cover
Contact Name
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry
Contact Email
wayang.nusantara@isi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
endahbudiarti30@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry
ISSN : 23564776     EISSN : 23564784     DOI : -
Core Subject : Art,
Wayang Nusantara adalah jumal ilmiah pewayangan yang diterbitkan oleh Jurusan Seni Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjuk:an, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Terbit pertama kali bulan September 2014 dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Maret dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue " Vol 3, No 1 (2019): Maret 2019" : 5 Documents clear
Struktur Janturan Wayang Kulit Purwa Yogyakarta Budiarti, Endah
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 3, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to find the structure janturan of the Yogyakarta shadow puppet. A further goal of this research is to find a method for learning puppetry language, especially janturan language. To achieve the above objectives, the researchers will first identify and categorize the structure of janturan carried out by Ki Hadi Sugito, Ki Timbul Hadiprayitno, Ki Suparman, and Mudjanattistomo. Second, the grammatical structure of the Yogyakarta senior puppeteers’ puppets wasthen reduced to the grammatical structure of the Yogyakarta shadow puppet show. To find the structure janturan of Yogyakarta Purwa shadow puppet, this study will apply structural analysis. The concept of tatas in chess aesthetics is the version of Soetarno et al. (2007) and the grammatical structure of the Sasangka version (1989) were used as analysis blades in this study. Janturan is the ukara-ukara (‘sentences’) kenès which are arranged in a complete, sequential, and not overlapping manner. As a ukara certainly has a grammatical structure. To be able to find the grammatical structure of scattering, the tatas concept and the grammatical theory of Javanese language are used. From the results of the study of the (grammatical) structure of the Yogyakarta senior mastermind’s succession, the following pattern is obtained: The first part is a section that contains worship. The second part of the janturan contains the greatness of the kingdom which is the center of storytelling. The third part of janturan contains the great king in the great kingdom who is the center of storytelling. The fourth part of the janturan is about the preparation of the trial and those present at the hearing. It is expected that the results of this study can improve teaching materials in thesubject of Bahasa Pedalangan, Pedalangan Rhetoric, and Basics of Pakeliran in the Pedalangan Department.Tujuan penelitian ini adalah menemukan struktur janturan wayang kulit purwa Yogyakarta. Tujuan lebih jauh dari penelitian ini ialah menemukan satu metode belajar bahasa pedalangan khususnya bahasa janturan. Untuk mencapai tujuan di atas, pertama-tama peneliti akan mengidentifikasi dan mengkategorikan struktur janturan yang dibawakan oleh Ki Hadi Sugito, Ki Timbul Hadiprayitno, Ki Suparman, dan Mudjanattistomo. Kedua, struktur gramatikal janturan dalang-dalangsenior Yogyakarta tersebut kemudian direduksi menjadi struktur gramatikal janturan wayang kulit purwa Yogyakarta. Untuk menemukan struktur janturan wayang kulit purwa Yogyakarta penelitian ini akan menerapkan analisis struktural. Konsep tatas dalam estetika catur versi Soetarno dkk. (2007) dan struktur gramatikal ukara versi Sasangka (1989) digunakan sebagai pisau analisis dalam penelitian ini. Janturanmerupakan ukara-ukara (‘kalimat-kalimat’) kenès yang disusun secara lengkap, urut, dan tidak tumpang tindih. Sebagai sebuah ukara tentu memiliki struktur gramatikal. Untuk dapat menemukan struktur gramatikal janturan digunakan konsep tatas dan teori struktur gramatikal bahasa Jawa. Dari hasil pelacakan terhadap struktur (gramatikal) janturan para dalang senior Yogyakarta, diperoleh pola sebagai berikut: Bagian pertama merupakan satu bagian yang berisi tentang doa pemujaan.  Bagian kedua dari janturan berisi tentang kebesaran kerajaan yang menjadi pusat penceritaan. Bagian ketiga dari janturan berisi tentang raja agung di kerajaan besar yang menjadi pusat penceritaan. Bagian keempat dari janturan berisi tentang persiapan sidang dan yang hadir di dalam sidang. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menyempurnakanbahan ajar mata kuliah Bahasa Pedalangan, Retorika Pedalangan, dan Dasar-dasar Pakeliran di Jurusan Pedalangan.
Pembelajaran Teknik Pemeranan Bagi Mahasiswa Jurusan Pedalangan Intarti, Retno Dwi
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 3, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to find a characterization technique that can be applied in building puppet characters by puppets students. This study uses a theater approach that is the theory of techniques of Pemeranan. Behavioral technique is a common technique that can be learned to improve the skills, acumen, and skills of a cast in the role of a drama character. The method used is the observation method involved. The results are found that as a cast, puppet pupils need to have basic capital of character and be able to master basic techniques of characterization. In relation to the role techniques that puppeteers can learn to improve their character building abilities are the techniques of breathing, vocal techniques, content-giving techniques, development techniques, peak engineering, protrusion techniques, and improvisation techniques.Penelitian ini bertujuan menemukan teknik pemeranan yang dapat diaplikasikan dalam membangun karakter tokoh wayang oleh mahasiswa Jurusan Pedalangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan teater yakni konsep teknik pemeranan.Teknik pemeranan merupakan teknik umum yang dapat dipelajari untuk meningkatkan ketrampilan, ketajaman, dan kecakapan seorang pemeran dalam memerankan karakter tokoh drama. Metode yang digunakan adalah metode pengamatan terlibat. Adapun hasil yang ditemukan ialah mahasiswa pedalangan sebagai seorang pemeran, perlu memiliki modal dasar pemeranan dan harus mampu menguasai teknik dasar pemeranan. Adapun teknik pemeranan yang dapat dipelajari oleh mahasiswa Pedalangan untuk meningkatkan kemampuan membangun karakter adalah teknik pernapasan, teknik olah vokal, teknik memberi isi, teknik pengembangan, teknik membina puncak, teknik penonjolan, dan teknik improvisasi.
Perancangan Lakon Ramabargawa: Respon Estetik Kisah-Kisah Ramabargawa Rickyansyah, Fani
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 3, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The design of the Ramabargawa play is a realization from a perspective on reading Ramabargawa stories that have been known by the community. In addition to offering a perspective, this work also aims as a medium to communicate the idea of a harmonious family. Wolfgang Iser’s Aesthetic Response Theory is used as a frame of mind. The texts of the Ramabargawa story known to the public as the text of the sender were responded to by the recipient of the work, then realized in the design of the Ramabargawa play. Ramabargawa’s play is a response to the Ramabargawa story that is considered common by the community. This play is packed in solid shows with a duration of one and a half hours. This Ramabargawa play is presented in the style of Pakeliran Yogyakarta that is developing today. New working idioms that make pakeliran offeringsare more interesting, weighty, and in accordance with the development of puppetry today displayed in the show. This is intended so that the Yogyakarta-style shadow puppet show continues to be sustainable but continues to grow with a variety of new innovations.Perancangan lakon Ramabargawa merupakan realisasi dari sebuah sudut pandang atas pembacaan kisah-kisah Ramabargawa yang telah dikenal oleh masyarakat. Selain menawarkan sebuah sudut pandang, karya ini juga bertujuan sebagai media mengkomunikasikan gagasan tentang keluarga harmonis. Teori Respon Estetik Wolfgang Iser dipakai sebagai kerangka berpikir. Teks-teks kisah Ramabargawa yang telah dikenal masyarakat sebagai teks pengirim direspon oleh pengkarya sebagaipenerima, lalu direalisasikan dalam perancangan lakon Ramabargawa. Lakon Ramabargawa merupakan respon atas cerita Ramabargawa yang dianggap lazim oleh masyarakat. Lakon ini dikemas dalam pertunjukan padat dengan durasi waktu satu setengah jam. Lakon Ramabargawa ini disajikan dengan gaya Pakeliran Yogyakarta yang berkembang dewasa ini. Idiom-idiom garap baru yang membuat sajian pakeliran lebih  menarik, berbobot, dan sesuai dengan perkembangan pedalangan zaman sekarang ditampilkan dalam pertunjukan. Hal tersebut dimaksudkan agar pertunjukan wayang kulit purwa gaya Yogyakarta tetap lestari namun terusberkembang dengan berbagai inovasi baru.
Perancangan Wacinwa: Sang Manggalayudha Kiswantoro, Aneng
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 3, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this design work is to make Wacinwa dolls that are tailored to the interests and needs of the designer in the show. The making of puppets is motivated by the constraints in the availability of puppets for staging. Meanwhile, Wacinca is only owned by Yogyakarta’s Sonobudoyo Museum. Besides the Wacinwa doll, the collection of Sonobudoyo Museum is too small, its head is detached from the body, and it is difficult to move. The characters made are figures in working on the Wacinwa story entitled Sang Manggalayuda. The Hawkins (1991) method of designing stages isused in this work. The stages are the first stage of exploration, namely setting themes, ideas, and titles of works and thinking, imagining, feeling, and searching in order to interpret ideas and ideas. The second stage is the experimentation stage, which is trying to choose, differentiate, consider in order to find harmony and find integrity and unity in various experiments. The last stage is the formation stage, which is to determinethe form of design by combining the symbols of the results of the trials conducted. After the figures of the figures are made, the designer tries to pour into the skin media, sculpted, and given coloring just like the process of making shadow puppets (purwa). The Wacinwa replica made includes puppets from Sie Jin Kwie and Khai Sou Bun. These puppets are the result of the interpretation of the designer based on the shape of the puppet collection of Sonobudoyo Museum and images in Sie Djin Koei TjengTang’s comic works by Siaw Tik Kwie (Oto Suastika).Tujuan karya perancangan ini adalah membuat boneka Wacinwa yang disesuaikan dengan kepentingan dan kebutuhan si perancang dalam pertunjukan. Pembuatan wayang dilatarbelakangi oleh adanya kendala dalam hal ketersediaan wayang untuk pementasan. Sementara ini Wacinca hanya dimiliki oleh Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Selain itu boneka Wacinwa koleksi Museum Sonobudoyo ukurannya terlalu kecil, kepalanya terlepas dari badan, dan sulit digerakkan. Tokoh-tokoh yangdibuat adalah tokoh dalam garap cerita Wacinwa berjudul Sang  Manggalayuda. Metode Hawkins (1991) tentang tahap-tahap merancang digunakan dalam karya ini. Adapun tahapan tersebut adalah pertama tahap eksplorasi, yaitu menetapkan tema, ide, dan judul karya serta berpikir, berimajinasi, merasakan, dan mencari dalam rangka menafsirkan ide dan gagasan. Tahap kedua adalah tahap eksperimentasi, yaitu mencoba untuk memilih, membedakan, mempertimbangkan dalam rangka mencari keharmonisan dan menemukan integritas serta kesatuan dalam berbagai percobaan.Tahap terakhir adalah tahap pembentukan, yaitu menentukan bentuk perancangan dengan menggabungkan simbol-simbol hasil dari uji coba yang dilakukan. Setelah gambar tokoh-tokoh tersebut jadi, perancang mencoba untuk menuangkan ke dalam media kulit, dipahat, dan diberi pewarnaan seperti halnya proses pembuatan wayang kulit (purwa). Replika Wacinwa yang dibuat antara lain wayang tokoh Sie Jin Kwie dan Khai Sou Bun. Wayang-wayang ini merupakan hasil interpretasi perancang berdasarkan bentuk wayang koleksi Museum Sonobudoyo dan gambar dalam komik Sie Djin Koei Tjeng Tang karya Siaw Tik Kwie (Oto Suastika).
Lakon Brubuh Maèspati: Intepretasi Ulang Nilai Kesetiaan Moyo, Joko Laras
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 3, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lakon Brubuh Maèspati: The work of the puppet performance is aimed at presenting one of the stories in the Maespati kingdom, which is rarely performed in Yogyakarta. This work is entitled Brubuh Maèspati. The play Brubuh Maèspati is a piece of the puppet plays that tells Harjunasasrabahu, Dewi Citrawati, Suwanda, and Dasamuka. The concept of sanggit of Soetarno et al. used as a framework for working on the playBrubuh Maèspati. Sanggit means the mastermind’s creativity related to interpretation and the cultivation of Pakeliran elements to achieve the aesthetic stability of puppet shows. The cultivation of Brubuh Maèspati begins with watching and reading plays related to the kingdom of Maespati. There were three plays which were chosen to be the basis for interpreting the values of loyalty, namely Actions Sumantri Ngèngèr,Dasamuka Gladhak, and Brubuh Maèspati. Then do the play, work on the characters, work on the scene, and work on musical accompaniment according to the Pakeliran structure of Yogyakarta. Brubuh Maèspati is a reinterpretation of the value of loyalty that is communicated by the plays that tell the Kingdom of Maespati.Karya pergelaran wayang ini bertujuan menyajikan kembali salah satu kisah di kerajaan Maespati, yang jarang dipergelarkan di Yogyakarta. Karya ini diberi judul Brubuh Maèspati. Lakon Brubuh Maèspati merupakan sanggit dari lakon-lakon wayang yang mengisahkan Harjunasasrabahu, Dewi Citrawati, Suwanda, dan Dasamuka. Konsep sanggit Soetarno dkk. dipakai sebagai kerangka pikir dalam menggarap lakon Brubuh Maèspati. Sanggit berarti kreativitas dalang yang berhubungan dengan penafsirandan penggarapan unsur-unsur pakeliran untuk mencapai kemantapan estetik pertunjukan wayang. Penggarapan Brubuh Maèspati dimulai dengan menonton dan membaca lakon-lakon yang berhubungan dengan kerajaan Maespati. Ada tiga lakon yang dipilih menjadi landasan dalam menafsir nilai kesetiaan yaitu lakon Sumantri Ngèngèr, Dasamuka Gladhak, dan Brubuh Maèspati. Selanjutnya dilakukan garap lakon, garap tokoh, garap adegan, dan garap iringan karawitan sesuai dengan strukturpakeliran Yogyakarta. Brubuh Maèspati merupakan interpretasi ulang nilai kesetiaan yang dikomunikasikan oleh lakon-lakon yang mengisahkan Kerajaan Maespati.

Page 1 of 1 | Total Record : 5