cover
Contact Name
Maya Nuriya Widyasari
Contact Email
medica.hospitalia@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
medica.hospitalia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine
ISSN : 23014369     EISSN : 26857898     DOI : -
Core Subject : Health,
Medica Hospitalia: Journal of Clinical Medicine adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan RSUP Dr. Kariadi dan menerima artikel ilmiah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovasi ilmiah dibidang kedokteran atau kesehatan kepada para praktisi dan akedemisi di bidang kesehatan dan kedokteran.
Arjuna Subject : -
Articles 302 Documents
Profil Ekspresi HER2 Dan Cyclin D1 Pada Pasien Adenokarsinoma Kolorektal Di RSUP Dr.Kariadi Semarang Listiana, Devia Eka; Istiadi, Hermawan; Alodia, Viena
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol 8 No 1 (2021): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36408/mhjcm.v8i1.487

Abstract

Latar belakang: Adenokarsinoma kolorektal merupakan keganasan yang paling sering ditemui dengan mortalitas ketiga terbanyak. Beberapa ekspresi protein diketahui berhubungan dengan karsinogenesis adenokarsinoma kolorektal, diantaranya adalah HER2 dan Cyclin D1. HER2 dan Cyclin D1 merupakan proto-onkogen yang dapat mengalami overekspresi pada adenokarsinoma kolorektal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil ekspresi HER2 dan Cyclin D1 dan hubungannya dengan parameter klinikopatologis pasien adenokarsinoma kolorektal. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional dengan sampel 40 blok paraffin pasien adenokarsinoma kolorektal di RSUP dr. Kariadi Semarang, Indonesia pada periode Januari 2019 hingga Desember 2019. Parameter klinikopatologis yang diamati meliputi : lokasi tumor, kedalaman infiltrasi tumor, derajat histologi serta metastasis pada kelenjar getah bening (KGB) regiona serta ekspresi HER2 dan Cyclin D1 dengan imunohistokimia. Hasil: Sebanyak 15% pasien memiliki ekspresi HER2 equivocal dan 5% pasien HER2 positif, sedangkan profil ekspresi Cyclin D1 menunjukkan low expresion sebanyak 60%, sedangkan high expresion sebanyak 40% sampel. Ekspresi HER2 positif ditemukan pada pasien dengan lokasi rectosigmoid dan rectum, infiltrasi serosa dan derajat histologi low grade, namun tidak bermakna. Ekspresi Cyclin D1 yang tinggi ditemukan pada pasien dengan lokasi rectosigmoid, infiltrasi serosa, derajat histologi low grade, tidak berbeda bermakna. Kesimpulan: Ekspresi HER2 dan Cyclin D1 memiliki hubungan yang tidak bermakna dengan parameter klinikopatologik pasien adenokarsinoma kolorektal. Kata kunci: adenokarsinoma kolorektal, HER2, Cyclin D1
Perbedaan Skor BDI II (Beck depression Inventori) pada siswi dengan PMDD (Premenstrual Dysphoric Disorder) dan non PMDD wimala, Dina; Hadiati, Titis
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol 8 No 1 (2021): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36408/mhjcm.v8i1.486

Abstract

Latar Belakang : Gangguan menstruasi dapat terjadi pada 90 % wanita dan 5-8% nya mengalami gangguan parah yaitu PMDD. 32% remaja perempuan usia 15-19 tahun dimana diagnosis depresi pada remaja lebih sering terlewatkan dibandingkan pada orang dewasa. PMDD dan depresi menyebabkan keluhan psikologis dan berdampak pada kualitas hidup seseorang, karena adanya emosi yang tidak terkontrol, terutama bila tejadi pada remaja. Deteksi PMDD dan depresi pada remaja sering terlewatkan hal ini disebabkan karena gejala yang menonjol adalah lekas marah, reaktivitas susasana hati dan gejala fisik yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Tujuan : Mengetahui perbedaan skor BDI-II pada siswi dengan PMDD dan non PMDD Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan belah lintang. Sampel adalah siswi SMK yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. PMDD dinilai dengan kuesioner SPAF (Shortened Premenstrual Assessment Form) dan depresi dinilai dengan BDI-II (Beck Depression Inventory-II). Analisa data menggunakan uji Pearson Chi Square, Fisher’s Exact dan Mann Whitney. Hasil : Penelitian ini diikuti oleh 135 responden, 60 (44,4%) responden PMDD dan 75 (55,6%) responden non PMDD dengan median skor BDI-II untuk kelompok PMDD adalah 19 (2-39) dan non PMDD 11 (0-33). Terdapat perbedaan skor BDI-II yang signifikan pada siswi dengan PMDD dan non PMDD dengan p value <0,001. Simpulan : Terdapat perbedaan skor BDI-II yang bermakna pada siswi dengan PMDD dan non PMDD. Kata Kunci : BDI-II, PMDD, remaja
Ensefalitis pada Infeksi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19): Sebuah Tinjauan Literatur Retnaningsih, Retnaningsih; Kurnianto, Aditya; Tugasworo, Dodik `; Andhitara, Yovita; Ardhini, Rahmi; Satrioaji, Hari Wahono; Budiman, Jethro
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol 7 No 1A (2020): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36408/mhjcm.v7i1A.483

Abstract

Latar belakang: Infeksi Corona Virus Disesase 2019 (COVID-19) pertama kali terdeteksi pada Desember 2019 di Cina dan telah menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. World Health Organization (WHO) baru-baru ini mengumumkan COVID-19 merupakan pandemi dunia dengan lebih dari 180.000 kasus dilaporkan hingga saat ini. Manifestasi neurologis dari COVID-19 berkaitan dengan penyakit serebrovaskular akut, gangguan kesadaran, dan kasus ensefalopati nekrotik hemoragik akut. Tujuan dari tinjauan literatur ini adalah mengkaji secara teori berdasarkan literatur tentang hubungan ensefalitis dan infeksi COVID-19. Metode: Review literatur Pembahasan: Ensefalitis dapat menyertai penyakit virus, seperti pada infeksi COVID-19. Ensefalitis virus mempengaruhi anak-anak, dewasa muda, atau pasien lanjut usia. Virus severe acute resporatory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) dapat masuk ke sistem saraf pusat melalui nervus olfaktorius. Simpulan: Diagnosis ensefalitis COVID-19 dapat ditegakkan dengan anamnesis; pemeriksaan fisik; dan pemeriksaan penunjang berupa laboratorium darah, CT scan kepala, MRI serebral, EEG, analisa cairan serebrospinal, dan pemeriksaan PCR SARS-CoV-2 dari cairan serebrospinal. Kata Kunci: COVID-19, ensefalitis, neurologi Background: Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) infection was first detected in December 2019 in China and has spread rapidly throughout the world. World Health Organization recently announced COVID-19 is a world pandemic with more than 180,000 reported cases. Neurological manifestations of COVID-19 were an acute cerebrovascular disease, impaired consciousness, and acute hemorrhagic necrotic encephalopathy. The aim of this literature review is to analyse theoretically based on literature about encephalitis in COVID-19.Methods: A literature reviewDiscussion: Encephalitis can accompany viral diseases, such as COVID-19. Viral encephalitis affects children, young adults, or elderly patients. Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) enters the central nervous system via the olfactory nerve.Conclusion: Covid-19 encephalitis can be detected by anamnesis, physical examination, and supporting examination: blood laboratory finding, head CT scan, cerebral MRI, EEG, cerebrospinal fluid (CSF) analysis, and PCR test of SARS-CoV-2 by CSF. Keywords: COVID-19, encephalitis, neurology
Efektivitas Terapi Metode Wim Hoff Terhadap Respirasi, Denyut Jantung, Dan SpO2 Pada Pasien Covid – 19 Di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang Syaifulloh, Moh; Susanto, Mujib Akhis; Fasitasari, Minidian; Aziz, Muhammad; Pudjowati, Saras; Yasin, Muhammad Fatah; Setianto, Rochady
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol 7 No 1A (2020): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36408/mhjcm.v7i1A.482

Abstract

Latar belakang : Metode Wim Hoff merupakan kombinasi dari paparan dingin, tekhnik pernafasan, dan meditasi. Kombinasi antara terapi konvensional medis dengan terapi non farmakologis seperti pada Metode Wim Hoff yang berusaha mengkombinasikan antara yoga dengan pengaturan nafas sehingga memberi kesempatan pada peningkatan volume/kapasitas tidal paru menjadi stabil. Ada banyak variasi dari metode Wim Hoff meliputi mengontrol pernafasan, menahan nafas, dan memulai pernafasan, ketiga fase tersebut dapat diulang dalam kurun waktu tiga kali secara berturut – turut atau lebih. Dengan dilakukan terus menerus sangat membantu peningkatkan sel darah merah, meningkatkan kapasitas tidal paru, meningkatkan sirkulasi, dan dapat dibuktikan secara klinis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Metode Wim Hoff terhadap pola nafas, denyut jantung, dan SpO2 pasien Covid – 19 yang dirawat di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. Metode : Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experiment dengan desain pre dan post test tanpa kelompok kontrol. Sampel pada penelitian ini dipilih secara consecutive, dan terdiri dari 25 responden dengan rincian 9 laki – laki dan 16 perempuan. Ditemukan hasil bermakna antara intervensi sebelum dan sesudah terhadap pola nafas, dan SpO2, selanjutnya data diolah menggunakan uji paired T test dampak komparatif Wim Hoff dengan perbandingan respirasi, denyut jantung, SpO2 dan uji Wilcoxon signed rank test pada kelompok perlakuan didapatkan P = 0,0014 < ? = 0,05, sehingga H0 ditolak. Pada kelompok kontrol didapatkan P = 1,000 > ? = 0,05 sehingga H0 diterima, artinya bahwa ada pengaruh terhadap kemandirian responden kelompok perlakuan. Hasil : Hasil uji statistik adalah p value 0,000 pada pola nafas dan SpO2, akan tetapi terhadap denyut jantung didapatkan p value 0,447. Simpulan : Metode Wim Hoff mampu menstabilkan pola nafas dan SpO2, akan tetapi tidak untuk denyut jantung. Kata kunci : Wim Hoff, Pola nafas, SpO2, Denyut jantung Background : Wim Hof Method (WHM) is combination of frequent cold exposure, breathing techniques and meditation. The combination of conventional medical therapy with non-pharmacological therapies such as the Wim Hoff Method which seeks to combine yoga with breath control so as to provide an opportunity for the increase in lung tidal volume / capacity to become stable.There are many types of breathing method including Controlled breathing, Breath retention, and Recovery. these three phases may be repeated for three or more consecutive rounds. By being done continuously it really helps increase red blood cells, increase lung tidal capacity, improve circulation, and can be proven clinically. This research aimed to explore the effect of Wim Hoff Method on respiration rate, heart rate, and SpO2 among Covid – 19 patients at Islamic Sultan Agung Hospital Semarang. Methods : Quasi experiment used in this study was pre and post test design without control group. Sampel were recruited using consecutive sampling. The samples of this study consists of 25 Covid – 19 patients including 9 male and 16 female. The study found significant result between pre and post test intervention for respiration rate and SpO2. A meaningful result between the before and after intervention of the breath pattern, and the SpO2, subsequently the data was processed using a test paired T comparative impact of Wim Hoff with a ratio of respiration, heart rate, SpO2 and a test of Wilcoxon signed rank test on the treatment group obtained P = 0.0014 < ? = 0.05, so that H0 rejected. In the control group acquired P = 1.000 > ? = 0.05 so that H0 was accepted, meaning that there was an influence on the self-reliance of the group treatment. Result : The statistical test result was p value 0,000 for respiration rate and SpO2 but for the heart rate p value 0,447. Conclusion : Wim Hoff Method was effective on stabilizing respiration rate and increasing SpO2 but not for heart rate. Keyword : Wim Hoff Method, Respiration rate, SpO2, Heart rate.
Karakteristik Bayi Baru Lahir dari Ibu Terkait COVID-19 di RSUP Dr. Kariadi Semarang Radityo, Adhie Nur; Rini, Arsita Eka; Anam, Moh Syarofil; Sarosa, Gatot Irawan
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol 7 No 1A (2020): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36408/mhjcm.v7i1A.481

Abstract

Latar belakang Kejadian kasus COVID-19 pada bayi belum banyak dilaporkan dan mekanisme penularan terhadap bayi baru lahir masih belum jelas. Tujuan Melaporkan perbedaan karakteristik bayi baru lahir dari ibu terkait COVID-19 di RSUP Dr. Kariadi Semarang Metode Penelitian retrospektif dengan data sekunder catatan medik bayi baru lahir dari ibu terkait COVID-19 di RSUP dr Kariadi Semarang pada periode April-Mei 2020 dengan kelompok pembanding bayi baru lahir dari ibu tidak terkait COVID-19. Kriteria inklusi semua bayi lahir dari ibu terkait COVID-19 dirawat di rumah sakit dan dilakukan pemeriksaan PCR dengan spesimen swab nasofaring. Data yang dikumpulkan adalah usia kehamilan, jenis kelamin, berat lahir, cara persalinan, usia ibu dan jenis minum yang diberikan pada bayi. Dilakukan uji beda menggunakan uji chi square dan shapiro wilk. Analisis data menggunakan program komputer SPSS. Hasil Dari 46 sampel penelitian terdiri dari 23 bayi lahir dari ibu terkait COVID-19 dan 23 bayi lahir dari ibu tidak terkait COVID-19 dilakukan analisis dengan hasil tidak terdapat perbedaan bermakna dari usia kehamilan, berat lahir, cara persalinan dan usia ibu. Pada kelompok bayi lahir terkait COVID-19 mayoritas lahir dengan jenis kelamin perempuan (74%) dan jenis minum yang diberikan sekitar 86% dengan susu formula. Tidak ada bayi yang mendapat ASI eksklusif pada bayi yang lahir dari ibu terkait COVID-19. Semua bayi yang lahir dari ibu terkait COVID-19 didapatkan hasil swab nasofaring negatif dan tidak menunjukkan gejala apapun sampai dengan pulang. Simpulan Tidak didapatkan perbedaan karakteristik usia kehamilan, berat lahir, cara persalinan dan usia ibu. Terdapat perbedaan karakteristik jenis kelamin dan jenis minum yang diberikan pada kedua kelompok penelitian. Keyword: bayi baru lahir, COVID-19 Background The incidence of COVID-19 cases in newborn has not been widely reported and the mechanism of transmission to the newborn is unclear. Objective To report the characteristics of newborns from mothers related to COVID-19 at Kariadi Hospital Semarang. Method Retrospective study with secondary data on medical records of newborns from mothers related to COVID-19 at Kariadi Hospital in the April-May 2020 period with a comparison group of newborns from mothers not related to COVID-19. Criteria for inclusion of all infants born to mothers associated with COVID-19 were hospitalized and PCR examination carried out with nasopharyngeal swab specimens. Data collected were gestational age, sex, birth weight, mode of delivery, maternal age and type of dietary given to the baby. Analysis tests were performed using chi square test and Shapiro Wilk. Data analysis using SPSS computer programs Result Of the 46 study samples consisting of 23 babies born to mothers related to COVID-19 and 23 babies born to mothers not related to COVID-19 were analyzed with the results that there were no significant differences in gestational age, birth weight, mode of delivery and maternal age. In the group of babies born with COVID-19 the majority were born with a female sex (74%) and the type of dietary given was around 86% with formula milk. No baby gets exclusive breastfeeding for babies born to mothers related to COVID-19. All babies born to mothers related to COVID-19 obtained negative nasopharyngeal swab results and did not show any symptoms until discharge. Conclusion There were no differences in the characteristics of gestational age, birth weight, mode of delivery and maternal age. There were differences in the characteristics of the sexes and types of dietary given in the two study groups. Keyword: newborn, COVID-19
Seorang Anak Perempuan Probable Covid-19 dengan Keterlibatan Ginjal (Laporan kasus) Mellyana, Omega; Latifah, Nur; Trixie, Marcella; Mardiana, Frederika; Anam, Moh Syarofil; Sahyuni, Riza; Wistiani, Wistiani
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol 7 No 1A (2020): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36408/mhjcm.v7i1A.480

Abstract

Latar belakang: Kasus Probable Covid-19 adalah kasus penderita dengan gambaran klinis dan pemeriksaan penunjang yang meyakinkan Covid-19 namun tidak terkonfirmasi dengan pemeriksaan real-time polymerase chain reaction (RT-PCR). Kasus probable banyak menimbulkan kekhawatiran karena risiko penularan dan keraguan dalam tata laksana baik bagi dokter, perawat, dan penanggung jawab pasien. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk melaporkan kasus seorang anak dengan probable Covid-19 dan mendiskusikan kemungkinan diagnosis banding lain sebagai pemikiran di tengah pandemi Covid-19 guna pengelolaan pasien yang lebih optimal. Kasus: Anak perempuan 14 tahun 5 bulan dengan keluhan utama batuk selama dua minggu sebelum masuk rumah sakit, disertai demam, diare dan sesak. Selama perawatan, sesak makin bertambah. Tiga hari perawatan ditemukan oliguria, proteinuria, anemia, leukositosis, trombositopenia, hipersegmentasi neutrofil, limfopenia, peningkatan prokalsitonin, hipoalbuminemia dan penurunan fungsi ginjal (51 ml/menit/1,73 m2). Gambaran rontgen dada menunjukkan bronkopneumonia dan kardiomegali. MSCT dada terdapat gambaran konsolidasi dan ground glass appearance (GGO) di kedua paru mendukung ke arah Covid-19. Pada hari perawatan ke 16 anak mengalami gagal nafas, hemoptoe, penurunan kesadaran hingga meninggal. Swab RT-PCR 3 kali negatif (selama perawatan dan post mortem). Ringkasan : Infeksi Covid-19 adalah penyebab infeksi saluran nafas yang serius dan berat. Telah dilaporkan seorang anak perempuan 14 tahun 5 bulan yang meninggal karena Probable Covid-19. Di tengah pandemi Covid-19 ini seorang dokter perlu meningkatkan kewaspadaan yang tinggi terhadap infeksi virus atau bakteri lain untuk memperbaiki tata laksana dan luaran pada penderita. Kata kunci: Covid-19, probable, ground glass opacity, RT-PCR Background: Probable Covid-19 cases are patients with clinical features and convincing investigations for covid-19 but there is not confirmed by real time polymerase chain reaction (RT-PCR). Probable cases raise many concerns because of the risk of transmission and doubt in good management for the doctor / nurse in charge of the patient. The purpose of writing was to report the child with probable Covid-19 and provide a discussion of possible other differential diagnoses as thoughts in the midst of the Covid-19 pandemic for optimal management of sufferers. Case: A girl 14 years 5 months old had a cough for two weeks before admission, accompanied by fever, diarrhea and breathlessness. During treatment, the shortness of breath increased, three days of treatment found oliguria, proteinuria, hematuria, anemia, leukocytosis, thrombocytopenia, neutrophil hypersegmentation, lymphopenia, increased procalcitonin, hypoalbuminemia and decreased renal function (51 ml / min / 1.73 m2). Chest x-ray of bronchopneumonia and cardiomegaly. In the finding of chest computed tomography scan showed consolidation and ground glass appearance (GGO) in both lungs supporting the diagnose of Covid-19. On the 16th day of treatment, the child suffered respiratory failure, hemoptoes, decreased consciousness until death. RT-PCR swabs were 3 times negative (during treatment and post mortem). Summary: Covid-19 is a serious and severe cause of respiratory tract infection. It has been reported that a girl of 14 years and 5 months who died of Probable Covid-19 has been reported. During the Covid-19 pandemic, a doctor may need to increase high awareness of other viral or bacterial infections to improve management and outcome of patients in the future. Key word: Covid-19, Children, Ground Glass Opacity, RT_PCR
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Pada Anak (Studi Literatur) Anantyo, Dimas Tri; Kusumaningrum, Ayu Anggraini; Rini, Arsita Eka; Radityo, Adhie Nur; Rahardjani, Kamilah Budhi; Sarosa, Gatot Irawan
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol 7 No 1A (2020): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36408/mhjcm.v7i1A.479

Abstract

Latar Belakang: Pandemi Novel Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang disebabkan oleh virus SARS CoV-2 ini berawal dari Wuhan, China, menyebar ke lebih dari 200 negara dan mengakibatkan puluhan ribu kematian termasuk anak. Studi literatur yang membahas COVID-19 pada orang dewasa mulai bermunculan, namun pada anak masih terbatas. Dalam studi literatur ini kami mengulas beberapa artikel ilmiah dan literatur terbaru tentang COVID-19 pada anak yang dipublikasikan sejak Januari 2020 hingga akhir Juli 2020, khususnya manifestasi klinis dan pemeriksaan penunjang. Metode: Mengulas publikasi 35 literatur ilmiah mengenai COVID-19 anak pada jurnal seperti Pubmed, Google Scholar, Science Direct, The Lancet sejak Januari hingga Juli 2020. Hasil: Kejadian COVID-19 pada anak lebih rendah dan memiliki gejala yang lebih ringan dibandingkan orang dewasa. Gejala yang sering muncul adalah batuk, faring hiperemis, dan demam. Belum ada bukti jelas mengenai kejadian transmisi intrauterine yang dilaporkan. Prognosis menunjukkan respon terapi yang baik dan pemulihan yang lebih cepat dibandingkan dengan orang dewasa. Kesimpulan: Kejadian COVID-19 lebih rendah, manifestasi klinis lebih ringan dan prognosis lebih baik pada anak dibandingkan dengan orang dewasa. Kata kunci: COVID-19, anak, studi literatur Background: The Novel Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) pandemic caused by the SARS CoV-2 virus originated in Wuhan, China, spread to more than 200 countries and resulted in tens of thousands of deaths including children. Literature studies discussing COVID-19 in adults are starting to emerge, but in children it is still limited. In this literature study, we review some of the latest scientific articles and literature on COVID-19 in children published from January 2020 to the end of July 2020, in particular clinical manifestations and supporting examinations. Methods: Reviewing 35 scientific literatures about children with COVID-19 in journals such as Pubmed, Google Scholar, Science Direct, The Lancet from January to July 2020. Results: The incidence of COVID-19 in children was lower and had milder symptoms than adults. Symptoms that often appear are cough, hyperemic pharynx, and fever. There was unclear proof of intrauterine transmission. The prognosis of children with COVID-19 showed a good response to therapy and faster recovery compared to adults. Conclusion: The incidence of COVID-19 is lower, the clinical manifestations are milder, and the prognosis is better in children compared to adults. Keywords: COVID-19, children, literature study
Laporan Kasus Silent Hypoxemia pada Penderita COVID-19 dengan Komorbid Diabetes Melitus Andreas, Muncieto; Romansyah, Muhammad Ali; Zuandra, Reski Anugrah
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol 7 No 1A (2020): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36408/mhjcm.v7i1A.478

Abstract

Coronavirus disease 2019 atau COVID-19 menjadi pandemi yang masih menjadi ancaman global sampai saat ini. Gejala klinis bervariasi mulai dari demam, batuk, lemas, mialgia, dan diare. Derajat keparahannya pun bervariasi dari asimptomatik, gejala ringan, sampai gejala berat. Hipoksemia pun menjadi tanda prognosis buruk pada pasien COVID-19. Namun, banyak penderita COVID-19 datang dengan kandungan oksigen yang sangat rendah tetapi tanpa ada keluhan sesak. Kejadian tersebut sering disebut silent hypoxemia. Kejadian ini berhubungan dengan hiperkoagulasi yang dapat diperberat dengan komorbid penderita, salah satunya diabetes melitus. Pada laporan kasus ini, seorang wanita usia 47 tahun datang ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Hermina Grand Wisata dengan keluhan demam sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit. Keluhan disertai batuk, mual, pusing, dan lemas, tetapi tanpa sesak. Pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran kompos mentis dengan tekanan darah 120/70 mmHg, frekuensi nadi 120 kali per menit, frekuensi napas 21 kali per menit, suhu 37.80C, dan saturasi oksigen perifer 67% dengan suplemen oksigen nasal kanul 4 liter per menit. Pasien ditatalaksana ventilasi mekanik setelah pemberian non-rebreathing mask 15 liter per menit tidak menunjukkan perbaikan. Hasil pemeriksaan swab PCR untuk COVID-19 positif, disertai dengan d-dimer 1.2 dan HbA1C 8.2. Pasien ditatalaksana antikoagulan enoxaparin sejak awal admisi. Pada hari kelima perawatan hasil pemeriksaan foto toraks ulang menunjukkan perbaikan, tetapi pemeriksaan d-dimer ulang menunjukkan hasil d-dimer meningkat menjadi 1.8. Silent hypoxemia pada penderita COVID-19 dengan komorbid diabetes melitus menunjukkan kondisi hiperkoagulasi yang sulit ditangani. Kata Kunci: COVID-19; silent hypoxemia, diabetes, hiperkoagulasi Coronavirus disease 2019 or COVID-19 became pandemy and still be a global threat. Symptoms varies from fever, cough, fatigue, myalgia, and diarrhea. Severity of the disease also varies from asymptomatic, mild, to severe disease. Hypoxemia is a sign of poor prognosis in COVID-19 patients. Unfortunately, many patients were admitted with very low blood oxygen content but without dyspnea symptom. This event is called silent hypoxemia. This event also related to hypercoagulation which is intensified by patient’s comorbidities, such as diabetes melitus. In this case report, a forty-seven years old woman was admitted to Emergency Department in Grand Wisata Hermina Hospital. The patient complained fever since 5 days before admission. Fever was accompanied by cough, nausea, dizziness, and fatigue. But, there was no dyspnea complained by patient. Patient was alerted with blood pressure 120/70mmHg, pulse rate 120 per minute, respiratory rate 21 per minute, temperature 37.8C, and peripheral oxygen saturation 67% with 4 litre per minute with nasal cannule. The patient was admitted with mechanical ventilation after therapy with 15 liter per minute with non-rebreathing mask show no sign of improvement. The patient was positive for COVID-19 after PCR swab test in a day after admission, with d-dimer result was 1.2 and HbA1C is 8.2. Patient was already given enoxaparin as anticoagulant in time of admission. In 5th day after admission, thorax photo showed improvement but d-dimer showed worsening result as the result increase from 1.2 to 1.8. Silent hypoxemia in COVID-19 patient with diabetes melitus as comorbidity shows hypercoagulation which is hard to control. Key words: COVID-19; silent hypoxemia, diabetes, hypercoagulation
Obat Kumur Povidone Iodine sebagai Tindakan Pra-Prosedural untuk Mengurangi Risiko Penularan SARS-CoV-2 dalam Praktik Kedokteran Gigi Rakhman, Latifah Fitriani
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol 7 No 1A (2020): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36408/mhjcm.v7i1A.477

Abstract

Latar Belakang: Kasus COVID-19 menurut WHO per 25 Juli 2020 adalah 15.581.009 kasus terkonfirmasi positif, 635.173 kasus kematian, mencakup 216 negara/wilayah di dunia. Sebuah artikel New York Times menyebut dokter gigi sebagai profesi yang paling rentan terpapar infeksi nosokomial virus SARS-CoV-2. Air liur diketahui mengandung viral load SARS-CoV-2 yang tinggi hingga 1,2×108/per ml. Povidone iodine (PVP-I) menunjukkan aktivitas in vitro terhadap berbagai virus, termasuk SARS-CoV dan MERS. Studi terbaru membuktikan homologi SARS-CoV-2 dengan SARS-CoV mencapai 82%, sehingga ada optimisme bahwa PVP-I juga efektif terhadap SARS-CoV-2 seperti halnya SARS-CoV yang terbukti dapat dinonaktifkan dengan PVP-I. Tujuan: Mengulas dan melaporkan hasil penelitian terkait penggunaan PVP-I oral terhadap SARS-CoV-2 dalam kasus klinis dan penelitian in vitro. Metode: Article review dilakukan dengan mengumpulkan jurnal ilmiah secara online menggunakan keyword “povidone iodine”, “povidone iodine covid-19”, “povidone iodine oral rinse”, dan “povidone iodine in dental practice”. Sumber data primer dengan kriteria seleksi data kemudian diskrining. Kriteria inklusi yaitu jurnal yang diterbitkan selama lima tahun terakhir. Hasil: Hasil studi in vitro dengan uji viral kill time PVP-I 1.0% terhadap sel Vero-E6 yang dilakukan oleh Eggers, et.al. menunjukkan 99.99% efektif terhadap SARS-CoV-2 dalam waktu 30 detik dari kontak. Sedangkan Paranjape, et.al. mengusulkan penggunaan 0.5% PVP-I sebagai desinfeksi oral. Keduanya telah dilakukan uji toksisitas dan hasilnya tidak ada alergi yang dilaporkan. Simpulan: PVP-I dapat diberikan sebagai upaya pra-prosedural tindakan perawatan gigi yaitu meminta pasien berkumur dengan 1.0% PVP-I 10 ml selama 30 detik sebelum perawatan gigi dimulai. PVP-I telah terbukti sebagai terapi yang aman digunakan sebagai obat kumur. Kata kunci: SARS-CoV-2, povidone iodine, obat kumur, pra-prosedural, praktik dokter gigi Abstract The incidence of COVID-19 has increased in a short time. The COVID-19 case according to WHO as of July 25, 2020 were 15,581,009 positive confirmed cases, 635,173 fatal cases. It occurs in 216 countries/regions in the world. A New York Times article referred dentists as the profession most vulnerable to nosocomial infection of the SARS-CoV-2 virus. Saliva is known to contain a high SARS-CoV-2 viral load of up to 1.2×108/per ml, therefore, the dentist is categorized as high risk subject. Povidone-iodine (PVP-I) shows in vitro activity against various viruses, including SARS-CoV and MERS. Recent studies prove the homology of SARS-CoV-2 with SARS-CoV reaches 82%. With high homology rates, there is optimism that PVP-I is also effective against SARS-CoV-2 as well as SARS-CoV which is proven to be deactivated with PVP-I. Objective: To review the research results related to the use of oral PVP-I against SARS-CoV-2 in clinical case and in vitro research. Method: Article review was conducted by collecting scientific journals online using certain keywords: “povidone iodine”, “povidone iodine covid-19”, “povidone iodine oral rinse”, and “povidone iodine in dental practice”. Primary data sources were chosen with data selection criteria and then screened. Inclusion criteria are journals published during the last five years. Results: In vitro study results with a 1.0% PVP-I viral kill time test of Vero-E6 (American Type Culture Collection) cells, conducted by Eggers, et.al. showed 99.99% virucidal activity against SARS-CoV-2 within 30 seconds of contact. While Paranjape, et.al. propose the use of 0.5% PVP-I as an oral disinfection. Both have been tested for toxicity and no allergic results have been reported. Conclusion: PVP-I can be safely administered as a pre-procedural in dental treatment, which is intended for use in the patient, i.e to rinse with 1.0% PVP-I 10 ml for 30 seconds before dental treatment. PVP-I has been proven as a safe therapy as a mouthwash. Keywords: SARS-CoV-2, povidone iodine, mouthwash, pre-procedural, dental practice
Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) pada Wanita Hamil dan Bayi: Sebuah Tinjauan Literatur Rohmah, Martina Kurnia; Nurdianto, Arif Rahman
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol 7 No 1A (2020): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36408/mhjcm.v7i1A.476

Abstract

LATAR BELAKANG: Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) merupakan gangguan saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 dan telah menjadi pandemi di seluruh dunia. COVID-19 telah menjangkit seluruh penduduk dunia tidak terkecuali wanita hamil. Kerentanan wanita hamil terhadap infeksi menjadi latar belakang perlunya studi tentang pengaruh COVID-19 baik pada ibu, janin, maupun bayi yang dilahirkan. TUJUAN: Studi ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kasus COVID-19 pada ibu hamil, potensi transmisi vertikal, ada tidaknya asam nukleat SARS-CoV-2 pada ASI, pengaruh COVID-19 pada perkembangan janin, serta pengobatan ibu hamil dengan COVID-19. METODE: Studi ini mengulas dan membandingkan sumber dari artikel penelitian, laporan kasus, dan review dari jurnal internasional bereputasi. HASIL: Sebagian besar kasus COVID-19 yang ditemukan pada wanita hamil adalah tergolong kasus ringan, adanya transmisi vertikal yang rendah dibuktikan dari hasil tes sampel ibu dan bayi, minimnya kasus spontaneous abortus, kelahiran bayi prematur, kematian bayi, serta gangguan perkembangan. ASI dari ibu hamil positif COVID-19 juga cukup aman diberikan pada bayi dikarenakan kasus positif asam nukleat SARS-CoV-2 sangat minim ditemukan. KESIMPULAN: Berdasarkan studi yang komprehensif, COVID-19 pada ibu hamil sejauh ini masih cukup terkendali. Namun demikian perlu adanya tes yang menyeluruh sebab setiap individu memiliki kondisi yang berbeda satu dengan lainnya. Kata Kunci: COVID-19, janin, kehamilan, SARS-CoV-2, transmisi BACKGROUND: Corona Virus 2019 (COVID-19) is an acute respiratory tract caused by the SARS-CoV-2 virus and has become a pandemic worldwide. COVID-19 has gathered the entire world population including pregnant women. The vulnerability of pregnant women to infections is become the background was to know the effect of COVID-19 both on the mother, fetus, and baby born. OBJECTIVE: This study aims to determine the description of COVID-19 cases in pregnant women, the potential for vertical transmission, the presence or absence of nucleic acid SARS-CoV-2 in breast milk, the effect of COVID-19 on fetal development, and the treatment of pregnant women with COVID-19. METHOD: This study attempts to review and compare sources from research articles, case reports, and reviews from reputable international journals. RESULT: Most cases of COVID-19 found in pregnant women are classified as mild cases, the presence of low vertical transmission is evidenced from the results of mother and baby sample tests, the lack of cases of spontaneous abortion, premature baby births, infant deaths, and developmental disorders. Breastfeeding from COVID-19 positive pregnant women is also quite safe given to infants because positive cases of SARS-CoV-2 nucleic acid are very low. CONCLUSION: Based on a comprehensive study, COVID-19 in pregnant women so far is still quite under control. However, there needs to be a thorough test because each individual has different conditions from one another. Keywords: COVID-19, fetus, pregnancy, SARS-CoV-2, transmission

Page 1 of 31 | Total Record : 302