cover
Contact Name
Moh. Zainol Kamal
Contact Email
tafhimilmi@gmail.com
Phone
+6281936427791
Journal Mail Official
tafhimilmi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. sumenep,
Jawa timur
INDONESIA
Tafhim Al-'Ilmi : Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam
ISSN : 22524924     EISSN : 25797182     DOI : 10.37459
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal Tafhim Al-‘ilmi merupakan jurnal ilmiah dengan terbitan berkala setiap enam bulan yang diterbitkan dengan menggunakan peer review. Jurnal ini bertujuan untuk mempublikasikan hasil telaah pustaka dan penelitian yang telah dilakukan para akademisi dengan bidang kajian pendidikan dan pemikiran keislaman dalam bentuk artikel ilmiah
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 64 Documents
Mengurai Benang Kusut Kehidupan Perempuan Warits, Abd.
Tafhim Al-'Ilmi Vol 8 No 1 (2016): 18 Juli 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB)

Abstract

Perempuan adalah kelompok manusia yang senantiasa tertindas disepanjang sejarahnya.[1] Mereka selalu menjadi korban, sasaran keegoisan laki-laki. Tidak dihormati, bahkan seringkali dilecehkan, dan selamanya dijadikan sebagai golongan kedua, dipinggirkan, dimarjinalkan, dan sangat sulit untuk hidup sejahtera.[2] Sederhananya, bila dihitung, mana lebih banyak antara laki dan perempuan yang menjadi tokoh pendidikan, politik, ekonomi, pejabat, penulis, dan juga sastrawan, pastinya dari beberapa tokoh terpandang tersebut, laki-laki merupakan kalangan yang dominan, sementara perempuan dapat dipastikan hanya ada dalam lingkungan kehidupan keluarga. Padahal, jumlah perempuan lebih banyak dengan laki-laki, lalu kenapa keberadaan mereka tidak ?nampak? kepermukaan? Mengapa mereka lebih banyak yang harus ?puas? berperan sebagai ibu rumah tangga? Benarkah mereka tidak memiliki otak secerdas laki-laki? Benarkah mereka hanya ditakdirkan sebagai golongan kedua dan tidak pantas menyamai status kaum laki-laki? Dan sederet pertanyaan lain yang menjadi bahan renungan penulis sejak dulu.   [1] Telaah lebih jauh pada Alimin Mesra, M.Ag., Peran Perempuan dalam Keluarga, dalam Zubaer Ahmad, M.Ag.,(ed), Membangun Kultur Ramah Perempuan, (Jakarta: Restu Ilahi, 2002), hal. 197 [2] Ibid., hal. 207.
Implementasi Otak Kanan Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Maida, Maida
Tafhim Al-'Ilmi Vol 8 No 1 (2016): 18 Juli 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB)

Abstract

Saat ini dapat disaksikan bersama bahwa otak kanan memiliki porsi yang tidak terlalu diperhatikan perannya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Otak kanan yang memiliki orientasi berfikir kreatif, imajenatif dan lain-lain, tidak terlalu banyak difungsikan sebagai strategi pembelajaran. Padahal, kedua belahan otak ini (otak kiri dan otak kanan) akan lebih berarti kalau mampu dioptimalkan secara bersamaan tanpa harus ada yang dilumpuhknan. Adapun urgensi otak kanan dalam  meningkatkan kualitas pembelajaran sebagai  berikut: 1) dengan pola pikir otak  kanan  murid tidak akan selalu bertemu dengan  suasana kelas yang monoton. Karena otak kanan adalah otak yang unggul dalam kreatifitas, maka dapat di pastikan dengan pola pikir otak kanan akan selalu ada beberapa ide yang muncul untuk menciptakan sesuatu yang baru. 2) dengan pola pikir otak kanan peserta didik tidak  hanya di hantarkan kepada pengetahuan saja. Karena orientasi pola pikir otak kanan kepada domain afektif. Perubahan sikap dan perilaku kepada sesuatu yang lebih baik. Di dalam beberapa buku, penulis menemukan bahwa music (baca: pola pikir otak kanan) bisa mengontrol emosi. Otak kanan  memiliki  fungsi membangkitkan spiritual. Adapun implementasi otak kanan dalam peningkatan kualitas pembelajaran adalah sebagai berikut: 1) cerita. 2) melukis angka dan 3) parodil agu.
Supervisi Akademik Dalam Meningkatkan Kompetensi Guru di Lembaga Pendidikan Islam Rohmat, Rohmat
Tafhim Al-'Ilmi Vol 7 No 1 (2015): 10 Februari 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB)

Abstract

AbstractSupervision focuses on the academic supervisor observation of the academic activity, in the form of learning both inside and outside the classroom. Managerial supervision focuses on observations on aspects of management and administration of the school that serves as a support (supporting) the implementation of learning. Supervisors are mediators educational duties as a supervisor at educational institutions have to perform tasks and functions. The key task of the supervisor are basically three; supervise, assess and develop. And in order to improve the competence of teachers, through the implementation of academic supervision, should adopt the model of empowerment paradigm desire, trust, confident, credibility, accountability and communication. AbstrakSupervisi akademis menitikberatkan pada pengamatan supervisor terhadap kegiatan akademis, berupa pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas. Supervisi manajerial menitikberatkan pada pengamatan pada aspek-aspek pengelolaan dan administrasi sekolah yang berfungsi sebagai pendukung (supporting) terlaksananya pembelajaran. Pengawas adalah mediator pendidikan yang menjalankan tugas sebagai supervisor di lembaga pendidikan yang harus menjalankan tugas dan fungsinya. Tugas pokok pengawas pada dasarnya ada tiga; mengawasi, menilai, dan membina. Dan dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, melalui implementasi supervisi akademik, hendaknya mengadopsi model pemberdayaan dengan paradigma desire, trust, confident, credibility, accountability dan communication.
Optimalisasi Peran Pengawas Sebagai Evaluator Kurikulum (Studi Kasus di MAN Trenggalek) Kusmalik, Kusmalik
Tafhim Al-'Ilmi Vol 7 No 1 (2015): 10 Februari 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB)

Abstract

The curriculum is a core dimension of education determine the style and color of the process and outcomes of education. To be able to design and implement a good curriculum, the necessary synergy of all components of education. Teachers and supervisors are the main actors in the context of curriculum evaluation. Optimizing the role of each through a variety of efforts to increase the competence and empowerment must be done. In addition, the synergy between the two through an atmosphere of mutual respect and provide support to one another becomes important to be able to produce a good curriculum design and educational outcomes as expected by all stakeholders of the education agency.
Profil Pendidik Ideal Menurut Al-Ghazali Ruhyanani, Hindami
Tafhim Al-'Ilmi Vol 7 No 1 (2015): 10 Februari 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB)

Abstract

AbstractThe ideal educator should be able to combine science that has, both science ghairu Islamic and sharia, with its faith. Because by doing so, it means that the educator has rests on a strong foundation, which is faith. An educator should be able to integrate the knowledge or competence that he had become Muslim. In order for the science he has always lead to Islam and pentauhidan God. Integration of science with charity may cause people are getting highest rank in the sight of God. Because science coupled with ihsan will form a noble private. AbstrakPendidik yang ideal harus bisa memadukan keilmuan yang dimilikinya, baik ilmu syariah maupun ghairu syariah, dengan keimanan yang dimilikinya. Karena dengan demikian, maka berarti pendidik tersebut telah berpijak pada pondasi yang kuat, yaitu keimanan. Seorang pendidik hendaknya bisa mengintegrasikan ilmu atau kompetensi yang ia miliki dengan keislamannya. Agar ilmu yang ia miliki selalu mengarah kepada agama Islam dan pentauhidan Tuhan. Integrasi antara ilmu dengan ihsan dapat menyebabkan orang semakin tinggi derajatnya di hadapan Allah. Karena ilmu yang dibarengi dengan ihsan akan membentuk sebuah pribadi yang luhur.
Konsep Pendidikan Islam Al-Zarnuji (Telaah Kitab Ta’lim Al-Muta’allim) Fathurrahman, Muhammad
Tafhim Al-'Ilmi Vol 7 No 1 (2015): 10 Februari 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB)

Abstract

The concept of Islamic education according to al-Zarnuji an integrative educational concept which is filled with Islamic values. Educators are components that must exist in Islamic education, work becomes an educator is a noble job as educators to educate the soul learners. Learners according to al-Zarnuji, is how people learn. The purpose of education is to get closer to God and attain happiness in this world and the hereafter, seeking to combat ignorance in yourself and the stupid, develop and preserve Islam, ingratitude mind and a healthy body. The learning process according to al-Zarnuji within the limits of the interaction between teachers and students in the transfer of knowledge. Al-Zarnuji, in matters of curriculum, classify science into 4 types. In terms of method, al-Zarnuji initially proposed using rote methods followed with understanding. AbstrakKonsep pendidikan Islam menurut al-Zarnuji merupakan konsep pendidikan integratif yang penuh dengan nilai-nilai keislaman. Pendidik adalah komponen yang harus ada dalam pendidikan Islam, pekerjaan menjadi seorang pendidik merupakan pekerjaan yang mulia karena pendidik mendidik jiwa peserta didik. Peserta didik menurut al-Zarnuji, adalah manusia yang belajar. Tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, berusaha memerangi kebodohan pada diri sendiri dan kaum yang bodoh, mengembangkan dan melestarikan Islam, mensyukuri nikmat akal dan badan yang sehat. Proses pembelajaran menurut al-Zarnuji dalam batasan interaksi antara guru dan murid dalam transfer keilmuan. Al-Zarnuji, dalam masalah kurikulum, mengklasifikasikan ilmu pengetahuan menjadi 4 macam. Dalam hal metode, al-Zarnuji mengemukakan mula-mula menggunakan metode hafalan kemudian dilanjutkan dengan pemahaman.
Pendidikan Reproduksi (Seks) pada Remaja Menurut Perspektif Islam Nuryadin, Nuryadin
Tafhim Al-'Ilmi Vol 7 No 1 (2015): 10 Februari 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB)

Abstract

Sebagai ajaran yang menekankan pada keseimbangan hidup dunia maupun akhirat, Islam memberikan perhatian pada pendidikan seks (reproduksi) sejak masa anak berusia dini hingga dewasa. Salah satu fase usia yang penting dalam perjalanan kehidupan manusia adalah masa remaja (pubertas). Pendidikan seks pada remaja memiliki urgensi sebagai upaya edukasi, penyadaran dan antisipasi serta pencegahan (preventif) terhadap perilaku menyimpang yang ditimbulkan. Islam menggarisbawahi bahwa pendidikan seks merupakan satu kesatuan dengan pendidikan atauhid, ibadah dan akhlak. Tulisan ini berupaya menyajikan gambaran pendidikan reproduksi (seks) pada remaja menurut perspektif Islam. AbstractAs a doctrine that emphasizes the balance of life world and the hereafter, Islam pays attention to sex education (reproduction) from early childhood to adult age. One of the important phases of age in the course of human life is adolescence (puberty). Sex education to adolescents have urgency as educational efforts, awareness and anticipation and prevention (preventive) against deviant behavior caused. Islam underline that sex education is an integral part atauhid education, worship and morality. This paper presents an overview of education seeks reproductive (sex) in adolescents according to Islamic perspective.
Pendidikan Islam dalam Tinjauan Filosofis Kulsum, Ummi
Tafhim Al-'Ilmi Vol 7 No 1 (2015): 10 Februari 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB)

Abstract

Dalam pendidikan terdapat dasar-dasar filsafat keilmuan, yaitu ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Dalam aspek ontologis ilmu pengetahuan tertentu hendaknya ditelaah atau diuraikan secara metodis, sistematis, rasional, komprehensif, radikal, dan universal. Sedangkan dalam aspek epistemologis, ilmu pendidikan tidak hanya mengembangkan ilmu terapan melainkan menuju kepada telaah teori dan ilmu pendidikan sebagai ilmu otonom yang mempunyi objek formil sendiri atau problematika sendiri sekalipun tidak hanya menggunakan pendekatan kuantitatif atau eksperimental. Sementara dalam aspek aksiologis, dapat mempelajari manfaat apa yang diperoleh dari ilmu pengetahuan, menyelidiki hakikat nilai, etika, dan estetika. Misalnya dalam pendidikan  dengan adanya mata pelajaran ilmu sosial dan kewarganegaraan yang mengajarkan bagaimana etika atau sikap yang baik. AbstractIn education there are the philosophy of science basics, namely the ontological, epistemological, and axiological. In certain aspects of the ontological science should be studied or described in a methodical, systematic, rational, comprehensive, radical and universal. While the epistemological aspect, science education not only develop applied science; it leads to the study of the theory and science education as a science autonomous have a formal object itself or the problems themselves though are not only using quantitative or experimental approaches. While the axiological aspect, can learn what the benefits derived from science, investigating the nature of values, ethics, and aesthetics. For example in education with the subjects of social studies and civics that teach how ethic or good attitude.
Pemikiran Islam Tradisional dan Dunia Modern Aisyah, Siti
Tafhim Al-'Ilmi Vol 8 No 1 (2016): 18 Juli 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB)

Abstract

Apabila seorang Barat, seorang Konfucian Cina atau seorang Hindu dari India menelaah Islam, niscaya yang mereka jumpai adalah tradisi Islam yang tunggal. Orang yang seperti itu mungkin saja akan menemukan sejumlah madzhab pemikiran, interpretasi-interpretasi hukum, teologi dan bahkan sekte-sekte yang terpisah dari tubuh utama ummat. Disadari atau tidak peradaban barat telah menggerogoti konstruk pemikiran Islam sehingga barangkali sudah lebih dari dua abad umat Islam hidup dalam bayang-bayang peradaban barat, banyak pihak yang merasa khawatir akan tercerabutnya nilai-nilai Islam itu sendiri dari pemiliknya
Tipologi Tradisi Kompolan Di Kecamatan Lenteng Syafiqurrahman, Syafiqurrahman
Tafhim Al-'Ilmi Vol 8 No 1 (2016): 18 Juli 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB)

Abstract

Kompolan merupakan salah satu tradisi yang saat ini terus mengalami perkembangan dalam kehidupan masyarakat. Perkembangan ini bisa dilihat dari semakin banyak jumlah kompolan, semakin beragam, dan makin tampak kontribusinya pada kehidupan masyarakat, khususnya di Kecamatan Lenteng. Di Kecamatan Lenteng, kegiatan kompolan memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan kompolan di daerah lain. Bedanya terletak pada model pengelolaan dan peranannya di masyarakat. Dari segi jenisnya, kompolan di Lenteng cukup beragam: Tahlilan, Darusan, Yasinan, Sholawatan, Muslimatan, Pengajian, RT (Rukun Tetangga), Guruh (Guru), Remas (Remaja Masjid), Sapeh (Sapi), Hadrah, Bungkot (Bonsai), Keluarga (kekerabatan), Samman, Gambus, Bellesen.