cover
Contact Name
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry
Contact Email
wayang.nusantara@isi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
endahbudiarti30@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry
ISSN : 23564776     EISSN : 23564784     DOI : -
Core Subject : Art,
Wayang Nusantara adalah jumal ilmiah pewayangan yang diterbitkan oleh Jurusan Seni Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjuk:an, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Terbit pertama kali bulan September 2014 dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Maret dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue " Vol 3, No 2 (2019): September 2019" : 5 Documents clear
Iringan Karawitan Pergelaran Wayang Golek Menak Yogyakarta Versi Ki Sukarno Nugroho, Aji Santoso
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 3, No 2 (2019): September 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article aims to describe the musical accompaniment in the Menak Sukarno Golek Golek performance by Ki Sukarno. Musicology analysis is done using karawitan to reveal the structure, shape, workmanship, and function of karawitan in Ki Sukarno’s Menak Yogyakarta Golek Puppet show. From the observations of Ki Sukarno’s performance, it was concluded that the accompaniment of Menak Puppet Golek music used in the performance was basically not much different from the wayang kulit of Yogyakarta puppet. The difference between the two lies in the laya or rhythmic dish and the obstacle pattern, namely the wayang motion, the ater open the playon and the playon level. Laya or rhythm used refers to dance music and the pattern of resistance. This is because in the Menak Puppet Puppet contains elements of dance movement vocabulary. The performances of Menak Golek Puppet have a standard composition as accompaniment, namely the Gending Goal of Kabor Topèng, Orange Flower Sifter, Playon Kembang Jeruk, Playon Gégot, and Playon Gambuh. Karawitan in the performance of Menak Golek Puppet serves as a confirmation of scene changes, emphasizes the atmosphere of the scene, reinforces dramatic elements, emphasizes the character, and reinforces the character of puppet movements. The presentation structure of Menak Yogyakarta Golek Puppet refers to the structure of Purwa Yogyakarta Puppet Leather, both from the structure of the division of the scene, to the use of gamelan which only uses sléndro tunings. The element that  distinguishes it is only found in the scene ajon-ajon or majeng beksa, namely the motion of dance before committing a war and a fierce war scene. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan iringan karawitan dalam pergelaran Wayang Golek Menak Yogyakarta versi Ki Sukarno. Analisis musikologi garap karawitan digunakan untuk mengungkap struktur, bentuk, garap, dan fungsi karawitan dalam pertunjukan Wayang Golek Menak Yogyakarta versi Ki Sukarno. Dari pengamatan terhadap pergelaran Ki Sukarno didapatkan kesimpulan bahwa iringan karawitan Wayang Golek Menak yang digunakan dalam pergelarannya pada dasarnya tidak berbeda jauh dari karawitan Wayang Kulit Yogyakarta. Perbedaan dari keduanya terletak pada sajian laya atau irama dan pola kendhangan yaitu ater-ater gerak wayang, ater-ater buka playon dan suwuk playon. Laya atau irama yang digunakan mengacu pada karawitan tari dan pola kendhangan. Hal ini dikarenakan dalam Wayang Golek Menak terkandung unsur vokabuler gerak tari. Pergelaran Wayang Golek Menak mempunyai gending baku sebagai iringan yaitu Ketawang Gending Kabor Topèng, Ayak-ayak  Kembang Jeruk, Playon Kembang Jeruk, Playon Gégot, dan Playon  Gambuh. Karawitan dalam pergelaran Wayang Golek Menak berfungsi sebagai penegas pergantian adegan, penegas suasana adegan, penegas unsur dramatik, penegas karakter tokoh, dan penegas karakter gerak wayang. Struktur penyajian Wayang Golek Menak Yogyakarta mengacu pada struktur Wayang Kulit Purwa Yogyakarta, baik itu dari struktur pembagian adegan, sampai penggunaan gamelan yang hanya  menggunakan laras sléndro. Unsur yang membedakannya hanya terdapat pada adegan ajon-ajon atau majeng beksa, yaitu gerak tarian sebelum melakukan perang dan adegan perang gecul.
Ki Enthus Susmono: Skandal Performatif Don Juan dan Kebaruan Gagrag Pedalangan Hariyanto, Hariyanto
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 3, No 2 (2019): September 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article analyzes Ki Enthus Susmono’s performance through observing some of his previous performances, with the performance idea of Shoshana Felman (2003) in his book, The Scandal of Speaking Body: Don Juan with J.L. Austin, or Seduction in Two Languages, which reads the Don Juan theater by Molière. As a result, it was found that there were similarities between promises by J.L. Austin, Don Juan and Ki Enthus Susmono. Ki Enthus Susmono’s performance has been successfully built through the eclectic, parody and irony representation of postmodern art, which shows the reality of his body’s actions, has been produced repeatedly to produce certain effects so that it becomes a habit (myth). Through his performativity, Ki Enthus Susmono showed his success in building a novel marker of gagrag puppetry. Artikel ini menganalisis performativitas Ki Enthus Susmono melalui pengamatan beberapa rekaman pertunjukannya terdahulu, dengan gagasan performativitas Shoshana Felman (2003) dalam bukunya, The Scandal of The Speaking Body: Don Juan with J.L. Austin, or Seduction in Two Languages, yang membaca teater Don Juan karya Molière. Hasilnya, ditemukan bahwa ada kesamaan antara tindakan janji oleh J.L. Austin,Don Juan dan Ki Enthus Susmono. Performativitas Ki Enthus Susmono berhasil dibangun melalui strategi representasi seni postmodern yang eklektis, parodi, dan ironi, yang menunjukkan realitas tindakan tubuhnya, telah diproduksi berulangkali untuk menghasilkan efek tertentu sehingga menjadi kebiasaan (mitos). Melalui performativitasnya tersebut, Ki Enthus Susmono menunjukkan keberhasilannya membangun penanda kebaruan gagrag pedalangan.
Lakon Karna Tandhing: Konsep Pergantian Musim dalam Pemujaan Syiwa Wahyudi, Aris
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 3, No 2 (2019): September 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Arjuna, Indra’s son stands at his war car. General uniform was used making heroic, his left hand hold a bow, and right hand to balance arrow; in the other side Kurawa’s army, Prabu Karna, the Surya’s son, the commander to play his bow too. When bang of war drum to fill the sky, the both army toward central of Kuruksetra field. The millionarrows flaying in the sky like cloudy that closed the sun, and after their hundreds army to yell out dating, afterward the Kuruksetra field flood blood. Suddenly Karna’s arrow kicks Arjuna’s head. At once surprised who show it. Deities yell congratulation praying. Some minutes the war stop. Arjuna’s crown destroyed. Narada descends from the sky give crown to Arjuna that it is exactly with Karna’s have. The both hero collide again. Now, Arjuna likes Karna. Arjuna.s angry make increasingly. He get Pasopati arrow. Arjuna lift his bow. Another one who is look when Arjuna frees his arrow, suddenly Karna’s head cut off. Kurawa’s Hero, Surya’s son was dead. This story, in the wayang world it was called Lakon Karno Tandhing. There were can to get some problems. When Arjuna’s crown destroyed, Narada prepare a crown to Arjuna. I assume that deity knew that would happen. The question is “Why the crown was prepared similarly Karna have, so it is called Karna Tandhing? I am sure that the composer had a meaning ofit. Mythology-ritual analysis shows that this happen is continuity of deity level. All of the hero experiences always involve deity activities. Javanese philosopher composed this story to explain cosmic system that uses symbol systems Lakon Karna Tandhing.Arjuna, putra Indra berdiri megah di atas kereta perangnya. Pakaian kebesaran seorang senapati semakin menambah keperkasaannya. Kedua tangannya mengayun gendewa lengkap dengan busurnya. Di pihak lain, Prabu Karna, putra Surya melakukan hal yang sama saat memimpin pasukan Kurawa. Begitu genderang perang bertalu-talu memenuhi angkasa, kedua pihak berhambur ke medan Kuruksetra, saling menyerbu. Ribuan pasukan saling bertempur dan tidak sedikit yang gugur. Tiba-tiba anak panah Karna menghantam kepala Arjuna hingga mahkotanya hancur. Semua yang menyaksikan sangat terkejut, termasuk pula para dewa dewi di angkasa. Narada segera turun ke dunia, memberikan mahkota yang mirip dengan yang dikenakan Karna yang membuat Arjuna mirip dengan Karna. Kedua perwira tersebut kembali bertempur, seakan-akan Karna melawan Karna. Arjuna melepaskan panah pasopati dan tepat memenggal leher Karna. Karna gugur dengan kepala terlempar dan tubuhnya bersandar di kereta perangnya. Kisah ini dalam tradisi  pedalangan disebut lakon Karna Tandhing. Dari persoalan tersebut, pertanyaannya adalah: mengapa mahkota yang diberikan Narada tersebut mirip dengan milik Karna? Melalui analisis mitologi-ritual diperoleh pemahaman bahwa peristiwa tersebut merupakan kontinuitas dari peristiwa di tataran mite. Semua peristiwa yang dialami para tokoh epic selalu melibatkan campur tangan tokoh mite. Lakon Karna Tandhing merupakan pengejawantahan peristiwa kosmis yang menjelaskan perpindahan musim kemarau (Karna sebagai putra Surya) berganti dengan musin penghujan (Arjuna sebagai putra Indra). Kesemuanya diatur oleh Syiwa sebagai mahakala yang disimbolkan melaluiArjuna bermahkotakan “Karna”.
Fleksibilitas dan Improvisasi dalam Struktur Cak-ing Pakeliran Lakon Kalimasada Versi Ki Timbul Hadiprayitno Nugroho, Bayu Aji
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 3, No 2 (2019): September 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper aims to track cak-ing pakeliran of the Ki Timbul Hadiprayitno version of Lakon Kalimasada. The tracking was used to see Ki Timbul Hadiprayitno’s openness towards today’s development of cak-ing pakeliran. In other words, this paper aims to trace the flexibility of Ki Timbul Hadiprayitno’s attitude as a puppeteer who was in jaman kelakoné. The concept of cak-ing pakeliran Mudjanattistomo et al. (1977) used as a theoretical basis. From the results of the analysis of the cak-ing pakeliran in the Lakon Kalimasada, it was found that the conclusion of Ki Timbul Hadiprayitno gave its own color in the pack of Yogyakarta style pakeliran. He followed the development of the era without damaging the existing cak-ing rules of the Yogyakarta style Pakeliran. It can be said of Ki Timbul Hadiprayitno, who was known as the mastermind who firmly maintained the Yogyakarta style puppetry, it turned out that in his career development was open to changes and developments.Tulisan ini bertujuan melacak cak-ing pakeliran Lakon Kalimasada versi Ki Timbul Hadiprayitno. Pelacakan tersebut digunakan untuk melihat keterbukaan Ki Timbul Hadiprayitno terhadap perkembangan cak-ing pakeliran jaman ini. Dengan kata lain tulisan ini bertujuan melacak kelenturan sikap Ki Timbul Hadiprayitno sebagai seorang dalang yang anut jaman kelakoné. Konsep struktur cak-ing pakeliran Mudjanattistomo dkk. (1977) digunakan sebagai landasan teori. Dari hasil analisis terhadap cak-ing pakeliran Lakon Kalimasada didapatkan kesimpulan Ki Timbul Hadiprayitno memberikan warna tersendiri dalam kemasan pakeliran gaya Yogyakarta. Ia mengikuti perkembangan jaman tanpa merusak kaidah caking pakeliran gaya Yogyakarta yang sudah ada. Dapat dikatakan Ki Timbul Hadiprayitno, yang dikenal sebagai dalang yang teguh mempertahankan pedalangan gaya Yogyakarta, ternyata dalam perkembangan kariernya terbuka terhadap perubahan dan perkembanganjaman.
Belajar Pocapan dari Ki Hadi Sugito Budiarti, Endah
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 3, No 2 (2019): September 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper discusses the application of the method of learning puppetry, especially Pocapan language (dialogue with puppet characters’). This method is produced by first examining Ki Hadi Sugito’s pocapan in three plays, namely Bagong Ratu, Ujung Sengara, and Wahyu Widayat. Ki Hadi Sugito’s wayang performance was chosen as a model with language considerations produced by Ki Hadi Sugito, simple and communicative. From the results of the study, a simpler text was created. This text is then used as teaching material in class. The text used as this teaching material does not mean limiting students but instead provides opportunities to be developed by students, according to their respective abilities. Tulisan ini membicarakan penerapan metode belajar bahasa pedalangan khususnya bahasa pocapan (‘mendialogkan tokoh-tokoh wayang’). Metode ini dihasilkan dengan terlebih dahulu meneliti pocapan Ki Hadi Sugito dalam tiga lakon yaitu Bagong Ratu, Ujung Sengara, dan Wahyu Widayat. Pergelaran wayang versi Ki Hadi Sugito dipilih sebagai model dengan pertimbangan bahasa yang diproduksi Ki Hadi Sugito sederhana dan komunikatif. Dari hasil penelitian tersebut dibuatlah sebuah teks pocapan yang lebih sederhana. Teks ini kemudian digunakan sebagai bahan ajar di kelas. Teks yang digunakan sebagai bahan ajar ini tidak berarti membatasi mahasiswa tetapi justru memberi peluang untuk dikembangkan oleh mahasiswa, sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Page 1 of 1 | Total Record : 5