cover
Contact Name
Sisva Maryadi
Contact Email
45trea@gmail.com
Phone
+6281374389611
Journal Mail Official
jurnalhandep.bpnbkalbar@kemdikbud.go.id
Editorial Address
Jalan Sutoyo Pontianak, Kalimantan Barat
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya
ISSN : 26140209     EISSN : 26847256     DOI : https://doi.org/10.33652/handep
Core Subject : Social,
Handep merupakan seri penerbitan kajian sejarah dan budaya yang dilaksanakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat. Skop utama dari penerbitan ini adalah sejarah dan budaya. Kami memprioritaskan tulisan yang memuat isu tentang Kalimantan.
Articles 40 Documents
TINJAUAN KARAKTERISTIK DANGDUT KOPLO SEBAGAI PERKEMBANGAN GENRE MUSIK DANGDUT Setiaji, Denis
Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya Volume 1, No. 1, December 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3423.87 KB) | DOI: 10.33652/handep.v1i1.13

Abstract

Penelitian ini difokuskan untuk meninjau karakteristik Dangdut Koplo secara tekstual. Riset yang dilakukan menggunakan metode fenomenologi dengan melakukan studi lapangan ke sejumlah wilayah pertunjukan Dangdut Koplo di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Perkembangan dangdut secara historis, dipaparkan melalui sejumlah riset dalam menelusuri karakteristik dangdut yang pada akhirnya berbeda dengan Dangdut Koplo. Sejumlah fakta hasil riset dan studi lapangan menghasilkan sejumlah unsur yang membangun karakteristik Dangdut Koplo berupa, (1) pola permainan khusus pada gendang, (2) kecenderungan tempo cepat, (3) pertunjukan dengan unsur erotisme, (4) Pencampuran aransemen berbagai genre, dan (5) trend variasi berupa jem-jeman yang diikuti senggakan. Pada akhirnya Dangdut Koplo merupakan produk perkembangan dari dangdut sebagai manifestasi dari kreativitas para praktisinya yang menkolaborasikan dangdut dengan pengaruh estetika lokal.
DIASPORA DAN PEMBENTUKAN IDENTITAS ETNIS ARAB DI KOTA MANADO Azis, Muhammad Nur Ichsan
Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya Volume 4, No. 1, December 2020
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33652/handep.v4i1.107

Abstract

This paper describes the Arab people in Manado, as ethnic groups, traders and influentialpeople in the late 19th century to the early 20th century. The Arabs were classified aspeople who are active in trading activities, especially in the shift of commodities, until themid-20th century. They were one of the ethnic groups that play several important roles inthe structure of Indonesian society, including in Manado. These activities influenced theprocess of population movement, diaspora, identity formation, and the axis of commercialnetworks towards the beginning of the 20th century. Manado was a strategic area thatconnected several major and small cities for Arab traders. This paper used historical methodsto examine Arab communities that still survive today. The diaspora of the Arabs to Manadostrengthen the Arabs in Indonesian archipelago. The network that was formed had animpact on the religious identity attached to the Arabs in Manado towards the early 20thcentury AD. One of factors driving the power of the Arabs was the economy which can takeadvantage of the space among other business actors. As a result, they became a new forcein the early 20th century that they were able to attract local people’s attention to stayconnected.
KERUNTUHAN BIROKRASI TRADISIONAL DI KASUNANAN SURAKARTA Prasadana, Muhammad Anggie Farizqi; Gunawan, Hendri
Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya Volume 2, No. 2, June 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1047.987 KB) | DOI: 10.33652/handep.v2i2.36

Abstract

Kasunanan Surakarta merupakan salah satu kerajaan semi-otonom yang diberi hak oleh Belanda untuk mengatur birokrasinya sendiri. Birokrasinya adalah birokrasi tradisional. Kekuasaan pemerintah kolonial yang kian menguat, terutama selepas Perang Jawa, menjadikan birokrasi itu berkedudukan di bawah birokrasi kolonial. Ketika Indonesia merdeka, birokrasi tradisional di Kasunanan hancur dan digantikan oleh birokrasi modern. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan proses keruntuhan birokrasi tradisional di Kasunanan Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang dimulai dari pengumpulan sumber (heuristik), melakukan kritik sumber, interpretasi sumber, dan yang terakhir menuliskan hasilnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keruntuhan birokrasi tradisional di Kasunanan Surakarta disebabkan oleh tuntutan yang disuarakan kalangan anti-swapraja yang menganggap kerajaan sebagai kaki tangan Belanda dan ketidakpedulian Sunan terhadap gerakan revolusi yang sedang menggema. Keruntuhannya sejalan dengan hilangnya status istimewa yang sempat dirasakan wilayah Surakarta. Setelah runtuh, pemerintah Republik Indonesia membentuk birokrasi modern di daerah Surakarta dan menempatkannya di bawah provinsi Jawa Tengah.
HAJI SULAWESI SELATAN PADA MASA NEGARA INDONESIA TIMUR (NIT) (1946-1950) Akbar, Adil
Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya Volume 4 No. 2 June 2021
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33652/handep.v4i2.136

Abstract

This article discusses two things. First, the historiography of the pilgrimage in South Sulawesi during the State of East Indonesia. Second, the correlation between rice and copra as commodities had impacts on economic growth in South Sulawesi. The method used in this article was the historical method by analyzing mainly contemporary archives. This study shows that the people in South Sulawesi can perform the pilgrimage due to the economic growth through rice and copra trade activities in this area, at least during the State of East Indonesia in 1946-1950. One of the benchmarks of economic growth is the number of people in South Sulawesi performing the pilgrimage, especially those who come from rice and copra producing areas.
URGENSI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM MASYARAKAT PLURAL (STUDI KASUS DI KOTA SINGKAWANG) Juniardi, Karel; Marjito, Emusti Rivasintha
Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya Volume 1, No. 2, June 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.081 KB) | DOI: 10.33652/handep.v1i2.11

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum, tradisi budaya, dan urgensi pendidikan multikultural di sekolah Kota Singkawang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan bentuk strategi studi kasus terpancang. Sumber data yang digunakan yaitu informan, tempat dan peristiwa, dokumen, serta literatur. Validitas data menggunakan triangulasi dan teknik analisa data menggunakan teknik analisis interaktif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pendidikan multikultural di Kota Singkawang penting untuk memberikan sikap toleransi dalam kehidupan plural masyarakatnya. Salah satu bentuk pendidikan berupa penyelenggaraan upacara tradisi budaya yang dimasukkan dalam materi pelajaran di sekolah.
BAHASA MELAYU RENDAH DALAM SURAT KONGSI CINA LANFONG DI KALIMANTAN BARAT PERIODE KOLONIAL Listiana, Dana
Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya Volume 2, No. 1, December 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1158.27 KB) | DOI: 10.33652/handep.v2i1.23

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan salah satu bahasa sumber arsip periode kolonial dan memahami konteks sosiologis bahasa berdasarkan fungsi dan waktu ketika bahasa tersebut digunakan. Berdasarkan studi kepustakaan diketahui bahwa sumber periode kolonial juga meliputi arsip berbahasa Melayu Rendah. Sumber arsip yang ditelaah adalah surat permohonan dari Kongsi Lanfong di Kalimantan Barat kepada Pemerintah Hindia Belanda. Kongsi Lanfong adalah sebuah kongsi Cina, entitas politik komunitas Cina yang bermula dari kelompok aktivitas ekonomi, dengan aktivitas utama berupa penambangan emas di Mandor. Aktivitas tersebut pulalah yang melatari penulisan surat yang ditelaah dalam artikel ini. Surat menunjukkan bahwa bahasa Melayu Rendah digunakan sebagai bahasa diplomatik bahkan oleh kelompok yang bukan penuturnya. Hal ini menarik karena berlaku di kala pemerintah kolonial belum resmi menetapkan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar.
PEMBANGUNAN IRIGASI WIDAS DAN PENGARUHNYA TERHADAP EKONOMI DAN LINGKUNGAN DI NGANJUK, JAWA TIMUR 1978-2010 Prabowo, Ardhian Dwi; Nawiyanto, S
Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya Volume 4, No. 1, December 2020
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33652/handep.v4i1.118

Abstract

The paper discusses Widas irrigation development and effects on the socio-economy andenvironment of people of Nganjuk Regency in 1978-2010. The research examines theconditional factors promoting Widas irrigation development, the development process andeffects on the local economy and environment. The study used the historical methodconceptualized by Kuntowijoyo which included topic selction, source collection, verification,interpretation, and historiography. Widas river has offered important benefits for thecommunity’s economy, especially the agricultural sector; however, it still causes floodswhich leads to a big loss to Nganjuk people. The irrigation development was a programdesigned to bring multiple benefits, particularly to control the severe flood of Widas riverand to promote agricultural production in Nganjuk area. It successfully increasesagricultural production and improves the community’s economy by opening opportunitiesto change cropping patterns and freshwater fish farming. However, this project has notbeen able to free Nganjuk community from flooding because the forest damage in theupstream area of Widas river disrupts the hydrological system.
TATA NIAGA ROTAN DI KATINGAN Prastiwi, Septi Dhanik
Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya Volume 1, No. 1, December 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1453.981 KB) | DOI: 10.33652/handep.v1i1.14

Abstract

Harga rotan yang tidak stabil merupakan permasalahan yang dihadapi oleh para petani rotan. Mereka harus menerima harga yang telah ditetapkan oleh pasar. Untuk mengetahui bagaimana kehidupan social ekonomi petani rotan di Katingan, maka permasalahan yang akan dibahas yaitu (1) Bagaimana sistem penjualan rotan di desa? (2) Bagaimana strategi adaptasi yang dilakukan oleh petani rotan menghadapi fluktuasi harga rotan? Penelusuran permasalahan ini dilakukan di desa Talingke, Kecamatan Tasik Payawan, Kabupaten Katingan Provinsi Kalimantan Tengah. Pengumpulan data dilakukan dilokasi tersebut melalui tiga teknik yaitu studi pustaka, observasi dan wawancara. Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa dalam sistem penjualan rotan di desa, terdapat dua hingga tiga pelaku utama yaitu petani rotan, pemberi panjar dan pemilik modal (pengepul). Ketiga pelaku tersebut membentuk hubungan resiprositas dan sekaligus patron-klien. Dominasi pemilik modal dalam menentukan harga dihadapi petani rotan dengan mencari alternative mata pencaharian lain. Strategi yang dilakukan yaitu dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitarnya sebagai sumber penghasilan.
AGAMA, RITUAL, DAN KONFLIK: SUATU UPAYA MEMAHAMI KONFLIK INTERNAL UMAT BERAGAMA DI INDONESIA Febriyandi.YS, Febby
Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya Volume 2, No. 2, June 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.053 KB) | DOI: 10.33652/handep.v2i2.41

Abstract

Beragam konflik telah tercatat dalam perjalanan panjang sejarah agama manusia. Dalamkonteks Indonesia juga telah terjadi sederetan konflik yang mengatasnamakan agamasepanjang sejarah kehidupan bernegara. Konflik tersebut tidak hanya terjadi antara pemelukagama yang berbeda, tetapi juga antara pemeluk agama yang sama. Dengan mengikutipemikiran Elizabeth Nottingham mengenai dualisme agama, teori fungsionalisme konflikAlfred Coser, serta meminjam contoh kasus konflik agama dalam artikel John Bowen, sayamencoba menyampaikan empat hal: pertama, konflik dalam kehidupan beragama adalahsuatu keniscayaan; kedua, konflik yang terjadi antara pemeluk agama yang sama disebabkan oleh perbedaan penafsiran dan praktik ritual agama; ketiga, ritual agama tidak hanya memiliki aspek religius semata, tetapi juga aspek sosial-politik; keempat, konflik keagamaan sejatinya tidak hanya bersifat merusak, tetapi juga memiliki fungsi bagi agama dan masyarakat itu sendiri, seperti: memperkuat integrasi suatu kelompok atau komunitas, memotivasi pemeluk agama untuk lebih memahami ajaran agamanya, mendorong terbentuknya komunitas atau kelompok yang baru, serta menjaga solidaritas kelompok.
UME KBUBU SEBAGAI WUJUD KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT BOTI DALAM MENJAGA KETAHANAN PANGAN DAN BENCANA Iswanto, Iswanto
Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya Volume 4 No. 2 June 2021
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33652/handep.v4i2.144

Abstract

Local wisdom defined as the ability of a community to adapt to, organize, and manage the environment and culture that affects their lives. The research conducted in the Boti community of East Nusa Tenggara Province aims to describe and understand ume kbubu as a form of local wisdom of the Boti community in maintaining food security and protecting them from disasters. The method used in this study was a qualitative method with a phenomenological approach. The characteristics of this research data are classified as sensitive research data; therefore, it takes a long time to obtain. Observation and interviews were data collection techniques used in this research. The result indicated that the structure of ume kbubu shows the local wisdom of the Boti community in adapting to the environment and influencing the scattered settlement structures. In addition, the function and symbolization of ume kbubu are closely related to the local wisdom of the community in storing and managing staple food (corn), which is the strength of the Boti community in facing the food crisis. The settlement structure of the Boti community, supported by strict customary rules, becomes a barrier in social interaction that can protect the community from disasters, such as infectious diseases. The local wisdom of the Boti community is likely to be an input for the government to study various cultural aspects to deal with disasters.

Page 1 of 4 | Total Record : 40