cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa (Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan)
ISSN : 02159171     EISSN : 25281089     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Widyaparwa merupakan media publikasi dan komunikasi hasil penelitian kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah di Indonesia yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Widyaparwa terbit dua kali dalam setahun, yaitu bulan Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 39, No 2 (2011)" : 8 Documents clear
TINDAK PERINTAH DALAM WACANA KELAS: KAJIAN STRATEGI BERTUTUR DI MADRASAH TSANAWIYAH ALKHAIRAAT PALU Karim, Ali
Widyaparwa Vol 39, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (995.989 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v39i2.38

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan strategi tindak perintah dalam wacana kelas, meliputi (1) strategi perintah guru dan penerapannya terhadap siswa, (2) strategi perintah siswa dan penerapannya terhadap guru, dan (3) strategi perintah siswa dan penerapannya terhadap sesama siswa . Dari analisis data ditemukan bahwa strategi tindak perintah guru dan penerapannya terhadap siswa meliputi strategi langsung dan tidak langsung. Strategi langsung mencakup strategi, yaitu (1) perintah biasa, (2) perintah dengan argumen, dan (3) perintah dengan keharusan. Strategi tidak langsung disampaikan lewat cara deklaratif dan interogatif. Sementara itu, dalam percakapan antara siswa kepada guru, tindak perintah disampaikan lewat strategi tidak langsung. Kedua, dalam percakapan sesama siswa, tindakan perintah disampaikan lewat strategi langsung.This research aims at describing the strategy of command action in classroom discourse, covering (1) the teacher's command strategy and its application toward students, (2) the students' command strategy and its application towards teacher, and (3) the students' command strategy and its application toward the classmates. From the analysis of the data, it is found that the strategy of the teacher's command action and its application toward the students involve both direct and indirect strategies. The direct strategy includes (1) common command strategy, (2) direct command with argument, and (3) direct command with obligation. The indirect strategy is delivered in declarative and interrogative modes. Meanwhile, in the conversation between students and teacher, the command actions are delivered in indirect strategy. Secondly, in the conversation among students, the command actions are deliavred in direct strategy.
IDEOLOGI PENERJEMAHAN WORDPLAY DALAM ALICE'S ADVENTURES IN WONDERLAND KE DALAM BAHASA INDONESIA Humanika, Eko Setyo
Widyaparwa Vol 39, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1569.099 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v39i2.34

Abstract

Penelitian ini mengkaji ideologi penerjemahan permainan kata (wordplay) dalam cerita anak Alices Adventures in Wonderland ke dalam bahasa Indonesia oleh tiga penerjemah. Karena ideologi penerjemahan bisa dilacak dari teknik penerjemahan, penelitian ini juga bertujuan untuk (1) menganalisis teknik penerjemahan wordplay dalam Alices Adventures in Wonderland ke dalam bahasa Indonesia dan (2) menganalisis ideologi yang mendasari pengambilam keputusan oleh para penerjemah. Kajian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif nonhipotesis. Strategi yang digunakan ialah embedded case study. Sampel dalam penelitian dicuplik secara purposif. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara mendalam dan kajian dokumen. Teknik triangulasi sumber dan triangulasi metode digunakan untuk menjamin validitas data. Untuk menganalisis data, digunakan model analisis interaktif dari Miles dan Huberman. Penelitian ini menghasilkan dua temuan. Pertama, terdapatnya lima teknik penerjemahan wordplay yang diaplikasikan oleh penerjemah: literal (71 %), wordplay-wordplay translation (18 %), kompensasi (6 %), editorial technique (2,5 %), dan penghilangan (2,5 %). Kedua, proses pengambilan keputusan oleh para penerjemah lazimnya lebih didominasi oleh ideologi foreignizing.This research aims at exploring the ideology of the English-Indonesian translation of wordplays in Alice's Adventures in Wonderland conducted by three translators. Since translation ideology can be reflected in the techniques of the translation, the specific objectives of this research are (1) to analyze the techniques of transferring the wordplays in Alice's from English to lndonesian, and (2) to analyze the ideology of the trsnslation of the wordplays in question. This is a non-hypothetical descriptive qualitative research. The strategy used is an embedded case study. The samples of the research are drawn purposively, and the data are collected in such techniques as content analysis and in-depth interuiewing. Data and method triangulation are used to confirm data validity of this study. To analyze the data, this research applies Miles and Huberman's interactive analysis model. This research bears two findings: (1) in the translating of the wordplays the translators applied five techniques, i.e.literal translation (71%), wordplay-wordplay translation (18%), compensation (6%), editorial technique (2.5%), and deletion (2.5), and (2) the domination of the foreignizing ideology in the process of decision making in the translation.
REPRESENTAS! DAN IDEOLOGI KOTA YOGYAKARTA DALAM NOVEL YOGYAKARTA KARYA DAMIEN DEMATRA Adji, S.E. Peni
Widyaparwa Vol 39, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1079.101 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v39i2.35

Abstract

Catatan awal pengarang dalam novel Yogyakarta mengungkapkan tujuan dari proyek pembuatan novel. Tujuan itu berkaitan dengan representasi kota Yogyakarta yang dihadirkan melalui novel. Tulisan ini menkaji representasi dan ideologi novel Yogyakarta karya Damien Dematra. Teori representasi (Barker) dan ideologi (Storey dan Barthes) yang dipakai dalam kajian ini diterapkan menggunakan metode analisis isi. Kajian ini menghasilkan kesimpulan bahwa novel Yogyakarta sangat kuat menghadirkan representasi Yogyakarta sebagai (1) kota yang pluralis dan nyaman, (2) kota yang maju dengan tetap mempertahankan nilai tradisional, dan (3) kota pendidikan. Representasi tersebut dilakukan dengan mengingkari beberapa makna denototatif dari yang direpresentasikan. Tujuan dari representasi ini untuk mengukuhkan identitas, yang ujungnya demi pengukuhan ideologi kapitalisme dan legimitasi kekuasaan. Menurut Barthes pembacaan yang lebih seksama terhadap sebuah ideologi tidak akan mengurangi atau menambah kekuatan dari ideologi tersebut. Oleh karena itu, ideologi mengenai kapitalisme dan legitimasi kekuasaan dalam novel Yogyakarta tetaplah kuat. Dari segi pengoptimalan potensi bahasa (sastra) untuk menciptakan komunikasi yang baik, novel ini dipandang sebagai bentuk tuturan -- untuk menciptakan citra (representasi, konotasi) positif mengenai Yogyakarta -- dari pengarang (yang didukung penguasa) kepada masyarakat.First record of author in novel Yogyakarta disclose the aim of the novel making project. It dealt with the representation of Yogyakarta city. This paper reviewed the representation and ideology of Yogyakarta, a novel by Damien Dematra. Representation theory (Barker) and ideology theory (Storey and Barthes) were used and be applied with content analysis method. This review concluded that novel Yogyakarta really presented Yogyakarta as (1) plural and comfortable place, (2) advanced city which preserved traditional values and (3) education city. The representation was performed by ignoring some denotative meanings. The goal of the representation was to establish identity for establishing capitalism ideology for further and legitimate authority. According to Barthes, the sophisticated reading about ideology would never reduce or add the strength of the ideology, Therefore, the ideology of capitalism and power legitimating in novel Yogyakarta was still strong. To optimize language potency (literature) in order to create good communication, this novel was overviewed as a narration to create positive image (representation, connotation) about Yogyakarta from author (in support by the ruler) to society.
SAMPUL DEPAN WIDYAPARWA, admin
Widyaparwa Vol 39, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2382.231 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v39i2.31

Abstract

IDIOM DALAM BAHASA INDONESIA: STRUKTUR DAN MAKNAI Abdul Khak, Muh.
Widyaparwa Vol 39, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1460.612 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v39i2.36

Abstract

Idiom dalam bahasa Indonesia banyak digunakan dalam pemakaian sehari-hari. Namun, dalam kajian linguistik Indonesia belum ada ahli yang secara khusus mengkaji idiom ini. Beberapa ahli pun berbeda pendapat tentang idiom. Bahkan, kriteria apa itu idiom para ahli belum sepakat dan hal itu diperjelas dalam tulisan ini. Analisis ini menggunakan model konseptual, yang dikemukakan Nunberg et al. (1994), yaitu konsep tentang karakteristik semantis idiom dan yang dikemukakan Wood (1981), yaitu tentang konsep struktural idiom. Dalam pembahasan ini dilakukan metode tulisan yang mengikuti tahap pemilahan data, penggolongan data, dan penganalisisan data dengan batuan teknik identifikasi. Berdasarkan struktur, idiom bahasa Indonesia dapat dibagi ke dalam tiga jenis, yaitu idiom yang berbentuk kata kompleks, frasa idiom, dan ungkapan idiomatik.ldioms in Indonesian language are widely used in everyday talks. Howeuer, there haven't been yet any lndonesian experts who conduct specific studies on these lndonesinn idioms. It seems that some experts show diffirent opinions on this term. To what criteria the idioms are still open to dispute among the experts and this paper would make clarification on this confusion. The analysis applies both the conceptual model, proposed by Nunberg et eil., that is to say the concept of semantic characteristic of idiom and the structursl concept of idiom, proposed by Wood. Meanwhile, the method of analysis follows respectively the phases of data selection, data grouping, and data analysis complemented utith the identification technique. Based on the structures, the Indonesian idioms can be divided into three types, namely idioms in the forms of complex words, idiomatic phrases, and idiomatic expressions.
PELAKSANAAN PRINSIP KERJA SAMA DALAM WACANA LISAN BAHASA JAWA Siti Nurlina, Wiwin Erni
Widyaparwa Vol 39, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1955.388 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v39i2.32

Abstract

Melalui percakapan, kita membentuk hubungan dengan orang lain; menjalin kerja sama, membangun pertengkaran, mempertahankan hubungan, atau terbukanya hubungan yang lebih jauh, dan sebagainya. Pembahasan dengan topik tersebut bertujuan untuk mengetahui dan memahami kekhasan komunikasi yang ada dalam bahasa JawA. Kajian di sini menggunakan pendekatan pragmatis, yang dikhususkan dalam hal prinsip kooperatif (Grice, 1975), dengan empat jenis maksim, yaitu (a) maksim kuantitas, (b) maksim kualitas, (c) maksim relevansi, dan (d) maksim cara. Artinya, pembahasan difokuskan pada realisasi empat maksim dalam ujaran-ujaran bahasa Jawa. Berkaitan dengan itu, metode yang digunakan ialah metode deskriptif kualitatif yang dibantu dengan metode padan pragmatis. Hasil kajian dengan teori dan metode tersebut terwujud dalam ujaran-ujaran bahasa Jawa yang menunjukkan pelaksanaan prinsip kerja sama. Ujaran-ujaran yang dibentuk dengan prinsip kerja sama tersebut memperlihatkan ciri-ciri tertentu.Peopte usually build social relationship through conversation; to cooperate with each other, to dispute, to keep friendship, or even to make relationships more serious, etc. The discussion on this topic is meant to find out and to comprehend the specific charscteristics of communication in Javanese language. This study uses pragmatic approach, specially Grice's cooperatioe principle, which consists of four maxims, i.e. (a) maxim of quantity, (b) maxim of quality, (c) maxim of relation (relevance), and (d) maxim of manner. This means that the analysis focus mainly on the realization of the four maxim in Javanese spoken discourses. On this case, the analysis applies qualitative descriptive complemented with the pragmatic method of padan (replacement). The result of the analysis based on the method and theory is carried out in spoken discourses of Javanese language to prove the implementation of the cooperatiue principles. The cooperatiae principles' based spoken discourses disclose particular characteristics of Javanese spoken discourses.
FEMINISME DALAM KUMPULAN CERPEN HARGA PEREMPUAN KARYA SIRIKIT SYAH lsmiyati, Siti Ajar
Widyaparwa Vol 39, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1362.846 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v39i2.37

Abstract

Masalah utama yang diangkat dalam penelitian ini adalah isu-isu tentang peran perempuan terkait dengan kuatnya pengaruh patriarki seputar persoalan domestik (rumah tangga) dan publik (di luar rumah tangga). Kajian ini bertujuan untuk menyikapi ketimpangan gender yang terjadi pada perempuan. Kajian ini menggunakan pendekatan sosiofeminis sebagai acuan dalam mengungkap citra perempuan sehingga pengolahannya dilakukan dengan kajian feminisme. Dalam pengumpulan data digunakan metode deskriptif-kualitatif, sedangkan dalam analisisnya digunakan teknik analitik yang tertuju pada gagasan atau pemikiran dan sikap perempuan yang terefleksi dalam ucapan dan tindakannya. Hasil penelitian ini menggambarkan lima citra perempuan sebagai berikut. Pertama, perempuan sebagai individu yang memiliki keinginan untuk mengembangkan karier, keinginan untuk diperhatikan dan dihargai. Kedua, perempuan sebagai ibu yang mempunyai perhatian kepada anak-anak dan sebagai pemegang urusan domestik. Ketiga, perempuan sebagai istri yang mandiri dan mencari nafkah tambahan. Keempat, perempuan sebagai sosok yang berprestasi dan mempunyai semangat kompetitif. Kelima, perempuan sebagai anggota masyarakat yang mempunyai peranan positif dan negatif.Main issue taken in this research was role of women dealing with the dominance of patriarchy in domestic (household) and public (outdoor). This review was intended to take attitude about gender imbalance over woman. The review used socio-feminism approach in revealing women image, so that feminism rutiew was used elaboration. Descriptive-qualitative method was used in collecting data, while in the analysis used analytical technique to reveal ideas and woman attitude as reflected on their speech and action. Result of the research illustrate five woman images as follows: first, wonten as individual who own desire to develop carriers, desire to be paid attention and be appreciated. Second, woman as mother who have attention to children and as domestic affair holder. Third, wowan as independent wife who are able to earn money as additional income. Fourth, woman as talented character who have competitive spirit. Fifth, women as social member who have positive and negative roles.
DINAMIKA PERKEMBANGAN TEATER INDONESIA Di YOGYAKARTA Mardianto, Herry
Widyaparwa Vol 39, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3505.958 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v39i2.33

Abstract

Pertumbuhan dan perkembangan sastra di Yogyakarta menjadi salah satu barometer bagi perkembangan sastra di daerah lain di Indonesia, terlebih perkembangan pementasan dramanya. Setidaknya hal ini dapat dicermati dari pengaruh pementasan Bipbop-nya Rendra sampai pemanggungan monolog Butet Kertarejasa. Konsep-knsep pementasan Rendra dan Butet KErtarejasa terasa begitu kuat dan dicontoh oleh kelompok teater lain, baik yang berada di Jakarta, Surabaya, maupun kelompok-kelompok teater yang tumbuh di kota-kota kecil di Indonesia. Kajian ini ingin melihat bagaimana pertumbuhan kelompok teater, sistem pementasan, dan tanggapan audience terhadap pementasan tersebut melalui isau bedah makro sastra dan penjelajahan existing documentation dengan tujuan mengumpulkan informasi mengenai system pementasan, penulisan naskah, dan system kritik drama di Yogyakarta pada tahun 1980-2000.Growth and development of literature in Yogyakarta has became on of barometers for literary development in other places in Indonesia, primarily the plays performance development. At least, it could be viewed from the influence of Bipbop performance by Rendra to the monologue performance by Butet Kertarejasa. Those performance concepts were much influenced and deserved to be imitated by other theatres group, either in Jakarta, Surabaya, or those that grew in small cities in Indonesia. This review tried to portray the growth of theatre groups, their performance system and audience response to the performance using literary macro and existing documentation gathering in order to collect information about performance, text writing and plays critique system in Yogyakarta between 1980 and 2000.

Page 1 of 1 | Total Record : 8