cover
Contact Name
Ahmad Ihwanul Muttaqin
Contact Email
ihwanmuttaqin@gmail.com
Phone
+6285258606162
Journal Mail Official
tarbiyatunaiais@gmail.com
Editorial Address
Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang Jl. Pondok Pesantren Kiai Syarifuddin Kedungjajang
Location
Kab. lumajang,
Jawa timur
INDONESIA
TARBIYATUNA
ISSN : 20856539     EISSN : 24424579     DOI : DOI: 10.36835/tarbiyatuna
Core Subject : Education,
Tarbiyatuna adalah jurnal ilmiah yang memuat artikel-artikel tentang pendidikan Islam, pendidikan Agama Islam dan bahkan manajemen Pendidikan Islam. Dimaksudkan sebagai wahana pemikiran kritis dan terbuka bagi semua kalangan baik akademisi, agamawan, intelektual, mahasiswa dengan spesifikasi kajian dan penelitian di bidang Pendidikan Islam.
Arjuna Subject : -
Articles 90 Documents
Dimensi Spiritual Kepemimpinan KH. Abd. Wahid Zaini dalam Pengembangan Profesionalitas dan Keunggulan Kelembagaan di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo Agus R, Abu Hasan
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 11 No 1 (2018): FEBRUARI
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/tarbiyatuna.v11i1.264

Abstract

Tulisan ini akan membahas tentang dimensi spiritual yang dipegang oleh KH. Abdul Wahid Zaini Mun’im dalam mengembangkan lembaga pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton. Kyai Wahid, begitu dia dipanggil akrab oleh para santrinya, adalah pengasuh ketiga dan perintis banyak lembaga pendidikan formal, lembaga swadaya dan pemberdayaan masyarakat berbasis pesantren, serta lembaga pendidikan tinggi–bersama dengan kakaknya KH. Hasyim Zaini. Secara kepemimpinan, Kyai Wahid adalah sosok paling lengkap secara pengalaman individu; sempat berproses di Nahdlatul Ulama’, Partai Politik, dan juga di bidang pendidikan, dia sempat menempuh pendidikan doctoral, meski belum terselesaikan karena ‘kepundut’ lebih dulu. Apapun itu, Kyai Wahid adalah sosok yang lengkap untuk pengalaman individunya. Maka dari itu, ketika memimpin Pondok Pesantren Nurul Jadid, corak kepemimpinannya seperti within the flow of empowerment process. Kendati, ada pula yang menyebutkan bahwa kepemimpinan Kyai Wahid memiliki dimensi spiritual (dalam makna kegigihan secara religiusitas). Pada bagian inilah, penulis ingin mencoba untuk menghadirkan apa saja keyakinan-keyakinan spiritual dari Kyai Wahid dalam melakukan pengembangan profesionalitas civitas akademik dan membangun nilai keunggulan lembaga formal yang dipimpin dibawah naungan Pondok Pesantren Nurul Jadid.
Spirit Pengelolaan Ojek Online terhadap Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam Tang, Muhammad; Rahim, Abdul; Baso, Baso
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 13 No 2 (2020): AGUSTUS
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/tarbiyatuna.v13i2.642

Abstract

Pengembangan lembaga Pendidikan Islam sangat urgen untuk dilakukan sekarang ini, karena masih tertinggal dibandingkan dengan lembaga pendidikan umum lainnya. Lembaga Pendidikan Islam harus berbenah diri untuk merespon perkembangan zaman digital yang dikenal dengan era revolusi industri 4.0. Tulisan ini hadir untuk menggali, menafsirkan dan mendeskripsikan spirit atau nilai yang terkandung dalam ojek on-line (OJOL) untuk dijadikan landasan pengembangan lembaga Pendidikan Islam dalam era revolusi industri 4.0. Kemajuan alat informasi dan komunikasi yang teraplikasi dalam ojek on-line merupakan suatu kajian yang menarik untuk ditarik dalam dunia pendidikan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif-deskreptif dengan berbasis kepada digital on-line research (media sosial). Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa spirit yang terkandung dalam Ojek On-Line yang dapat dijadikan sebagai landasan pengembangan lembaga pendidikan islam di antaranya, yaitu; (1) akses mudah dan terjangkau secara ekonomi, (2) pelayanan yang prima, (3) komponen sistem informasi yang lengkap, (4) membangun sistem jaringan (net working) yang luas, (5) memiliki banyak menu layanan/pilihan.
Lembaga Pendidikan Islam Klasik Syarif, Adnan
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 8 No 1 (2015): FEBRUARI
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Periode klasik merupakan masa gemilang (the golden age) bagi umat Islam. Pada masa tersebut umat Islam berhasil dalam berbagai aspek kehidupan. Agama Islam memberikan motivasi yang sangat jelas agar pemeluknya berkarya untuk mencapai kemajuan dan kejayaan. Kemajuan dan kejayaan tersebut tidak mungkin bisa tercapai tanpa ilmu pengetahuan. Sedangkan ilmu pengetahuan tidak mungkin bisa diperoleh tanpa proses pendidikan. Proses pendidikan pada masa klasik berlangsung secara informal, yakni dilangsungkan dirumah-rumah. Pada awal Islam, proses pembelajaran dilaksanakan di rumah Arqam bin Abi al Arqam. Setelah Rasulullah hijrah ke kota Madinah, maka proses pendidikan lebih difokuskan di masjid. Masjid pada periode klasik memiliki multi fungsi, salah satunya menjadi pusat pendidikan Islam.
Analisis Sistem Sertifikasi Guru dalam Problematika Kekinian Fauzi, Imron
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 9 No 1 (2016): FEBRUARI
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberhasilan pembaharuan sekolah sangat ditentukan oleh gurunya, karena guru adalah pemimpin pembelajaran, fasilitator dan sekaligus merupakan pusat inisiatif pembelajaran. Hal ini membuat guru layak mendapatkan reward. Salah satu reward yang diberikan oleh Negara terhadap guru adalah dengan sistem sertifikasi. Implikasi dari kepemilikan sertifikasi pendidikan, guru akan mendapatkan penghasilan di atas kebutuhan standar. Di sisi lain guru juga dituntut untuk lebih meningkatkan kualitas output peserta didik. Di sinilah kesenjangan muncul. Dari berbagai riset menunjukkan sistem sertifikasi banyak menemui problematikanya. Karenanya tulisan ini membuat analisis problem serta pemecahan masalahnya sebagai bagian dari kegelisahan akademik. Solusinya antara lain dengan meningkat kualitas pendidikan tenaga pendidik, optimalisasi LPTK, pembuatan laporan kinerja guru, pelatihan pemanfaatan IT, validitas data pendidik dan membuat matrikulasi bagi tenaga pendidik yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan.
Pola Pembinaan Agama pada Anak dalam Keluarga Buruh Pabrik di Desa Labruk Lor Lumajang Rahman, Yudi Ardian; Mas'ula, Siti Ati'ul
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 11 No 2 (2018): AGUSTUS
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/tarbiyatuna.v11i2.338

Abstract

Tulisan ini ingin melihat sejauh mana pola pembinaan agama dalam keluarga buruh pabrik, daya dukung dan hambatan pembinaan agama dan dampak serta manfaat bagi anak dari pembinaan agama dalam keluarga buruh pabrik di Desa Labruk Lor Lumajang. Sebagaimana diketahui, keluarga merupakan proses hubungan manusia yang paling awal terjadi, sebelum mengenal lingkungan yang lebih luas. Sebagai lembaga pembentukan pribadi, mental dan karakter, peran dan tanggung jawab orang tua merupakan faktor yang utama. Selain itu, orang tua juga dijadikan acuan atau contoh oleh anaknya. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif lapangan. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian field research yaitu penelitian dengan melakukan pengamatan langsung terhadap objek penelitian guna memperoleh informasi terhadap masalah-masalah yang dibahas. Penelitian dilakukan di bulan April-Mei 2018. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola pembinaan agama pada anak dalam keluarga buruh pabrik di desa Labruk Lor yakni menggunakan pola pembinaan anak secara permisif, otoriter dan demokratis. Hal tersebut disebabkan karena faktor ekonomi, lingkungan, pendidikan orang tua, keturunan dan budaya. Implikasi dari hasil penemuan ini menunjukkan bahwa terdapat hal positif yang bisa diambil hikmah, yakni anak akan lebih bertanggung jawab, lebih disiplin, kreatif, mandiri dan mampu mengotrol emosi.
Hidden Curriculum Pesantren: Urgensi, Keberadaan dan Capaiannya Halid, Ahmad
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 12 No 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/tarbiyatuna.v12i2.398

Abstract

Artikel ini berupaya melihat hal yang “istimewa” di dalam pesantren. Salah satu aspek yang selalu menjadi sorotan para peneliti dalam setiap diskursus adalah keistimewaan pesantren yang terus eksis di setiap lini masa. Salah satunya adalah keberadaan kurikulum “tersembunyi” yang sering disebut hidden curriculum. Hidden curriculum pesantren adalah ngaji nilai-nilai, karakter, sikap, perilaku dan tindakan kiai sehari-hari sebagai modal para santri ketika mereka kembali ke halaman rumahnya masing-masing. Model kajian ini adalah menggunakan model kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data kepustakaan dan contoh-contoh aktual pelaksanaan hidden curriculum pesantren. Hasil pembahasannya dikontrol dengan membandingkan dengan hasil penelitian orang-orang terdahulu dengan kasus yang sama. pesantren adalah seperangkat kegiatan edukatif untuk transmisi ilmu, budaya, tradisi, norma, nilai, dan keyakinan, asumsi yang disampaikan di ruang belajar dan lingkungan sosial pesantren namun tidak direncanakan dan tidak terstruktur secara formal dan non formal, sangat diharapkan (expected messages) dan pendidikan itu berjalan secara alamiah dan mengikuti kemauan kyai atau ustadz. Hidden curriculum pesantren memperdalam ngaji nilai-nilai, karakter, sikap, perilaku dan tindakan kyai sehari-hari sebagai modal dipraktikkan ketika para santri kembali kehalam rumahnya masing-masing.
STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA ARAB ASPEK QIROAH DENGAN PEMBIASAAN MEMBACA AL-QUR’AN Syarif, Adnan
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 7 No 1 (2014): FEBRUARI (Terbit secara daring sejak Februari, 2015)
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metode Yasiniyah sebagai metode pembelajaran qiroah/al-Qur’an dan implikasinya terhadap perilaku peserta didik (santri). Ini merupakan penelitian metode pembelajaran bahasa Arab, khususnya tentang pembelajaran qiroah/al-Qur’an yang secara linguistik berbahasa Arab. Pendekatan fenomenologis interaksionalis simbolis digunakan untuk memahami realitas atau fenomena yang tampak dalam metode Yasiniyah agar makna dan nilai latent yang terkandung di balik realitas dapat terungkap. Disamping itu untuk membantu analisis terhadap makna yang terkandung pada setiap realitas, dibutuhkan pendekatan psikologi sosial dengan teknik analisis kontras dan verifikasi serta komparasi dengan realitas lain yang tampak berbeda. Karakteristik metode Yasiniyah yang dilihat dari aspek filosofi, sistem pengelolaan kelas, materi (kurikulum) dan teknik, sistem evaluasi dan sistem nilai. Filosofi metode Yasiniah di dasari pada tradisi pesantren, yaitu; menyertakan keyakinan akan hikmah, atau keutamaan terhadap ayat-ayat ataupun surat-surat tertentu dari al- Qur’an, khususnya surat Yasin, al-Waqi`ah, al-Rahman, dan al-Mulk. Aspek sistem yang diterapkan, karakteristik metode Yasiniah dapat dilihat dari aspek-aspek berikut: 1) Sistem penerimaan santri, 2) Sistem pengelolaan kelas, 3) Materi pembelajaran, 4) Teknik atau strategi yang diterapkan, 5) Sistem evaluasi menggunakan tes atau ujian lisan secara langsung dengan menghadap mustahiq secara individual, baik materi membaca, praktek ibadah ataupun hafalan-hafalan, dan bagi yang lulus diberikan ijazah atau sertifikat pada acara wisuda setiap akhir tahun ajaran.
ISLAMISASI DAN EMBRIO INSTITUSI PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA Ishari, Nurhafid
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 7 No 2 (2014): AGUSTUS (Terbit secara daring sejak Februari, 2015)
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islamisasi di Indonesia membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Bahkan hingga sekarang islamisasi belum selesai dan mungkin tidak akan pernah selesai. pada masa awal masuknya Islam, ilmu-ilmu agama yang dikonsentrasikan dengan membaca kitab-kitab klasik. Kitab-kitab klasik adalah menjadi ukuran bagi tinggi rendahnya ilmu agama seseorang. Pendidikan Islam yang sedeikian rupa amat kontras dengan pendidikan barat yang di bangun oleh pemerintah kolonial belanda yang mulai berdiri di Indonesia pada abad ketujuh belas. Pendidikan kolonial ini bersifat sekuler, tidak mengajarkan sama sekali ilmu agama di sekolah-sekolah pemerintah. Sama halnya dengan pendidikan Islam di kala itu tidak mengajarkan sama sekali ilmu-ilmu umum. Kenyataan ini membuat terpolanya pendidikan di Indonesia pada ketika ini dengan dua sistem yang paling kontras tersebut. Untuk mengetahui lebih jelasnya akan dipaparkan tentang proses awal islamisasi dan terbentuknya institusi-institusi Islam di Indonesia.
Pengaruh Pendidikan dalam Pengembangan Potensi Manusia Zahroh, Aminatuz
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 9 No 2 (2016): AGUSTUS
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia terdiri dari dua substansi; pertama, substansi jasad/materi yang bahan dasarnya adalah dari materi yang merupakan bagian dari alam semesta ciptaan Allah dan dalam pertumbuhan dan perkembangannya tunduk dan mengikuti sunnatullah (aturan, ketentuan, hukum Allah yang berlaku di alam semesta), kedua, substansi immateri/nonjasadi, yaitu peniupan ruh ke dalam diri manusia sehingga manusia merupakan benda organik yang mempunyai hakekat kemanusiaan serta mempunyai berbagai alat potensial dan fitrah.. Potensi manusia dijelaskan oleh al-Qur`an antara lain melalui kisah Adam dan Hawa (QS. al-Baqarah, 30-39). Dalam ayat ini dijelaskan bahwa sebelum kejadian Adam, Allah telah merencanakan agar manusia memikul tanggungjawab kekhalifahan di bumi. Untuk maksud tersebut di samping tanah (jasmani) dan Ruh Ilahi (akal dan ruhani), makhluk ini dinaugerahi pula potensi untuk mengetahui nama dan fungsi benda-benda alam, pengalaman hidup di surga, baik yang berkaitan dengan kecukupan dan kenikmatannya, maupun rayuan Iblis dan akibat buruknya, dan petunjuk-petunjuk keagamaan.
Telaah Korelasi Sains dan Agama dalam Paradigma Islam Saifulloh, Ahmad Munir
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 10 No 2 (2017): AGUSTUS
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wacana sains dan agama sudah cukup lama bergulir . Pertemuan sains dan agama terwujud dalam situasi persahabatan kurang lebih pada abad ke-17. Memasuki abad ke-20 hubungan sains dan agama mengambil beragam bentuk. Temuan-temuan baru sains nyata-nyata menantang doktrin dan gagasan-gagasan keagamaan klasik. Sehingga, responsnya pun beraneka rupa. Misalnya, beberapa kalangan mempertahankan doktrin-doktrin tradisional, beberapa yang lain meninggalkan tradisi, dan beberapa lagi yang merumuskan kembali konsep keagamaan secara ilmiah. Ian G. Barbour mengusulkan empat hubungan yaitu konflik [conflict], perpisahan [independence], dialog - perbincangan [dialogue], dan integrasi-perpaduan [integration]. Sedangkan John F. Haught membagi pendekatan sains dan agama, menjadi pendekatan konflik, pendekatan kontras, pendekatan kontak, dan pendekatan konfirmasi. Agama dan sains, merupakan dua bagian penting dalam kehidupan sejarah umat manusia. Bahkan pertentangan antara agama dan sains tak perlu terjadi jika kita mau belajar mempertemukan ide-ide spiritualitas [agama] dengan sains. Para sarjana Muslim, menekankan bahwa sains dan agama memiliki dasar metafisik yang sama, dan tujuan pengetahuan yang diwahyukan maupun pengetahuan yang di upayakan adalah mengungkapkan ayat-ayat Tuhan dan sifat-sifat-Nya kepada umat manusia. kegiatan ilmiah sebagai bagian dari kewajiban agama, dengan catatan bahwa ia memiliki metodologi dan bahasanya sendiri. Motivasi di balik upaya pencarian ilmu-ilmu kealaman dan ilmu-ilmu matematis adalah upaya untuk mengetahui ayat-ayat Tuhan di alam semesta.