cover
Contact Name
Dr. Ferius Soewito, SpKFR
Contact Email
-
Phone
021-31937910
Journal Mail Official
jinma_mki@idionline.org
Editorial Address
Jl. Dr. G. S. S. Y Ratulangie No. 29, Menteng, Jakarta Pusat 10350
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Journal of the Indonesian Medical Association : Majalah Kedokteran Indonesia
ISSN : 20891067     EISSN : 26543796     DOI : -
Journal Of The Indonesian Medical Association (JInMA) / Majalah Kedokteran Indonesia (MKI) adalah Jurnal yang berada di bawah naungan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dan sebagai Kanal InformasiIlmiah di Kalangan Dokter Umum dan Dokter Spesialis serta Profesi Terkait.
Articles 98 Documents
TUBERKULOSIS: STATUS QUO? Cahyadi, Alius
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 68 No 8 (2018): Journal of the Indonesian Medical Association Majalah Kedokteran Indonesia Volum
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas wilayah mencapai 1,7 juta km2 yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dan memiliki populasi sebesar 260 juta jiwa.1Beberapa penyakit infeksi masih menjadi masalah endemik di Indonesia, termasuk tuberkulosis. Tuberkulosis tidak hanya menjadi masalah kesehatan di Indonesia tetapi masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia. Bahkan dalam 5 tahun terakhir menjadi penyebab utama kematian yang disebabkan oleh infeksi tunggal. Diagnosis dan tata laksana yang tepat dapat menyembuhkan sebagian besar penderita tuberkulosis.2
HUBUNGAN ANTARA GANGGUAN DEPRESI DENGAN KUALITAS HIDUP, STRESOR PSIKOSOSIAL, DAN TINGKAT KONTROL ASMA PADA PASIEN ASMA DI RSUPN DR. CIPTO MANGUNKUSUMO Putro, Agung W; Kusumadewi, Irmia; Rengganis, Iris; Agiananda, Feranindhya
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 68 No 8 (2018): Journal of the Indonesian Medical Association Majalah Kedokteran Indonesia Volum
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Tingkat kontrol asma buruk dan gangguan komorbid misalnya depresi dan stres psikososial akan memengaruhi kualitas hidup pasien asma serta meningkatkan beban ekonomi yang ditanggung oleh pasien dan keluarganya. Kami menginvestigasi korelasi antara gangguan depresi, kualitas hidup, stresor psikososial dan tingkat kontrol asma pada pasien asma. Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional deskriptif-analitik pada 37 pasien asma penderita depresi dan 37 pasien asma bukan penderita depresi di Poliklinik Alergi dan Imunologi RSCM Jakarta menggunakan kuesioner SCID-1, WHOQOL-BREF, stresor psikososial Holmes & Rahe, dan ACT. Hasil: Terdapat hubungan antara gangguan depresi dengan skor kualitas hidup yang lebih rendah berdasarkan kesehatan fisik (p<0,001), kesehatan psikologis (p<0,001), relasi sosial (p=0,023), lingkungan (p=0,022), stresor psikososial (OR 3,85; p=0,005), dan tingkat kontrol asma (p=0,001) pada pasien asma. Kesimpulan: Pasien asma yang memiliki gangguan depresi cenderung memiliki skor kualitas hidup yang lebih rendah pada semua domain (kesehatan fisik, kesehatan psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan) dan skor tingkat kontrol asma lebih rendah dibandingkan pasien asma yang tidak memiliki gangguan depresi. Pasien asma dengan stresor psikososial berisiko 3,8 kali lebih tinggi memiliki gangguan depresi.
KOMORBIDITAS FISIK PADA GANGGUAN BIPOLAR DI RS. DR. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR Tinambunan, Iriawan Rembak; Amir, Nurmiati; Budiman, Richard; Kusumaningrum, Profitasari
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 68 No 8 (2018): Journal of the Indonesian Medical Association Majalah Kedokteran Indonesia Volum
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Gangguan bipolar dikenal memiliki kaitan dengan berbagai komorbiditas klinis yang memengaruhi pekerjaan, kehidupan berkeluarga, dan fungsi interpersonal. Duapertiga pasien dengan gangguan bipolar memiliki komorbid yang akan memperburuk luaran gangguan bipolar dan dapat menganggu penatalaksanaan terhadap penyakitnya. Belum ada penelitian yang menggambarkan frekuensi komorbiditas fisik yang terjadi pada penderita bipolar di Indonesia. Rumah Sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi sebagai rumah sakit jiwa tertua di Indonesia juga belum memiliki data mengenai jenis dan frekuensi komorbid fisik, mengingat bahwa rumah sakit ini juga menangani rawat inap umum di samping rawat inap psikiatri. Metode: Penelitian menggunakan rancangan potong lintang pada 100 orang dengan Gangguan Bipolar di Poliklinik Jiwa Dewasa dan Bangsal Psikiatri R.S. Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor. Penelitian ini menggunakan instrument Structured Clinical Interview For the DSM-IV Axis I Disorders untuk menentukan Gangguan Bipolar, dan kriteria diagnostik sepuluh komorbid fisik yang mengacu pada kriteria diagnostik masing-masing komorbid fisik. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan adanya hubungan bermakna antara umur dengan terjadinya komorbid fisik yaitu p= 0.001(p di bawah 0.005). Pada analisis tambahan didapatkan adanya hubungan bermakna antara pemberian obat polifarmasi/monoterapi dengan terjadinya komobid fisik terbanyak yakni hipertensi (nilai p= 0,0001). Pada sepuluh komorbid fisik yang dinilai, migrain, hipertensi dan dermatitis merupakan yang paling banyak. Kesimpulan: Hipertensi, migrain dan dermatitis merupakan tiga besar komorbid fisik di R.S. Dr. Marzoeki Mahdi Bogor. Terdapat hubungan bermakna antara umur dengan terjadinya komorbid fisik. Pemberian obat polifarmasi/monoterapi juga bermakna dalam terjadinya hipertensi. Diperlukan kewaspadaan psikiater dalam mengawasi terjadinya komorbid fisik pada gangguan bipolar di layanan psikiatri. 
PULMONARY VASCULAR OBSTRUCTIVE DISEASE PREVENTION: A CASE REPORT OF MANAGEMENT APPROACH IN CAVSD WITH LARGE PDA Hazami, Zakky; Putra, Bayushi Eka; Hendrarto, Toto Wisnu
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 68 No 8 (2018): Journal of the Indonesian Medical Association Majalah Kedokteran Indonesia Volum
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Complete atrioventricular septal defect (CAVSD) and large patent ductus arteriosus (PDA) are considered as one of special conditionwhich need attention regarding its diagnosis and management. When CAVSD and large PDA is concomitant, the management is different from the simple case of CAVSD. Objective: Early recognition and optimal management of CAVSD and large PDA in area with limited medical facilities. Methods: This study will be presented as a case report. Case Illustration: A twenty-days-old female neonate was born with CAVSD and large PDA. The baby was in the 37 weeks gestational age when she was born spontaneously with APGAR score 8/9 and birth weight of 2890 g. Conservative approach was preferred as the patient was treated with captopril 0.8 mg three times a day, spironolactone2mg twice a day and hydrochlorothiazide 1 mg twice a day to prevent heart failure. Conclusion: Pre-ductal and post-ductal oximetry test measurement is a reliable approach to screen patient with congenital heart disease which might be applied in medical center with limited medical facilities. Moreover, regarding the management, it might be beneficial to conduct early pulmonary artery banding.
PENGARUH FAKTOR INTERNAL KELUARGA DAN PERAN PETUGAS KESEHATAN TERHADAP PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF Fajriani, Evalina; Sulistijono, Eko; Wahyuni, Endang Sri
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 68 No 8 (2018): Journal of the Indonesian Medical Association Majalah Kedokteran Indonesia Volum
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Dunia memberikan perhatian yang tinggi atas realisasi pemberian ASI eksklusif, termasuk pemerintah Indonesia. Fakta di Indonesia belum mencapai persentase yang diharapkan, termasuk di Kabupaten Lombok Utara masih pada kisaran 61,2%. Wilayah lain di Provinsi NTB, yaitu Kabupaten Lombok Barat telah mampu merealisasikan pemberian ASI eksklusif sebesar 96,42%. Penelitian atas faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif pada dua wilayah tersebut sangat penting untuk dilakukan. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui signifikansi pengaruh dari faktor internal keluarga berupa (struktur keluarga, pendidikan ibu, pendidikan ayah, pekerjaan ibu, pekerjaan ayah, pengetahuan ibu, pengetahuan ayah dan riwayat antenatal care) serta untuk mengetahui peran petugas kesehatan terhadap pemberian ASI Eksklusif di wilayah Puskesmas Kuripan Kabupaten Lombok Barat dan Puskesmas Gangga Kabupaten Lombok Utara. Metode: Desain penelitian menggunakan kuantitatif asosiatif, pengumpulan data dengan penyebaran angket dan analisis data menggunakan logistic regression. Hasil Penelitian dari responden penelitian sebanyak 170 orang, ditemukan sebanyak 54,1% tidak memberikan ASI eksklusif dan 45,9% memberikan ASI eksklusif. Faktor keluarga mendapatkan penilaian dengan kriteria sedang dalam memberikan dukungan (rata-rata skor 3,34), tingkat pendidikan ibu secara umum masih rendah (37,65% tamat SD dan tidak tamat SD), kriteria tersebut relatif sama dengan pendidikan ayah, pekerjaan ibu dan umumnya non pegawai masing-masing sebanyak 81,18% dan 80,59%, pengetahuan ibu dan ayah mengenai ASI eksklusif masih pada kriteria sedang, ibu umumnya menjalankan antenatal care (78,8%) dan peran tugas masih belum optimal (rata-rata skor 3,25). Model logistic regression yang dihasilkan memenuhi kriteria model yang fit, artinya setiap penambahan variabel dalam model akan meningkatnya fitnya persamaan. Uji wald (signifikansi parsial) menemukan hanya pengetahuan ibu dan peran petugas kesehatan yang berpengaruh signifikan pada alpha 5,0% terhadap probabiliti ibu memberikan ASI eksklusif di wilayah Puskesmas Kuripan dan Gangga. Kesimpulan: Dapat dinyatakan bahwa peran vital dalam merealisasikan pemberian ASI eksklusif berupa peran petugas yang diarahkan langsung pada peningkatan pengetahuan, kesadaran dan pembentukan perilaku pada ibu.
SIX MINUTE WALKING DISTANCE CUT-OFF POINT IN INDONESIAN (MONGOLOID) POPULATION Nusdwinuringtyas, Nury
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 68 No 8 (2018): Journal of the Indonesian Medical Association Majalah Kedokteran Indonesia Volum
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Six-minute walk test has been a recommended valid and reliable tool used for functional capacity assessment. American Thoracic Society (ATS) had stated that there are no global standards in interpreting 6-minute walking distance (6MWD) as a one-time measurement of functional assessment, which may be caused by population differences and various 6MWT technique utilized in previous studies. Single time cut off is required to evaluate functional status at the start of a program as a baseline for further follow-up evaluations. It is then a necessity to determine these cut off points in every country/race. Methods: The study was performed on healthy subjects, sedentary lifestyle, age 18-50, Indonesian ethnicity (Mongoloid race). Recorded data were 6 minute walking distance,also body height and weight. Predicted walking distance based on gender is obtained by calculating walk distance, body weight, body height, gender and subject age in Nury?s predicted walk distance formula. Data is analysed with SPSS 20, utilizing independent T-test. Results: As much as 123 subjects (58 males, 65 females) were included in this study. Mean walking distance for males is 581,98 meters, while females are 516,80 meters, and these differences were statistically significant. Walking distance cut off point between gender were compared. In male subjects, actual walking distance were taken as normalif >483 meters, poor if 434-483 meters, and very poor <434 meters. As for female subjects, normal when >442 meters, poor when 405-442 meters, and very poor in distance <405 meters. General percentage cut off point in comparison to predicted walking distance was categorized into normal, poor and very poor subgroups. Normal percentage was >85%, poor when distance is 77-85%, and <77% categorized as very poor. Conclusion: There are varying cut off points for walking distance in both males and females. Percentage cut off point as compared to predicted walking distance were not differentiated between genders.
THE ROLE OF CONTRACEPTION IN THE PAST, PRESENT AND FUTURE Gunardi, Eka Rusdianto; Khusen, Denny; Winston, Kevin
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 68 No 8 (2018): Journal of the Indonesian Medical Association Majalah Kedokteran Indonesia Volum
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Contraceptives play an undeniable important role in woman?s lives. It is widely accepted that the availability of both hormonal and non-hormonal modern contraceptives have improved 0 women?s lives worldwide by allowing women to control their own fertility. Indirectly, contraceptives have been shown to reduce maternal mortality, unwanted pregnancy, and overpopulation. However, the contraceptives available today may not be suitable for all users. Furthermore, there is still need to expand available current contraceptives choices especially long-term contraceptives in order to improve acceptability. As a result, several novel products such as implants, contraceptive vaginal rings, and transdermal patches have recently been introduced in family planning programs. Additional issue of contraceptive needed to be addressed is the adverse effects of hormonal contraceptives. Therefore, new combinations with an improved metabolic profile is currently being researched. Generally, the introduction of new methods with additional health benefits and less side effects would help women with their unmet needs to obtain access to a wider range of contraceptives.
ABORSI DI INDONESIA Ocviyanti, Dwiana; Dorothea, Maya
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 68 No 6 (2018): Journal of the Indonesian Medical Association Majalah Kedokteran Indonesia Volum
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehamilan tidak diinginkan umumnya berdampak buruk bagi perempuan, terutama jika terjadi pada remaja perempuan. Kehamilan tidak diinginkan pada remaja perempuan dapat menyebabkan putus sekolah, gangguan pada kehamilan karena usia yang terlalu muda, ketidaksiapan mental remaja perempuan menghadapi perannya di masa yang akan datang, dan juga berdampak pada perkembangan anak yang dikandungnya.
GAMBARAN KLINIS DAN PROPORSI HIPOTIROIDISME SEKUNDER PADA PASIEN ADENOMA HIPOFISIS DI RUMAH SAKIT CIPTO MANGUNKUSUMO Cahyanur, Rahmat; Soewondo, Pradana; Darmowidjojo, Budiman; Aman, Renindra Ananda; Dewiasty, Esthika
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 68 No 6 (2018): Journal of the Indonesian Medical Association Majalah Kedokteran Indonesia Volum
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Adenoma hipofisis merupakan tumor yang berasal dari jaringan hipofisis anterior. Manifestasi klinis timbul akibat pendesakan massa dan gangguan sekresi hormon. Salah satu gangguan hormonal yang ditimbulkan adalah hipotiroidisme sekunder. Hipotiroidisme sekunder terkait dengan penurunan kualitas hidup serta peningkatan risiko kardiovaskular. Tujuan: Mengetahui proporsi hipotiroidisme sekunder dan gambaran klinis pasien adenoma hipofisis. Metode: Penelitian ini adalah studi potong lintang. Data diambil dari rekam medis pasien di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo antara tahun 2007-2012. Data demografis (usia, jenis kelamin), karakteristik klinis, jenis adenoma, data radiologis, pemeriksaan hormon (T4 bebas dan TSH) dievaluasi pada peneltian ini. Hasil: Terdapat 45 pasien yang memenuhi kriteria penelitian ini. Sebagian besar subyek adalah wanita (62,2%). Keluhan utama subyek adalah gangguan penglihatan (55,6%). Gejala yang sering ditemukan adalah sakit kepala (86,7%), gangguan penglihatan (77,8%). Pada subyek wanita manifestasi yang pertama kali muncul adalah gangguan penglihatan dan gangguan fungsi seksual (39,3% dan 32,1%). Pada Usia muda, gejala pertama kali muncul lebih pada kelompok adenoma fungsional dibandingkan non fungsional (32,9 vs. 40,6). Hampir seluruh kasus yang ditemukan adalah makroadenoma (97,8%). Proporsi subyek yang mengalami hipotiroidisme sekunder adalah 40%. Subyek dengan hipotiroidisme sekunder lebih banyak mengeluhkan gangguan penglihatan dan gangguan ereksi. Kesimpulan: Gangguan penglihatan adalah keluhan utama yang sering ditemukan. Pada subyek wanita, keluhan gangguan fungsi seksual bersama dengan gangguan penglihatan adalah manifestasi yang pertama kali muncul. Proporsi hipotiroidisme sekunder pada penelitian ini adalah 40,0%. Subyek dengan hipotiroidisme sekunder lebih banyak mengeluhkan gangguan penglihatan, gangguan ereksi.
HUBUNGAN ANTARA JUMLAH JAM KERJA PENGEMUDI TAXI DENGAN PENINGKATAN TEKANAN DARAH SERTA FAKTOR-FAKTOR LAIN YANG BERHUBUNGAN D, Friska; W, Roestam A; B, Marbun M
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 68 No 6 (2018): Journal of the Indonesian Medical Association Majalah Kedokteran Indonesia Volum
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Banyak penelitian menyatakan jumlah jam kerja yang panjang dapat menyebabkan hipertensi dan penyakit kardiovaskular lainnya. Pengemudi taksi mempunyai jumlah jam kerja > 8 jam/hari. Prevalensi hipertensi di Pool Kelapa Gading PT.X sebesar 27,4% dan pada tahun sebelumnya terdapat 2 orang pengemudi di pool tersebut meninggal dunia saat sedang bekerja dan dikatakan menderita stroke hemoragik serta dengan riwayat hipertensi. Metode: Penelitian dilakukan secara potong lintang, pada responden dilakukan pengukuran tekanan darah saat berangkat dan pulang selesai bekerja serta pengumpulan data untuk factor risiko yang lain. Metode analisis yang digunakan adalah regresi logistik dengan program STATA. Hasil: Penelitian dilakukan terhadap 129 responden, terdapat peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik yang bermakna secara statistik saat selesai bekerja dibandingkan dengan tekanan darah saat berangkat kerja. Jumlah jam kerja 8 jam sampai < 10 jam dan > 16 jam mempunyai faktor risiko masing masing 5 dan 6 kali lebih besar untuk mengalami peningkatan tekanan darah sistolik > 10 mmHg. Jumlah jam kerja 14 jam sampai < 16 jam mempunyai factor risiko hampir 5 kali lebih besar untuk mengalami peningkatan tekanan darah diastolik > 5 mmHg. Terdapat penurunan jumlah responden yang masuk dalam kategori normotensi (67,4% menjadi 37,3%), peningkatan jumlah responden yang masuk dalam kategori prehipertensi (22,5% menjadi 34,1%), hipertensi grade 1 (8,5% menjadi 25,6%) dan hipertensi grade 2 (1,6% menjadi 3,1%) berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah saat berangkat dan pulang selesai bekerja. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara jumlah jam kerja pengemudi taksi yang panjang dengan peningkatan tekanan darah sistolik serta diastolik.

Page 1 of 10 | Total Record : 98