cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpenataanruang@gmail.com
Editorial Address
Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Sipil, Perencanaan dan Kebumian (FTSPK),Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Sukolilo, Surabaya 60111
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Penataan Ruang
ISSN : 19074972     EISSN : 2716179X     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penataan Ruang (JPR) merupakan jurnal yang dikelola oleh Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Indonesia. Tujuan dari Jurnal Penataan Ruang adalah sebagai wadah diseminasi hasil-hasil penelitian pengabdian masyarakat pada bidang Perencanaan Wilayah dan Kota, baik di Indonesia maupun internasional.
Articles 119 Documents
KONSEP PENINGKATAN PELAYANAN ANGKUTAN ANTAR JEMPUT BERDASARKAN PREFERENSI SISWA SMPN DI KAWASAN SURABAYA PUSAT Sari, Novita; Sardjito, -; Purwadio, Heru
Jurnal Penataan Ruang Vol 5, No 1 (2010): Jurnal Penataan Ruang 2010
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v5i1.2239

Abstract

Biaya pendidikan merupakan salah satu permasalahan yang harus dihadapi orangtua. Berdasarkan data Susenas 2003, biaya pendidikan terdiri dari beberapa komponen dan yang paling tinggi adalah transporta siswa sekolah. Jumlah SMPN di Surabaya Pusat sebanyak 6 buah. Adanya jarak antara tempat tinggal dengan lokasi sekolah menimbulkan suatu pergerakan yang membutuhkan moda transportasi Penggunaan angkutan antar jemput ke sekolah paling banyak di SMPN 1 membuktikan preferensi siswa terhadap antar jemput tinggi, namun pelayanannya masih terbatas baik dari waktu, rute, kenyaman, keamanan dan lain-lain. Sehingga belum dapat memenuhi sesuai kebutuhan siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan positivistik dengan metode pengumpulan data yang digunakan adalah kuisioner untuk siswa di SMPN 1 Surabaya sebagai responden, Pengambilan kuisioner dilakukan pada siswa pengguna angkutan yaitu berjumlah 152 siswa. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui preferensi siswa serta faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam peningkatan angkutan antar jemput. Selanjutnya analisa yang digunakan adalah analisa statistik deskriptif melalui analisa proporsi serta analisa regresi logistik biner untuk mengetahui faktor-fakto yang dipertimbangkan dalam peningkatan angkutan antar jemput. Dari hasil kajian pustaka yang telah dilakukan, didapatkan faktor yang dipertimbangkan dalam pengingkatan angkutan antar jemput adalah kapasitas, rute, kecepatan dan kelancaran, biaya, waktu tempuh, kenyamanan, keamanan dan dampak yang ditimbulkan, Selanjutnya dari variabel tersebut melalui triangulasi antara preferensi siswa, regulator teori didapatkan konsep peningkatan angkutan antar jemput berdasarkan preferensi siswa SMPN di kawasan Surabaya Pusat yaitu angkutan yang nyaman dengan dilengkapi AC, waktu pelayanan yang tepat dan tidak lebih dari 1 jam (0,5 1 jam), mempunyai yang terpendek serta tarif yang murah yang didasarkan pada kesepakatan orangtua dan lembaga penyelenggara.
IDENTIFIKASI SEBARAN DAN KARAKTERISTIK RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK DI KOTA PEKANBARU Astaman, Syifa Nashella Rahmah; Idajati, Hertiari; Firmansyah, Fendy
Jurnal Penataan Ruang Vol 14, No 2 (2019): Jurnal Penataan Ruang 2019
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.614 KB) | DOI: 10.12962/j2716179X.v14i2.6601

Abstract

Ruang terbuka hijau di Kota Pekanbaru belum memenuhi ketentuan penyediaan 30%, terutama ruang terbuka hijau publik. Penyediaan ruang terbuka hijau tersebut juga belum menyeluruh dan tidak merata. Sehingga, ruang terbuka hijau publik di Kota Pekanbaru, khususnya ruang terbuka hijau publik, belum memadai dilihat dari segi kuantitas dan kualitas. Padahal untuk dapat menjalankan fungsinya, suatu ruang terbuka hijau harus memenuhi ambang batasnya. Apabila ambang batas terpenuhi, maka efek pendinginan akan sesuai dengan target. Sehingga, harus dilakukan identifikasi sebaran dan karakteristik ruang terbuka hijau publik untuk mengidentifikasi masing-masing potensi dan masalahnya. Metode penelitian ini adalah dengan deskriptif. Hasil yang didapatkan adalah teridentifikasinya 48 ruang terbuka hijau publik yang terdiri dari taman, tempat pemakaman umum, lapangan, jalur hijau, dan hutan kota
PENGEMBANGAN KAWASAN CAGAR BUDAYA AMPEL SEBAGAI POTENSI PARIWISATA RELIGI DI SURABAYA Suprihardjo, Rimadewi
Jurnal Penataan Ruang Vol 11, No 1 (2016): Jurnal Penataan Ruang 2016
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.583 KB) | DOI: 10.12962/j2716179X.v11i1.5213

Abstract

Keberadaan Ampel semakin kuat dengan ditemukannya nilai ruang Kawasan Ampel. Kekuatan nilai religi membuat kawasan Ampel sebagai pusat syiar agama yang berpengaruh secara lokal, regional dan nasional bahkan internasional. Nilai histori akan berperan meningkatkan kawasan Ampel menjadi cagar budaya yang aktif (tidak pasif dan statis). Nilai sosial-budaya yang tumbuh di masyarakat Ampel dapat menjadi contoh masyarakat kota Surabaya lainnya dalam menggalang kekuatan kebersamaan, demikian pula nilai ruang ekonominya dapat meningkatkan peran perdagangan dengan skala lokal, regional dan nasional. Secara keseluruhan nilai ruang kawasan Ampel menjadi cermin pembangunan masyarakat seutuhnya. Keberadaan dan perkembangan Ampel tidak lepas dari pertumbuhan kota Surabaya dari sisi fisik dan ekonomi dari waktu ke waktu. Dari potensi nilai-nilai yang ada maka kekuatan kawasan tersebut sebagai pusat kegiatan pariwisata religi sangat kuat. Kekuatan tersebut dipertajam dengan adanya pengangkatan kearifan lokal dalam setiap kegiatan masyarakat yang berada dalam kawasan tersebut. Pertumbuhan jumlah wisatawan menjadikan indikator bahwa kawasan tersebut sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan pariwisata dalam skala nasional maupun Internasional. Penataan ruang dan managemen pariwisata menjadi poin penting yang perlu dilakukan dalam pengembangan kawasan Cagar Budaya Ampel sebagai kawasan pariwisataKeywords: faktor nilai ruang (space value factor), kawasan Cagar Budaya (Cultural Heritage Area), kegiatan pariwisata (tourism activity)
REVITALISASI KORIDOR KAWASAN TUNJUNGAN Setiawan, Nanang
Jurnal Penataan Ruang Vol 3, No 1 (2008): Jurnal Penataan Ruang 2008
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v3i1.2235

Abstract

Tunjungan merupakan kawasan yang hidup diperkirakan tahun dengan trem listriknya yang khas dari Wonokromo menuju Jembatan Merah listrik tersebut merupakan alat transportasi untuk memindahkan penumpang menuju Kawasan Tunjungan yang sangat terkenal melalui Koridor jalan Darmo, Jalan Panglima Sudirman, Jalan Tunjungan, Gemblongan, Jalan Pahlawan sampai Staadtuin (Taman kota) terus ke Jembatan Merah dan sebaliknya kembali ke Wonokromo. Sepanjang jalan dilalui trem tersebut terbangun gedung-gedung, perumahan, kantor serta pertokoan yang mempunyai arti dalam sejarah kolonial Namun, hal semacam itu sekarang tidak ada lagi trem sudah tidak digunakan lagi sebagai transportasi masal, bangunan peninggalan sejarah kolonial pun kini sudah semakin berkurang. Tuisan ini mencoba mendesknpsikan kondisi Kawasan Tunjungan saat ini melalui analisis deskriptif dari hasil pengamatan visual di lapangan.
TRANSFORMASI DAMPAK KRISIS EKONOMI KE KRISIS LINGKUNGAN BINAAN OLEH SEKTOR INFORMAL Sardjito, Sardjito
Jurnal Penataan Ruang Vol 12, No 1 (2017): Jurnal Penataan Ruang 2017
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.307 KB) | DOI: 10.12962/j2716179X.v12i1.5222

Abstract

Keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) cenderung diassumsikan sebagai bentuk manifestasi dari ?kemiskinan? dalam kawasan perkotaan. Keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) memiliki dampak negatif sekaligus dampak positif yang relatif seimbang pengaruhnya terhadap kehidupan perkotaan, hal ini menjadi suatu justifikasi bahwa eksistensi PKL perlu dipertahankan. Untuk itu perlu pemahaman karakteristik PKL guna menata para PKL. Dalam studi identifikasi karakteristik PKL, penulis mencoba mengeksploitasi permasalahan kota yang dibangkitkan (generated) oleh sektor informal khususnya Pedagang Kaki Lima, bahwa telah terjadi suatu pergeseran ?paradigma? pandangan terhadap keberadaan PKL, dimana perspektif ?dulu? berpandangan bahwa keberadaan PKL sebagai reaksi dari keterpurukan dalam aspek ekonomi yang berbuntut menjamurnya ?Sektor Informal?, anggapan yang tumbuh ?sekarang? ini adalah bahwa sektor informal telah dianggap sebagai ?katup penyelamat? Akan tetapi anggapan tersebut masih perlu dilakukan pengkajian ulang (redifine) dalam memandang PKL, untuk itu tujuan penulisan ini adalah melakukan identifikasi terhadap perubahan sudut pandang para pelaku sektor informal, khususnya PKL dari kegiatan yang sifatnya sementara (temporary) menjadi kegiatan yang menjanjikan keberadaannya (permanent) yang akhirnya berpengaruh terhadap lingkungan binaan di perkotaan. Dalam melakukan identifikasi karakteristik PKL, menggunakan metode pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui teknik wawancara terhadap stakeholders PKL, khususnya terhadap pelaku (pedagang) PKL, kemudian diinterpretasikan untuk dipaparkan secara kualitatif, guna memahami karakteristik kegiatan PKL di wilayah penelitian Hasil studi teridentifikasikan bahwa PKL sebagai suatu ?proses? yang dapat menyebabkan terjadinya krisis baru, dimana perubahan (transformasi) PKL sebagai pekerjaan yang bersifat sementara untuk bertahan hidup (survive), beralih ke pembentukan komunitas PKL yang mempunyai kekuatan bersifat latent (hidden power) yang kemudian melakukan ?pembenaran? (justification) eksistensi mereka kedalam bentuk ?permanen? yang pada akhirnya berimplikasi kepada krisis lingkungan binaan di dalam kawasan kota. Krisis lingkungan antara lain terhadap estetika kota, lingkungan binaan, hak atas lahan, kemacetan lalu lintas sebagai dampak yang ditimbulkan (eksternalitas) dari keberadaan PKL. Oleh karena itu dalam memandang kegiatan PKL, perlu dilihat lebih arif dan bijaksana, bahwa keberadaan PKL sebagai sektor informal perlu penanganan yang khusus, bukan hanya dipandang sebagai sekedar sektor ?Informal? tetapi juga sebagai bentuk kegiatan ?Formal? yang mampu berpengaruh pada lingkungan binaan.Kata Kunci: PKL, Krisis Lingkungan
TANGGAPAN TERHADAP WACANA PEMINDAHAN IBUKOTA PROPINSI JAWA TIMUR (SURABAYA) KE WILAYAH LAIN (KABUPATEN PASURUAN?) Sulistyarso, Haryo
Jurnal Penataan Ruang Vol 1, No 1 (2006): Jurnal Penataan Ruang 2006
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v1i1.2224

Abstract

Wacana tentang pemindahan ibukota Propinsi Jawa Timur (Surabaya) ke wilayah lain sempat ramai dibicarakan, bahkan dalam proses penyusunan Perda RTRW Jawa Timur 2006-2025 juga didiskusikan dalam Pansus RTRW. Menanggapi hal tersebut, perlu adanya tanggapan dalam pemikiran dan kompetisi wilayah keilmuan. Dalam penulisan ini digunakan metoda pemikiran eksploratif dan studi literatur yang berkaitan dengan substansi topik bahasan. Dengan tulisan ini, pandangan-pandangan dan wacana yang berkembang di masyarakat secara jernih bisa dipahami dan dimengerti.
MEMBERDAYAKAN SEKTOR INFORMAL: DARI LEGALISASI ASET HINGGA DUKUNGAN TATA RUANG Alisjahbana, -
Jurnal Penataan Ruang Vol 1, No 2 (2006): Jurnal Penataan Ruang 2006
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v1i2.2340

Abstract

Potensi tersembunyi yang dimiliki sektor informal di perkotaan dalam menopang sistem dan struktur ekonomi maupun sosial tak dapat dipungkiri lagi Ironisnya, dibalikkontribusinya yang begitu besar, nasib pelaku ekonomi sektor informal tak kunjung membaik. Akses mereka terputus hubungannya dengan sistem ekonomi formal. Permodalan masih menjadi kendala klasik akibat tidak adanya dasar hukum atas aset-aset yang mereka miliki. Formalisasi dan legalisasi atas aset-aset mati upaya formalisasi tersebut tersebut menjadi sebuah keniscayaan. Namun membutuhkan dukungan tata ruang sebagai salah satu landasan bagi Pola ini diyakini dapat mendorong produksi memacu efisiensi, dan meningkatkan daya saing mereka yang pada gilirannya dapat meningkatkan keuntungan serta kesejahteraan kota secara keseluruhan
BENTUK PARTISIPASI PEREMPUAN NELAYAN TERHADAP PEMANFAATAN RUANG Poerwati, Titik; Witjaksono, Agung; Soewarni, Ida; Masruroh, Umi
Jurnal Penataan Ruang Vol 13, No 1 (2018): Jurnal Penataan Ruang 2018
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.113 KB) | DOI: 10.12962/j2716179X.v13i1.6668

Abstract

Dusun Karanggongso mempunyai Pantai Karanggongso dan Pantai Pasir Putih serta terdapat Fish Sanctuary Pasir Putih. Penduduk Dusun Karanggongso mayoritas mata pencahariannya adalah nelayan karena letaknya berdekatan dengan Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk partisipasi perempuan nelayan terhadap pemanfaatan ruang berdasarkan partisipasi yang dilakukan perempuan nelayan dalam ekonomi keluarga di Dusun Karanggongso, Desa Tasikmadu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek. Untuk pengambilan data menggunakan metode sampling, sedangkan metode analisa yang digunakan adalah Statistik deskriptif dan Pemetaan Perilaku. Hasil pembahasan untuk bentuk partisipasi terhadap pemanfaatan ruang yang dilakukan oleh perempuan nelayan yaitu berupa partisipasi ide, tenaga, ketrampilan, harta benda, sosial.
FAKTOR-FAKTOR PENENTUAN TEMPAT PENAMPUNGAN SAMPAH SEMENTARA (TPS) BERDASARKAN ASPIRASI MASYARAKAT DI KECAMATAN SUKOLILO, SURABAYA Aditya, Dida; Suprihardjo, Rimadewi
Jurnal Penataan Ruang Vol 3, No 2 (2009): Jurnal Penataan Ruang 2009
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v3i2.2351

Abstract

The enhancement of city makes increasing volume of domestic waste. The consequences is the waste management become more difficult and being a main problem for big cities such as Surabaya. At present, waste management in Surabaya still using end of pipe approach solution, which are consist of  three procedures: (i) collecting, (ii) transferring, and (iii) final disposal. The temporary waste transfer station (TPS) and final waste disposal location (TPA) is very important on the collecting procedure. Transfer station is public facility necesities, but it is becomed a problem for the people if its location is near by their daily activities due to the air pollution and stained. Based on these phenomena, it is needed to formulate the determination factors of waste transfer location based on community aspiration. To achieve those factors, it is needed some identification of factors and indicators which are use to determine location of transfer station based on community aspiration.There are three analysis methode: (i) descriptive-qualitative, (2) comparative analysis to find out the information added of determination temporary waste transfer station location's factors from publics' participation, (ii) scoring analysis to find out the weight of factors identify each priority factors based on both preferences, and (iii) quadrant analysis to find out the mappings priority factors on both preferences.The analysis result are: (i) some distances between location of TPS with settlement or public facilities to be exist (ii) integrated between location TPS and recycle waste management, (iii) the location of TPS election will not disturb the fulfill of community needs of natural resources especially on ground water quality. The major priority factors on determination of TPS location in Sukolilo sub district are the demography and physical environment, while the the easy accessibility became the major factor of the main respondent Finally, the lowest priority factors are the utility and appropriate technology. The research result can be use for more detail study to determine parameter factors of TPS location, particularly for Sukolilo sub district and generally for urban area.
KONSEP PENATAAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PUSAT KOTA PONOROGO Putri, Dirthasia Gemilang; Soemardiono, Bambang; Suprihardjo, Rimadewi
Jurnal Penataan Ruang Vol 7, No 1 (2012): Jurnal Penataan Ruang 2012
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v7i1.2261

Abstract

Kawasan pusat kota Ponorogo merupakan pusat pemerintahan dan pusat kegiatan masyarakat kota Ponorogo, akan tetapi seiring dengan perkembangan kota penambahan jumlah penduduk ruang terbuka hijau di kawasan pusat kota Ponorogo juga semakin berkurang dan tidak lagi memenuhi fungsinya sebagai penunjang kualitas ekologis, estetika, sosial, budaya dan ekonomi kota. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan komposisi proporsi dan distribusi Ruang Terbuka Hijau Kota yang sesuai dengan fungsinya sebagai penunjang kualitas ekologis kota yang juga sesuai dengan tipologi kota Ponorogo. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan positivistic dimana teknik analisa yang digunakan adalah analisa deskriptif, analisa delphi dan triangulasi data untuk menghasilkan suatu konsep ruang terbuka hijau kawasan pusat kota Ponorogo yang mampu menunjang kualitas ekologi, penunjang estetika serta keberlangsungan kota.

Page 1 of 12 | Total Record : 119