cover
Contact Name
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry
Contact Email
wayang.nusantara@isi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
endahbudiarti30@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry
ISSN : 23564776     EISSN : 23564784     DOI : -
Core Subject : Art,
Wayang Nusantara adalah jumal ilmiah pewayangan yang diterbitkan oleh Jurusan Seni Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjuk:an, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Terbit pertama kali bulan September 2014 dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Maret dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue " Vol 2, No 1 (2018): Maret 2018" : 5 Documents clear
Sehu: Dalang Wayang Potehi (布袋戲) di Jawa Kuardhani, Hirwan
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 2, No 1 (2018): Maret 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Potehi is a hand-glove puppetry theatre art form, brought by the Chinese emigrant from Fujian in the sixteenth century. It used to be performed in their vessels (Jung-Jung) when they were docked. The Hokkian dialect was used at that time. As more Chinese immigrants settled down in Indonesia, they carried along the Potehi art in Java. Along the way, Potehi ceased to be performed in Hokkien dialect. Instead, it was Melayu Pasar or Melayu rendah (now Indonesian Language) being used, which was indeed the lingua franca among the Chinese community then. Nevertheless songs and poetry were still in Hokkian. Sehu called dalang Potehi. Was originally sehu as Hokkian true, a long the way sehu as Pranakan’s Tionghoa an than in this time sehu from etnic Java. The acculturation with the local society resulted in a very unique Potehi which was different from its original version. Potehi merupakan pertunjukan sarung tangan, yang dibawa para emigran China dari Fujian sekitar abad enam belas. Potehi biasanya dipertunjukkan di Jung-jung atau kapal-kapal mereka ketika sedang mendarat. Mereka menggunakan bahasa Hokkian dalam pertunjukannya. Ketika orang-orang Tionghoa menetap di Indonesia mereka membawa serta kesenian Potehi di Jawa. Pada perkembangannya pementasan Potehi tidak lagi menggunakan bahasa Hokkian melainkan menggunakan bahasa Melayu Pasar atau Melayu Rendah (sekarang bahasa Indonesia), bahasa yang sekaligus menjadi bahasa pengantar kaum Tionghoa saat itu. Walaupun untuk lagu dan syair masih memakai bahasa Hokkian. Sehu merupakan sebutan bagi dalang wayang Potehi. Awalnya sehu adalah orang Hokkian asli, pada perkembangannya adalah orang-orang Peranakan, dan saat ini sehu dari etnis Jawa. Proses akulturasi dengan penduduk setempat membuat pertunjukan Potehi menjadi unik dan berbeda dengan negeri asalnya.
Wayang Hip Hop Dekonstruksi Budaya Tradisi di Yogyakarta Nugroho, Aji Santoso
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 2, No 1 (2018): Maret 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper aims to observe the presence of the Hip Hop Puppet in the middle of the Yogyakarta community which is developing quite dynamically. Talcott Parsons’s theory of social action and Derrida’s deconstruction theory is used as a theoretical framework to explain the presence of this Hip Hop Puppet. The theory was chosen because the Hip Hop Puppet was created by Ki Catur Kuncoro by fusing two cultures and simultaneously deconstructing the pure shadow puppets that were present first. Hip Hop puppets were created to meet the needs of today’s young generation. The Hip Hop Puppet was created by Ki Catur Kuncoro with the aim that the young generation does not lose their cultural roots and at the same time still be able to keep up with the times. In addition, the Hip Hop Puppet is intended as an alternative media to convey criticism and proof that traditional culture can be aligned with modern culture. The acceptance of the Hip Hop Puppet as a spectacle that attracts audiences from all walks of life, proves that there is a cultural change in the middle of the social life of the people of Yogyakarta. Tulisan ini bertujuan mengamati kehadiran Wayang Hip Hop di tengah masyarakat Yogyakarta yang berkembang cukup dinamis. Teori Talcott Parsons tentang tindakan sosial dan teori dekonstruksi Derrida digunakan sebagai kerangka teori untuk menjelaskan kehadiran Wayang Hip Hop ini. Dipilihnya teori tersebut karena Wayang Hip Hop diciptakan oleh Ki Catur Kuncoro dengan meleburkan dua kebudayaan dan sekaligus mendekonstruksi wayang kulit purwa yang telah hadir lebih dulu. Wayang Hip Hop diciptakan untuk memenuhi kebutuhan generasi muda zaman sekarang. Wayang Hip Hop diciptakan Ki Catur Kuncoro dengan tujuan agar generasi muda tidak kehilangan akar kebudayaan dan sekaligus tetap dapat mengikuti arus perkembangan zaman. Selain itu Wayang Hip Hop dimaksudkan sebagai media alternatif untuk menyampaikan kritik dan sebuah pembuktian bahwa budaya tradisi dapat disejajarkan dengan budaya modern. Diterimanya Wayang Hip Hop sebagai tontonan yang menarik penonton dari semua kalangan, membuktikan bahwa terjadi perubahan budaya di tengah kehidupan sosial masyarakat Yogyakarta.
Hubungan Wayang dan Gending dalam Pakeliran Wayang Kulit Purwa Gaya Surakarta Junaidi, Junaidi; Sugiarto, Asal
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 2, No 1 (2018): Maret 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalang when displaying the puppet characters are always supported by the musical, so the concept of relationship must be known in order to avoid incorrect installation. During this time, only disclosed the names, shapes, make signs, playing with, notations balungan, and functions, but the underlying reasons association has not been described in detail, resulting in the replacement of the pair resulting in the incongruity and crisis gending pakeliran knowledge and techniques . The goal is to know about the underlying reason for the installation of a puppet with the musical in every scene. The method used is descriptive identification, based on the literature data and field observations, while the discussion used the theory of functions gending in pakeliran, namely as an illustration, framed, and unifying. The result is the installation of a puppet with the musical based on the shape and character. Dalang ketika menampilkan tokoh wayang selalu didukung oleh gending, sehingga konsep hubungannya harus diketahui agar tidak terjadi salah pemasangan. Selama ini, hanya diungkapkan tentang nama-nama, bentuk, tanda isyarat, garap, notasi balungan, dan fungsinya, tetapi alasan yang mendasari keterkaitannya belum dijelaskan secara detail, sehingga terjadi penggantian pasangan yang berakibat pada ketidaksesuaian dan krisis pengetahuan serta teknik gending pakeliran. Tujuan tulisan ini adalah ingin mengetahui tentang alasan yang mendasari pemasangan wayang dengan gending dalam setiap adegan. Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif identifikasi, berdasarkan data pustaka dan pengamatan lapangan, sedangkan pembahasannya digunakan teori fungsi gending dalam pakeliran, yaitu sebagai ilustrasi, pembingkai, dan penyatu. Hasilnya berupa pemasangan wayang dengan gending berdasarkan bentuk dan karakter.
Karakter Bima Sebagai Sumber Inspirasi dalam Karya Seni Grafis Ardhi, Bagaskoro; Bahari, Nooryan; Adi1, Sigit Purnomo
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 2, No 1 (2018): Maret 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The resulting graphic artwork was inspired by the Bima puppet figure who was dashing, muscular, athletic, honest, brave, never giving up, warlord, and accomplished knight. Bima’s characters and attributes are then poured in this graphic art. This work was created using a high-speed/print technique that has a unique shading effect, such as a texture effect because it goes through the printing process many times. The basic principles of art include unity, balance, harmony, proportion (proportion), and emphasis (domination) used as a theoretical framework. The author utilizes reproductive works in the form of photos of print media and from the internet to be explored. There are 14 works produced from the exploration. Karya seni grafis yang dihasilkan terinspirasi dari tokoh wayang Bima yang gagah, kekar, atletis, jujur, pemberani, pantang menyerah, panglima perang, dan ksatria ulung. Karakter dan atribut Bima itulah yang kemudian dituangkan dalam karya seni grafis ini. Karya ini diciptakan dengan menggunakan teknik cukil tinggi/relief print yang memiliki efek cukilan yang unik, seperti efek tekstur karena melalui proses cetak berkali-kali. Prinsip dasar seni rupa antara lain kesatuan (unity), keseimbangan (balance), keselarasan (ritme), perbandingan (proportion), dan penekanan (domination) dipakai sebagai kerangka teori. Penulis memanfaatkan karya reproduksi berupa foto media cetak maupun dari internet untuk dieksplorasi. Ada 14 karya yang dihasilkan dari eksplorasi tersebut.
Wayang Klithik Robot Setiawan1, Gandar
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 2, No 1 (2018): Maret 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wayang is a autentic culture from Indonesia. Wayang has many figure and character. It is main idea of this make the artwork. Inspiration of the artwork also from observation robot forms. Robot has the furious and futuristic form. Like the progression of technologi, form of robot also more experiencing form progression. Until now, form of robot still identic and can not losed from imajinative forms. This prossesing to make the artwork use created methode from Gustami, it is a three stages six steps creating craft artwork. First stage is eksploration consist of observation and finding refference steps. Second stage is desaigning consist of making the sketch and making the gambar teknik or modeling steps. Third stage is forming consist of create artwork and finished with value and evaluation steps. Result of visual form is a three dimension artwork with futuristic robot form. Visual form the artwork is a transformastion of futuristic wayang klithik with robot form. The puppet figures are Wrekudara and Gatotkaca Combination form is a method for impression and aesthete value of the artwork. Wayang merupakan budaya asli dari Indonesia. Wayang memiliki berbagai macam tokoh dan karakter. Wayang menjadi ide utama dalam penciptaan karya ini. Inspirasi karya juga muncul dari pengamatan bentuk-bentuk robot. Robot memiliki bentuk yang variatif dan futuristik. Sesuai dengan perkembangan teknologi, bentuk robot juga mengalami perkembangan yang lebih bermacam-macam. Sampai saat ini, bentuk robot masih identik dan tidak bisa lepas dari bentuk-bentuk imajinatif. Proses pembuatan karya seni ini menggunakan metode penciptaan dari Gustami, yaitu metode tiga tahap enam langkah dalam menciptakan karya seni kriya. Tahap pertama yaitu eksplorasi yang meliputi langkah pengamatan dan pencarian sumber pustaka. Tahap kedua merupakan tahap perancangan yang terdiri dari langkah pembuatan beberapa sketsa dan pembuatan gambar teknik ataupun model. Tahap yang ketiga yaitu tahap perwujudan yang terdiri langkah pengerjaan karya, dan diakhiri dengan penilaian juga evaluasi karya yang telah jadi. Bentuk visual yang dihasilkan yaitu karya seni tiga dimensi dengan bentuk futuristik menyerupai robot. Bentuk visual karya merupakan penggabungan antara bentuk wayang klithik dengan bentuk robot. Tokoh wayang yang dibuat yaitu Wrekudara dan Gatotkaca. Perpaduan bentuk dilakukan sebagai cara untuk memberikan kesan dan nilai estetik pada karya.

Page 1 of 1 | Total Record : 5