cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. manggarai,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
ISSN : 14441659     EISSN : 25029576     DOI : -
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio (JPKM) is published regularly twice a year in January and June by the Institute for Research and Community Service (LPPM), Santu Paulus College of Teacher Training and Education. This journal contains scientific articles from research in the fields of religion, education, social, culture, and humanities. The JPKM Editorial Team receives scientific articles that have never been published in journals or other media. The published article script has been evaluated through a review and editing process to fit the style of the JPKM.
Arjuna Subject : -
Articles 251 Documents
SUMBER DAYA INÉWAI LIYAN MANGGARAI DALAM PERSPEKTIF LIFEWORLD Barung, Kanisius
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol 7 No 2 (2015): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : STKIP Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2016/19

Abstract

Abstract: Manggarain Inéwai Liyan Resource in the Lifeworld Perspective. Inéwai in this essay is the Manggarain women  in West Flores, Nusa Tenggara Timur. Liyan is a barrier that explains the phenomenon of womens’ resources that are still locked in the socio-cultural reality. The writing of  the inéwai liyan problem is to explain the values of the inéwai presence (being) in the lifeworld perspective from time to time. Data collected in this writing is from the sources (printed documents, knowledge of the author, and sources) using the observation and interview methods. Data is explained using a unified method.From the perspective of lifeworld it is revealed that the value of the Manggarain inéwai existence is represented in the figure of liyan. The value of the Manggarain inéwai is described as helpless, illiterate, cannot compete, passively waiting for the proposal, victims of violence, whose love was mortgaged on behalf of the indigenous , and a minor role (subordinate, husband’s servant, housewife). Liyan actually has  the power of beauty and  hospitality, as well as skills in life, but liyan shackled in socio-cultural reality of the past. Liyan must learn to manage self values to be independent or empowered to be free from the powerlessness and becomes reliyan, as the great women figures of the future. Keywords: resource, women, values,  lifeworld Abstrak: Sumber Daya Inéwai Liyan Manggarai dalam Perspektif Lifeworld. Inéwai dalam esai ini adalah perempuan Manggarai di Flores Barat, Nusa Tenggara Timur. Liyan adalah pembatas yang menjelaskan fenomena sumber daya inéwai yang masih terbelenggu dalam realitas sosiokultural. Masalah inéwai liyan ditulis untuk mengeksplanasi nilai-nilai keberadaan inéwai dalam perspektif lifeworld dari waktu ke waktu. Data tulisan ini dikumpulkan dari sumbernya (dokumen cetak, pengetahuan penulis, dan narasumber) dengan menggunakan metode pengamatan dan wawancara. Data dieksplanasi dengan metode padan. Dari perspektif lifeworld itu terungkap nilai keberadaan inéwai Manggarai yang direpresentasikan dalam sosok liyan. Nilai keberadaan inéwai Manggarai diterangkan sebagai liyan yang tidak berdaya, yang buta aksara, yang kalah bersaing, yang pasif menunggu pinangan, yang menjadi korban kekerasan, yang cintanya tergadaikan atas nama adat, yang berperan minor (bawahan, hamba suami, ibu rumah tangga). Sebenarnya liyan  memiliki daya kecantikan dan keramahan serta kecakapan hidup, tetapi liyan  terbelenggu dalam realitas sosiokultural pada waktu lampau. Liyan harus belajar mengelola nilai diri untuk berdaya secara mandiri atau diberdayakan supaya bebas dari ketidakberdayaan menjadi reliyan sebagai sosok perempuan hebat masa depan. Kata kunci: sumber daya, perempuan, nilai, lifeworld
PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DAN GLOBALISASI: UNTUK PROFIT ATAU CULTIVATING HUMANITY? Baghi, Felix
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol 7 No 2 (2015): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : STKIP Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2016/20

Abstract

Abstract: Multicultural Education and Globalization: For Profit or Cultivating Humanity? Openness to others is only possible if people learn to look forward, looking at each otherness with the taste of humanity rich in meaning, empathetic. Others in the context of ethical responsibility that asimteris (Levinas), in the light of mutual interpersonal relationships (Paul Ricoeur) and the ability to anticipate the arrival of another absurdity, an anticipation that requires courage to face any situation that could not previously thought (Jacques Derrida), Therefore, adequate education for life in a pluralistic democracy is multicultural education. Multicultural education teaches students to recognize and open to story and narrative of life and culture of other groups, both religious dimension, ethnicity, ekonoms, political and gender. In a global dimension, multicultural education requires interactive contribution of knowledge of history, geography, cultural studies, interdisciplinary, the history of legal and political systems and religious studies.  Keywords: multicultural education, globalization, dialectic pedagogy Abstrak: Pendidikan Multikultural dan Globalisasi: Untuk Profit atau Cultivating Humanity? Keterbukaan terhadap yang lain  hanya mungkin kalau orang saling belajar dengan menatap ke depan, memandang setiap keberlainan dengan cita rasa kemanusiaan yang kaya makna, penuh empati. Yang  Lain dalam konteks tanggung jawab etis yang asimteris (Levinas), dalam terang hubungan interpersonal yang mutual (Paul Ricoeur) dan dalam kesanggupan mengantisipasi kemustahilan kedatangan yang lain, suatu antisipasi yang membutuhkan keberanian untuk menghadapi segala situasi yang tidak dapat diduga sebelumnya (Jacques Derrida). Oleh karena itu, pendidikan yang adekuat untuk hidup dalam suatu iklim demokrasi yang pluralistik  adalah pendidikan yang multikultural. Pendidikan multikutural mengajarkan anak didik untuk mengenal dan terbuka terhadap  kisah dan narasi hidup serta kultur  kelompok yang lain, baik dari dimensi religius, etnis, ekonomis, politis dan gender. Dalam dimensinya yang global, pendidikan multikultural membutuhkan kontribusi interaktif dari pengetahuan sejarah, geografi, studi kebudayaan yang interdisipliner, sejarah hukum dan sistim politik serta studi-studi keagamaan.  Kata kunci: pendidikan multikultural, globalisasi, pedagogi dialektika
Etika Dalam Mengurus Negara Sonbay, Ermalindus A.J.
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol 7 No 2 (2015): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : STKIP Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2016/21

Abstract

Abstract: Ethics in Care of the State. Ethics is an important dimension in the life of the nation. We are given the opportunity to reflect on the ethical elements in the opinions of our spontaneous. Reflection is important because there will be a conflict of opinion between the parties with the other one. Therefore we need ethics to figure out what should be done by humans. Ethics requires a critical attitude, methodical, and systematic reflection. That's why ethics is a science. As a science, the object of ethics is human behavior that has a normative standpoint. In the context of the care of the State, there are many ethical dimensions that lead the officials, partners and people to promote goodness, truth, and unity. If ethics is well run, then our country will achieve the overriding objective, namely the common welfare.Keywords: ethics, states, banalityAbstrak: Etika dalam Mengurus Negara. Etika merupakan dimensi penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita diberi kesempatan untuk merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan kita. Refleksi menjadi penting karena akan terjadi benturan pendapat antara pihak yang satu dengan pihak yang lain. Oleh karena itu kita membutuhkan etika untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia. Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia yang memiliki sudut pandang normatif.  Dalam konteks mengurus Negara, ada banyak dimensi etika yang menuntun  para pejabat, mitra, dan rakyat untuk mengedepankan kebaikan, kebenaran, dan persatuan. Kalau etika dijalankan dengan baik, maka Negara kita pun akan mencapai tujuan terbesarnya yaitu kesejahteraan bersama. Kata kunci: etika, negara, banalitas
PEMANFAATAN MULTIMEDIA INTERAKTIF BERBASIS KOMPUTER DALAM PEMBELAJARAN Rahmat, Stephanus Turibius
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol 7 No 2 (2015): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : STKIP Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2016/22

Abstract

Abstract: The Use of Computer-Based Interactive Multimedia in Learning. Teacher need computer-based interactive multimedia in learning. Computer-based learning multimedia used as media that facilitate teacher and students in the learning process and as strategy achieve determined learning competence. The learning process with multimedia aid can more be interactive, effective, efficient, attractive, and can arouse students’ learning motivation. The learning used interactive multimedia places teacher as associator or fasilitator for students in learning process. The learning is not teacher-centered but student-centered. The learning process with computer-based interactive multimedia aid motivate students so that more be active and creative in learning process. Thus, students learn in accordance with their needs and ability. Keywords: computer based interactive multimedia, learning Abstrak: Pemanfaatan Multimedia Interaktif Berbasis Komputer dalam Pembelajaran. Guru perlu menggunakan multimedia interaktif berbasis komputer dalam pembelajaran. Multimedia pembelajaran berbasis komputer bermanfaat sebagai alat bantu yang mempermudah guru dan siswa dalam proses pembelajaran sekaligus sebagai strategi untuk mencapai kompetensi pembelajaran yang sudah ditetapkan. Proses pembelajaran dengan bantuan multimedia menjadi lebih interaktif, efektif, efisien, menarik, serta mampu menumbuhkan motivasi belajar siswa. Pembelajaran dengan menggunakan multimedia interaktif menempatkan guru sebagai pendamping atau fasilitator bagi siswa dalam proses pembelajaran. Pembelajaran bukan lagi berpusat pada guru (teacher-centered learning), tetapi  berpusat pada siswa (student-centered learning). Proses pembelajaran dengan bantuan multimedia interaktif berbasis komputer  mendorong  siswa supaya lebih aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran. Dengan itu, siswa dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan yang dimilikinya.  Kata kunci : multimedia interaktif berbasis komputer, pembelajaran
EMOTIONAL INTELLIGENCE AMONG YOUNG RELIGIOUS Lazar, Frans Laka
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol 7 No 2 (2015): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : STKIP Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2016/23

Abstract

Abstract: Emotional Intelligence Among Young Religious. The young religious in formation try to form his/herself to be emotionally matur person in order to face the challenges of his/her vocation and to establish meaningful and harmonious relationships with others. To achieve this goal, formation program offers emotional intelligence to young religious. Emotional intelligence is defined as the ability to know, appraise, and manage one’s emotion. At the same time, it is the ability to perceive and recognize emotional in others, and the ability to regulate emotions in ways that promote emotional growth. It also includes the ability to facilitate thougts. The main components of emotional intelligence are knowing one’s emotion, managing emotion, motivating oneself, recognizing emotion in others, and handling relationship. Keywords: emotional intelligence, formation in religious Abstrak: Kecerdasan Emosional Bagi Para Religius Muda. Para formandi yang berada pada jenjang formasi dasar berusaha membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih matang dan dewasa dalam hal emosi agar mereka mampu menghadapi berbagai tantangan dalam panggilannya dan membina hubungan yang bermakna dan harmonis dengan orang lain. Untuk mencapai tujuan ini, maka program-program formasi menawarkan salah satu tema kepada para formadi yaitu membangun kecerdasan emosi. Dan kecerdasan emosi diartikan sebagai kemampuan untuk mengenal, menilai, dan mengelola perasaan pribadi. Pada saat yang sama, kecerdasan emosi juga berarti kemampuan untuk memahami dan mengakui emosi orang lain, dan kemampuan untuk mengatur emosi agar bertumbuh dengan lebih baik. Kecerdasan emosi juga termasuk kemampuan untuk memperlancar cara berpikir yang sehat/rasional. Komponen-komponen utama kecerdasan emosi adalah mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, dan membina hubungan.  Kata kunci: kecerdasan emosi, pembentukan dalam hidup religius
POTRET KESENJANGAN PENDIDIKAN DALAM PUISI “SAJAK SEONGGOK JAGUNG” KARYA W.S RENDRA Beding, Bernardus T.
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol 7 No 2 (2015): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : STKIP Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2016/24

Abstract

Abstract: The Portrait of Education Imbalance in W.S. Rendra’s Poems “Sajak Seonggok Jagung”. The poem of “Sajak Seonggok Jagung” performed the imbalance of the thinking pattern of the educated and non educated to the reality; the imbalance between formal and non formal education; the imbalance between theory and practice; the imbalance of education development between rural and urban; and irrelevance of education to the need of rural people. All the imbalances were happened because Indonesia education system still adopt the foreign (western) education system. The main imbalance in of poem was the imbalance between the riches and the poor. Rendra performed the life of the poor in “Sajak Seonggok Jagung”. The difference of social status was the main problem to develop the education of Indonesia. Therefore, here is the moment that all the educational components, the government, teachers, students and parents should realize the importance of education for the next generation.Keywords: poem, imbalance, educationAbstrak: Potret Kesenjangan Pendidikan dalam Puisi “Sajak Seonggok Jagung” Karya W.S. Rendra. Puisi “Sajak Seonggok Jagung” menampilkan ketidakseimbangan pola pikir orang-orang berpendidikan dan tidak berpendidikan terhadap realitas yang dihadapinya (kesenjangan antara yang berpendidikan dan tidak berpendidikan); kesenjangan antara pendidikan formal dan pendidikan informal; kesenjangan antara teori dan praktek; kesenjagan antara pembangunan pendidikan di pedesaan dan perkotaan; dan ketidakrelevanan pendidikan yang ditanamkan saat mengenyam pendidikan di perkotaan dengan tuntutan masyarakat pedasaan menjadi persoalan dalam kehidupan Semua kesenjangan terjadi karena pendidikan Indonesia senantiasa mengadopsi metode asing (barat). Kesenjangan mendasar dalam puisi tersebut adalah ketidakseimbangan hidup orang-orang kaya dan kaum miskin. Rendra menonjolkan kehidupan orang-orang miskin dalam puisi “Sajak Seonggok Jagung”. Perbedaan status sosial merupakan persoalan mendasar dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia. Karena itu, sudah saatnya komponen-komponen pendidikan, baik pemerintah, para pendidik, para pelajar dan mahasiswa, dan orang tua menyadari pentingnya pendidikan bagi generasi penerus bangsa.Kata kunci: puisi, kesenjangan, pendidikan
MENGKREASI KULTUR POSITIF SEKOLAH MELALUI KEPEMIMPINAN BIJAK Sumardi, Vinsensius
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol 7 No 2 (2015): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : STKIP Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2016/25

Abstract

Abstract: Create Positive School Culture  through Wise Leadership. The function of positive school culture  as  the distinguishing  school with the other school meaning sense of identity. The integilibility of identity to created sense of belonging all member’s school. Sense of belonging all member’s to construct individual commitment. The meaning of commitment as a atmosphere all member’s school given capability and dedication for school.  The possitve school culture as determinant variable achieving effective and quality school. Contruct of positive school culture is a participation and collaboration process in a community or organization. One of the task leader  is  to creat  positive school culture. School leader demanded  perform by wise leadership which not head (brain) considere but to lead by heart  (feeling).  Keywords: the possitive school culture, wise leadership  Abstrak: Mengkreasi Kultur Positif Sekolah Melalui Kepemimpinan Bijak. Kultur sekolah pada fungsinya sebagai pembeda sekolah dengan sekolah lain menegaskan jati diri. Jati diri atau identitas sekolah yang jelas memungkinkan rasa memiliki  warga sekolah.  Rasa memiliki yang terpatri pada setiap warga sekolah akan menumbuhkan komitmen individu. Komitmen dimaknai sebagai suatu keadaan dimana sleuruh warga sekolah mencurahkan segenap kemampuan dan loyalitasnya untuk sekolah. Kultur sekolah positif menjadi variabel determinan menggapai sekolah efektif dan berkualitas. Mengkonstruksi kultur positif sekolah bukan sekali jadi tetapi merupakan sebuah aktivitas yang menuntut partisipasi dan kolaborasi. Membangun kultur positif sekolah menjadi salah satu tugas pemimpin. Mengkreasi kultur positif sekolah menuntut kepala sekolah tampil dengan kepemimpinan bijak yang tidak hanya mengandalkan kepala (otak) tetapi juga menyertakan hati (perasaan). Kata kunci: kultur positif sekolah, kepemimpinan bijak
PA’ANG BELE: LOCUS KEHIDUPAN KEKAL MASYARAKAT MANGGARAI Jebarus, Adrianus
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol 7 No 2 (2015): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : STKIP Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2016/26

Abstract

Abstract: Pa'ang Bele: Locus of Eternal Life Manggarain Society. Man is he who seek, pursue, submitters, dreaming and creating the history of his own life. Humans are composed of body and soul continue to struggle to achieve the fullness of himself. The fullness of himself that was started and experienced the fullness of him now but sempurnan place in the afterlife. Eternal life will be obtained only through and in death. Death is a transition from life forms is now headed for a new life, eternal life. Pa'ang bele is a locus, and eternal life or situation according to Manggarain community. In the pa'ang bele human experience having the fullness of himself in there along with others harmoniously together with Morin agu Ngaran. Keywords: life, death, eternal life Abstrak: Pa’ang Bele: Locus Kehidupan kekal Masyarakat Manggarai. Manusia adalah dia yang mencari, mengejar, menyerahkan diri, bermimpi dan menciptakan sejarah hidupnya sendiri. Manusia yang terdiri dari badan dan jiwa terus berjuang untuk mencapai kepenuhan dirinya. Kepenuhan diri itu sudah dimulai dan dialami sekarang tetapi kepenuhannya yang sempurnan baru terjadi di akhirat. Kehidupan kekal akan diperoleh hanya melalui dan dalam kematian. Kematian merupakan peralihan dari bentuk kehidupan sekarang menuju kehidupan baru, kehidupan abadi. Pa’ang bele merupakan locus dan atau situasi kehidupan kekal menurut masyarakat Manggarai. Di pa’ang bele manusia mengalami kepenuhan dirinya dalam ada bersama dengan yang lain secara harmonis bersama dengan Morin agu Ngaran. Kata kunci: kehidupan, kematian, hidup kekal
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SEPAKBOLA MAHASISWA PGSD STKIP SANTU PAULUS RUTENG MELALUI PENDEKATAN TAKTIK BERMAIN Adam, Gervasius
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol 7 No 2 (2015): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : STKIP Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2016/27

Abstract

Abstract: An Effort to Increase the Students’ Quality at PGSD of STKIP St. Paul Ruteng in Playing Football Through the Tactical Games Aproach. This research aims to seek the increasing result of the students’ learning process in the first grade at PGSD (Elementary School Teacher Education) of STKIP St. Paul Ruteng  through the tactical games approach. This research is a kind of Classroom Action Research which consists of two cycles by using Kemmis & MC. Taggart’s design. The research result shows thatthe tactical games approach which is combined with throwing-catching of ball play can increase the learning result and the interest in playing football for the 1A-class students at PGSD of STKIP St. Paul Ruteng.  Based on the test result at first cycle, the average score of the students, is increasing classically which is shown by pre-action, namely 30 students (50.84%) becoming 39 students (67%) at first cycle, and then at second cycle  it has been 45 students (76%) who have graduated/passed by reaching the minimum score criteria namely 60. Keywords: leaning result, football, the tactical  games approach Abstrak: Meningkatkan Hasil Belajar Sepakbola Mahasiswa PGSD STKIP Santu Paulus Ruteng Melalui Pendekatan Taktik Bermain. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatan hasil belajar mahasiswa tingkat I PGSD STKIP Santu Paulus Ruteng melalui pendekatan taktik bermain.Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang terdiri dari dua siklus, menggunakan desain Kemmis & MC. Taggart.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan taktik bermain yang dipadukan dengan permainan lempar tangkap bola dapat meningkatkan hasil belajar dan minat sepakbola mahasiswa kelas IA PGSD STKIP Santu Paulus Ruteng. Berdasarkan data hasil tes pada siklus I rata-rata nilai mahasiswa secara klaksikal megalami peningkatan yaitu terlihat dari pratindakan 30 orang (50,84%) naik menjadi 39 orang (67%) pada siklus I dan pada siklus II menjadi 45 orang (76%) yang tuntas/lulus dengan mencapai kriteria ketuntasan minimum yaitu 60. Kata kunci:  hasil belajar, sepakbola, pendekatan taktik bermain
DIKSI PADA TEKS NARASI SISWA SEKOLAH DASAR Madu, Fransiska Jaiman
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol 7 No 2 (2015): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : STKIP Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2016/28

Abstract

Abstract: Diction on Narrative Text Elementary School Students. This study aimed to describe the diction in the text narrative fourth grade students based on three conditions, namely,(1) accuracy requirements (2) predominance requirement (3) and the meaning of rules. This research is qualitative approach and descriptive methods , used 12 subjects.  Through assignment technique with predetermined topics. Researchers provided 6 topics narrative text (stories). The number of overall narrative text that was produced as many as 72 student text. The result diction analysis on narrative text students demonstrate, based on the accuracy requirements, the data encountered sinonym diction, active diction, passive diction, conjunctions, preposition, which is not the right word because it does not fit the context of the sentence, incorrect word usage as a result of the particles and incorrect word usage as a result of affixation. In addition, correct data relation to synonyms, active diction, passive diction, conjunctions, prepositions, a common word, special words, a change of meaning include : expansion of the meaning, a narrowing of meaning, synesthesia, and ameliorative.  Based on the predominance requirement are common diction and diction was not common in the narrative text students. Furthermore, based on the terms of diction rules meaning there was not correct denotative meaning. Then, the use connotative include positive diction and negative connotative. Keywords: narrative text, diction, accuracy, prevalence, meaning rule Abstrak: Diksi Pada Teks Narasi Siswa SD. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan diksi pada teks narasi siswa kelas IV yang didasari pada tiga syarat yaitu, (1) syarat ketepatan,  (2) syarat kelaziman, dan (3) syarat kaidah makna. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif  dan metode deskriptif. Teknik yang digunakan adalah teknik penugasan dan terdapat 12 subjek penelitian. Melalui teknik penugasan siswa menyusun teks narasi berdasarkan topik yang telah ditentukan (6 topik). Jumlah teks narasi secara keseluruhan yang dihasilkan siswa sebanyak 72 teks. Hasill analisis diksi pada teks narasi siswa menunjukkan, berdasarkan syarat ketepatan, terdapat data ketidaktepatan pada sinonim, diksi aktif, pasif, kata hubung, kata depan, kata yang tidak sesuai konteks kalimat, kata yang tidak tepat akibat salah penggunaan partikel dan kata yang tidak tepat akibat salah penggunaan afiksasi. Selain itu, terdapat data yang tepat berkaitan dengan sinonim, diksi aktif, pasif, kata hubung, kata depan, kata umum, kata khusus, perubahan makna mencakup: perluasan arti, penyempitan arti, sinestesia, dan ameliorasi. Berdasarkan syarat kelaziman terdapat diksi yang lazim   tetapi tidak terdapat diksi yang tidak lazim. Selanjutnya, berdasarkan syarat kaidah makna terdapat diksi yang bermakna denotatif yang tidak tepat. Kemudian, penggunaan diksi konotatif yang mencakup konotatif positif dan konotatif negatif. Kata kunci:  teks narasi, diksi, ketepatan, kelaziman, kaidah makna

Page 1 of 26 | Total Record : 251