cover
Contact Name
Euis Reni Yuslianti
Contact Email
ery.unjani@yahoo.co.id
Phone
+6282116560248
Journal Mail Official
medikakartika@unjani.ac.id
Editorial Address
Jalan Terusan Jend.Sudirman PO BOX 148 Cimahi
Location
Kota cimahi,
Jawa barat
INDONESIA
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 26139332     EISSN : 26556537     DOI : http://dx.doi.org/10.35990/mk
Core Subject : Health,
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan adalah jurnal yang mempublikasikan artikel hasil penelitian baik ilmu kedokteran dasar maupun terapan, tinjauan pustaka (artikel review), dan laporan kasus. Medika Kartika dipublikasikan dua kali dalam setahun (April dan Oktober) dengan jumlah enam artikel.
Articles 40 Documents
POTENSI HAMBAT EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.) TERHADAP PERTUMBUHAN Enterococcus faecalis Wahyudi, Hartanto Endro; Ardy, Eggi Suntara; Nawawi, Azkya Patria
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2 No 2 (2019): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegagalan perawatan saluran akar dapat disebabkan oleh kegagalan dalam mengeliminasi bakteri fakultatif anaerob, Enterococcus faecalis. Chlorhexidine (CHX) 2% merupakan cairan desinfekstan yang biasa digunakan pada irigasi saluran akar. Bahan alami yang bersifat antibakteri dapat diperoleh dari ekstrak kulit buah manggis (Garciana mangostana L.) karena bahan alami ini mengandung senyawa antioksidan flavonoid, tanin, dan xanton. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kandungan fitokimia dan menguji potensi hambat ekstrak kulit buah manggis (50%) terhadap viabilitas Enterococcus faecalis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental diawali dengan uji fitokimia ekstrak secara kualitatif. Ekstrak kulit buah manggis kemudian diujikan dengan menggunakan metode agar difusi terhadap tiga kelompok percobaan, yaitu  E.faecalis ditambah CHX 2% sebagai kontrol positif, E. faecalis ditambah ekstrak kulit buah manggis 50% sebagai kelompok perlakuan, dan E. faecalis ditambah aquades sebagai kontrol negatif.  Uji terhadap setiap kelompok dilakukan dengan menumbuhkan E.faecalis pada media Muller Hinton Agar (MHA). Bahan uji diserap menggunakan paper disc kemudian diapuskan pada permukaan agar. Potensi hambat bahan uji ditetapkan dengan cara mengukur diameter zona hambat menggunakan jangka sorong. Uji hambat dilakuan pengulangan sebanyak 6 kali. Hasil fitokimia didapatkan bahwa terdapat senyawa flavonoid, polifenol, tannin, alkaloid, saponin, dan kuinon. Ekstrak kulit buah manggis  50%  memiliki rerata diameter zona hambat sebesar 10,3 mm terhadap Enterococcus faecalis. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan ekstrak kulit buah manggis 50% memiliki potensi hambat terhadap E. faecalis. Diperlukan studi lanjut untuk menetapkan potensinya sebagai larutan irigasi saluran akar.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN POLIFENOL ASAM GALAT TEH HIJAU GAMBUNG MELALUI PENURUNAN KADAR MALONDIALDEHID TIKUS DIABETES MELITUS Rakhmat, Iis Inayati; Faramayuda, Fahrauk; Yuslianti, Euis Reni
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2018): Medika Kartika Edisi PIT 10 Kedokteran Gigi
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teh hijau dilaporkan mempunyai efek sebagai antidiabetes karena kandungan antioksidannya. Komplikasi diabetes berkaitan dengan terjadinya stres oksidatif akibat hiperglikemi persisten yang ditandai dengan peningkatan kadar malondialdehid. Aktivitas antioksidan selular dan kandungan polifenol terutama asam galat teh hijau asal Gambung Ciwidey Bandung masih belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan mengetahui kandungan antioksidan asam galat serta penurunan malondialdehid teh hijau tikus diabetes. Metode penelitian adalah laboratorium eksperimental. Pengujian kandungan antioksidan kualitatif dengan uji fitokimia, pengujian kandungan asam galat kuantitatif metode pH diferensial ekivalen antosianin total, dan pengujian aktivitas antioksidan melalui penurunan kadar malondialdehid tikus diabetes metode TBARs. Tikus dibagi kedalam 5 kelompok (n=5) diberi perlakuan selama 14 hari peroral: Tikus kelompok I sebagai kontrol negatif, tikus kelompok II kontrol diabetes, tikus diabetes kelompok III dan IV diberi ekstrak etanol teh hijau 14,4 mg/hari dan 28,8 mg/hari serta tikus diabetes kelompok V diberi Vitamin C 3,6 mg/hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol teh hijau Gambung memiliki kandungan alkaloid, tanin, saponin, katekin, flavonoid, kuinon, dan asam galat 12,19 mg/L TAC. Kadar rerata malondialdehid darah kelompok teh hijau 28,8 mg/hari berbeda signifikan (P=0,012) dengan kelompok Vitamin C 3,6 mg/hari akan tetapi tidak ada perbedaan signifikan (P=0,087) apabila dibandingkan dengan kelompok yang diberi teh hijau 14,4 mg/hari. Pemberian teh hijau 28,8 mg/hari memberikan efek menguntungkan dibanding Vitamin C 3,6 mg/hari yang dibuktikan dengan penurunan kadar MDA kemungkinan karena kandungan antioksidan polifenol asam galat teh hijau sebagai scavenger radikal peroksil stres oksidatif pada tikus diabetes.
KARAKTERISTIK PASIEN RETINOBLASTOMA DI PUSAT MATA NASIONAL RUMAH SAKIT MATA CICENDO BANDUNG PERIODE TAHUN 2012─2016 Abbas, Endah Hamidah
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2 No 1 (2018): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Retinoblastoma adalah keganasan neuroektodermal yang berasal dari sel-sel embrionik retina sensoris dan merupakan keganasan primer intraokular yang paling sering terjadi pada anak, mewakili sekitar 3% dari semua kasus keganasan pada anak. Retinoblastoma masih merupakan masalah di negara berkembang termasuk di Indonesia dan merupakan kanker anak yang tertinggi kedua setelah leukemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah kasus dan karakteristik pasien retinoblastoma di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung Periode Tahun 2012 ─ 2016. Metode penelitian yang digunakan merupakan metode deskriptif dengan mengambil data dari rekam medis periode 2012 ─ 2016. Hasil penelitian menunjukan jumlah kasus retinoblastoma tahun 2012 ─ 2016 terjadi sebanyak 196 kasus, kasus terbanyak terjadi pada tahun 2015 sebanyak 64 kasus (33%), diikuti tahun 2016 sebanyak 60 kasus (31%). Pasien terbanyak adalah laki-laki didapatkan  sebanyak 51 kasus (54,8%). Usia terbanyak terjadi pada usia 0-<3 tahun dengan jumlah 42 kasus (45,2%) sedangkan paling sedikit pada usia lebih dari 5 tahun. Retinoblastoma unilateral lebih banyak yaitu berjumlah 78 kasus (83,9%). Keluhan utama terbanyak pada pasien retinoblastoma yaitu leukokoria 55 kasus (59,1%) diikuti proptosis 28 kasus (34,4%). Pasien retinoblastoma yang sudah menginvasi nervus optikus ditemukan sebanyak 67 kasus (72%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah  pasien retinoblastoma umumnya laki-laki, usia kurang dari 3 tahun, terjadi secara unilateral, dengan keluhan utama leukokoria dan mayoritas telah menginvasi nervus optikus.
PENGARUH LAMA PERENDAMAN SUSPENSI VITAMIN C TERHADAP PELEPASAN ION KROMIUM PADA KAWAT STAINLESS STEEL Herawati, Hillda; Dewi, Zwista Yulia; Pujarama, Anne Utami Puspita
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2018): Medika Kartika Edisi PIT 10 Kedokteran Gigi
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawat ortodontik stainless steel (SS) mengandung unsur kromium yang memiliki sifat tahan terhadap korosi sehingga banyak digunakan dalam perawatan ortodontik. Vitamin C atau asam askorbat merupakan salah satu vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh.Vitamin C bermanfaat dalam menjaga keutuhan kolagen. Kolagen mempunyai berbagai peran penting bagi tubuh yaitu membantu penyembuhan luka, memelihara kesehatan jaringan penghubung, dan membantu melindungi sel-sel tubuh. Salah satu pengobatan terhadap defisiensi vitamin C adalah dengan mengkonsumsi vitamin C selama 7-10 hari. Vitamin C mempunyai sifat asam yang dapat menyebabkan reaksi kimia sehingga bersifat korosif dan dapat mengoksidasi logam kawat dengan cara melepaskan ion-ion yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama perendaman kawat SS dalam larutan vitamin C terhadap pelepasan ion kromium. Metode penelitian adalah laboratorium eksperimental.. Teknik pengambilan sampel menggunakan quota sampling atau pengambilan sampel berjatah yaitu kawat SS sebanyak 10 buah. Seluruh sampel direndam di dalam larutan vitamin C sebanyak 10 ml selama satu menit dalam 7 hari. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdeteksi pelepasan ion kromium tertinggi pada pengukuran hari keenam dalam konsentrasi rendah sebesar 0,0190 mg/l. Pelepasan ion kromium terjadi karena kawat SS mengalami oksidasi berkontak dengan vitamin C yang asam. Hasil analisis statistik uji multivariat General Linear Model-Repeated Measure (GLM-RM) menunjukan nilai signifikansi sebesar 0,476 atau p>0,05 artinya tidak terdapat pengaruh yang bermakna pada lama perendaman kawat SS dalam larutan vitamin C terhadap pelepasan ion kromium sampai pada hari ketujuh. Pelepasan ion kromium kawat SS terdeteksi dalam batas aman sehingga vitamin C aman digunakan untuk pengguna ortodontik.
RESTORASI MAHKOTA PASAK DENGAN FERRULE PASCA TRAUMA GIGI ANTERIOR LAPORAN KASUS Safira, Rheni; Putriani, Wivda
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Estetik pada gigi menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat untuk mendukung penampilan dan meningkatkan kepercayaan diri dengan memiliki susunan gigi yang rapih dan senyum yang lebih estetis. Gigi memerlukan restorasi mahkota pasak karena beberapa faktor penyebab di antaranya kerusakan mahkota yang sudah sangat parah. Pada laporan kasus ini akan dibahas tentang perawatan restorasi gigi indirect dengan mahkota pasak pada gigi anterior pasca trauma yang mengakibatkan fraktur gigi dengan keterlibatan pulpa. Dengan cara ini dihasilkan suatu restorasi mahkota pasak yang akurat, retentif dan nilai estetik yang baik.  
HUBUNGAN PANJANG TELAPAK KAKI DENGAN TINGGI LENGKUNG LONGITUDINAL MEDIAL KAKI PADA MAHASISWA FK UNJANI TAHUN 2016 Saadah, Hindun
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2 No 2 (2019): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kaki merupakan salah satu bagian dari tubuh yang berperan dalam aktifitas berjalan dan berdiri. Lengkung longitudial medial (LLM) merupakan bagian dari lengkung kaki yang  berperan penting dalam kedua proses diatas. Pada saat berdiri dan berjalan, LLM dapat mengalami perubahan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan panjang telapak kaki dengan tinggi LLM. Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain penelitian potong lintang (cross sectional). Subjek penelitian sebanyak 59 orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Unjani (FK Unjani) yang sebelumnya diseleksi sesuai dengan kriteria inklusi. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran panjang telapak kaki dan pengukuran tinggi lengkung longitudinal medial dengan menggunakan mistar. Hasil penelitian hubungan panjang telapak kaki dengan tinggi LLM didapatkan p value<0,05. Terdapat hubungan yang signifikan antara panjang telapak kaki dengan tinggi LLM kaki yaitu semakin panjang telapak kaki semakin rendah tinggi LLM kaki.
PENCITRAAN CBCT 3D KASUS TEMUAN INSIDENTAL PADA RADIOGRAF PANORAMIK Azhari, Azhari; Pamadya, Sandy
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2018): Medika Kartika Edisi PIT 10 Kedokteran Gigi
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemeriksaan radiologi konvensional menjadi pilihan dokter gigi sebagai penunjang dalam menentukan diagnosis dan rencana perawatan karena harganya yang murah dan hasilnya cukup akurat. Temuan insidental kadang ditemukan pada pemeriksaan radiodiagnostik konvensional tanpa adanya gejala klinis. Laporan Kasus 1: Seorang perempuan usia 24 tahun datang ke Departemen Bedah Mulut RSHS Bandung dengan keluhan gigi taring atas kanannya belum tumbuh. Radiograf panoramik menemukan adanya lesi radiolusen bulat di periapikal gigi 44 dengan struktur internal radiolusen dan radioopak kecil di tengahnya, tanpa gejala klinis. Pasien lalu disarankan untuk melakukan pemeriksaan CBCT 3D. Berdasarkan anamnesis, temuan klinis dan radiograf, radiodiagnosis lesi di periapikal gigi 44 adalah periapical osseus dysplasia. Laporan Kasus 2: Seorang wanita usia 43 tahun dengan keluhan sinusitis dirujuk ke Instalasi Radiologi Kedokteran Gigi RSGM Unpad. Hasil radiograf panoramik sebelumnya yang dbawa oleh pasien tersebut menunjukkan gambaran radiointermediat pada dinding dan dasar sinus maksilaris kanan. Berkebalikan dengan sinus kanan yang merupakan keluhan utama, pada sinus kiri yang tidak memiliki gejala apapun tampak gambaran samar radioopak berukuran sedang, menempel pada dasar sinus maksilaris kiri dan memanjang ke arah superior. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan CBCT 3D untuk melihat lebih jelas lesi pada sinus maksilaris kiri. Radiodiagnosisnya adalah osteoma pada sinus maksilaris kiri. Temuan insidental pada radiograf rutin ataupun diagnostik dapat menunjukkan lesi tanpa gejala yang berpotensi menjadi ganas. Pemeriksaan radiografi harus menjadi pilihan ketika hasil pemeriksaan klinis menimbulkan keraguan. Diagnosis akhir kadang baru dapat ditegakkan dengan tambahan pemeriksaan histopatologis, setelah melakukan anamnesis pemeriksaan klinis dan radiografis. Pemeriksaan radiografi kadang menunjukkan lesi tanpa gejala klinis. Lesi-lesi tersebut dapat berpotensi untuk menjadi ganas. Pencitraan CBCT 3D dapat menunjukkan gambaran yang tidak dapat terlihat pada pencitraan konvensional.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG PENCEGAHAN KARIES DAN HUBUNGANNYA DENGAN KEJADIAN EARLY CHILDHOOD CARIES PADA ANAK USIA PRA SEKOLAH DI KOTA CIMAHI Fithriyah, Rhabiah El; Herryawan, Herryawan
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1 No 2 (2018): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Early childhood caries (ECC) adalah terdapatnya satu atau lebih kerusakan gigi yang terjadi pada bayi sampai usia 71 bulan. Pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut orang tua khususnya ibu berperan penting dalam mengubah kebiasaan buruk anaknya yang dapat menyebabkan karies. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang pencegahan karies dan hubungannya dengan kejadian ECC pada anak usia pra sekolah di kota Cimahi. Penelitian untuk penilaian tingkat pengetahuan ibu adalah dengan memberikan kuisioner kepada para ibu subjek penelitian dan memeriksa karies pada anak dan diukur menggunakan indeks dmf. Jumlah murid pada 7 TK terpilih sebanyak 219 orang dan subjek dalam penelitian ini yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yaitu sebanyak 172 orang yang terdiri dari ibu beserta anaknya yang berusia 3 – 5 tahun. Hasil penelitian tingkat pengetahuan ibu di kota Cimahi mengenai kesehatan gigi dan mulut paling banyak berada dalam kategori cukup yaitu sebanyak 111 orang (64,5%). Pada tingkat pengetahuan baik, indeks karies berada pada kategori sangat tinggi(30,3%). Pada tingkat pengetahuan cukup, indeks karies berada pada kategori sedang (36,0%) sedangkan pada tingkat pengetahuan buruk, indeks karies berada pada kategori sangat tinggi (100%). Penelitian ini menyimpulkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu mengenai kebersihan gigi dan mulut dengan kejadian ECC pada anak usia pra sekolah di kota Cimahi
EFEK DIKLOFENAK DAN VCO TERHADAP EKSPRESI RESEPTOR EP3 PADA TIKUS STRAIN WISTAR ADIKSI NIKOTIN KONDISI DEPENDENCE Anggraeny, Dian; Barlian, Anggraini; Anggadiredja, Kusnandar
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perilaku ketergantungan rokok timbul akibat adanya nikotin sebagai komponen psikoaktif utama. Salah satu mekanisme yang diduga berperan adalah proses fisiologis yang melibatkan metabolisme asam arakhidonat yang dapat diamati melalui perubahan ekspresi gen reseptor epiprostanoid (EP3) di otak. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari ekspresi reseptor EP3 pada model tikus adiksi nikotin kondisi dependence, dan yang diberi pre-treatment dengan diklofenak dan VCO. Tikus-tikus secara random dibagi menjadi: kelompok 1 (N) diberi nikotin saja (0,5mg/kg i.p.), kelompok 2 (Nd) diberi pre-treatment diklofenak (3,2mg/kg i.p.) dan kelompok 3 (NVCO) diberi pre-treatment VCO (5ml/kg p.o.) sebelum pemberian nikotin. Pengukuran ekspresi dilakukan saat tikus telah mengalami ketergantungan (dependence) menggunakan metode Conditioned Place Preference (CPP).  Tikus-tikus diambil bagian otak hipokampus dan bulbus olfaktoriusnya, kemudian dilakukan isolasi protein, elektroforesis dan ditransfer ke membran PVDF menggunakan metode Western Blotting. Selanjutnya dilakukan teknik Enhanced Chemiluminescence (ECL) menggunakan antibodi primer rabbit polyclonal anti reseptor EP3 (Abcam) dan antibodi rabbit polyclonal anti-actin (Abcam) sebagai kontrol internal. Pita yang terbentuk didedahkan pada film dan dihitung dengan scion image secara semi kuantitatif. Ekspresi reseptor EP3 paling tinggi ditemukan pada kelompok tikus yang hanya diberi nikotin, dan menurun pada kelompok tikus yang diberi diklofenak dan VCO. Pada sampel dari tikus yang diberi VCO, teramati penurunan ekspresi reseptor EP3 yang sebanding dengan yang diberi diklofenak. Paparan nikotin secara berulang akan meningkatkan ekspresi reseptor EP3 yang dapat ditekan dengan pemberian diklofenak. Penurunan ekspresi reseptor EP3 dengan pemberian VCO memiliki pola yang mirip dengan pemberian diklofenak.
HUBUNGAN TINGKAT KOGNITIF DENGAN PEMAHAMAN PASIEN GERIATRI TERHADAP INFORMED CONSENT Taufan, Ali
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2 No 1 (2018): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keputusan medik yang dibangun secara bersama antara dokter dan pasien sangat penting dalam proses pengobatan. Menghargai hak individu adalah salah satu prinsip etika klinik tidak mudah penerapannya sehingga pasien dapat mengambil keputusan, dokter mempunyai kewajiban untuk mendorong pasien membuat keputusan pilihan secara mandiri. Fungsi kognitif berperan penting dalam mengambil keputusan berdasarkan informed consent yang diberikan oleh dokter dalam pengobatan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan tingkat kognitif dengan pemahaman pasien geriatrik terhadap informed consent. Metode penelitian menggunakan pendekatan cross sectional dengan teknik pengambilan sampel consecutive sampling pada 40 orang pasien geriatric RS Dustira. Data dianalisis menggunakan Chi-Square Tests untuk melihat hubungan dua variabel (p < 0,05). Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan bermakna antara tingkat kognitif dengan pemahaman pasien geriatrik terhadap informed consent (p=0,00). Sejumlah 16 pasien geriatri dengan kognitif yang normal memiliki pemahaman yang baik. Pada pasien dengan probable gangguan kognitif didapatkan 10 pasien memiliki pemahaman yang baik, 12 pasien memiliki pemahaman sedang, dan 2 pasien memiliki pemahaman buruk.

Page 1 of 4 | Total Record : 40