cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal Farmasi Medica/Pharmacy Medical Journal (PMJ)
ISSN : 26229463     EISSN : 2654640X     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Farmasi Medica merupakan jurnal yang diterbitkan oleh PS. Farmasi FMIPA Universitas Sam Ratulangi dengan frekuensi terbit 2 kali dalam setahun di bulan Juni dan Desember.Tujuan penerbitan jurnal ini adalah untuk memberikan sarana bagi para akademisi, peneliti maupun praktisi untuk mempublikasikan artikel penelitian atau telaah artikel. jurnal menyediakan isi yang dapat diakses secara bebas dan terbuka untuk umum sehingga dapat mendukung pertukaran pengetahuan.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2020)" : 5 Documents clear
POTENSI ANTIMIKROBA CENGKEH : REVIEW LITERATUR Kalalo, Marko Jeremia; Gratia, Berta; Bidulang, Crunny Bidhya; Djafar, Fadillah; Edy, Hosea Jaya
Jurnal Farmasi Medica/Pharmacy Medical Journal (PMJ) Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pmj.3.2.2020.32882

Abstract

ABSTRACT Popularity of bioactive compounds from plants as a treatment for microbial infections have increased. The content of chemical compounds in cloves can produce various biological activities. The chemical compounds contained in cloves are phenol, flavonoid, hydroxybenzoate, and hydrokinetic acid, with the main chemical compound being eugenol. This review was prepared using secondary data from the scientific literature databases of Google Scholar, PubMed, and CORE. This review aims to collect, compile, study, and highlight the potential of cloves as an antimicrobial agent from existing literature and databases. The effectiveness of cloves in treating microorganisms has a broad spectrum, including bacteria, fungi, protozoa, and viruses. The antimicrobial activity of ethanol, methanol, acetone extract, and clove essential oil provided antimicrobial activity against Gram-positive and Gram-negative bacteria. Cloves show bacteriostatic and bacteriocidic activity with mechanism of action in disrupting or damaging cell wall. Keywords : antimicrobial, clove.   ABSTRAKPopularitas senyawa bioaktif tanaman sebagai penanganan infeksi mikroba kian meningkat. Kandungan senyawa kimia cengkeh dapat menghasilkan berbagai aktivitas biologi. Senyawa kimia yang terkandung dalam cengkeh adalah fenol, flavonoid, hidroksi benzoat, dan asam hidrokinetik, dengan kandungan senyawa kimia utama eugenol. Review ini dibuat menggunakan data sekunder dari database literatur ilmiah Google Scholar, PubMed, dan CORE. Review ini bertujuan untuk mengumpulkan, menyusun, mengkaji, dan menyorot potensi cengkeh sebagai agen antimikroba dari literatur dan database yang ada. Efektivitas cengkeh dalam menghabat mikroorganisme memiliki spektrum yang luas mencakup bakteri, jamur, protozoa, dan virus. Aktivitas antimikroba ekstrak etanol, metanol, aseton, minyak atsiri cengkeh memberikan aktivitas antimikroba pada bakteri Gram positif dan Gram negatif. Cengkeh menunjukkan aktivitas bakteriostatik dan bakteriosidik dengan mekanisme merusak dinding sel. Kata kunci : antimikroba, cengkeh
PENGARUH LAMA PENYIMPANAN EKSTRAK DAUN GEDI MERAH TER-HADAP KANDUNGAN TOTAL FLAFONOID Peloan, Thomas; Kaempe, Hindang
Jurnal Farmasi Medica/Pharmacy Medical Journal (PMJ) Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pmj.3.2.2020.32877

Abstract

ABSTRACT Trying to develop traditional medicine so that it can be in line with modern medicine. Various researches and developments that take advantage of technological advances are carried out as an effort to improve the quality and safety of products which are expected to further increase confidence in the benefits of medicines derived from nature. This study aims to determine the total content of polyphenols in red gedi leaves, fresh simplicia and dry simplicia and to determine the effect of storage time on the total polyphenol content. This study used a laboratory experimental method with hot extraction (infundation method) using water as a solvent. The filtrate obtained is then concentrated on a rotary evaporator. After testing, the results showed that the highest total flavonoid content was found in fresh red Gedi leaf extract (1686.5 mg / Kg), followed by dry Gedi Merah leaf extract (1666 mg / Kg). As for the infusion of fresh Gedi Merah leaves (1002 mg / Kg) and dry Gedi Merah leaf infusion (518.5 mg / Kg). while the highest total tannin content was found in dry Gedi Merah leaf extract (7779 mg / Kg), followed by fresh Gedi Merah leaf extract (3084 mg / Kg). As for the infusion of dry Gedi Merah leaves (1429 mg / Kg) and fresh Gedi Merah infusion (499 mg / Kg). Besides that, it is also known that the storage time for the infusion and extract of Gedi Merah leaves has a great effect on the total polyphenol content. Keywords : polyphenol, red gedi, extract. ABSTRAKPengembangan Obat tradisonal diusahakan agar dapat sejalan dengan  pengobatan modern. Berbagai penelitian dan pengembangan yang memanfaatkan kemajuan teknologi dilakukan sebagai upaya peningkatan mutu dan keamanan produk yang diharapkan dapat lebih meningkatkan kepercayaan terhadap manfaat obat yang berasal dari alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan total polifenol yang terdapat pada daun gedi Merah simplisia segar dan simplisia kering serta mengetahui pengaruh lama penyimpanan terhadap kandungan total polifenol. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen laboratorium dengan  ekstraksi cara panas (metode infundasi) dengan menggunakan pelarut air. Filtrat yang didapat kemudian dipekatkan pada rotary evaporator. Setelah dilakukan pengujian maka didapatkan hasil bahwa kandungan total flavonoid tertinggi terdapat pada ekstrak daun Gedi merah segar (1686.5 mg/Kg), diikuti dengan ekstrak daun Gedi Merah kering (1666 mg/Kg). Sedangkan untuk infus daun Gedi Merah segar (1002 mg/Kg) dan infus daun Gedi Merah kering (518.5 mg/Kg). sedangkan Kandungan total tanin tertinggi terdapat pada ekstrak daun Gedi Merah kering (7779 mg/Kg), diikuti dengan ekstrak daun Gedi Merah segar (3084 mg/Kg). Sedangkan untuk infus daun Gedi Merah kering (1429 mg/Kg) dan infus daun Gedi Merah segar (499 mg/Kg). selain itu diketahui juga lama penyimpanan terhadap infus dan ekstrak daun Gedi Merah memiliki pengaruh yang besar terhadap kandungan total polifenol. Kata kunci : polifenol, gedi merah, ekstrak.
TEA BIOACTIVE COMPOUNDS AS INHIBITOR OF MRSA PENICILLIN BINDING PROTEIN 2a (PBP2a): A MOLECULAR DOCKING STUDY Kalalo, Marko Jeremia; Fatimawali, Fatimawali; Kalalo, Tekla; Rambi, Christani I J
Jurnal Farmasi Medica/Pharmacy Medical Journal (PMJ) Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pmj.3.2.2020.32878

Abstract

ABSTRACT Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) is a hypervirulent multidrug- resistant bacteria. It is spreading around the globe and starting to be a global health problem. It causes bacteremia, infective endocarditis, and bloodstream infection. PBP2a is a protein responsible for MRSA’s resistance to antibiotics, especially beta-lactams. Tea contains bioactive compounds such as polyphenols. It is known to have great antibacterial activities. Therefore, this study aims to find potentials antibacterial compounds from tea polyphenols that can inhibit PBP2a in MRSA with better binding energy than the currently available drugs using the molecular docking approach. We found that theaflavin (-9,7 kcal/mol), as one of the tea polyphenols compound, has a better binding energy with ceftaroline (9,5 kcal/mol) therefore predicted to have better antibacterial activity. (−)- Epigallocatechingallate (-9,1 kcal/mol), (−)-epicatechingallate (-8,8 kcal/mol), myricetin (- 8,7 kcal/mol), quercetin (-8,5 kcal/mol), (−)-epicatechin (-8,3 kcal/mol), (−)- epigallocatechin (-8,3 kcal/mol), kaempferol (-8,3 kcal/mol), procyanidin B2 (-8,1), and theflavindigallate (-7,6 kcal/mol) also have the potential to inhibit MRSA due to its low binding energy. Key words : Molecular docking, MRSA, PBP2a, Tea polyphenols.
FORMULASI SEDIAAN GEL NANOPARTIKEL LIPID EKSTRAK DAUN BI-NAHONG (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) Dwiastuti, Rini; Ardiyati, Shinta Elvina
Jurnal Farmasi Medica/Pharmacy Medical Journal (PMJ) Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pmj.3.2.2020.32879

Abstract

ABSTRACT Binahong leaf extract has low water solubility. To increase the solubility of binahong leaf extract, it is necessary to formulate lipid nanoparticle gel dosage form. Lipid nanoparticles are preparations that can deliver both hydrophilic and lipophilic drugs. This study aims to make a gel lipid nanoparticles from binahong leaf extract with the physical properties parameters of the gel preparation. This research is a  experimental study with independent variables of the concentration of binahong extract and variables depending on the size of the lipid nanoparticles and the physical properties of the gel. Gel making was done by using a variation of the amount of extract 5% and 10%. Testing the physical properties of the gel includes organoleptic, viscosity, dispersibility, pH, homogeneity, and syneresis. The physical stability test carried out is accelerated stability test using the freeze thaw cycling method for 3 cycles. Based on the results of the PSA test, of the two formulas made, one formula fulfills the range 50-100 nm. After testing the physical properties of the gel, the two formulas had a dispersion capacity within the 3-5 cm range, were homogeneous, and did not occur syneresis. The results of the viscosity test showed that the two formulas did not meet the 20-30 Pa.s. The pH test results showed that the two formulas did not meet the pH range 4.5-6.5. Key word: binahong; lipid nanoparticle; soy lecithin, gel ABSTRAKEkstrak daun binahong memiliki kelarutan dalam air yang rendah. Untuk meningkatkan kelarutan ekstrak daun binahong, perlu dilakukan formulasi sediaan dalam bentuk gel nanopartikel lipid. Nanopartikel lipid merupakan sediaan yang dapat membawa obat hidrofilik maupun lipofilik. Penelitian ini bertujuan untuk membuat gel nanopartikel lipid ekstrak daun binahong yang  memenuhi parameter sifat fisis sediaan gel. Penelitian ini merupakan eksperimental murni dengan variabel bebas konsentrasi ekstrak binahong dan variabel tergantung ukuran nanopartikel lipid dan sifat fisis gel. Pembuatan gel dilakukan dengan menggunakan variasi jumlah ekstrak 5% dan 10%. Pengujian sifat fisis gel meliputi organoleptis, viskositas, daya sebar, pH, homogenitas, dan sineresis.. Uji stabilitas fisis yang dilakukan adalah uji stabilitas dipercepat dengan metode freeze thaw cycling selama 3 siklus. Berdasarkan hasil uji PSA, dari dua formula yang dibuat, satu formula memenuhi rentang 50-100 nm. Setelah dilakukan uji sifat fisik gel, kedua formula memiliki daya sebar sesuai rentang 3-5 cm, homogen, dan tidak terjadi sineresis. Hasil uji viskositas menunjukkan kedua formula tidak memenuhi rentang 20-30 Pa.s. Hasil uji pH menunjukkan kedua formula tidak memenuhi rentang pH 4,5-6,5. Kata Kunci: binahong; nanopartikel lipid; soy lecithin, gel
TOKSISITAS AKUT DEKOK DAUN KERSEN (Muntingia calabura) MENGGUNAKAN METODE BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) Fatimah, Rosa; Santoso, Bilal S A
Jurnal Farmasi Medica/Pharmacy Medical Journal (PMJ) Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pmj.3.2.2020.32880

Abstract

ABSTRACT Kersen (Muntingia calabura) leaf   is a kersen plant parts are usually processed by the community into traditional medicine in the form of a drink by boiling. The boiling process that is too long allows the secondary metabolite compounds contained in kersen leaf to be damaged or reduced, therefore it is necessary to do a screening test of secondary metabolites of decoction of kersen leaf, besides plants containing secondary metabolites can be toxic, so that testing needs to be done components of chemical compounds that have toxic activity. The aims of this study was to know the minimum concentration of acute toxic and component of decoction of kersen leaf. Toxicity testing was carried out using the BSLT method (Brine shrimp lethality test) with test animals using Artemia salina Leach larvae in each treatment with various concentrations of 250 mg L-1, mg L-1, 500 mg L-1, 1000 mg L-1, 1500 mg L-1, 2000 mg L-1, 25000 mg L-1 and replication 3 times. The results of screening secondary metabolites were flavonoides, tannins, and alkaloids. The results of the acute toxicity test showed the LC50 value was 621.25 mg L-1. Key word: Kersen Leaf, decoction, toxicity, BSLT ABSTRAKDaun kersen (Muntingia calabura) merupakan bagian tanaman kersen yang biasanya diolah oleh masyarakat menjadi obat tradisional dalam bentuk minuman dengan cara direbus. Proses perebusan yang terlalu lama memungkinkan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada daun kersen menjadi rusak atau berkurang maka dari itu perlu dilakukan uji skrining senyawa metabolit sekunder pada daun rebusan daun kersen selain itu tanaman yang mengandung senyawa metabolit sekunder dapat bersifat toksik, sehingga perlu dilakukan pengujian mengenai komponen senyawa kimia yang memiliki aktivitas toksik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui konsentrasi minimum dari rebusan daun kersen yang bersifat toksik. Pengujian toksisitas dilakukan menggunakan metode BSLT dengan hewan uji menggunakan larva Artemia salina Leach pada masing-masing perlakuan dengan variasi konsentrasi yaitu 250 mg L-1, mg L-1, 500 mg L-1,1000 mg L-1, 1500 mg L-1, 2000 mg L-1, 25000 mg L-1 dan dilakukan replikasi sebanyak 3 kali. Dari hasil skrining metabolit sekunder diketahui bhawa rebusan daun kersen memilki senyawa metabolit sekunder flavonid, tanin, dan alkaloid. Hasil uji toksisitas menunjukkan bahwa rebusan daun kersen dapat memberikan efek toksik akut pada hewan uji dengan nilai LC50 sebesar 621,25 mg L-1. Kata Kunci: Daun kersen, Rebusan, toksisitas, BSLT

Page 1 of 1 | Total Record : 5