cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Idealog: Ide dan Dialog Desain Indonesia
Published by Universitas Telkom
ISSN : 24770566     EISSN : 26156776     DOI : -
Core Subject : Art,
Journal IDEALOG is a peer-reviewed journal devoted to the study and applications of interior design and product design theory and practice
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Idealog vol 2 nomor 1" : 7 Documents clear
PENGARUH DESAIN INTERIOR KELAS TOKONG NANAS TERHADAP KENYAMANAN VISUAL MAHASISWA Handoyo, Andreas D.; Nur Hadiansyah, Mahendra
Ide dan Dialog Desain Indonesia (Idealog) Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Idealog vol 2 nomor 1
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/idealog.v2i1.1182

Abstract

Visualisasi dalam interior kelas memiliki peran penting dalam proses perkuliahan, hal tersebut akan memberika kemudahan dalam penyampaian materi perkuliahan atau menjadi pengganggu dalam proses transfer ilmu. Salah satu yang memengaruhi tingkat konsentrasi mahasiswa pada saat kuliah adalah penataan ruang serta atribut ruang interior kelas. Secara kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipologi desain penataan kelas perkuliahan dengan studi kasus ruang kelas di lantai 6 Gedung Kuliah Umum, Universitas Telkom. Pembahasan dalam penelitian ini dibatasi pada elemen fisik interior yang dapat diamati dari berbaga posisi duduk mahasiswa dan memberikan dampak visual terhadap mahasiswa pada saat berkuliah. Hasilnya, ditemukan aspekaspek penataan ruang dan atribut interior yang dapat menjadi distraksi bagi sehingga mahasiswa mengubah penataan yang ada untuk mengakomodasi kenyamanannya. Temuan-temuan yang didapat diharapkan dapat menjadi masukan dan pertimbangan dalam perencanaan, perancangan, serta pengembangan fasilitas kelas di kemudian hari.
PENERAPAN KONSEP TERITORI PADA AREA TERAS DAN KORIDOR Di RUSUN SARIJADI BANDUNG Sarihati, Titihan
Ide dan Dialog Desain Indonesia (Idealog) Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Idealog vol 2 nomor 1
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/idealog.v2i1.1178

Abstract

Teritori merupakan suatu wujud pembagian wilayah kekuasaan. Teritori sangat berkaitan dengan pemahaman akan keruangan. Pada manusia, teritori adalah usaha kepemilikan suatu wilayah yang biasanya diberi penanda sebagai pembeda oleh elemen elemen desain, dapat berupa warna, bentuk, material dan lain sebagainya.  Penelitian ini membahas bagaimana konsep teritori yang terjadi dalam bangunan rumah susun sarijadi Bandung, yang memiliki area atau ruang tinggal yang saling berdekatan satu sama lain baik secara vertikal atau linier. Metode Penelitian yang digunakan adalah Metode Penelitian Kualitatif yang didapat melalui wawancara, pengamatan terhadap perilaku dari penghuni rusun dan studi literatur yang terkait dengan teritorial dalam ruang tinggal.  Hasil dari penelitian yang dilakukan, didapatkan bahwa konsep teritori pada hunian bersama, dalam hal ini rumah susun memiliki toleransi yang berbeda dibanding dengan rumah tinggal pada umumnya.  Batasan teritorial yang dipahami secara teoritis, mengalami pergeseran dimensi apabila digunakan untuk mengukur pada rumah susun. Perubahan setting tata ruang berdampak pada perubahan perilaku dalam berpenghuni. Dalam penelitian ini didapatkan hasil bahwa semakin dekat jarak antar ruang satu individu dengan yang lain maka semakin besar kecenderungan individu untuk merasa memiliki, bahkan menjajah ruang yang bukan miliknya.
PERAN PENANGKAL MATAHARI DALAM MENGATASI SILAU PADA DINDING KACA BANGUNAN TINGGI DI IKLIM TROPIS LEMBAP -, RAMADONA
Ide dan Dialog Desain Indonesia (Idealog) Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Idealog vol 2 nomor 1
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/idealog.v2i1.1179

Abstract

Melihat fenomena yang terjadi di dunia arsitektur saat ini, banyak arsitek profesional menggunakan teori arsitektur yang kurang tepat dalam perencanaannya. Salah satu contohnya teori bangunan tinggi di iklim subtropis diterapkan pada desain bangunan tinggi yang berada di iklim tropis lembap, tentunya hal tersebut akan mengakibatkan dampak yang signifikan di dalam bangunan dan di luar bangunan. Pada negara beriklim Subtropis penggunaan kaca digunakan untuk penerangan alamiah dan membuat akumulasi panas sehingga membantu beban energi Heater pada musim dingin. Namun apabila dinding kaca atau Curtain Glass diaplikasikan di negara yang beriklim tropis lembap, maka akan mempunyai permasalahan ketidaknyamanan termal di dalam bangunan dan ketidaknyamanan visual pada lingkungan luar bangunan. Fokus penelitian yang dibahas pada tesis ini terbatas hanya pada lingkup ketidaknyamanan visual di luar bangunan serta dampak yang dihasilkannya, yaitu glare atau silau, karena fenomena ini yang sering terlihat pada bangunan bertingkat banyak yang menggunakan curtain glass sebagai fasade .  Metoda penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metoda simulasi dengan menggunakan software sketchup sebagai permodelan awal dan autodesk ecotect yang digunakan untuk mensimulasikan bagian fasade yang terkena paparan sinar matahari, sehingga dapat diperoleh hasil dari analisis tersebut. Selain itu metoda penelitian ini merupakan cara tepat, terukur dan mudah untuk dipahami, karena langsung menggunakan permodelan 3 dimensi yang bentuk dan dimensinya serupa dengan objek aslinya.  Dalam penelitian ini digunakan permodelan sun shading yang diaplikasikan pada fasade bangunan terutama curtain glass, yang diharapkan dapat meminimalkan terjadinya faktor glare atau silau pada dinding fasade bangunan. Serta diharapkan peneliti dapat menemukan permodelan sun shading yang tepat untuk bangunan objek studi dalam hal ini dinding fasade bangunan Hotel Ibis Trans Studio Mall Bandung.
RELASI SPASIAL ANTARA KEGIATAN RITUAL IBADAH BERJAMAAH DENGAN ARSITEKTUR MESJID DI BANDUNG Studi kasus : Masjid Cipaganti, Masjid Salman, dan Masjid al Irsyad) Adiwirawan, Endro
Ide dan Dialog Desain Indonesia (Idealog) Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Idealog vol 2 nomor 1
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/idealog.v2i1.1180

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan seluruh relasi spasial yang terjalin antara ritual ibadah berjamaah dengan arsitektur mesjid. Tujuan tersebut dapat dicapai melalui langkah - langkah sebagai berikut: Pertama, menelaah literatur yang sejalan dengan tujuan penelitian; kedua, menentukan acuan dan langkah - langkah yang dapat digunakan untuk menganalisis kasus studi. Hasil analisis menunjukan bahwa seluruh alur gerak ritual ibadah berjamaah merupakan simbolisasi perjalanan manusia dari keadaaan profan menuju ke sakral untuk berdialog dengan Allah. Kegiatan yang sifatnya simbolik ini dilandasi oleh tiga konsep, yakni konsep identifikasi, orientasi, dan hirarki. Berdasar pada persyaratan kegiatannya, maka dihasilkan diagram konseptual ruang gerak dan ruang luar yang digunakan untuk menganalisis kasus studi. Hasil penelitian ini diharapkan mampu berperan dalam memperkaya perbendaharaan teoritik mengenai aspek spasial dalam arsitektur secara umum, maupun secara khusus pada arsitektur mesjid. Penelitian ini juga mengungkapkan seluruh relasi spasial antara ritual ibadah berjamaah dengan arsitektur mesjid. Sedangkan bagi ranah praktik, hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam merancang arsitektur mesjid. Diharapkan bahwa meski hadir dengan tampilan yang beragam, ruang - ruang yang tercipta maupun pelingkup arsitektur mesjid tetap sejalan dengan persyaratan mendasar ritual ibadah berjamaah. hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemberi tugas maupun pengambil keputusan yang terlibat dalam proses perancangan, pembangunan, maupun renovasi arsitektur mesjid.  Hasil penelitian ini adalah bahwa dari 3 (tiga) kasus studi yang ada tidak seluruhnya memperlihatkan relasi yang baik antara arsitektur masjid dengan ritual ibadah berjamaahnya.
ANALISA POLA BUDAYA SUNDA PRIMODIAL (Pola Tiga) PADA TATA RUANG DAN BENDA PAJANG DI MUSEUM NEGERI JAWA BARAT SRI BADUGA BANDUNG Salayanti, Santi
Ide dan Dialog Desain Indonesia (Idealog) Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Idealog vol 2 nomor 1
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/idealog.v2i1.1176

Abstract

Fenomena keberadaan museum yang makin berkembang, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan beberapa kota lainnya, keduanya difungsikan sebagai sarana pendidikan dan informasi, juga dijadikan sarana rekreasi yang menarik. Di balik berkembangnya fasilitas publik museum ini ternyata kesadaran untuk berkunjung ke museum masih kurang, sehingga pemerintah membuat beberapa kampanye tentang museum seperti "ayo ke museum" dan "museum di hati" .Dari jenis jenis museum di Indonesia yang Dirilis oleh musem indonesia.net informasi resmi tentang situs tersebut sebagai museum di indonesia. Ada satu jenis museum khas yang menginformasikan tentang sejarah dan budaya daerah, yang difasilitasi oleh pemerintah, yaitu Museum Negara atau Museum Daerah, yang di Indonesia setidaknya ada 19 negara atau Museum Regional yang tersebar di seluruh Indonesia.Salah satu Museum Negara adalah Museum Sri Baduga (yang menjadi objek penelitian ini), Museum yang dikelola oleh provinsi Jawa Barat dan terletak di jalan BKR No. 185 Bandung didirikan pada tahun 1974, terdiri dari benda-benda koleksi sejarah khususnya Barat. Java area mulai koleksi geologika, Biologika hingga teknologika. Keputusan mengambil objek penelitian museum karena pentingnya memahami sejarah dan pengaruh kebijaksanaan filosofis (Sunda) dalam hal ini pola teori budaya Sunda (Tri tangtu Sunda), artefak modern dalam tata letak sistem ini. (tata letak) interior dan penempatan sistem objek koleksi sesuai dengan kategori koleksi arsitektur museum Sri Baduga Jawa Barat. Kondisi di atas merupakan objek kajian dalam penelitian, baik sebagai museum yang benar-benar menginformasikan tentang sejarah, budaya dan peradaban Sunda. Menggunakan nilai filosofis Sunda (konsep Sunda Tritangtu) dalam membuat tata letak dan mengatur objek pajangannya.Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif (metode penelitian deskriptif) yaitu kualitatif, dengan melihat bentuk artefak - ruang interior arsitektural. Penelitian ini ingin mengetahui penerapan tiga budaya Sunda di bagian ruang interior arsitektur Museun Sri Baduga Jawa Barat, serta untuk mengetahui pola koleksi objek koleksi ini mengikuti aturan filoosfis pola budaya atau tidak
PENERAPAN METODE SUPPORT DAN DETACHABLE UNIT BERBASIS KONSTRUKSI PRACETAK C-PLUS DAN BAMBU PLASTER KOMPOSIT STYROFOAM PADA PERANCANGAN RUSUNAWA Obyek Studi: Permukiman di Kawasan Urban Rancacili Wicaksono, Emanuel Agung
Ide dan Dialog Desain Indonesia (Idealog) Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Idealog vol 2 nomor 1
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/idealog.v2i1.1181

Abstract

Pengadaan rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) cenderung mengeliminasi peran penghuni sehingga hunian tidak bisa mengakomodasi perubahan akibat perkembangan kebutuhan penghuni. Penelitian ini bertujuan memahami metode support dan detachable unit yang dicetuskan oleh Habraken sebagai metode perancangan rusunawa yang adaptif melalui prinsip partisipasi dan kontrol pengguna. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif. Metode support dan detachable unit dipahami melalui studi literatur lalu dipadukan dengan observasi konteks tapak, fungsi, serta perilaku penghuni. Dalam proses analisis, metode ini dielaborasi dengan eksplorasi konstruksi C-Plus sebagai komponen support dan bambu plaster komposit styrofoam sebagai komponen detachable unit. Analisis penelitian ini menghasilkan pedoman perancangan yang selanjutnya diimplementasikan pada desain rusunawa. Metode ini melibatkan proses analisis, yaitu: analisis zona, analisis sektor, analisis variasi dasar, analisis subvariasi. Ruang dibagi menjadi zona alpha(α), zona beta (β), zona gamma (γ), zona delta (δ), dan margin untuk mengevaluasi kemungkinan tata letak dan interelasi antara support dan detacahable unit. Agar tercapai hunian yang terjangkau, disimpulkan bahwa komponen support yang bersifat kepemilikan bersama dan memiliki permanensi tinggi dapat diadakan melalui strategi providing karena butuh modal besar dan teknologi tinggi. Komponen detachable unit yang bersifat kepemilikan pribadi dan memiliki fleksibilitas tinggi dapat diadakan dengan strategi enabling karena butuh modal kecil dan teknologi sederhana. Analisis ini juga menghasilkan 38 variasi dasar yang sesuai kriteria bangunan sehat, aman, nyaman dan kemudahan dibangun.
MAKNA ESTETIK PADA SITUS KARANGKAMULYAN DI KABUPATEN CIAMIS Syarif, Edwin Buyung
Ide dan Dialog Desain Indonesia (Idealog) Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Idealog vol 2 nomor 1
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/idealog.v2i1.1177

Abstract

Pada umumnya di Indonesia situs selalu cenderung dilihat dari perspektif ilmu sejarah, budaya dan antropologi. Pada hakikatnya, situs dapat pula dikategorikan sebagai benda seni, karena situs memiliki lima sifat seni sesuai yang dikemukakan oleh Prof. Suwadji Bastomi dalam bukunya yang berjudul Wawasan Seni.  Adapun kelima sifat seni tersebut adalah; sifat kreatif, emosional, individual, abadi, dan universal.  Situs Karang Kamulyan adalah Situs yang dibuat sebagai penjabaran pola rasional tritangtu yang dianut oleh masyarakat Sunda primordial. Situs ini adalah situs yang bersifat ratu, atau situs para Raja atau para pelaksana pemerintahan dikerajaan Galuh. Situs Karang Kamulyan merupakan bagian dari dua situs lainnya yaitu situs Kawali, situs yang bersifat Resi atau situs para pemegang agama atau pemilik kerajaan Galuh, dan Situs Gunung Susuru yang bersifat Rama atau tanah atau situs rakyat.  Makna Situs Karang Kamulyan dikaji dari perspektif estetika melalui pisau bedah teori semiotika Charles Sanders Pierce, mampu membaca nilai-nilai hakikat dari estetika yang dimiliki masyarakat Sunda primordial. Adalah sesuatu yang langka dan menarik untuk mengkaji situs dari perspektif estetika karena dengan kajian estetika maka hakikat keindahan situs dari berbagai konteksnya akan terbaca. Hasil analisis dari situs Karang Kamulyan berupa interpretasi, diharapkan menjadi sumbangan yang memiliki nilai kebaruan terhadap pengembangan ilmu yang akan memperkaya pemahaman masyarakat terhadap peninggalan budayanya. Lebih jauh lagi diharapkan hasil penelitian ini bukan hanya memperkaya wacana ilmiah, pendidikan seni dan budaya yang ada di Indonesia, tapi mendorong lahirnya ide-ide dan karya-karya baru sebagai kelanjutan dari konsep budaya yang telah ditorehkan oleh para pendahulu dalam bentuk artefak.

Page 1 of 1 | Total Record : 7