cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa (Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan)
ISSN : 02159171     EISSN : 25281089     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Widyaparwa merupakan media publikasi dan komunikasi hasil penelitian kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah di Indonesia yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Widyaparwa terbit dua kali dalam setahun, yaitu bulan Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol 44, No 2 (2016)" : 12 Documents clear
TRANFORMASI KISAH ASHABUL KAHFI DALAM AHLUL KAHFI KARYA TAUFIQ AL-HAKIM (TRANSFORMATION STORY "ASHABUL KAHFI" IN AHLUL KAHFI BY TAUFIQ AL-HAKIM) Sidik, Umar
Widyaparwa Vol 44, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.317 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i2.133

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan bagaimana resepsi pengarang dalam menempatkan kisah Ashabul Kahfi dalam karyanya yang berjudul Ahlul Kahfi; dan (2) menemukan hubungan interteks antara naskah drama dan teks Alquran serta tafsirnya sebagai hipogram.Pendekatan yang digunakan dalam pengkajian ini ialah resepsi/transformasi.Teknik analisis dilakukan dengan cara membandingkan, menjajarkan, dan mengontraskan teks drama Ahlul Kahfi dan Alquran sebagai hipogram. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini bahwa naskah drama Ahlul Kahfi merupakan penyerapan, penyalinan, enovasi, dan transformasi dari Alquran.Terdapat jalinan yang erat antara kisah Ashabul Kahfi dan Ahlul Kahfi sebagaihasil karya inovasi dan transformasi.Drama Ahlul Kahfi muncul karena adanya kisah Ashabul Kahfi. This paper aims to (1) describe how the reception of the author in involving the story of Ahlul Kahfi in his work entitled Ashabul Kahfi; and (2) find the intertextual relationship between the playwright and the Quran text and its interpretation as hipogram. The approach used in this study was reception/transformation. The analysis was conducted by comparing, aligning, and contrasting the drama text, Ahlul Kahfi and the Quran as hipogram. The results shows that the playwright, Ahlul Kahfi is the absorption, copying, enovation, and transformation from the Quran. There is a close relation between the story of Ashabul Kahfi and Ahlul Kahfi as the work of innovation and transformation. Ahlul Kahfi arise drama appearance was initiated by the story of Ashabul Kahfi.
SAMPUL DEPAN widyaparwa, admin
Widyaparwa Vol 44, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1173.096 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i2.138

Abstract

PERSOALAN LINGKUNGAN DALAM NOVEL LEMAH TANJUNG KARYA RATNA INDRASWARI IBRAHIM (PROBLEM OF ENVIRONMENT IN LEMAH TANJUNG NOVEL BY RATNA INDRASWARI IBRAHIM) Sungkowati, Yulitin
Widyaparwa Vol 44, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.17 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i2.129

Abstract

Sebagai produk masyarakat, karya sastra juga menghadirkan persoalan-persoalan yang ada di masyarakat, tidak terkecuali persoalan lingkungan. Ratna Indraswari Ibrahim adalah perempuan pengarang yang memiliki perhatian terhadap persoalan lingkungan seperti dalam novel Lemah Tanjung, tetapi selama ini para peneliti hanya menyoroti persoalan perempuannya saja. Oleh karena itu, masalah yang menjadi fokus penelitian ini adalah bagaimanakah persoalan lingkungan dalam novel Lemah Tanjung. Penelitian ini bertujuan mengungkap dan mendeskripsikan persoalan lingkungan yang terepresentasikan dalam novel Lemah Tanjung melalui pendekatan mimetis dengan teori ecocriticsm. Hasil penelitian menunjukan bahwa persoalan lingkungan dalam novel Lemah Tanjung merupakan representasi persoalan lingkungan yang ada di Kota Malang. Indikasi awal persoalan lingkungan adalah sulitnya mencari kunang-kunang yang menunjukkan makin sulitnya mencari sumber air bersih. Persoalan lingkungan lebih besar dihadirkan dengan kasus alih fungsi hutan kota menjadi perumahan mewah yang memicu perlawanan masyarakat terhadap pengusaha dan penguasa yang tidak berpihak pada lingkungan. Novel Lemah Tanjung menunjukkan keberpihakannya pada lingkungan, tetapi dengan nada pesimis. As a product of society, literary presents some problems that exist in society, not mention environment problems. Ratna Indraswari Ibrahim is a woman writer who cares about environment problem, as seen on her novel, Lemah Tanjung. Up to now, the researcher only focused on the woman problem. Because of that, this research focused on how the environment problem that represented in Lemah Tanjungnovel. The aims of this research are to expose and describe the environment problem that represented in Lemah Tanjung novel by using mimetic approach with ecocriticism theory. Result of the research shows that environment problem in Lemah Tanjung novel is a representation of the environment problem in Malang city. The earlier indication is difficulty of finding the firefly that showed the difficulties of finding the water spring. The bigger environmental problem is presented by the case of forest conversion into luxurious residential that triggered societys resistance to the authority and businessman who do not defect to the enironment. Lemah Tanjung novel stands for the environment, but not in optimistic.
BENTUK KRAMA DESA DALAM BAHASA JAWA (FORM OF KRAMA DESA IN THE JAVANESE LANGUAGE) Mulyanto, Mulyanto
Widyaparwa Vol 44, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.686 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i2.134

Abstract

Selama ini ragam krama desa dalam bahasa Jawa dianggap sebagai bentuk olok-olok atau sebagai bahasa orang yang tidak mengerti bahasa ragam halus. Penelitian ini bertujuan untuk menaturalisasi anggapan itu dan menjelaskan secara deskriptif krama desa sebagai bahasa yang hidup. Hasilnya, pembentukan kosakata krama desa merupakan sebuah paradigma yang memiliki sistem. Walaupun dianggap sebagai bentukan yang salah dan dengan jumlah kosakata yang terbatas, krama desamemiliki sistem yang ber-sifat teratur sebagaimana pembentukan bentuk kromo atau krama inggil dari ragam ngoko. Keteraturan sistem itu berupa analogi yang kuat adanya proses pembentukan kosakata ragam kromo menjadi kromo yang lain, yang searti. During this diversity the manner of krama desa in the Javanese language is considered as a form of moc-kery or as a language of people who do not understand a subtle language diversity. This study aims to natur-ralize the assumption and explain descriptively of the krama desa as a living language. As a result, the forming of krama desa vocabulary as a form of paradigm which has a system. Although considered as a wrong formation with limited numbers of vocabulary, krama desa has a regular system as a forming pesta-blishment of kromo or krama inggil from ngoko. The regularity of the system in the form of a strong ana-logy ing kromo vocabularly forming pricess become another kromo synonymous.
SAMPUL BELAKANG widyaparwa, admin
Widyaparwa Vol 44, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2600.08 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i2.139

Abstract

PERILAKU SATUAN LINGUAL -(N)ING DALAM BAHASA JAWA (LINGUAL UNIT BEHAVIOR -(N)ING IN JAVANESE LANGUANGE) Nardiati, Sri
Widyaparwa Vol 44, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.2 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i2.130

Abstract

Penelitian ini berjudul Perilaku Satuan Lingual (n)ing dalam Bahasa Jawa. Teori yang digunakan dalam kajian ini ialah kategori kata dan analisis konstituen. Pengumpulan data menggunakan metode simak. Analisis menggunakan metode agih dengan teknik bagi unsur langsung. Data yang terkumpul menunjukkan bahwa kehadiran satuan lingual (n)ing berfungsi sebagai penentu bagi unsur yang berposisi di sebelah kanannya. Satuan lingual tersebut dapat bervalensi dengan prakategorial, kata tugas, adjektiva, verba, dan nomina. Kehadiran (n)ing frekuentatif dalam bentuk frasa, antara lain frasa adjektival, frasa nominal, frasa verbal, dan frasa preposisional. Selain itu, satuan -(n)ing dapat hadir dalam bentuk kalimat meski dengan frekuensi yang sangat rendah. Satuan lingual tersebut dapat bervariasi dengan -e/ne dalam tingkat ngoko dan ipun/-nipun dalam tingkat kromo. Satuan lingual tersebut menandai hubungan makna pemilikan, pelaku, partitif, dan tujuan. The title of this study is Lingual Unit Behavior -(N)ing in Javanese Language". The theory is word category and constituent analysis. The data collection is recording. The analysis method is distributable method with direct element division technique. The collected data shows that the existence of lingual unit form -(n)ing functions as a determinant for elements positioned on the right. The (n)ing lingual unit form can be valence with pre-categorical, preposition, adjective, verb, and noun. Frequentative presence of (n)ing form in phrases, such as adjectival phrase, noun phrase, verbal phrase and prepositional phrase. In addition, -(n)ing lingual unit can be present in the form of a sentence even in the lowest frequency. The lingual unit form can be vary with -e/-ne in ngoko level and -ipun/-nipunin kromo level. This lingual unit marks semantic relations comprising possessive, agentive, portative, and goal.
PEPINDHAN TENTANG AKTIVITAS MANUSIA DALAM BAHASA JAWA (JAVANESE PEPINDHAN OF HUMAN ACTIVITY) Setyaningsih, Nur Ramadhoni
Widyaparwa Vol 44, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.697 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i2.135

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian linguistik interdisipliner untuk menemukan hubungan antara bahasa dan budaya, yakni budaya Jawa. Tujuan khusus yang ingin dicapai ialah (1) mendeskripsikan bentuk-bentuk pepindhan aktivitas manusia, (2) menemukan objek pembanding pepindhan aktivitas manusia, serta (3) mendeskripsikan unsur-unsur budaya yang tampak dalam pepindhan aktivitas manusia. Proses analisis data dilakukan dengan pendekatan linguistik antropologi. Berdasarkan kajian yang dilakukan dapat disebutkan bahwa aktivitas manusia yang di-pepindhan-kan meliputi aktivitas kaki, mulut, tangan, dan aktivitas tubuh secara keseluruhan. Kosakata yang digunakan sebagai pembanding dalam pepindhan diambil dari benda atau sesuatu yang dikenal baik oleh masyarakat Jawa dan mencerminkan kondisi budaya masyarakat Jawa. Penanda perbandingan yang muncul ialah kaya, kadya, pindha, semu, serta penasalan dan penambahan imbuhan hanuswara. Unsur budaya Jawa yang tercermin dari penggunaan kosakata dalam pepindhan ialah matapenca-harian, peralatan hidup, kesenian, dan pengetahuan. This study is interdisciplinary linguistic research that is aimed to find out the relation between language and the culture, particularly Javanese culture. The specific objectives are (1) to describe forms of human activity pepindhan, (2) to discover comparison object of human activity pepindhan, and (3) to describe cultural elements that appear in human activity pepindhan. Data analysis process is carried out by linguistic anthropology approach. Based on the study, it can is found out that human activity pephindan are leg activity, mouth activity, hand activity, and a whole body activity. The comparison vocabularies in pepin-dhan are taken from something that are familiar in Javanese community and these words reflect Javanese culture society condition. The comparison markers are kaya, kadya, pindha, semu, and nasalization with hanuswara affix. Javanese cultural elements reflected in pepindhan vocabularies are livelihood, equipment life, arts, and knowledge.
APPENDIK widyaparwa, admin
Widyaparwa Vol 44, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.704 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i2.140

Abstract

FUNGSI SOSIAL KEMASYARAKATAN TEMBANG MACAPAT (COMMUNITY SOCIAL FUNCTIONS OF MACAPAT) Santosa, Puji
Widyaparwa Vol 44, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.781 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i2.131

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkapkan dan mendekripsikan fungsi sosial kemasyarakatan tembang macapat. Masalah penelitian adalah bagaimanakah tembang macapat difungsikan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Seiring dengan tujuan dan masalah itu, metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan ditopang teori fungsi sastra yang bertolak dari tesis dan kontratesis Horatio, dulce dan utile. Hasil penelitian membuktikan bahwa tembang macapat dari awal keberadaannya, abad XIV Masehi, hingga kini dimanfaatkan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, antara lain, sebagai hiburan, estetika, pendidikan, pementasan tradisional, sarana surat-menyurat, senandung teman bekerja, mantra penolak bala, upacara temu temanten adat Jawa, upacara kegiatan Pangestu, dan filosofi siklus kehidupan. Atas dasar fungsi sosial kemasyarakat tersebut menjadikan tembang macapat sebagai karya sastra yang begitu urgen dalam kehidupan manusia sebagai tontonan, tuntunan, dan tatanan. This study aims to reveal the social and decrypt functions macapat. The research problem is how macapat functioned in social life. Along with the purpose and the problem was, the method used is a qualitative method supported by the theory of functions of literature that departed from the thesis and kontratesis Horatio, dulce and utile. The research proves that macapat from the beginning of its existence, the fourteenth century AD, until now used in social life, among others, as entertainment, aesthetics, education, staging traditional, means of correspondence, humming a friend works, spells repellent reinforcements, ceremonial gathering temanten Javanese tradition, ceremony Pangestu activities, and philosophy of the life cycle. On the basis of the social function of the society, it makes macapat as a literary work that is so vital in human life as a spectacle, guidance, and order.
RELASI WONG CILIK DAN PRIYAYI DALAM PASAR, PENGAKUAN PARIYEM, DAN GADIS PANTAI (RELATIONSHIP BETWEEN THE GRASSROOTS (WONG CILIK) AND THE NOBLEMAN (PRIYAYI) IN PASAR, PENGAKUAN PARIYEM, AND GADIS PANTAI) Untoro, Ratun
Widyaparwa Vol 44, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.362 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i2.136

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap konsep hidup bahagia orang Jawa melalui relasi antara wong cilik dan priayi dalam tiga novel Pasar, Pengakuan Pariyem, dan Gadis Pantai. Relasi-relasi ter-sebut diperoleh dengan mencari ceritheme dan mitheme berupa tindakan dan cara pandang tokoh-tokoh menggunakan model teori strukturalisme Levi-Strauss. Ceritheme dan mitheme tersebut di-gunakan untuk mencari struktur dasar (surface structure) berupa pasangan-pasangan oposisi. Hal itu untuk mengantarkan pada temuan struktur nirsadar (deep structure) berupa cara pandang atau cara berpikir manusia. Oleh karena ketiga novel tersebut merupakan novel etnografi dengan latar belakang budaya Jawa, penelitian ini menemukan model cara berpikir manusia Jawa, khususnya mengenai hubungan antara wong cilik dan priayi. Ditemukan pula bahwa derajat wong cilik dan priayi tidak memengaruhi tingkat kebahagiaan manusia Jawa. The research is aimed to reveal Javanese happy life concept through relationship between the grass-roots and the nobleman in three novels, namely Pasar, Pengakuan Pariyem and Gadis Pantai. The relations are obtained by searching ceritheme and mitheme in form of action and character point of view using the theoretical model of Levi-Strauss structuralism. Mitheme and ceritheme are used to find surface structure in form of opposition pairs. The ceritheme and mitheme even-tually lead to discovery of deep structure in the form of point of view or way of human thinking. Therefore, the three novels are a ethnographical novels with Javanese cultural background. This re-search suggests the Javanese mans model of thinking, particularly the relationship between the grassroots and the nobleman. It is also found out that the grassroot status and the nobleman status do not affect the level of Javanese mans happiness.

Page 1 of 2 | Total Record : 12