cover
Contact Name
Muhrisun Afandi
Contact Email
risonaf@yahoo.com
Phone
+6282242810017
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat
ISSN : 25983865     EISSN : 26143461     DOI : https://doi.org/10.14421/panangkaran
Jurnal Panangkaran merupakan jurnal Assosiasi Peneliti Agama-agama yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai media komunikasi hasil penelitian para peneliti, ilmuwan dan cendekiawan. Tujuannya adalah untuk mewadahi, menyebarluaskan dan mendialogkan wacana ilmiah di bidang penelitian sosial keagamaan. Naskah yang dimuat dalam jurnal berasal dari hasil-hasil penelitian maupun kajian-kajian kritis para peneliti agama atau akademisi yang berkaitan dengan permasalahan kehidupan sosial keagamaan, kelekturan, pendidikan dan keagamaan, agama dan sains. Jurnal terbit setahun 2 kali pada bulan Juni dan Desember.
Articles 104 Documents
Analisis Pendidikan Multikultural di Madrasah Dan Pesantren: Studi Komparasi di Man 3 Sleman dan Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta Ida, Khuma
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.235 KB) | DOI: 10.14421/panangkaran.2018.0201-06

Abstract

Multicultural education has an important role in shaping the character of students to respect others and to foster a social spirit. Madrasas and Islamic boarding schools are Islamic educational institutions that have a major influence in shaping the character of students. This study aims to determine the differences in the implementation of multicultural education in MAN 3 Sleman and the Nurul Ummah Kotagede Islamic boarding school in Yogyakarta.The research method used is a comparative qualitative method, namely research that compares two or more entities. This study focuses on the similarities and differences between these two schools by comparing them with the same variables. Multicultural values include: diversity, humanity, pluralism, democracy, curriculum, culture, public relations, and comfort. From the results of the study it can be seen that in implementing multicultural education in both institutions, there are similar methods in its implementation.[Pendidikan multikultural mempunyai peran penting dalam membentuk karakter siswa untuk menghargai sesama serta untuk menumbuhkan jiwa sosial terhadap peserta didik. Madrasah dan pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan islam yang mempunyai pengaruh besar dlama membentuk karakter siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan implementasi pendidikan multikultural di MAN 3 Sleman dan pondok pesantren Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif komparatif, yaitu penelitian yang membandingkan dua gejala atau lebih. Penelitian ini berfokus pada persamaan dan perbedaan antar unit dengan membandingkan variabel yang sama untuk sampel yang berbeda. Nilai-nilai multikultural antara lain: keragaman, humanis, pluralis, demokrasi, kurikulum, budaya, hubungan masyarakat dan kenyamanan. Dari hasil penelitian, dapat diketahui bahwa dalam pengimplementasian pendidikan multikultural di kedua lembaga tersebut terdapat metode yang sama dalam pengimplementasiannya.]
Relasi Sunni-Syiah: Refleksi Kerukunan Umat Beragama di Bangsri Kabupaten Jepara Sulaiman, Sulaiman
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.65 KB) | DOI: 10.14421/panangkaran.2017.0101-02

Abstract

Lately, Sunni-Shia relation gets a negative response in the Indonesian community. This article based on the research results “The Relation of Sunni-Shia in Bangsri, Jepara, Central Java”. This studyused a descriptive qualitative approach, and data collected with observation,depth interview, and document review. The sosial relation between Sunni-Shia is very harmonious, because it’ssupported by religious tolerance highly. It can be seen in the attitude of both sides to understand and aware toward doctrinal differences which believed. In addition, it can be seen too at the culture of ‘gotong royong’ community that is institutionalized in the associations “jamaah Muawanah” and “Jamaah Manakib”. Both these associations becomea medium of muslim in maintaining the harmony and peace of the religious community.
Two Faces of Veil in the Quran: Reinventing Makna Jilbab dalam Al-Qur’an Perspektif Tafsir Maqāshidi dan Hermeneutika Ma’nā cum Maghzā Taufik, Egi Tanadi
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2019.0302-05

Abstract

Contemporary Qur’an and Hadith scholars are challenged in their way to develop comprehensive research while observing the realia in a multidisciplinary and cognitive perspective so that authoritative and arbitrary interpretations would not appear. This article examines the theory of Maqāshid al-Qur’an and Ma’nā cum Maghzā promoted by two scholars, Abdul Mustaqim and Sahiron Syamsuddin, especially in the context of reinventing the meaning of jilbab/hijab. The validity of Maqashidī and Ma’nā cum Maghzā interpretation is equivalent based in its process on identifying values of the Qur’anic text to develop moral-based interpretations. Through the maqāshidi interpretation approach, the development of hijab is observed as an effort of protection, prevention the rights of the mind, soul, body, family, financial, and ishahah to the legal, political, and sharia implications. On the other side, through the Ma’nā cum Maghzā approach, the development of hijab has experienced the axiological shift from ethical values to aesthetic one so that societal reception on its magnificence and sublimities have changed its position from within the fundamental-productive aspects of hifzh al-nasl which were originally istihsan towards dharuriyyat. Interpretation products emerged from the methodology of Maqāshidi and Ma’nā cum Maghzā are inclined to the conclusion that the use of the hijab in Indonesia needs to be adjusted to the needs of the community which underlining the dimensions of temporality and locality, so that an interpreter needs to observe the ahhām marhaliyāt (temporal law) philosophically, critically, and contextually.[Sarjana Alquran dan Hadis kontemporer dituntut untuk mengembangkan kajian yang komprehensif dengan mengamati realita dalam perspektif multidisiplin dan rasional sehingga tafsir otoritatif dan sewenang-wenang tidak akan muncul. Artikel ini membahas teori Maqāshid al-Qur’an dan Ma’nā cum Maghzā yang dikemukakan oleh dua ulama, Abdul Mustaqim dan Sahiron Syamsuddin, terutama dalam konteks memaknai kembali arti jilbab/ hijab. Validitas interpretasi Maqashidī dan Ma’nā cum Maghzā dalam hal ini setara kedudukannya berdasarkan prosesnya dalam mengidentifikasi nilai-nilai teks Alquran untuk mengembangkan interpretasi berbasis moral. Melalui pendekatan interpretasi maqāshidi, pengembangan jilbab diamati sebagai upaya perlindungan, pelanggaran hak-hak pikiran, jiwa, tubuh, keluarga, keuangan, dan ishahah terhadap implikasi hukum, politik, dan syariah. Di sisi lain, melalui pendekatan Ma’nā cum Maghzā, pengembangan jilbab telah mengalami pergeseran aksiologis dari nilai-nilai etis ke nilai estetika sehingga penerimaan masyarakat atas kemegahan dan keagungannya telah mengubah posisinya dari dalam aspek fundamental-produktif dari hifzh al-nasl yang awalnya istihsan menuju dharuriyyat. Produk tafsir yang berasal dari metodologi Maqāshidi dan Ma’nā cum Maghzā cenderung pada kesimpulan bahwa penggunaan jilbab di Indonesia perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang menggarisbawahi dimensi temporalitas dan lokalitas, sehingga seorang penafsir perlu mengamati ahhām marhaliyāt (hukum temporal) secara filosofis, kritis, dan kontekstual.] 
Motivasi dan Harapan Mahasiswa Difable terhadap Pendidikan Inklusi UIN Sunan Kalijaga MA, Muryanti; Mulyani, Tri
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.386 KB) | DOI: 10.14421/panangkaran.2018.0202-09

Abstract

Abstract  Inclusion education gives an expectation to group of disabled people to get an equal education as the non-disabled people do. With this education, it is expected that they get the same opportunity to get jobs in order to become more prosper. This writing investigates how the motivation and the expectation of disabled people towards inclusion education which is held by UIN Sunan Kalijaga. The method used is qualitative and the primary data is obtained through observation and interview with disabled students. The secondary data is obtained from some documents owned by PLD UIN which is used to run this inclusion education. The result of investigation shows that most of disabled students have the same motivation as the nondisabled students to get education and pursue their dream. The learning process in UIN itself has not met their expectation because the lack of facilities and assistant, and lecturer who have not possessed proper skills and knowledge to teach disabled students.
Legenda Lok Laga (Studi Lirik Lagu Musik Panting Kalsel) Maknun, Moch Lukluil
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.182 KB) | DOI: 10.14421/panangkaran.2017.0102-04

Abstract

This paper is the result of a transcription text analysis of a song titled "lok laga" hosted by panting music group in South Kalimantan. Using the qualitative approach and the semiotic method of Riffatere poems, it is found that this work is part of the oral tradition that is packed in the song. The purpose or function derived from this song are some things, among them are the description of the ideal traditional wedding of South Kalimantan in the past, the myth of the dragon which is a form of local wisdom and cultural fusion in Borneo, and the marker of a tourist site as a promotional event. Another interesting thing found in the lyrics is the songwriter's message to direct the listener to change the perception of myth into something less sacred.[Tulisan ini merupakan hasil analisis teks transkripsi sebuah lagu berjudul “lok laga” yang dibawakan oleh grup musik panting di Kalimantan Selatan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode semiotika puisi Riffatere didapatkan hasil bahwa karya ini merupakan bagian dari tradisi lisan yang dikemas dalam lagu. Tujuan atau fungsi yang didapatkan dari lagu ini ada beberapa hal, di antaranya adalah deskripsi pernikahan adat Kalimantan Selatan yang ideal pada masa lampau, mitos tentang naga yang merupakan bentuk kearifan lokal dan perpaduan budaya di Kalimantan, dan penanda situs wisata sebagai ajang promosi. Hal menarik lainnya yang ditemukan dalam lirik ini terdapat pesan pengarang lagu untuk mengarahkan pendengar mengubah persepsi mitos menjadi hal yang tidak terlalu sakral.]
Pengaruh Indeks Produksi Industri (IPI), Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Inflasi dan Nilai Tukar terhadap Indeks Saham Syariah Indoneisa (periode 2012-2018) As Shadiqqy, Muhammad
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2019.0301-03

Abstract

The Indonesian Sharia Stock Index (ISSI) is one of the stock indexes that calculates an average price index for types of business activities to meet sharia criteria. Macroeconomic conditions often lead to market sentiment and turmoil at ISSI. This study aims to analyze the effect of the industrial production index, sharia-compliant Indonesian bank certificates, inflation and the Rupiah Exchange Rate on the Sharia Stock Index, focuses on period of 2012 to 2018.This study based on secondary data which consist of monthly data content and the data of macroeconomic variable. The collected data was analyzed using stationarity test, granger test, co-integration test and VAR test. The variables tested in this study were IPI, SBIS, inflation and the exchange rate against ISSI variables. It is found in this study that SBIS, inflation and the exchange rate has a one-way causality relationship with ISSI. The variable that has the biggest shock effect is inflation with an effect of 2.82 percent in the second period and increased to 18.9 percent in the 10th period.[Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) adalah salah satu indeks saham yang menghitung indeks harga rata-rata untuk jenis kegiatan bisnis yang berguna untuk memenuhi kriteria syariah. Kondisi ekonomi makro sering menyebabkan sentimen pasar dan kekacauan di ISSI. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh indeks produksi industri, sertifikat bank Indonesia yang syariah, inflasi dan Nilai Tukar Rupiah terhadap Indeks Saham Syariah, berfokus pada periode 2012 hingga 2018.Penelitian ini didasarkan pada data sekunder yang terdiri dari konten data bulanan dan data variabel ekonomi makro. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji stasioneritas, uji granger, uji co-integrasi dan uji VAR. Variabel yang diuji dalam penelitian ini adalah IPI, SBIS, inflasi dan nilai tukar terhadap variabel ISSI. Penelitian ini menemukan bahwa SBIS, inflasi dan nilai tukar memiliki hubungan kausalitas satu arah dengan ISSI. Variabel yang memiliki efek guncangan terbesar adalah inflasi dengan efek 2,82 persen pada periode kedua dan meningkat menjadi 18,9 persen pada periode ke-10.]
Demensi Etnik dalam Kerukunan Umat Beragama di Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat Rachmadhani, Arnis
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.487 KB) | DOI: 10.14421/panangkaran.2018.0201-01

Abstract

A study of qualitative research with data obtained from interviews, in-depth observation, and literature study was conducted in Pontianak City, West Kalimantan Province, describes the general social interaction in Pontianak City that leads to an associative form of interaction, although there is also a potential that leads to dissociative. Assositive interactions include accommodation in the form of a fairly tolerant attitude of religious life; assimilation in the form of cultural assimilation, especially the assimilation between religion and culture that strengthens the relationship of two things, and which strengthens the relationship between families, where cultural interaction strengthens inter-citizen harmony, especially among religious followers; as well as cooperation in the implementation of cultural activities antaretnik. However, dissociative interactions also occur that is the emergence of competition in the form of contradictions. The social systems in Pontianak influence the harmony between religious and inter-ethnic communities. These social systems are social systems built from ethnic Malay, Dayak, Bugis, Madurese, Javanese, and other ethnic groups. The process of working the social system on interethnic religious harmony in Pontianak City, West Kalimantan Province due to the diversity of ethnic groups that can have positive and negative impacts. Positive influence because strengthening the unity of ethnic intern and its negative influence is able to bring up the problem.
Situs Makam Gunungpring (Studi Tentang Peran Kyai Raden Santri Terhadap Islamisasi di Magelang, Jawa Tengah (1660-1810 M). Qowiyyudin, Adib Abbiya
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2020.%x

Abstract

Gunungpring is an area located in Muntilan Magelang, Magelang Regency. there are several tombs of religious leaders of the Mataram Sultanate, one of the figures is Kyai Raden Santri. Kyai Raden Santri is a descendant of Brabu Brawijaya V and brother of one of the first Mataram Sultanate Panembahan Senopati. Kyai Raden Santri is one of the religious, social and cultural figures of the people of Muntilan and surrounding areas who is able to make a significant contribution in the region. Have a religious ability that is high enough so that it can attract the attention of the public to get to know the religion of Islam in various ways ranging from simple to developing the existing potential. Kyai Raden Santri's grave and complex areas were developed in stages through various ways, one of which was the donation of funds from the community and direct assistance from the Yogyakarta Palace to become a religious tourism destination for both local and national communities and develop the potential to provide good facilities to visitors who would visit the tomb Kyai Raden Santri and other tombs in the complex. The approach used in this research is the architecture and sociology approach. The architecture approach is used by researchers to explain the art of building the tomb of Kyai Raden Santri. While the sociological approach is used by researchers to determine role of the Kyai  Raden Santri clerics in the spread of Islam in the Muntilan Magelang region.[Gunungpring merupakan sebuah kawasan yang terletak di Muntilan Magelang, Kabupaten Magelang. Ada beberapa makam tokoh agama Kesultanan Mataram, salah satunya adalah Kyai Raden Santri. Kyai Raden Santri adalah keturunan Brabu Brawijaya V dan saudara dari salah satu Kesultanan Mataram pertama Panembahan Senopati. Kyai Raden Santri merupakan salah satu tokoh agama, sosial dan budaya masyarakat Muntilan dan sekitarnya yang mampu memberikan kontribusi yang cukup berarti di daerah. Memiliki kemampuan beragama yang cukup tinggi sehingga dapat menarik perhatian masyarakat untuk lebih mengenal agama islam dengan berbagai cara mulai dari yang sederhana hingga mengembangkan potensi yang ada. Kawasan Makam dan Kompleks Makam Kyai Raden Santri dikembangkan secara bertahap melalui berbagai cara, salah satunya adalah dengan sumbangan dana dari masyarakat dan bantuan langsung dari Keraton Yogyakarta untuk menjadi destinasi wisata religi baik bagi masyarakat lokal maupun nasional serta mengembangkan potensi yang dimiliki. memberikan fasilitas yang baik kepada pengunjung yang akan mengunjungi Makam Kyai Raden Santri dan Makam lainnya yang ada di dalam kompleks. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan arsitektur dan sosiologi. Pendekatan arsitektur yang digunakan peneliti untuk menjelaskan seni membangun makam Kyai Raden Santri. Sedangkan pendekatan sosiologis digunakan peneliti untuk mengetahui peran ulama Kyai Raden Santri dalam penyebaran agama Islam di wilayah Muntilan Magelang.]
Hubungan antara Religiusitas dan Persepsi terhadap Kesehatan dengan Kebahagiaan pada Pria yang Menikah di Usia Dewasa Awal Jannah, Elsa Rohmatul
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.102 KB) | DOI: 10.14421/panangkaran.2018.0202-04

Abstract

Happiness is the condition and ability of a person to feel positive emotions from the past, in the present, and for the future. Factors that influence happiness are money, marriage, social life, negative emotions, age, health, education, climate, race, gender, and religiosity. The purpose of this study was to find out whether there was a relationship between religiosity and perceptions of health and happiness in men who married in early adulthood. The data analysis used in this study is a multiple linear regression analysis showing an F value of 4.58> 3.18 (Table F). The results of this study indicate the relationship between religiosity and perceptions of health and happiness in men who married in early adulthood. The finding of 0.15 in the Summary R Square Model table means that religiosity and perceptions of health have an effect of 15% on happiness, while 85% are influenced by other factors.[Kebahagiaan adalah kondisi dan kemampuan seseorang untuk merasakan emosi positif di masa lalu, masa depan dan masa sekarang. Faktor-fsaktor yang mempengaruhi kebahagiaan adalah uang, perkawinan, kehidupan soisal, emosi negatif, usia, kesehatan, pendidikan, iklim, ras, dan jenis kelamin, religiusitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara religiusitas dan persepsi terhadap kesehatan dengan kebahagiaan pada pria yang menikah di usia dewasa awal. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier ganda menunjukkan nilai F sebesar 4,58>3,18 (F Tabel), hasil penelitian ini menunjukkan terhadap hubungan antara religiusitas dan persepsi terhadap kesehatan dengan kebahagiaan pada pria yang menikah di usia dewasa awal. Dalam tabel Model Summary R Square sebesar 0,15, artinya religiusitas dan persepsi terhadap kesehatan memberikan pengaruh sebesar 15% terhadap kebahagiaan, sedangkan 85% dipengaruhi dari faktor lain.]
Keadilan Sosial dalam Perspektif Al-Qur’an Dan Pancasila Fatihin, Roro
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.617 KB) | DOI: 10.14421/panangkaran.2017.0102-06

Abstract

Social justice has always been the most significant component in determining the orientation and objectives of social life. Issues frequently arise in relation to social discrepancies initiated by ensuing injustices, this further instigates crucial tension among groups, particularly in the field of economic welfare. As a unitary state, Indonesia has high aspirations of accomplishing life goals that rise up from the spirit ideology of Pancasila. As an ideology, Pancasila is not an objective, it functions as a means of achieving an objective. The objective of such mutual perspective of life is nothing but the creation of a developed, prosperous, and wealthy society in which it is embodied in the spirit of social justice. This study attempts to uncover substantial matters pertaining to the concept of social justice according to Al-Qur’an and Pancasila, wherein both are inseparable from the spirit of the Indonesian community in a broad sense. As a Muslim living in Indonesia, Al-Qur’an and Pancasila have become indivisible. They serve as a foundation and guidance in attaining a wealthy and prosperous life. In this context, I try to find the point of agreement on the concept of social justice between Al-Qur’an and Pancasila in order to find similarities or harmony between the two. My aim is to synergize the power of religion and the power of state ideology in order to easily accomplish the objectives and aspirations of civil society[Keadilan sosial selalu saja menjadi bagian paling penting dalam menentukan arah dan tujuan suatu kehidupan bermasyarakat.Seringkali masalah muncul berkenaan dengan adanya ketimpangan sosial yang bermula dari ketidakadilan yang menyertainya, hal ini memicu adanya ketegangan yang krusial antar kelompok, khsususnya dalam bidang kesejahteraan ekonomi.Sebagai negara kesatuan, Indonesia memiliki cita-cita tinggi untuk mencapai tujuan hidup yang bertitik tolak dari semangat dan Ideologi Pancasila. Sebagai ideologi, Pancasila bukanlah tujuan, tetapi ia berfungsi sebagai sarana untuk sampai pada suatu tujuan. Tujuan dari pandangan hidup bersama tersebut tak lain adalah terciptanya masyarakat yang maju, makmur, dan sejahtera yang kemudian hal ini tertuang dalam semangat keadialan sosial. Penelitian ini mencoba menggali hal penting tentang konsep keadilan sosial menurut Al-Qur’an dan Pancasila, kedua hal tersebut sama sekali tidak bisa dipisahkan dari semangat masyarakat Indonesia secara luas. Sebagai masyarakat Muslim yang tinggal di Indonesia, Al-Qur’an dan Pancasila sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan.Ia menjadi dasar sekaligus pegangan untuk mencapai suatu kehidupan yang makmur dan sejahtera. Dalam konteks ini, peneliti mencoba menemukan titik temu antara konsep keadilan sosial dalam perspektif Al-Qur’an dan Pancasila guna mencari persamaan atau keselarasan diantaranya keduanya.Tujuanny adalah untuk mensinergikan antara kekuatan agama dengan kekuatan ideologi negara, agar tujuan dan cita-cita sebagai masyarakat yang madani dapat dicapai dengan mudah.]

Page 1 of 11 | Total Record : 104