cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Pharmaceutical Journal of Indonesia
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : 2461114X     DOI : -
Core Subject : Health,
Pharmaceutical Journal of Indonesia (PJI) is an online journal which is published twice a year by Department of Pharmacy, Faculty of Medicine, Brawijaya University. The articles published in PJI cover the themes of Clinical and Community Pharmacy, Pharmaceutical Chemistry, Pharmaceutical Technology, and Natural Product Pharmacy/Chemistry.
Arjuna Subject : -
Articles 55 Documents
PENGARUH RASIO KITOSAN DAN ATENOLOL TERHADAP KARAKTERITIK FISIK DAN PROFIL PELEPASAN PADA MIKROSFER ATENOLOL Almiahsari, Ashri; Danimayostu, Adeltrudis Adelsa; Permatasari, Dahlia
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.799 KB)

Abstract

AbstrakHipertensi banyak dialami oleh geriatri yang cenderung sulit menelan tablet konvensional, sehingga modifikasi bentuk sediaan fast disintegrating tablet (FDT) diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut. Taste masking merupakan suatu pertimbangan penting dalam merancang formula FDT. Sehingga dikembangkan teknik taste masking dengan metode enkapsulasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh rasio kitosan dan atenolol terhadap diameter ukuran, efisiensi penjerapan, dan profil pelepasan mikrosfer atenolol dengan metode emulsifikasi dan mengetahui formula optimum berdasarkan diameter ukuran, efisiensi penjerapan, dan profil pelepasannya. Formula mikrosfer atenolol dibuat dengan rasio kitosan dan atenolol 1 : 0,5 (FI), 1 : 1 (FII), dan 1 : 1,5 (FIII). Karakterisasi mikrosfer yang dilakukan meliputi sifat alir, ukuran dan distribusi ukuran, efisiensi penjerapan, dan profil pelepasan. Berdasarkan hasil penelitian, efisiensi penjerapan tertinggi ditunjukkan pada FI dengan hasil sebesar 68,46 ± 8,95 % yang berbeda signifikan berdasarkan analisis statistika (p < 0,05). Profil pelepasan yang paling tinggi juga ditunjukkan pada FI yaitu 73,162 ± 4.507 % dalam 30 menit yang berbeda signifikan berdasarkan analisis statistic (p<0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah variasi rasio kitosan dan atenolol tidak berpengaruh signifikan terhadap sifat alir dan diameter ukuran mikrosfer, jumlah kitosan yang lebih tinggi menghasilkan efisiensi penjerapan dan persen pelepasan yang lebih besar, dan formula mikrofer yang menghasilkan karakteristik fisik dan profl pelepasan yang optimum adalah formula dengan rasio kitosan dan atenolol sebesar 1 : 0,5.Kata Kunci : Atenolol, Emulsifikasi, Hipertensi, Kitosan, Taste Masking 
Efektivitas Ekstrak Buah Pare (Momordica charantia) dan Buncis (Phaseolus vulgaris) untuk Penurunan Kadar Gula Darah dan AUC (Area Under Curve). Achmad, Anisyah
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.762 KB)

Abstract

Buah pare mengandung momordisin, momordin, asam resinat dan sterol, sedangkan buncis mengandung guava polyphenol. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas campuran buah pare dan buncis dalam menurunkan kadar gula darah dan area under curve. Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmasi Klinik Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.  Hewan uji dibagi menjadi 7 kelompok,  terdiri atas 28 tikus. Kelompok 1 diberi metformin dalam NaCMC  1% dengan dosis 9 mg/200 g BB tikus. Kelompok 2 diberi NaCMC 1% sebanyak 3 ml/200 g BB. Kelompok 3 ekstrak etanol buah pare 250 mg/kg BB. Kelompok 4 ekstrak etanol buah pare 125 mg/kg BB dan buncis 100 mg/kg BB. Kelompok 5 diberi 62,5 mg/kg BB dan 150 mg/kg BB. Kelompok 6 diberi 187,5 mg/kg BB dan 50 mg/kg BB. Kelompok 7 ekstrak etanol buah buncis 200 mg/kg BB. Setelah ekstrak, 30 menit kemudian diberi glukosa 1,35 g/200 g BB. Cuplikan darah diambil pada menit ke -0, 30, 60, 90, dan 120. Pengukuran kadar gula darah menggunakan metode electrochemical glucose biosensor. Berdasarkan analisis uji LSD, pemberian kombinasi ekstrak etanol buah pare dan buncis perbandingan 50%:50% menghasilkan interaksi sinergis dengan efek hipoglikemik yang berbeda signifikan dengan dibanding ekstrak etanol buah pare ataupun buncis secara tunggal. Simpulan dari penelitian ini ekstrak buah pare dan buncis 50%:50%, dapat menurunkan kadar gula darah dan AUC tikus dengan efek sinergisme optimal.  Kata kunci: AUC, Buncis, Kadar gula darah, Pare 
PROFIL KUALITAS PELAYANAN RESEP OLEH APOTEKER DI BEBERAPA sulistya, yoga angga; pramestutie, hananditia rachma; sidharta, bambang
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.056 KB)

Abstract

Pelayanan resep adalah pelayanan terhadap permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi dan dokter hewan kepada apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi pasien sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran kualitas pelayanan farmasi pada pelayanan resep oleh apoteker. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling untuk memilih apotek mana yang digunakan sebagai tempat penelitian dan teknik simple random sampling untuk menentukan sampel pasien. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner yang menggunakan standar SERVQUAL. Apotek yang sesuai dengan kriteria penelitian sebanyak 8 apotek, namun data yang diperoleh pada penelitian ini hanya berasal dari 7 apotek, karena pada 1 apotek tidak mendapatkan data (gugur). Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 100 pasien. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasien yang menebus resep di apotek memiliki harapan tinggi terhadap layanan yang diberikan dengan rata-rata penilaian sebesar 6,55 namun kenyataan yang dirasakan tidak mampu memenuhi harapan pasien dengan rata-rata penilaian sebesar 5,76. Nilai secara keseluruhan kualitas pelayanan farmasi pada pelayanan resep oleh apoteker tergolong rendah dengan nilai sebesar -0,79. Kesimpulan yang diperoleh yaitu kualitas pelayanan farmasi pada pelayanan resep oleh apoteker masih memerlukan perbaikan untuk meningkatkan kualitas pelayanan menjadi lebih baik
Pendekatan Struktur Aktivitas dan Penambatan Molekul Senyawa 2-iminoethyl 2-(2-(1-hydroxypentan-2-yl) phenyl)acetate Hasil Isolasi Fungi Endofit Genus Fusarium sp pada Enzim β-ketoasil-ACP KasA Sintase Rollando, Rollando
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.236 KB)

Abstract

Fungi endofit dapat memproduksi senyawa yang memiliki aktivitas biologi, diantaranya senyawa flavonoid, alkaloid, fenolik, dan terpenoid. Fungi endofit genus Fusarium sp yang diisolasi dari daun tanaman meniran menghasilkan senyawa 2-iminoethyl 2-(2-(1-hydroxypentan-2-yl) phenyl)acetate yang mempunyai aktivitas dapat menghambat pertumbuhan bakteri Mycobacterium tuberculosis dengan nilai EC50 sebesar 18,98 µM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme aksi senyawa 2-iminoethyl 2-(2-(1-hydroxypentan-2-yl) phenyl)acetate pada enzim asam siklopropan mikolik sintase dan β-ketoasil-ACP KasA sintase. Enzim asam siklopropan mikolik sintase dan enzim β-ketoasil-ACP KasA sintase memiliki andil yang besar dalam pembentukan asam mikolat, bila aktivitas kedua enzim terhambat maka pembentukan asam mikolat juga akan terhambat sehingga dapat menyebabkan kematian pada bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pendekatan dilakukan dengan metode penambatan molekul (molecular docking) dengan didahului optimasi dan validasi metode. Reseptor yang digunakan adalah 2WGE dan 3HEM yang didapat dari Protein Data Bank. Hasil analisis menunjukan senyawa 2-iminoethyl 2-(2-(1-hydroxypentan-2-yl) phenyl)acetate mampu berikatan dengan lebih baik terhadap enzim asam mikolik siklopropan sintase dan enzim β-ketoasil-ACP KasA sintase dibandingkan dengan positif dan native ligand. Dari analsis tersebut disimpulkan bahwa senyawa 2-iminoethyl 2-(2-(1-hydroxypentan-2-yl) phenyl)acetate mampu bertindak sebagai inhibitor enzim asam mikolik siklopropan sintase dan enzim β-ketoasil-ACP KasA sintase pada bakteri Mycobacterium tuberculosis secara in-silico.
ANALISIS COST-MINIMIZATION PENGGUNAAN SEFOTAKSIM, SEFTRIAKSON, DAN LEVOFLOKSASIN PADA PASIEN DEMAM TIFOID DENGAN STATUS PEMBAYARAN UMUM DAN JAMINAN KESEHATAN NASIONAL: PENELITIAN DILAKUKAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH “KANJURUHAN” KEPANJEN Yunita, Wayan Chintia; pramestutie, hananditia rachma; Illahi, Ratna Kurnia; Achmad, Anisyah
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.318 KB)

Abstract

Demam tifoid adalah penyakit infeksi akibat Salmonella typhi. Terapi antibiotik yang diberikan adalah kloramfenikol, namun MDR (multiple drug resistant) Sal­monella typhi terhadap kloramfenikol memerlukan alternatif antibiotik seperti sefotaksim, seftriakson, dan levofloksasin. Penelitian bertujuan melakukan cost-minimization analysis (CMA) terhadap antibiotik tersebut dengan perspektif penyedia layanan kesehatan pada pasien status pembayaran umum dan Ja­minan Kesehatan Nasional (JKN). Penelitian retrospektif menggunakan data rekam medis dan biaya pengobatan periode Januari 2015-Februari 2016 dengan teknik total sampling. Biaya pengobatan diperoleh dari Sistem Informasi Rumah Sakit dan Instalasi Farmasi. Sampel sebesar 25 pasien dengan 10 pasien anak dan 15 pasien dewasa. Analisis konsekuensi pengobatan (lama rawat inap, hilangnya demam, dan hilangnya gejala ikutan) menggunakan uji homogenitas. Pasien berstatus pembayaran umum (n = 8) dan JKN (n = 17). Antibiotik yang digunakan pasien anak sefotaksim (paten n = 6 dan generik n = 4), seftriakson (n = 0), dan levofloksasin (n = 0), serta pasien dewasa sefotaksim (n = 7), seftriak­son (n = 4), levofloksasin (n = 4). Konsekuensi pengobatan antibiotik pasien anak dan dewasa homogen (p > 0,05). Rata-rata total biaya pasien anak pembayaran umum adalah Rp 1.120.775 (sefotaksim generik) dan Rp 1.656.767 (sefotaksim paten), dan pembayaran JKN adalah Rp 1.712.107 (sefotaksim generik). Rata-rata total biaya pasien dewasa pembayaran umum adalah Rp 1.698.057 (sefotaksim) dan Rp 3.259.275 (seftriakson), serta pembayaran JKN adalah Rp 1.866.525 (seftriakson) dan Rp 2.542.156 (levofloksasin). Kesimpulan penelitian ini adalah antibiotik yang memiliki biaya lebih murah secara CMA pada pem­bayaran umum, yaitu sefotaksim generik (pasien anak dan dewasa) dan pem­bayaran JKN, yaitu seftriakson.
PENGARUH SUHU DAN LAMA STERILISASI METODE PANAS KERING TERHADAP VISKOSITAS DAN DAYA SEBAR BASIS GEL ALGINAT Putri, Dina Christin Ayuning; Dwiastuti, Rini; Yuliani, Sri Hartati
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.411 KB)

Abstract

Alginat merupakan polimer alami yang dapat digunakan dalam sediaan penutup luka. Penutup luka harus steril, sehingga tidak menimbulkan infeksi tambahan pada luka, sehingga perlu dilakukan sterilisasi. Proses sterilisasi dapat mempengaruhi sifat fisik sediaan yang terkait dengan penerimaan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan lama sterilisasi metode panas kering, terhadap viskositas dan daya sebar basis gel alginat. Gel alginat yang telah disterilisasi dengan variasi suhu dan durasi, diuji sterilitas, viskositas, dan daya sebarnya, Selisih (∆) nilai viskositas dan daya sebar basis alginat, dengan dan tanpa sterilisasi dianalisis menggunakan Kruskal-Wallis test (∆ viskositas) dan ANAVA (∆ daya sebar). Data yang diperoleh menunjukkan bahwa suhu dan lama sterilisasi mempengaruhi penampilan, viskositas dan daya sebar basis gel algiant. Semakin tinggi suhu dan lama sterilisasi akan menyebabkan perubahan warna menjadi lebih gelap, menurunkan viskositas dan meningkatkan daya sebar basis gel alginat, yang ditunjukkan dengan meningkatnya nilai ∆ viskositas dan ∆ daya sebar. Proses sterilisasi dengan suhu terendah dan durasi terpendek yang tidak terlalu mempengaruhi sifat fisik basis gel alginat adalah pada suhu 130oC selama 120 menit.
Karakteristik Efek Samping terkait Penggunaan Kontrasepsi Oral serta Angka Kunjungan Ulang kepada Tenaga Kesehatan Hariadini, Ayuk Lawuningtyas
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.905 KB)

Abstract

Pil Oral Kombinasi adalah suatu cara kontrasepsi untuk wanita yang berisi gabungan hormon estrogen dan progesteron yang bekerja dengan cara menekan ovulasi. Efek samping merupakan alasan utama untuk penghentian penggunan pil kontrasepsi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui karakteristik efek samping yang dialami oleh akseptor terkait penggunaan kontrasepsi oral serta angka kunjungan ulang kepada tenaga kesehatan. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling untuk menentukan sampel akseptor dan teknik stratified random sampling untuk menentukan apotek yang digunakan sebagai tempat penelitian. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Apotek yang sesuai kriteria penelitian dan dijadikan tempat pengambilan data sebanyak 18 apotek dengan jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 106 akseptor. Berdasarkan hasil penelitian ini, dari total 106 akseptor menunjukkan efek samping tidak haid sama sekali sebanyak 14 akseptor, bercak saat menstruasi sebanyak 19 akseptor, pusing/sakit kepala sebanyak 49 akseptor, peningkatan berat badan sebanyak 54 akseptor, perubahan suasana hati sebanyak 11 akseptor, mual/muntah sebanyak 28 akseptor, timbul jerawat sebanyak 23 akseptor, dan efek pembesaran/ketat payudara sebanyak 9 akseptor. Angka kunjungan ulang kepada tenaga kesehatan dari 106 akseptor kontrasepsi oral kombinasi sebanyak 66,04% tidak pernah pergi ke tenaga kesehatan jika mengalami efek samping. Kesimpulan yang diperoleh yaitu efek samping yang paling banyak dialami oleh akseptor adalah peningkatan berat badan, diikuti oleh pusing/sakit kepala, mual/muntah, timbul jerawat, bercak saat menstruasi, amenore, perubahan suasana hati, dan efek samping yang paling sedikit terjadi adalah pembesaran/ketat payudara serta angka kunjungan ulang kepada tenaga kesehatan masih kurang. Kata kunci: efek samping, kontrasepsi oral, kontrasepsi oral kombinasi, kunjungan ulang kepada tenaga kesehatan kesehatan.
The Perceived Waiting Time versus the Actual Drug Waiting Time in the Outpatient Pharmacy at Persada Hospital Setiawati, Lisa
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.206 KB)

Abstract

The target of quality service for Persada Hospital outpatient pharmacy has been achieved in which the average time spent on waiting for the non-compounded drug is 11 minutes and for the compounded drug is 25 minutes. That achievement has not been able to alter the perceived length of the drug waiting time at the outpatient pharmacy evidenced by the number of losses resulting from unattended prescriptions due to the long wait. This study is aimed to find out and analyze the main factors leading to the perceived length of drug waiting time at the outpatient pharmacy and come up with alternative solutions thereto. The employed method in this study is descriptive qualitative research comprising the observation, interview and the collection of secondary data. The researchers conducted an observation on the process and flow of the prescription service of the outpatient pharmacy and proceeded to the focus group discussion to discover the main problems using Fish Bone Diagram.  The uncertain length of the wait time was found to be the major cause. To resolve the issue of the uncertainty of the waiting time, the Time Motion Study was conducted on the service response time as a follow up by providing the estimated waiting duration guide (information)  for the outpatient pharmacy. This guide comprises 3 categories of the service waiting time of 10-15 minutes, 25-45 minutes, and 25-60 minutes. 
Kombinasi Ekstrak Etanol Daun Salam (Syzygium polyanthum) dan Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) Sebagai Antidiabetes Oral pada Tikus Putih (Rattus novergicus) sukmawati, sukmawati; Emelda, Andi; Astriani, Yesi Rika
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.298 KB)

Abstract

Diabetes mellitus is a collection  metabolic disorders which is characterized y a state of hyperglycaemia. Flavanoids in bay leaves and tannins in guava leaves have potential as an antidiabetic. This research aimed to determine the combination effects of ethanol extract of bay leaves and guava leaves as an oral antidiabetic. This research method used pre-post control group design. A total of 15 rats were divided into 5 groups. Group I (negative control) was given Na CMC 1%, group II (positive control) was given acarbose 1,02 mg/kgBW, group III was given EEDS 31,25 mg/kgBW: EEDJB 50 mg/kgBW, group  IV was given EEDS 31,25 mg/kgBW: EEDJB 100 mg/kgBW, and group V was given EEDS 62,5 mg/kgBW: EEDJB 50 mg/kgBW. The rats previously induced by alloxan 135 mg/kgBW intraperitoneally. Data analysis used one way Anova and followed by bonferroni test to find out the significant difference between the treatments. The results of study showed that the combination EDS 31,25 mg/kgBW: EEDJB 100 mg/kgBW, EEDS 62,5 mg/kgBW: EEDJB 50 mg/kgBW, and EEDS 31,25 mg/kgBW: EEDJB 50 mg/kgBW can lower the blood glucose content of the rats which were induced by alloxan.
Tingkat Pendidikan Ibu dan Penggunaan Oralit dan Zinc pada Penanganan Pertama Kasus Diare Anak Usia 1-5 Tahun: Sebuah Studi di Puskesmas Janti Malang Illahi, Ratna Kurnia; P., Fitra Firnanda; Sidharta, Bambang
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.406 KB)

Abstract

Diarrhea was a condition when a person experienced disturbing bowel movement and soft or liquid stool consistency, three times or more in a day. To this day, diarrhea is one of the major public health problems in developing countries including Indonesia. Mother’s level of education, amongst other things, is likely influencing the treatment choice for children’s diarrhea. The purpose of this study was to determined the influenced of mother’s level of education on the use of oralit (oral rehydration therapy) and zinc in treating diarrhea experienced by children aged 1-5 years old. The sampling technique used was purposive sampling with 100 respondents. The result of the study from chi square analysis gave the p value of 0.528 (p > 0,05), and coefficient correlation of 0.176 (very low). Thus, it can be concluded that the mother’s level of education had no influence on the used of oralit and zinc for the first treatment of diarrhea amongst children aged 1-5 years old.