philokalia adalah kumpulan teks yang ditulis antara abad keempat sampai kelima belas oleh para rahib dan Bapa Gereja dalam tradisi Kristen Ortodoks. Pertobatan adalah suatu proses pembaruan manusia batiniah dengan air mata sehingga manusia lahiriah kembali menjadi kudus di hadapan Allah menuju kedewasaan ke arah Kristus. Ada 2 hal pokok pembahasan yaitu proses pertobatan dan hasil pertobatan. Proses pertobatan adalah pembaruan NOUS menuju kedewasaan seperti Kristus sehingga NOUS atau the intellect kita tidak takluk pada tubuh atau keinginan daging. Hasil pertobatan adalah kesucian hidup di dalam kebenaran dan pengudusan baptisan.
Khotbah Pengajaran Versus Khotbah Kontemporer Rey, Kevin Tonny
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 1 (2016): Oktober 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v1i1.100

Abstract

Khotbah merupakan bagian dari proses ibadah di gereja yang bertujuan memberikan penjelasan kepada warga gereja. Namun demikian, beberapa kotbah yang disampaikan bukannya memberikan penjelasan yang alkitabiah sebaliknya hanya memberikan pernyataan-pernyataan yang ambigu dan ambivalensi, bahkan cenderung provokatif. Khotbah yang disampaikan kiranya kembali pada pola alkitabiah, yaitu khotbah pengajaran seperti yang dilakukan Tuhan Yesus Kristus dan para rasul. Khotbah pengajaran berorientasi pada berita Alkitab yang memiliki wibawa ilahi. Khotbah pengajaran bukanlah kotbah yang memberikan banyak alasan-alasan tertentu, tetapi yang memiliki makna teologi dan aplikatif.Disisi lain, khotbah kontemporer telah diterima dengan tangan terbuka oleh beberapa gereja yang tingkat pemahaman terhadap Alkitab dan iman Kristen masih sah untuk dipertanyakan. Hal itu tidak menjadikan gereja tersebut memiliki perspektif negatif, melainkan semakin meningkatkan kesadaran teologis secara normatif; apakah khotbah yang disampaikan selama ini sudah sehat atau menjadi beban warga gereja sehingga tidak memberikan pertumbuhan spiritualitas seperti yang diharapkan. Kajian ini bersifat eksplanatif-argumentatif, tentang khotbah pengajaran versus khotbah kontemporer, sehingga pada akhirnya pembaca mampu merekonstruksi makna kotbah yang selama ini telah dihidupi dan menghidupkan dalam kehidupannya sehari-hari. Sermon is one of element in church service, which aim to explain the people of God. Nevertheless, some sermons preached not to give biblical explanation, otherwise make some ambiguous, even tend to be provocatively. Sermon presumably back to biblical pattern, that is a teaching sermon what Jesus ever did and also with the apostles. Teaching sermon is biblical oriented, which has divine authority. It is not about giving many reasons, but having theological sense and applicable. In other side, contemporary sermon has been received with hand opened by some churches which their biblical understanding is proper to be questioned. That doesn’t make the church has negative perspective, but more increases theological awareness normatively; either sermon has been preached sensely or become burden for God’s people, so they couldn’t grow up spiritually as expected. This article explains argumentatively about teaching sermon versus contemporary one, which at least the reader can reconstructing the meaning of sermon that has been lived within and living by in daily life.