cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa (Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan)
ISSN : 02159171     EISSN : 25281089     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Widyaparwa merupakan media publikasi dan komunikasi hasil penelitian kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah di Indonesia yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Widyaparwa terbit dua kali dalam setahun, yaitu bulan Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 47, No 2 (2019)" : 10 Documents clear
WUJUD BUDAYA DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM CERITA RAKYAT PUTRI JELUMPANG: SEBUAH KAJIAN ANTROPOLOGI SASTRA Maulidiah, Nurfitriana; Saddhono, Kundharu
Widyaparwa Vol 47, No 2 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.599 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v47i2.356

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeksripsikan dan menjelaskan; (1) ide (mentifact) dalam cerita rakyat Putri Je-lumpang, (2) aktivitas tokoh (sosiofact) dalam cerita rakyat Putri Jelumpang, (3) hasil budaya (artifact) dalam cerita rakyat Putri Jelumpang, (4) nilai-nilai pendidikan dalam cerita rakyat Putri Jelumpang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan antropologi sastra. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling.  Teknik pengumpulan data menggunakan analisis dokumen dan wawancara. Validitas data menggunakan tringulasi sumber. Teknik analisis data menggunakan metode kualitatif hermeneutika. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) wujud ide atau gagasan dalam rakyat Putri Jelumpang meliputi, ide tentang hidup manusia dan ide tentang hubungan manusia dengan alam; (2) aktivitas tokoh dalam cerita rakyat Putri Jelumpangantara lain, aktivitas yang berhubungan dengan peralatan kehidupan manusia dan aktivitas yang berhubungan dengan sistem religi; (3) tidak ditemukan adanya hasil budaya dalam cerita rakyat Putri Jelumpang; (4) nilai pendidikan yang ditemukan dalam cerita rakyat Putri Jelumpang adalah nilai pendidikan moral perbuatan baik, pemenuhan hak, dan kejujuran.This research is proposed to describe and explain; (1) the ideas (mentifact) in Putri Jelumpang folklore, (2) the character?s activities (sociofact) of Putri Jelumpang folklore, (3)  the cultural outcomes (artifact) in Put-ri Jelumpang folklore, (4) the education value of Putri Jelumpang folktale. This research used descriptive qualitative method with literary anthropology approach. Sampling technique use purposive sampling. Collecting data technique use document analysis and interview. To validity the data, it uses triangulation of source. Data analysis technique use qualitative hermeneuticmethods. The results of this research shows that: (1) the ideas in Putri Jelumpang folktale were ideas about the human life and te idea of human relations with nature; (2) the character?s activities in Putri Jelumpang folktale were activities about equipment of hu-man life, and religious system; (3) there is no cultural outcomes in Putri Jelumpang folklore; (4) education value that can be find in Putri Jelumpang folklore is moral eduation value of good deeds, fullfillment of rghts, and honesty.
SAMPUL DEPAN DAN BELAKANG Widyaparwa, NFN
Widyaparwa Vol 47, No 2 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1448.322 KB)

Abstract

PROSES KREATIF DAN KRITIK SOSIAL DALAM NOVEL BABAD NGALOR-NGIDUL KARYA ELIZABETH D. INANDIAK Maulidina, Bunga Hening; Suryanto, Edy; Wardani, Nugraheni Eko
Widyaparwa Vol 47, No 2 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v47i2.187

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menjelaskan proses kreatif pengarang dan kritik sosial yang terdapat pada novel Babad Ngalor-Ngidul. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data berasal dari novel Babad Ngalor-Ngidul karya Elizabeth D. Inandiak dan hasil wawancara pengarang serta pengambilan data dilakukan secara purposive sampling. Data dianalisis berdasarkan teori proses kreatif pengarang dan sosiologi sastra yang berupa tuturan, kalimat, atau wacana yang terdapat dalam sumber data. Data disaring dan diklasifikasikan sesuai tujuan penelitian, yakni terkait dengan proses kreatif pengarang dan kritik sosial. Hasil penelitian mengemukakan bahwa terdapat kaitan antara proses kreatif pengarang dan kritik sosial yang ada dalam novel Babad Ngalor-Ngidul. Proses kreatif pengarang dilandasi atas peristiwa erupsi dan gempa di Yogyakarta serta dipengaruhi interaksi pengarang dengan masyarakat Kinahrejo dan Bebekan. Adapun kritik yang terdapat dalam novel Babad Ngalor-Ngidul adalah kritik sosial, budaya, dan politik atas dinamika perubahan masyarakat pascabencana. Proses kreatif pengarang dan penyampaian pesan kritik berkelindan dalam posisi moderat karya sastra sebagai bentuk penyucian (katarsis) serta penyembuhan.This study aims to describe and explain the creative process of authors and social criticism found in Babad Ngalor-Ngidul novel. This research use desciptive qualitative approach. Data sources in the form of Babad Ngalor-Ngidul novels by Elizabeth D. Inandiak and author interviews and data collection were carried out by purposive sampling. Data were analyzed based on the author's creative process theory and literary sociology in the form of speech, sentence, or discourse contained in the data source. Data is filtered and classified according to research objectives, which are related to the creative process of authors and social criticism. The results of the study stated that there is a connection between the creative process of the author and social criticism in the Babad Ngalor-Ngidul novel. The author's creative process is based on the eruption and earthquake events in Yogyakarta, and is influenced by the interaction of the author with the community of Kinahrejo and Bebekan. The criticisms contained in the Babad Ngalor-Ngidul novel are social, cultural and political criticisms of the dynamics of post-disaster community change. The creative process of the author and the delivery of the message of criticism are intertwined in the moderate position of literature as a form of sanctification (catharsis), and healing.
DAFTAR ISI DAN CATATAN REDAKSI Widyaparwa, NFN
Widyaparwa Vol 47, No 2 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.427 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v47i2.446

Abstract

RELASI DALAM WACANA KONFLIK KPK VS POLRI JILID II Wasono Aji, Endro Nugroho
Widyaparwa Vol 47, No 2 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v47i2.402

Abstract

Relasi kekuasaan berkaitan dengan kekuasaan individu, kelompok, atau institusi terhadap indivi-du, kelompok, atau institusi lainnya. Salah satu pihak dalam hal ini berusaha mendominasi pihak yang lain. Relasi yang asimetris tersebut tergambar dalam konflik KPK vs Polri jilid II. Hal terse-but dideskripsi dalam wacana ?Tajuk Rencana? harian Suara Merdeka. Makalah ini membahas ba-gaimana relasi-relasi yang terjalin dalam konflik KPK vs Polri jilid II yang dibahas dalam ?Tajuk Rencana? harian Suara Merdeka. Untuk mengkaji relasi tersebut digunakan metode analisis isi ku-alitatif. Analisis isi kualitatif adalah suatu metode yang digunakan untuk memahami pesan dari suatu wacana. Relasi dalam wacana konflik KPK vs Polri jilid II dideskripsikan oleh redaksi Suara Merdeka dengan memanfaatkan aspek kebahasaan yang berupa kosakata dan gramatika. Pemanfa-atan kosakata tersebut berupa penggunaan eufemisme dan kata-kata formal yang menonjol. Se-mentara itu, pemanfaatan gramatika berupa kalimat interogatif dan pronomina persona kita. Da-lam mendeskripsikan relasi tersebut, redaksi menempatkan institusi Polri pada posisi dominan, sebaliknya institusi KPK pada posisi yang dimarginalkan oleh institusi Presiden dan Polri.Power relations are related to the power of individuals, groups, or institutions over individuals, groups, or other institutions. One party in this case tries to dominate the other party. The asymmetrical relationship is illustrated by the conflict between the Corruption Eradication Commission (KPK) and Indonesian Police (Polri) volume II. This was described in the editorial of Suara Merdeka daily newspaper. This paper discusses how the relations involved in the KPK versus Polri conflict volume II were discussed in the editorial of Suara Merdeka. To examine this relationship, qualitative content analysis methods are used. Qualitative content analysis is a method used to understand the message of a discourse. The relation in the KPK versus Polri conflict discourse volume II is described by Suara Merdeka editors by utilizing linguistic aspects in the form of vocabulary and grammar. Utilization of the vocabulary is in the form of the use of euphemisms and prominent formal words. Meanwhile, the use of grammar is in the form of interrogative sentence and per-sonal pronouns we/us. In describing this relation, the editor put the Polri institution in a dominant position, while the KPK institution was marginalized by the President and Polri institutions.
EKSISTENSI CERITA SI PITUNG PADA ANAK-ANAK MASYARAKAT BETAWI Amanat, Tri
Widyaparwa Vol 47, No 2 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v47i2.322

Abstract

AbstrakTransmisi pengetahuan antar generasi sangat menentukan kelangsungan hidup sebuah budaya oleh karena itu penelitian ini berusaha mengetahui eksistensi cerita Si Pitung pada anak-anak masyarakat Betawi serta penelusuran terkait varian cerita Si Pitung dari tokoh-tokoh yang dianggap memahami tentang cerita ini. Penelitian ini berjenis kualitatif dengan metode deskriptif analitik dengan pendekatan sosiologi sastra. Pengumpulan data dengan wawancara dan penyebaran kuesioner. Ada tujuh tokoh dijadikan informan dan 105 anak Betawi dijadikan narasumber kuesioner. Mereka  berasal dari tiga daerah permukiman Betawi yaitu; Setu Babakan, Rawa Belong, dan Marunda. 99 responden atau 94% dari seluruh jumlah responden menyatakan ?tahu? Si Pitung. Peran keluarga dan lingkungan penting dalam transmisi cerita Si Pitung. Peran tokoh masyarakat dan sekolah/perpustakaan masih dianggap penting sebagai sumber pengetahuan perihal Si Pitung. Kepercayaan bahwa Si Pitung adalah nyata diyakini oleh 99% narasumber. Film berperan besar dalam pembentukan imaji terkait sosok Si Pitung. Mereka berharap pemerintah, swasta, dan media sangat berperan dalam pelestarian cerita Si Pitung.Kata kunci: Si Pitung, Cerita rakyat Betawi, Eksistensi folklor AbstractThe transmission of knowledge between generations largely determines the survival of a culture, so this study seeks to find out the existence of the story of Si Pitung in the children of the Betawi community and searches related to the variant of the story of Si Pitung from those who are considered to understand this story. This research is a qualitative type with analytic descriptive method with a sociological approach to literature. Collecting data by interviewing and distributing questionnaires. There were seven figures made as informants and 105 Betawi children were used as sources for the questionnaire. They come from three Betawi settlement areas namely; Setu Babakan, Rawa Belong, and Marunda. 99 respondents or 94% of all respondents stated "know" the Pitung. The role of family and environment is important in the transmission of the story of Si Pitung. The role of community leaders and schools / libraries is still considered important as a source of knowledge about Si Pitung. The belief that Si Pitung is real is believed by 99% of the speakers. Film plays a major role in the formation of images related to the figure of Si Pitung. They hope that the government, the private sector, and the media will play a role in preserving the story of Si Pitung.Keywords: Si Pitung, Betawi?s folklores, existence of folklores
HEGEMONI PENGUASA TERHADAP WANITA DALAM PERTUNJUKAN KIDUNG SRI BEDHAYA Hartikaningsih, NFN; Andayani, NFN; Wibowo, Prasetyo Adi Wisnu
Widyaparwa Vol 47, No 2 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v47i2.196

Abstract

Drama monolog Kidung Sri Bedhaya adalah salah satu karya dari penulis naskah Trisno Santoso. Penulis tertarik untuk meneliti drama pertunjukan bahasa Jawa dikarenakan faktor kurangnya perhatian peneliti lain terhadap naskah drama yang menggunakan bahasa Jawa. Selain itu, drama berbahasa Jawa ini disajikan dalam bentuk yang berbeda dan menarik, yakni berbentuk monolog. Penelitian ini dilakukan dengan melihat video secara berulang-ulang, mentranskrip dari suara ke tulisan, kemudian dikaji dengan menggunakan pendekatan feminisme. Metode yang digunakan adalah deksriptif kualitatif. Perempuan merupakan citra yang sangat menarik untuk dibahas oleh para sastrawan. Seringkali sosok perempuan ditempatkan di bawah kekuasaan laki-laki yang mempunyai kedudukan dan kekuasaan di suatu wilayah. Laki-laki yang berkuasa di wilayah tersebut tidak bisa memisahkan kepentingan diri sendiri dan kepentingan umum. Mereka seringkali lupa, bahwa berlaku sewenang-wenang kepada keluarga, abdi, maupun masyarakat tidak diperbolehkan. Akan tetapi, kekuasaan seolah-olah membutakan batasan kepentingan tersebut. Melalui Kidung Sri Bedhaya, kita dapat melihat hegemoni penguasa terhadap wanita.
PRODUKSI BAHASA TULIS PENUTUR ASING: STUDI KASUS MELATI Hidayah, Ilham; Widodo, Pratomo
Widyaparwa Vol 47, No 2 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.2 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v47i2.313

Abstract

Keberhasilan pemerolehan bahasa kedua dan bahasa berikutnya dipengaruhi banyak faktor, baik yang menyangkut dari dalam diri individu maupun yang berasal lingkungan. Penelitian mengenai bahasa kedua seharusnya tidak hanya berfokus pada menilai keberhasilan dari seorang individu dalam memeperoleh bahasa tetapi juga harus menghubungkan bagaimana latar belakang belajar bahasa individu dalam kaitannya dengan pencapaian pemerolehan berbahasanya. Artikel ini akan fokus pada pembahasan produksi bahasa tulis dengan subjek melati, yaitu seorang penutur asli bahasa Mandarin. Dengan meninjau latar belakang bilingualisme subjek diharapkan dapat memberikan gambaran dan menjawab pertanyaan ?seberapa pencapaian seseorang yang belajar bahasa asing bila ia belajar bahasa kedua setelah melewati critical period, kemudian menempuh pendidikan untuk memperoleh bahasa (nurture), dan seorang yang coordinate billingualism, bila diukur setelah mempelajari bahasa selama lima tahun empat bulan?? hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Melati memiliki kemampuan bahasa sebagai berikut (1) secara keterbacaan, mampu menulis dengan kerumitan yang sesuai untuk pelajar tingkat perguruan tinggi (2) mampu membangun hubungan antar kata, kalimat, dan paragraf namun pada tataran kata masih ditemukan beberapa masalah (3) cenderung menghasilkan kalimat sulit dipahami saat menulis kalimat yang lebih kompleks.The success of obtaining a second language and subsequent languages is influenced by many factors, both those involving from within individuals and those from the environment. Thus, research should not only focus on assessing the success of an individual in obtaining language but must also relate how the individual's language learning background is related to the achievement of language acquisition. This article will focus on the discussion of written language production with the subject of jasmine, which is a native speaker of Mandarin. By reviewing the background of the subject's bilingualism, it is expected to be able to provide an overview and answer the question "how is the achievement of someone who learns a foreign language if he learns a second language after passing a critical period, then takes education to obtain language (nurture), and a coordinate billingualism, if measured after study the language for five years and four months? "the results of the research show that Melati has the following language skills (1) in terms of readability, able to write with the appropriate complexity for college level students (2) able to build relationships between words, sentences, and paragraphs but at the word level there are still some problems (3) which tend to produce difficult sentences to understand when writing more complex sentences.
VITALITAS BAHASA, DIGLOSIA, DAN KETIRISANNYA: PEMERTAHANAN BAHASA MANDURO DI DESA MANDURO, KECAMATAN KABUH, KABUPATEN JOMBANG, JAWA TIMUR Setiawati, Eti; Ardhian, Dany; Widodo, Wahyu; Warsiman, NFN
Widyaparwa Vol 47, No 2 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.214 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v47i2.293

Abstract

Suatu bahasa minoritas akan sangat sulit bertahan jika bahasa itu dikepung oleh bahasa mayoritas, apalagi wilayah ini sangat bergantung pada wilayah sekitarnya, baik dari sisi ekonomi, pemerintahan, pendidikan, dan kesehatan. Akan tetapi, beberapa daerah seperti itu justru mampu bertahan dan tidak terpengaruh dengan bahasa-bahasa di sekitarnya.Kajian ini berusaha mendeskripsikan vitalitas bahasa, diglosia, dan ketirisan bahasa (language leakage).Lokasi penelitian diambil di empat dusun (Dander, Goa, Matokan, dan Gesing) Desa Manduro, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Desa Manduro dipilih karena  penduduknya berbahasa Madura, tetapi dikelilingi oleh penduduk berbahasa Jawa serta terpisah dengan bahasa induknya (bahasa Madura). Sumber data diambil dari seratus responden dalam empat kelompok (anak, remaja, dewasa, dan manula). Pengumpulan data menggunakan teknik triangulasi sumber: pengamatan (simak-catat), angket (diadopsi dari questioner Bahasa Sehar-hari Universitas Katolik Indonesia Atmajaya, dan wawancara mendalam. Hasil kajian memperlihatkan indeks vitalitas bahasa adalah 0,69, kategori IV, dengan situasi bahasa stabil-mantap, tetapi berpotensi terancam. Diglosia terdapat pada ranah keluarga, kerabat, pertetanggaan, dan pertemanan. Ketirisan diglosia terjadi pada ranah pertemanan.A minority language will be very difficult to survive if the language is surrounded by a majority language, moreover, this region is very dependent on the surrounding area, both in terms of economy, government, education, and health. However, some regions can survive and are not affected by the surrounding languages. This study seeks to describe the language vitality, diglossia, and language leakage.The study sites were taken in four hamlets (Dander, Goa, Matokan, and Gesing) Manduro Village, Kabuh, Jombang, East Java. Manduro village was chosen because its inhabitants speak Madurese, but are surrounded by Javanese residents and are separated from their mother tongue (Madurese). Data sources were taken from one hundred respondents in four groups (children, teenagers, adults, and old).Data collection uses source triangulation techniques: observation (note-taking), questionnaire (adapted from Bahasa Kita Atmajaya questioner), and in-depth interviews. The results of the study showed that language vitality index was 0.69; category IV; stable, but potentially threatened. Diglossia is in family domain, kinship, neighbors, and friendship. The language leakage occured of friendship domain.
LAGU “JOGJA ISTIMEWA”: REPRESENTASI IDENTITAS DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Macaryus, Sudartomo; Wicaksono, Yoga Pradana
Widyaparwa Vol 47, No 2 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.403 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v47i2.368

Abstract

Tulisan ini bertujuan menjelaskan isi syair lagu ?Jogja Istimewa? yang memuat informasi, deskripsi, imperasi, serta pesan yang menunjukkan identitas Yogyakarta (DIY). Lirik yang diformulasikan secara verbal mencerminkan pengetahuan, pengalaman, harapan, dan ideologi penulis yang tampak melalui penyebutan nama tempat, tokoh, peristiwa, situasi, dan ajakan. Penjelasan dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan metode tekstual, kontekstual, dan intertekstual. Penjelasan tekstual dengan memaknai syair lagu yang telah diformulasikan secara verbal tulis. Penjelasan kontekstual dengan mengaitkan lirik lagu dengan latar belakang sejarah, budaya, dan sosial masyarakat DIY. Penjelasan intertekstual dengan mengaitkan isi lirik dengan teks lain, yaitu ungkapan-ungkapan yang merupakan kristalisasi kearifan masyarakat. Penjelasan tersebut dilakukan dengan menempatkan setiap gejala sebagai tanda budaya yang secara keseluruhan merepresentasikan identitas budaya dan masyarakat Yogyakarta (DIY). Pemaknaan dilakukan dengan mengaitkan hubungan antardata secara keseluruhan untuk mendapatkan simpulan secara komprehensif. Hasil analisis menunjukkan bahwa syair lagu ?Jogja Istimewa? merepresentasikan identitas Yogyakarta sebagai kota sejarah, budaya, dan perjuangan yang terus dihidupi dan dikembangkan oleh masyarakat pendukung dan kalangan birokrat di lingkungan Pemerintah DIY.This paper is to explain the contents of the song poem "Jogja Istimewa" which contains information, descriptions, imperatives, and messages that show the identity of Yogyakarta (DIY). Verbally formulated lyrics reflect the writer's knowledge, experiences, hopes, and ideology that appear through the mention of names of places, characters, events, interactions, and invitations. Explanations were made using qualitative and qualitative, contextual, and intertextual methods. Textual explanation by interpreting song-poems that have been formulated verbally written. Contextual explanation by linking song lyrics with the historical, cultural and social background of the DIY community. Intertextual explanation by linking the contents of the lyrics with other texts, namely assumptions that are the crystallization of the wisdom of the community. This explanation is done by placing each phenomenon as a cultural sign that all represent the cultural identity and the people of Yogyakarta (DIY). Meaning is done by linking relationships between data to get the full conclusion. The analysis shows that the song poem "Jogja Istimewa" represents Yogyakarta's identity as a city of history, culture, and struggle that continues to be lived and developed by supporting communities and bureaucratic competition in the Government of DIY.

Page 1 of 1 | Total Record : 10