cover
Contact Name
M. Yaser Arafat
Contact Email
jurnalsosiologiagama@uin-suka.ac.id
Phone
+6281370980853
Journal Mail Official
jurnalsosiologiagama@uin-suka.ac.id
Editorial Address
1st Floor, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran IslamJalan Marsda Adisucipto Yogyakarta, 55281Telpon/Fax: +62274 512156/+62274512156 E-mail: jurnalsosiologiagama@gmail.com; jurnalsosiologiagama@uin-suka.ac.id
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Agama
ISSN : 19784457     EISSN : 2548477X     DOI : https://doi.org/10.14421/jsa.
Jurnal Sosiologi Agama mengundang para ilmuwan, peneliti, dan siswa untuk berkontribusi dalam penelitian dan penelitian mereka yang terkait dengan bidang sosiologi agama, masyarakat beragama, masyarakat multikultural, perubahan sosial masyarakat beragama, dan relasi sosial antar agama yang mencakup penyelidikan tekstual dan lapangan dengan perspektif sosiologi dan sosiologi agama.
Articles 119 Documents
RAHMAH EL YUNUSIYYAH KARTINI PADANG PANJANG (1900-1969) Abdullah, Nafilah
Jurnal Sosiologi Agama Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8908.176 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2016.102-03

Abstract

Rahmah El- Yunusiyyah adalah Kartini Padang Panjang , seorang Pahlawan tanpa tanda jasa.Tokoh Rahmah El- Yunusiyyah adalah seorang wanita tokoh pembaharuan dari Padang Panjang yang sempat hidup pada tiga zaman yaitu zaman penjajahan kolonial Belanda, zaman penjajahan Jepang, dan  zaman Kemerdekaan, namun sampai saat ini pemerintah Indonesia belum memberikan penghargaan sebagai pahlawan Nasional.            Mengapa penelitian ini dilakukan? Secara historis, Tokoh Rahmah El-Yunusiyyah pada zaman Belanda telah mendirikan Perguruan Diniyyah PUteri Padang Panjang (1923). Memberikan dukungan pada Kongres Sumpah Pemuda (1928). Memimpin gerakan menentang dua buah peraturan Belanda, yaitu Ordonantie Kawin Bercatat dan Ordonantie Sekolah Liar pada tahun 1932.Pada pendudukan Jepang, mempersiapkan murid-murid Diniyah Puteri mengikuti pelatihan P3K dan Palang Merah sebagai ganti tenaga sukarela dalam pertempuran (1943). Memberikan dukungan penuh dalam pembentukan pasukan Gyugun, yang menurutnya sangat strategis sebagai alat mencapai kemerdekaan Indonesia (1944). Menjadi pengurus ADI (Anggota Daerah Ibu) tingkat Sumatera Tengah yang bertujuan menentang pemerintahan Jepang yang menggunakan gadis remaja untuk dijadikan wanita penghibur, dan menuntut di tutupnya rumah bordil. Menjadi ketua Ha Ha No Kai dari Gyugun Ko En Kai . menjadi anggota Ha Ha No Kai, anggota Peninjau Sumatera Cuo Sang In. Anggota Mahkamah Islam Tinggi (MIT)Bukit Tinggi. Masa Kemerdekaan bersama beberapa Perwira Gyugun dan Tokoh masyarakat Padang Panjang membentuk tentara Keamanan Rakyat (TKR). Menjadikan Diniyyah Puteri sebagai dapur umum bagi para pejuang seperti Laskar Sabilillah, Sabil Muslimat, dan Hizbullah. Menjadikan Diniyah Puteri sebagai tempat persinggahan para geriliya yang bolak balik antara rimba dan daerah pertempuran. Mengibarkan bendera Merah Putih yang pertama di kota Padang Panjang.Masa setelah kemerdekaan, menjadi anggota DPR RI (Konstituante) pada 1955. Menjadi pengurus sekolah Tinggi Hukum Pancasila Padang yang menjadi embrio dari Universitas Andalas.Kartini Padang Panjang yang tidak pernah dimunculkan profilnya namun pengaruhnya dalam dunia pendidikan terasa begitu nyata. Bahkan Al-Azhar Mesir terispirasi dari tindakan beliau. Yang tidak kalah penting, pakaian anggun dengan kerudung yg menutup dada itu (Hijab Syar?i) dan Baju kurung basiba merupakan ciri khas dari siswi-siswi dan Guru-guru di sekolah Diniyah Padang Panjang dan wanita muslimah Malaysia serta Singapura.
PELEBURAN REALITAS NYATA DAN MAYA: HOAX MENJADI KONSUMSI MASYARAKAT GLOBAL agustina, dwi
Jurnal Sosiologi Agama Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.817 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2018.122-04

Abstract

The emergence of globalization show the existence of two sides to the light and the dark. The increasing of digital information technology becomes one of the obvious facts about the bright side of globalization. However, globalization in fact also provides a dark side in the era of increasingly advanced technology, one of which is the emergence of news hoax. Social media has become a new space for people to express their opinions without any social restrictions. The result between the real and the no longer becomes unlimited. This paper wants to analyze critically about the emergence of news hoax consumed by the public, with data collection used is literature study. News hoaxes are increasingly flooding the virtual world is now a cultural product in the consumption by the wider community. With just one click, hoax can spread all over the world. Thus, the virtual world becomes a public space that people consume to bullying and disseminate content that is not true.Keywords: social media, hoax, consumption culture, globalization
PERAN PARTAI ISLAM DALAM PROSES KONSOLIDASI DEMOKRASI DI INDONESIA Anwar, M. Zainal
Jurnal Sosiologi Agama Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1254.165 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2007.011-03

Abstract

Dalam rentang Sejarahnya, kontribusi partai politik Islam di Indonesia dalam kehidupan berdemokrasi selalu mengalami pasang surut. Pasca turunnya Soeharto dari tampuk kekuasaan, kehadiran partai ISlam kembali menyeruak dan mewarnai kehidupan kepartaian di Indonesia. Lantas, apa saja kendala saat ini yang dihadapi partai Islam di Indonesia yang sedang menapaki masa konsolidasi demokrasi? Apa saja peran yang bisa dimainan? Inilah beberapa persoalan yang akan diurai dalam tulisan ini. Adapun titik perhatian yang akan diberikan oleh penulis adalah kontribusi partai Islam di era konsolidasi demokrasi.Kata kunci: Partai politik Islam dan Konsolidasi Demokrasi
KEARIFAN LINGKUNGAN BERBASIS AGAMA (STUDI ETNOEKOLOGI KOMUNITAS NELAYAN DI PESISIR BANYUTOWO DUKUHSETI PATI) Taufiq, Thiyas Tono
Jurnal Sosiologi Agama Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.201 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2017.112-07

Abstract

Kondisi ekologis pesisir Banyutowo saat ini mengkhawatirkan. Krisis yang dialami di antaranya berupa pencemaran limbah rumah tangga, penumpukan sampah, dan sedimentasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kearifan lingkungan pada komunitas nelayan dan masyarakat di pesisir Banyutowo dalam menumbuhkan tanggung jawab terhadap lingkungan. Desa banyutowo merupakan salah satu desa di Dukuhseti Pati Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang berorientasi pada hasil observasi, dokumentasi, dan interview mendalam dengan para informan di Banyutowo. Data kemudian diklasifikasikan dan dianalisis menggunakan pendekatan etnoekologi, yang bertujuan untuk mengkaji pengetahuan lokal mengenai interaksi masyarakat lokal dengan lingkungannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kearifan lingkungan pada komunitas nelayan dan masyarakat pesisir Banyutowo terbentuk dengan adanya solidaritas sosial, ritual sedekah laut, dan tradisi lokal lainnya. Tradisi tersebut diyakini sebagai tradisi lokal yang tidak bisa dihilangkan. Adapun makna sedekah laut bagi orang-orang pesisir Banyutowo tidak hanya ritual kebudayaan saja, tetapi sebagai sarana untuk memperoleh keselamatan dan menjaga keseimbangan alam. Selain itu,  nilai-nilai yang terkandung dalam ritual sedekah laut, meliputi  nilai-nilai agama, sosial kemasyarakatan, ekonomi, dan pendidikan.Key Words: Kearifan lingkungan, Komunitas Nelayan, Etnoekologi, Pesisir Banyutowo
PROBLEM-PROBLEM MINORITAS TRANSGENDER DALAM KEHIDUPAN SOSIAL BERAGAMA Widiastuti, RR Kurnia
Jurnal Sosiologi Agama Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.636 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2016.102-06

Abstract

Transgender individual is one of minority in our society. Transgender people has problem with their body and feeling. Their physical appearances do not match with their psychological aspect. Therefore they are assumed by majority society as?abnormal? people. As a result they tend to be discriminated and marginalized from the society. As a human being, transgender individual has the same right as other individuals of the society. Therefore as religious people, transgender individuals have freedom to express their belief. However, they find several problems in their living existences in social religious context.Kata Kunci: transgender, minoritas, hak beragama, abnormal, dan diskriminasi
JEJAK DAKWAH PARTAI KEADILAN SEJAHTERA (PKS) MEMASUKI MUHAMMADIYAH: MENCERMATI KASUS DI YOGYAKARTA SEBAGAI FENOMENA POLITIK DAKWAH Wahid, Nur
Jurnal Sosiologi Agama Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.575 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2019.132-08

Abstract

Sebagai kelompok yang memiliki struktur, anggota, mekanisme organisasi serta fungsi-fungsi politik dan sosial keagamaan, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) maupun Muhammadiyah membawa kepentingan misi dan dakwah masing-masing. PKS sebagai partai politik, fungsi-fungsi politik di antaranya berupa artikulasi kepentingan, sosialisasi politik, dan rekrutmen politik. Dibandingkan dengan Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan, fungsi-fungsi politik Muhammadiyah muncul sebagai bentuk respon terhadap kondisi perpolitikan yang tengah terjadi, sebagai bentuk arahan, pengelolaan, secara struktural organisasional terhadap anggota, amal usaha yang dimiliki serta jamaah Muhammadiyah. Dalam ranah politik keduanya berbeda. Dalam ranah dakwah keduanya berhimpitan. Belakangan politik dakwah melalui kelompok Tarbiyah-PKS memasuki Muhammadiyah seperti kasus yang terjadi di Yogyakarta. Topik bahasan tulisan ini akan mencermati dakwah kelompok Tarbiyah- PKS yang merangsek masuk ke dalam Muhammadiyah. Kasus yang terjadi dipahami sebagai gambaran dari fenomena politik dakwah PKS.Kata Kunci: Politik Dakwah, Tarbiyah-PKS, MuhammadiyahAs a group that has a structure, members, organizational mechanism and religious political and social functions, the Partai Keadilan Sejahtera (PKS) and Muhammadiyah carry their respective mission and missionary interests. PKS as a political party, political functions include the articulation of interests, political socialization, and political recruitment. Compared to Muhammadiyah as a religious social organization, Muhammadiyah?s political functions emerged as a form of response to the political conditions that were happening, as a form of direction, management, structurally organizational towards members, business charities owned and congregations of Muhammadiyah. In the political sphere they are different. In the realm of da?wah both coincide. Later the propaganda politics through the Tarbiyah-PKS group entered Muhammadiyah as was the case in Yogyakarta. The topic of this article will look at the da?wah mission of the Tarbiyah-PKS group that pushed into Muhammadiyah. The case that occurred was understood as a picture of the political phenomenon of PKS propaganda.Keywords: Political Da?wah, Tarbiyah-PKS, Muhammadiyah
LABELISASI HALAL DI TENGAH BUDAYA KONSUMSIF Khotimah, Umi Khusnul
Jurnal Sosiologi Agama Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.232 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2018.122-06

Abstract

Bisa dikatakan pasca Orde Baru adalah titik balik peran agama Islam dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dimana sebelumnya masyarakat Muslim diyakini besar dalam jumlah namun minim peran dan pengaruhnya dalam masyarakat. Berbeda dengan saat ini, simbol keIslaman dapat dengan mudah ditemukan dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat. Beragam sektor kehidupan tersebut dikaitkan dengan simbol keIslaman seperti dibentuknya Peraturan Daerah (Perda) Syari?ah, Bank Syari?ah, adanya tren fashion Muslim serta komoditas konsumsi yang bernuansa Islami lainnya. Bangkitnya semangat keagamaan tersebut di atas disambut baik oleh Pemerintah dalam bentuk regulasi yaitu UU No. 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH) yang mewajibkan penggunaan sertifikat halal bagi para produsen. Dampaknya, berbagai barang konsumsi berlomba menjadi pertama dalam kepemilikan sertifikat halal, seperti jilbab Zoya, minyak angin Fresh Care dan detergen Total. Sedangkan yang baru-baru ini kembali muncul sebagai produk yang bersertifikasi halal pertama adalah lemari es SHARP. UU JPH sendiri dibentuk untuk menjamin setiap pemeluk agama untuk beribadah dan menjalankan ajaran agamanya. Namun, regulasi tersebut justru mendatangkan tanda-tanda yang berlawanan yaitu semakin konsumtifnya masyarakat Muslim Indonesia dimana masyarakat Muslim seharusnya bersikap sederhana dalam mengonsumsi sesuatu. Paper ini akan menjelaskan konsumsi dalam Islam sehingga dapat ditarik benang merah bahwa regulasi produk halal tidak menjamin terciptanya masyarakat yang semakin Islami melainkan menjadi keuntungan bagi produsen untuk memasarkan produk-produknya. Kata Kunci: Konsumsi, Sertifikasi Halal, Regulasi
PELAJAR PAPUA DALAM KUASA SIMBOLIK (STUDI TERHADAP REPRODUKSI KELAS SOSIAL DI SMK NEGERI 1 OBAA, MAPPI, PAPUA) Mua, Marianus Muharli
Jurnal Sosiologi Agama Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.341 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2015.092-07

Abstract

In this study shown that at SMK Negeri 1 Obaa located inMappi, Papua turns performing two roles namely the role ofproduction and reproduction of social classes. Social classreproduction occurs because internelization of habitus, culture,taste and mindset of classes conducted by both the school andthe students themselves. Through regulations and disciplineimposed by the school has established habitus students andinteraction among students as a means of hegemony students tofollow habitus, tastes, culture and mindset of the social upperclass. This school serves as a structure that perpetuates violenceand symbolic power of the lower classes. At the school becamethe battle arena and fight to maintain the existing capital ieeconomic capital, social capital, cultural capital and symboliccapital. Through mastery of existing capital, schools producingand reproducing social classes. For the lower social classes it isa production that will raise the social status while the upperclass it is a top-class reproduction and dominance. However,the impact of symbolic domination that occurred in this schoolmakes the lower class who do not have the capital to beeliminated. In addition, the school culture is the culture of thedominant class so delivers lower classes in Mappi are stilldominated by hunting and gathering are not able to adapt toschool culture into pressure and not as important in their lives.Keywords: Schools, Gaps, Reproduction, Social Class, Strategy,Attorney Symbolic
HUBUNGAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER PRAMUKA DENGAN TINGKAT RELIGIUSITAS SISWA SMA NEGERI 1 TANGEN (PERSPEKTIF TEORI SISTEM SOSIAL TALCOTT PARSONS) Bakhri, Syamsul; Fibrianto, Alan Sigit
Jurnal Sosiologi Agama Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (988.84 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2018.121-04

Abstract

Extracurricular compulsory curriculum became Scout at the elementary and secondary education as a pillar of character education in the nation. Unlike other extracurricular activities students select appropriate talent and interestin making this ektrakurikuler impressed forced. Descriptive method quantitative research aims to find out and analyze the relationship of the extracurricular activities of the Scout with the level of religious students. Research results based on the data analysis has been done on the relationship between Extracurricular Activities with Scout level of Religiosity in students who demonstrate 0575 (r count), while the value of sig 2 tailednya value 0.000 < 0.01. This means the Ha received his and Ho is rejected. So the hypothesis which says there is a significant relationship between extracurricular activities with Scout level of religiosity is right, and also in correlation with test use Product Moment shown with * marked * in the table correlation between extracurricular activities with Scout level of religiosity which means it shows the value of positive correlation. That is, the better the student in carrying out activities through extracurricular activities the Scouts then the higher levels of religiosity in students. School social system in shaping the character of the religious students through extracurricular Scouts can go well because the fourth social system functions (adaptation, goal attainment, integration, and latency) can walk properly and mutual related.Keywords: Extracurricular Scouts, Religiosity, Students, Social Systems.ABSTRAKEkstrakurikuler Pramuka menjadi kurikulum wajib pada pendidikan dasar dan menengah sebagai pilar pendidikan karakter bangsa. Tidak seperti ekstrakurikuler lainnya yang siswa pilih sesuai bakat dan minatnya membuat ektrakurikuler ini terkesan dipaksakan. Penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif  ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan kegiatan ekstrakurikuler Pramuka dengan tingkat religius siswa. Hasil penelitian berdasarkan data analisis yang telah dilakukan mengenai hubungan antara Aktivitas Ekstrakurikuler Pramuka dengan tingkat Religiusitas Siswa yang menunjukkan 0.575 (r hitung), sedangkan nilai sig 2 tailednya bernilai 0,000 < 0,01. Ini berarti Ha diterima dan Ho nya ditolak. Sehingga hipotesis yang mengatakan terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas ekstrakurikuler pramuka dengan tingkat religiusitas adalah benar, dan juga dalam uji korelasi dengan menggunakan Product Moment ditunjukkan dengan tanda ** dalam tabel korelasi antara aktivitas ekstrakurikuler pramuka dengan tingkat religiusitas yang berarti menunjukkan nilai korelasi positif. Artinya, semakin baik siswa dalam melaksanakan aktivitas melalui kegiatan ekstrakurikuler pramuka maka semakin tinggi tingkat religiusitas siswa. Sistem sosial Sekolah dalam membentuk karakter religius siswa melalui ekstrakurikuler Pramuka bisa berjalan dengan baik karena keempat fungsi sistem sosialnya (adaptasi, goal attainment, integrasi, dan latensi) bisa berjalan sebagaimana mestinya dan saling terkait.Kata Kunci: Ekstrakurikuler Pramuka, Religiusitas, Siswa, Sistem Sosial.
MEMBANGUN SPIRIT KEBANGSAAN KAUM MUDA DI TENGAH FENOMENA RADIKALISME Supriadi, Endang
Jurnal Sosiologi Agama Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.253 KB) | DOI: 10.14421/jsa.2017.111-01

Abstract

AbstrakThe opening of the texts of political freedom and democratization following the fall of the New Order regime not only provided space for the emergence of various expressions built on primordial sentiments and identities but also paved the way for the expansion of radicalism. Reports by a number of survey institutions indicate that Indonesia is still a fertile ground for the production and reproduction of radical ideologies that allow the continued expansion of the radical organization or network. This threat is exacerbated by high public support for intolerance and violence.This article explores how the spirit of nationality for young people in the midst of the emergence of intolerant attitudes in society, the attitude of monopolizing the truth in religion that led to acts of terror in society. It needs dialogue and reconciliation honestly and openly. The deradicalization program must now be strengthened with elements of society to create a safe and peaceful atmosphere. As a consequence of choice as a democratic country, the principle of proportionality is very important to be put forward, so that there is no majority domination and minority tyranny.Keywords: nationality, young people, radicalism, deradicalism

Page 1 of 12 | Total Record : 119